Bagi Auren, kain biru tua yang kaku itu bukan sekadar seragam baru, melainkan awal dari cerita abadi yang akan ia lewati bersama Evan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurentina Bulolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Yang Gagal Dan Manisnya Baris Kedua
Di sudut koridor luar kelas 7-B, Balisya berdiri dengan tangan mengepal kuat. Wajahnya yang biasa tampak tenang kini memerah menahan amarah yang meledak-ledak di dalam dadanya. Matanya menatap tajam menembus kaca jendela kelas, tepat ke arah baris kedua. Di sana, Evan dan Auren sedang duduk berdampingan, sesekali saling melempar senyum kecil sambil mencatat penjelasan dari guru di papan tulis.
Balisya merasakan kekecewaan yang teramat sangat, bercampur dengan rasa tidak percaya. Pengorbanan dan kerja kerasnya selama beberapa hari terakhir—mulai dari menghasut Fathur, memanas-manasi situasi, hingga memutar otak agar Evan cemburu dan menjauh dari Auren—seketika menguap menjadi abu tak berharga. Pengaturan ulang bangku oleh Buk Linda pagi ini benar-benar menghancurkan seluruh skenario yang sudah ia susun dengan rapi.
"Kenapa bisa secepat ini?" bisik Balisya dengan suara bergetar, menahan air mata kekesalan yang hampir jatuh. "Harusnya mereka makin menjauh. Harusnya Evan benci sama Auren gara-gara Fathur! Kenapa mereka malah makin nempel kayak gini?!"
Ia menghentakkan kakinya ke lantai koridor dengan dongkol. Balisya tahu, membujuk Buk Linda bukanlah hal yang mudah bagi anak kelas 7. Itu berarti Evan telah melakukan usaha yang sangat besar dan memberikan alasan yang sangat kuat demi bisa kembali duduk di sebelah Auren. Menyadari betapa besarnya perjuangan Evan untuk mempertahankan gadis itu, hati Balisya terasa seperti ditusuk jarum. Rasa cemburu yang ia tanamkan pada Evan justru berbalik membakar dirinya sendiri. Dengan perasaan kalah yang amat mendalam, Balisya membalikkan badan dan berjalan pergi, menjauh dari kelas 7-B dengan langkah kaki yang dihentak-hentakkan.
Sementara itu, di dalam ruang kelas, suasana justru berbanding terbalik. Kehangatan yang sempat hilang kini memenuhi ruang di antara meja Evan dan Auren.
Saat jam pelajaran memasuki materi yang cukup rumit, Auren tampak mengerutkan dahinya, menatap bingung ke arah buku paket Matematika miliknya. Ia memutar-mutar pensilnya dengan gelisah, mencoba menghitung rumus yang diberikan di papan tulis namun tidak kunjung menemukan jawabannya.
Evan yang sejak tadi diam-diam memperhatikan gerak-gerik Auren langsung tersenyum tipis. Tanpa suara, ia menggeser buku tulisnya sendiri ke tengah-tengah meja mereka. Di dalam buku itu, Evan sudah menuliskan langkah-langkah penyelesaian rumus tersebut dengan tulisan tangan yang rapi dan sangat mudah dipahami.
"Nih, lihat yang ini. Caranya bukan ditambah, tapi dikali dulu yang di dalam kurung," bisik Evan pelan, kepalanya mendekat ke arah Auren agar suaranya tidak terdengar oleh murid lain.
Auren menoleh, mendapati wajah Evan yang berada sangat dekat di sampingnya. Detak jantung Auren mendadak berdegup sedikit lebih cepat. Ia melihat ke arah buku tulis Evan, lalu tersenyum lega. "Oh... pantesan dari tadi aku hitung hasilnya koma terus. Makasih ya, Van."
"Sama-sama, Aurenku. Makanya, kalau bingung itu tanya ke sebelah kamu, jangan tanya ke baris belakang," goda Evan dengan volume suara yang sangat kecil, melirik sekilas ke arah Fathur yang duduk di baris ketiga.
Auren mencubit pelan lengan Evan, membuat cowok itu menahan tawa agar tidak ditegur guru. "Ih, mulai deh jailnya. Katanya tadi malam jangan cemburuan lagi!"
"Gak cemburu, Ren. Cuma memastikan teritori aja," jawab Evan asal sambil terkekeh geli.
Momen manis itu terus berlanjut hingga bel istirahat berbunyi. Ketika anak-anak lain berhamburan keluar kelas menuju kantin, Auren memilih untuk tetap tinggal di kelas karena ingin menyelesaikan catatan tugasnya. Evan, yang biasanya paling semangat berlari ke kantin bersama anak laki-laki lainnya, justru tetap setia duduk di kursinya, menemani Auren.
Evan menopang dagunya dengan tangan kiri, memiringkan tubuhnya menghadap Auren yang sedang serius menulis. Matanya tidak lepas dari wajah gadis itu, memperhatikan bagaimana helai rambut Auren sedikit turun menutupi pipinya.
"Kenapa sih lihatin aku terus? Emang di muka aku ada coretan pulpen ya?" tanya Auren tanpa mengalihkan pandangannya dari buku, meski pipinya perlahan mulai memerah karena salah tingkah diperhatikan seperti itu.
Evan menggelengkan kepalanya perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman hangat. "Gak ada apa-apa kok. Cuma mau mastiin aja kalau ini beneran kamu. Kemarin pas kamu diemin aku, rasanya kelas 7-B ini sepi banget, kayak gak ada orangnya."
Auren menghentikan gerakan pulpennya sejenak. Ia menoleh dan menatap mata Evan yang tulus. Rasa bersalah karena sempat mendiamkan Evan kemarin malam kini berganti dengan rasa haru yang mendalam.
Suasana kelas 7-B yang sepi di jam istirahat itu terasa sangat milik mereka berdua. Auren dengan perlahan menusukkan sedotan ke kotak susu stroberi pemberian Evan, lalu meminumnya dengan pelan. Rasa manis dan dingin dari susu itu seketika memberikan rasa nyaman yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Di sebelahnya, Evan masih setia memperhatikan setiap ekspresi Auren dengan binar mata yang penuh kelembutan.
"Gimana? Enak?" tanya Evan, memastikan.
Auren mengangguk cepat dengan senyum yang tidak lepas dari wajahnya. "Enak banget! Pas banget lagi haus setelah pusing mikir rumus Matematika tadi."
"Nah, makanya jangan dipikirin terus rumusnya, nanti pusingnya nular ke aku," canda Evan sambil mengambil pulpen Auren yang tergeletak, lalu memainkannya di saku seragamnya sendiri. "Oh iya, nanti pulang sekolah, kamu gak usah buru-buru ke halte ya. Aku mau nemenin kamu duduk di taman depan dulu kalau kamu mau."
Auren menatap Evan, menimbang-nimbang ajakan itu sebelum akhirnya mengangguk setuju. "Boleh. Lagian bus aku biasanya agak telat kalau jam pulang sekolah hari ini."
Mendengar jawaban setuju dari Auren, senyum Evan semakin lebar. Segala ketakutan dan rasa cemas yang menghantuinya sejak kemarin malam kini benar-benar sirna tanpa bekas. Ia tahu, benteng pertahanan Auren yang sempat mengeras karena api cemburunya kemarin kini telah runtuh sepenuhnya, digantikan oleh rasa percaya yang jauh lebih kuat.
Tidak lama kemudian, bel tanda masuk jam pelajaran berikutnya berbunyi nyaring di koridor sekolah. Satu per satu murid kelas 7-B mulai kembali berhamburan masuk ke dalam kelas dengan gaduh, memenuhi ruangan dengan canda tawa mereka. Anaya dan Fathur pun berjalan kembali ke bangku mereka di baris ketiga. Namun, suasana di sekitar meja Evan dan Auren tidak berubah sedikit pun. Mereka tetap berada di dalam dunia kecil mereka yang hangat.
Saat guru mata pelajaran selanjutnya memasuki kelas dan menyuruh semua murid membuka buku, Evan sempat melirik ke arah Auren sekilas. Ia melihat gadis itu sedang tersenyum tipis ke arah papan tulis, seolah memiliki energi baru untuk melewati sisa hari di sekolah.
Hari itu, di baris kedua kelas 7-B, semuanya kembali ke tempat yang seharusnya. Segala rencana licik yang sempat disusun orang lain terbukti lumpuh di hadapan ketulusan. Evan berhasil menjaga janjinya, dan Auren pun tetap memilih untuk menjadi Auren yang sama Auren yang selalu membawa kehangatan bagi Evan, hari ini, besok, dan seterusnya.