Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Kultivasi Sandera

Sistem Kultivasi Sandera

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi Timur
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Sentuh Aku, Leluhurmu Tamat!

Lahir dengan meridian rapuh dan dijadikan samsak hidup oleh murid dalam sekte, Gu Ran membangkitkan sistem anomali yang menghubungkan nyawanya dengan figur terkuat dari siapa pun yang menindasnya. Semakin keras musuh mencoba melukainya, semakin sekarat leluhur tertinggi mereka sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Bilah belati berkarat yang melayang di udara mulai meluncur turun dengan ujung runcing mengarah lurus ke telapak tangan Gu Ran.

SRRRK!

Tetua Penegak Disiplin Tie Gang melompat dari kursinya, menjatuhkan tubuh kekarnya meluncur di atas lantai marmer licin bagai batu dilempar di atas danau beku.

Sebelum ujung belati berkarat itu menyentuh kulit Gu Ran, tangan kanan Tie Gang menyambar bilah besi tersebut di udara.

Krak!

Gagang kayu lapuk belati itu remuk di dalam genggaman sang Tetua Penegak Disiplin. Ujung bilah yang bergerigi kotor menggores sedikit kulit telapak tangan Tie Gang, namun pria bertubuh kekar itu memeluk pecahan belati ke dadanya dengan napas memburu bagai baru saja menyelamatkan bayi dari kobaran api.

“A-Aman…” bisik Tie Gang dengan suara parau bergetar, dahinya bersimbah keringat dingin. “Tidak ada yang tergores… Tuan Muda Gu aman!”

Gu Ran menurunkan tangannya yang kosong, lalu menatap Tie Gang dengan alis terangkat tipis.

“Tetua Tie, kenapa kau merebut mainanku?” tanya Gu Ran dengan nada sedikit kecewa. “Padahal aku baru saja mau mencoba menangkapnya sambil menutup mata.”

Dua belas tetua di ruangan serentak tersedak ludah mereka sendiri.

Song Tianhe melangkah maju dengan tangan gemetar, menatap cetak biru Sangkar Giok Emas yang masih terbentang di atas meja.

Tanpa ragu sedetik pun, sang Patriark menyambar gulungan sutra berharga tersebut, lalu melemparnya langsung ke dalam mangkuk lilin minyak tanah yang menyala di dinding.

WUSSS!

Api melahap gulungan cetak biru itu dalam sekejap, menyisakan abu hitam yang melayang di udara dan bau gosong kain sutra yang menyengat.

“Tidak ada sangkar!” seru Song Tianhe dengan suara bergetar panik. “Tuan Muda Gu, jangan salah paham! Kami hanya sedang mendiskusikan… arsitektur kandang burung merak sekte!”

Gu Ran melirik abu sutra yang terbakar, lalu menggigit sisa buah apel di tangannya.

“Begitu ya,” ucap Gu Ran seraya mengunyah pelan. “Sebenarnya aku tidak keberatan jalan-jalan malam di sekitar sekte. Tapi kalau kalian merasa keberadaan saya membuat kalian sulit tidur, aku punya penawaran bagus.”

Tetua Chen Feng buru-buru menyeka keringat di lehernya. “P-Penawaran apa, Tuan Muda Gu?”

“Serahkan Lembah Tungku Penempaan kepadaku,” kata Gu Ran datar tanpa intonasi tinggi. “Seluruh tungku api bumi, gudang bahan baku besi, dan seluruh budak penempa yang ada di sana harus dipindahkan ke bawah otoritas pribadiku. Dewan tetua tidak boleh lagi mencampuri urusan penempaan sekte.”

Suasana di aula bawah tanah mendadak sunyi senyap.

Tetua Chen Feng memegangi dadanya yang ngilu. “Lembah Tungku adalah pemasok seluruh senjata murid luar sekte kita…”

Gu Ran tidak mendebat. Ia hanya memasukkan tangan kirinya ke dalam saku jubah tidur, meraba sesuatu di balik lipatan kain.

“Tadi di laci paviliun sepertinya aku juga melihat gunting berkarat pemotong tanaman,” gumam Gu Ran santai sambil mulai menarik keluar sebuah benda logam dari sakunya. “Mungkin atraksi gunting terbang lebih seru daripada belati—”

“TULIS SURATNYA SEKARANG JUGA!” jerit Song Tianhe memotong kalimat Gu Ran dengan suara histeris.

Sang Patriark menyambar selembar perkamen emas dari meja, mencelupkan kuas ke dalam bak tinta merah, lalu menuliskan draf penyerahan wilayah Lembah Tungku Penempaan secepat kilat.

Dalam waktu kurang dari sepuluh tarikan napas, dokumen pengalihan wilayah otonom telah selesai ditulis.

Song Tianhe mencabut stempel giok bergambar pedang terbang dari pinggangnya, lalu menekannya kuat-kuat di atas kertas perkamen dengan tangan yang masih gemetar hebat.

DUG!

Cap tinta merah berstempel resmi Patriark Sekte Pedang Langit tercetak sempurna di bagian bawah dokumen.

Song Tianhe menyerahkan gulungan emas itu ke hadapan Gu Ran dengan kedua tangan terulur gemetar.

“Ini akta penyerahan teritorialnya, Tuan Muda Gu,” ucap Song Tianhe dengan napas tersengal-sengal. “Mulai malam ini, Lembah Tungku Penempaan adalah wilayah kekuasaan pribadimu seutuhnya. Tidak ada tetua atau mandor yang berani melangkah ke sana tanpa izinmu.”

Gu Ran menerima gulungan emas tersebut, meniup sisa tinta merah yang masih basah, lalu melipatnya rapi ke dalam jubahnya.

“Terima kasih atas kerja samanya, Patriark Song,” kata Gu Ran sambil menghabiskan gigitan apel terakhirnya. “Malam ini kalian bisa tidur nyenyak. Aku mau pergi menengok tungku penempaan.”

Gu Ran berbalik dan melangkah santai meninggalkan ruangan bawah tanah, meninggalkan para tetua yang terduduk lemas di kursi mereka dengan pakaian basah oleh keringat dingin.

1
Selarik Syarah
system model baru, menarik utk di baca
Rayzent
🔥👀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!