Indonesia
NovelToon NovelToon
When The Extra Writes The Rules

When The Extra Writes The Rules

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

When the Extra Writes the Rules/ Ketika karakter tambahan menulis aturan.

Kisah seorang pekerja kantoran modern Kirana yang masuk ke tubuh Evelyn Rosenberg, karakter figuran kaya raya namun berpenyakit kronis dalam novel fantasi favoritnya.

Karena tahu takdir karakter pendukung dan dunia novel tersebut akan berujung bad ending, Evelyn bertekad mengubah alur dengan memanfaatkan pengetahuan ceritanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Segel Hitam yang Rusak, Tinta Dingin dari Utara

Embusan angin malam membawa hawa dingin merayap masuk lewat celah jendela ruang kerja utama Kediaman Rosenberg.

Di balik meja kerjanya, Duke Richard duduk. Tangannya terkepal erat di atas meja. Di sebelahnya, Duchess Eleanor sibuk meremas sapu tangan dengan cemas, matanya bolak-balik menatap pintu kayu yang tertutup rapat.

Julian berdiri di sudut ruangan, masih mengenakan pakaian perjalanannya yang kusam dan berdebu paska perjalanan dari perbatasan Utara.

Wajah tampan ksatria muda itu tampak begitu kaku dan tegang. Di tengah ruangan, Evelyn duduk santai di kursi dengan mantel melingkar di bahunya.

Jemarinya memegang cangkir teh hangat.

Di tengah meja itu, tergeletak selembar kertas berwarna kelabu. Dengan segel lilin hitam bermotif serigala es di atasnya.

Surat itu dibawa langsung oleh burung bermata merah milik pasukan keamanan Obsidian, hanya beberapa jam setelah Julian tiba kembali di rumah.

"Baca lagi, Julian," perintah Duke Richard, suaranya berat, dan bergetar menahan amarah yang tertahan di tenggorokan.

"Baca dengan jelas di depan kami semua."

Julian menghela napas panjang, melangkah mendekati meja lalu memungut lembaran kertas tersebut.

> Kepada pihak yang mengatasnamakan Perusahaan Asteria dan Keluarga Rosenberg.

>

> Permintaan kalian atas penyerahan Bunga Frost-Blooded Amaryllis resmi ditolak. Wilayah Obsidian tidak pernah menjual, menukar, atau mengompromikan aset sihir tertinggi kami demi sepotong janji aliansi bisnis yang tidak jelas di ibu kota.

>

> Kami tidak butuh uluran tangan dari keluarga bangsawan yang bahkan tidak mampu menjaga keamanan internal rumahnya sendiri dari intrik murahan. Jangan pernah mengirim utusan lagi ke perbatasan Utara, atau utusan kalian berikutnya bakal kembali dalam keadaan tanpa nyawa.

>

> Duke Cassian von Obsidian."

>

BRAK!

Duke Richard memukulkan telapak tangannya ke atas meja!

Cangkir teh di sampingnya berdenting nyaring.

"Sombong sekali pria muda itu!" bentak Duke Richard, matanya berkilat-kilat penuh amarah. "Dia pikir dia siapa?! Kita menawarkan pasokan energi hangat yang bisa menyelamatkan ribuan rakyatnya dari ancaman krisis dingin, dan dia membalasnya dengan ancaman nyawa?!"

"Papa, tenang dulu..." bisik Eleanor dengan suara bergetar, memegang lengan suaminya yang gemetaran karena emosi.

"Mungkin... mungkin Duke Obsidian merasa tersinggung karena kita menawar bunga berharga itu lewat utusan rahasia?"

"Tersinggung atau tidak, bahasa dalam surat ini sungguh tidak beradab!" sahut Richard dengan raut wajah memerah padam. "Dia meremehkan nama besar Rosenberg! Dia mengira kita cuma bangsawan ibu kota yang haus kekuasaan!"

Julian meletakkan surat itu kembali ke meja, menyandarkan badannya ke tepi lemari buku.

"Aku sudah menduga hal ini bakal terjadi. Saat di Benteng Winterfell kemarin, aura pria itu memang sangat arogan. Dia cuma mau melihat sampel kristal kita, tapi begitu menyangkut bunga ajaib itu... dia langsung menutup pintu rapat-rapat."

Ksatria muda itu lalu menoleh menatap adiknya dengan cemas. "Lyn... harapan kita buat mendapatkan obat penyembuhmu lewat jalur diplomasi... resmi gagal."

Seluruh pasang mata di ruangan itu kini tertuju pada Evelyn.

Eleanor menahan tangisnya, buru-buru mendekati kursi Evelyn dan merengkuh bahu putrinya.

"Gimana ini, Evelyn Sayang? Kesehatanmu... cara kita buat memulihkan alur manamu..."

Namun, di luar dugaan semua orang di ruangan itu, Evelyn sama sekali tidak menunjukkan raut wajah sedih, panik, atau kecewa.

Gadis itu justru meletakkan cangkir tehnya dengan gerakan yang amat tenang.

Bibirnya perlahan terangkat, mengukir sebuah senyuman tipis —sebuah senyuman yang membuat Julian sampai membelalakkan mata heran.

"Evelyn..." panggil Julian ragu. "Kamu... kamu nggak apa-apa kan? Kamu nggak lagi syok berat sampai senyum senyum sendiri kan?"

Evelyn terkekeh halus. Ia menyandarkan punggungnya di kursi.

"Syok? Malah sebaliknya, Kak," sahut Evelyn manis, matanya berkilat penuh ide. "Surat penolakan dari Cassian ini... justru adalah jawaban paling sempurna yang Evelyn tunggu-tunggu sejak kemarin!"

Duke Richard mengernyitkan dahi tipis, benar-benar dibuat bingung oleh tanggapan putrinya.

"Sempurna? Maksudmu gimana, Nak? Pria itu jelas-jelas menolak permintaan kita dan mengancam bakal membunuh utusan kita berikutnya!"

"Papa..." Evelyn memajukan badannya sedikit. "Kalau Cassian membalas penawaran kita dengan surat diplomasi yang sopan dan basa-basi... itu artinya dia cuma menganggap Asteria sebagai mitra bisnis biasa yang bisa dia ulur-ulur waktunya."

Evelyn menunjuk surat di atas meja dengan ujung jarinya.

"Tapi lihat bahasa dalam surat penolakan ini," lanjut Evelyn. "Bahasanya sangat tajam, defensif, dan penuh ancaman. Kenapa seorang penguasa dingin sekelas Cassian sampai harus repot-repot menulis surat penolakan se-emosional ini sendiri?"

Julian menahan napasnya, otaknya mulai menangkap arah alur berpikir adiknya. "Karena... dia merasa terancam?"

"Tepat sekali!" seru Evelyn riang seraya menepuk tangannya pelan. "Cassian panik karena kita tahu keberadaan bunga penyembuh rahasia di rumah kaca pribadinya! Dia sadar kalau Asteria punya jaringan intelijen yang jauh lebih dalam dibanding yang dia duga. Dan penolakan kasar ini... sebenarnya cuma gertakan buat memancing siapa pimpinan sebenarnya di balik Asteria!"

Duke Richard terdiam, mulai mencerna analisis yang dilontarkan putrinya. Sebagai bangsawan senior yang berpengalaman di dunia politik, ia menyadari kebenaran di balik kata-kata Evelyn. Seorang serigala tidak akan meraung dan memamerkan taringnya jika tidak ada ancaman nyata yang masuk ke wilayahnya.

"Tapi tetap saja, Evelyn," potong Eleanor dengan raut cemas. "Kalau dia menolak menyerahkan bunganya, gimana kamu bisa sembuh? Dokter Tristan bilang cuma bunga itu satu-satunya kunci penyembuhanmu!"

"Kalau jalan diplomasi resmi ditolak..." Evelyn menyunggingkan senyum miring, "...ya kita pakai cara yang bikin pria itu nggak punya pilihan lain selain berlutut dan menyerahkan bunga itu sendiri."

Julian melangkah maju, membelalakkan matanya. "Kamu mau menyusup ke rumah kacanya?! Lyn, itu gila! Rumah kaca pribadi Obsidian dijaga sama sihir rawa es dan prajurit!"

"Bukan menyusup, Kakak," terkekeh Evelyn manis, melambaikan tangannya di udara.

"Evelyn nggak bodoh buat mempertaruhkan nyawa di kandang serigala. Kita pakai umpan yang jauh lebih mematikan."

Evelyn berpaling menatap ayahnya. "Papa, besok pagi, instruksikan Perusahaan Asteria buat mengumumkan penundaan pasokan kristal Luminite ke seluruh pasar perbatasan Utara. Buat narasi seolah-olah penambangan kita sedang mengalami ganjalan karena ancaman keamanan dari pihak Obsidian."

Duke Richard memajukan dadanya, matanya membelalak menyadari dampak domino dari langkah tersebut. "Penundaan pasokan? Musim dingin ekstrem di Utara bakal datang dalam sepuluh hari lagi! Kalau pasokan kristal diputus..."

"Rakyat Utara bakal mulai merasakan hawa dingin yang membeku," sela Evelyn.

"Dan para bangsawan daerah Utara bakal memprotes keputusan Cassian yang menolak bernegosiasi sama Asteria. Cassian bakal dihantam tekanan politik dari dalam wilayahnya sendiri!"

Evelyn lalu menoleh menatap kakaknya. "Dan buat Kakak... siapkan kereta kuda untuk penyamaran kita lusa."

Julian tersentak. "Kereta? lusa? Kita mau ke mana?!"

"Ke ibu kota," jawab Evelyn mantap.

"Cassian memang menolak permintaan Asteria lewat surat... tapi surat ini dikirimkan lewat burung elang khusus yang hanya dipakai kalau ada pergerakan pasukan rahasia."

Evelyn tersenyum manis, memiringkan kepalanya. "Pria itu sudah bergerak ke ibu kota secara rahasia sejak kemarin malam. Dia pura-pura menolak lewat surat ini untuk membuat kita lengah, padahal dia sendiri mau datang membuktikan siapa sosok di balik Asteria."

Keheningan melingkupi ruang kerja itu sekali lagi, keheningan yang dipenuhi rasa takjub atas kecerdasan taktik Evelyn.

Duke Richard menarik napas panjang, lalu terkekeh rendah seraya menggelengkan kepalanya.

Amarah di wajah sang Duke luluh, berganti jadi rasa bangga pada putri kecilnya yang selama ini dianggap lemah dan tak berdaya.

"Kamu benar-benar mirip almarhum kakekmu, Evelyn," puji Duke Richard, matanya berbinar hangat. "Berani, tajam, dan tidak pernah mundur hanya gara-gara ditakut-takuti lawan."

"Evelyn kan anak Papa," sahut Evelyn tulus, mengedipkan sebelah matanya.

Julian meraup wajahnya, lalu tertawa kecil. "Baiklah. Kalau begitu Kakak bakal siapkan tim pengawal terbaik buat perjalanan ke ibu kota lusa. Kalau pria Obsidian itu benar-benar ada di ibu kota... kita bikin dia menyesal sudah menulis surat kasar ini."

Eleanor mendesah pasrah, memeluk kepala Evelyn dari belakang seraya. "Hati-hati ya, Nak. Mama cuma mau kamu sembuh dan selamat."

"Evelyn pasti sembuh, Ma," bisik Evelyn lembut, mengusap tangan ibunya.

1
Fazira
Cassian 😍😍
Fazira
padahal Rosalia di dunia novel ini protagonis, kenapa sifatnya jadi kaya antagonis gini yaa/Doubt/
Fazira
udah Rosalia 🤭
Fazira
Evelyn Evelyn pinter akting yaa🤣🤣
Fazira
Wah Duke Utara 😍
Fazira
Evelyn Evelyn udah badan penyakitan kenapa akting sakit 🤭
Fazira
kehidupan novel dalam novel ya😄
Fazira
wow transmigrasi kak👍
semangat nulisnya 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!