Indonesia
NovelToon NovelToon
DIA YANG KU PILIH

DIA YANG KU PILIH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:338
Nilai: 5
Nama Author: Raudah Sahidah

Telah ku lewati perjalanan panjang dengan air mata...

lelah ku melangkah dengan harapan yang hampa....

ku cari sinar terang tuk jalan gelap didepan mata, namun tak kunjung ku jumpa...


Hati menjerit serta memanjatkan doa....

berharap semua cepat mendapatkan akhir bahagia....


Di tengah hati gudah dan gelisah secercah cahaya datang menerpa....

ke hadiran yang ku nanti telah tiba...

dan ku pilih dirimu tuk melengkapi hidup dan menemani sisa umur ku...


Tak banyak ku pinta padamu cukup cintai ku segenap jiwamu dan bimbing aku agar tetap di jalan yang benar...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raudah Sahidah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehangatan Mama

 

 Jihan mempercepat langkahnya, napasnya sedikit terengah namun kakinya tak berhenti melangkah. Jantungnya berdegup kencang seakan ingin melompat keluar dari dadanya, matanya menatap lekat-lekat sosok yang berdiri di bawah naungan pohon mangga yang rindang itu. 

 Di sana, di tempat yang teduh dan tenang, Rina berdiri diam dengan kedua tangannya saling meremas di depan perut, tubuhnya sedikit gemetar menahan rindu yang selama ini ia pendam sendirian.

 Cahaya matahari sore yang menembus celah dedaunan menciptakan bintik-bintik cahaya di wajahnya, menyoroti mata yang sejak tadi tak lepas dari arah ibunya. Rina pun mempercepat langkahnya, melangkah maju dengan kaki yang terasa berat namun hatinya terasa ringan seketika, seolah beban yang selama ini memikul pundaknya perlahan terangkat hanya dengan melihat wajah wanita yang melahirkannya itu.

 

 Jarak di antara mereka perlahan menyusut, langkah demi langkah, detik demi detik yang terasa begitu lama berlalu. Hingga akhirnya tidak ada lagi jarak yang tersisa. Rina tidak sanggup menahannya lagi, ia langsung menghambur ke dalam pelukan ibunya dengan isak tangis yang tertahan di tenggorokan, tubuhnya yang tinggi dan tegap itu seketika terasa begitu kecil dan rapuh di hadapan wanita yang melahirkannya. 

 Jihan pun segera merentangkan kedua lengannya, menyambut putri sulungnya itu ke dalam pelukannya yang hangat dan penuh kasih sayang—pelukan yang selama ini ia rindukan dalam setiap doa di sepertiga malam, pelukan yang menjadi sandaran teraman bagi jiwanya yang pernah terguncang hebat. 

 Lengannya melingkar erat di punggung Rina, menepuk-nepuk pelan seolah menenangkan anak kecil yang ketakutan, seakan takut jika ia melepaskan sedikit saja, putrinya akan hilang kembali menjauh darinya.

 

 Untuk beberapa saat, mereka hanya diam berdiri di sana, saling berpelukan erat di bawah naungan dedaunan yang berdesir lembut tertiup angin sore. Tidak ada kata yang terucap, tidak ada suara selain detak jantung mereka yang saling menyatu dan isak tangis halus yang tertahan di bahu masing-masing. 

 Pelukan itu membawa serta rindu yang terpendam lama, kelelahan yang tak pernah terucap, dan kebahagiaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Jihan memejamkan matanya rapat-rapat, menghirup aroma tubuh putrinya yang masih sama persis seperti yang ia ingat—aroma rumah, aroma kenyamanan, aroma kasih sayang yang tak pernah berubah walau waktu berlalu begitu lama dan jarak memisahkan mereka begitu jauh. 

 Rina membenamkan wajahnya di bahu ibunya, merasakan kehangatan yang menembus hingga ke tulang sumsum, merasakan ketenangan yang selama ini tak pernah ia temukan di mana pun—bukan di restoran megah yang ia bangun, bukan di hadapan orang-orang yang memujanya, bukan di tempat mana pun di dunia ini, kecuali di pelukan ibunya sendiri. Di sini ia merasa pulang. Di sini ia merasa utuh kembali.

 

 Angin sore berhembus pelan, mengibaskan rambut mereka berdua, membawa aroma tanah basah dan bunga melati yang tumbuh merambat di dinding belakang restoran. Waktu seolah berhenti berputar di detik itu, membiarkan ibu dan anak itu menikmati kebersamaan yang begitu singkat namun begitu berharga. 

 Tidak ada yang menyela, tidak ada yang mengganggu. Hanya ada mereka berdua, di bawah pohon mangga tua yang rindang, di halaman belakang tempat yang Rina bangun sebagai bukti cintanya pada keluarga yang ia tinggalkan.

 

 Setelah merasa cukup, setelah merasakan bahwa rindu yang menggunung itu sedikit terobati, mereka perlahan merenggangkan pelukan itu. Jihan melepaskan lengannya namun tangannya tetap bertumpu di bahu Rina, menatap wajah putrinya lekat-lekat, menyisir setiap inci wajah itu dengan pandangannya, seakan ingin memastikan bahwa ini bukan mimpi—bahwa Rina benar-benar berdiri di hadapannya, daging dan darahnya sendiri, anak yang ia besarkan dengan air mata dan keringat, anak yang kini berdiri tegak di hadapannya dengan segala kehebatannya. 

 Jari-jarinya yang kasar namun lembut menyentuh alis Rina, menyusuri garis matanya yang sedikit cekung karena lelah, lalu turun ke pipinya yang terasa lebih kurus dari terakhir kali ia melihatnya. 

 Rina menarik napas panjang, menyeka sudut matanya dengan punggung tangan yang sedikit gemetar, lalu tersenyum tipis—senyum yang masih menyisakan sisa kesedihan namun penuh kehangatan tulus, senyum yang hanya bisa ia berikan kepada ibunya. Ia menggenggam tangan ibunya erat di kedua tangannya, menghangatkan jari-jari yang terasa sedikit dingin, lalu menuntunnya perlahan menuju kursi kayu panjang yang terletak di bawah pohon mangga itu, tempat yang telah ia siapkan sebelumnya dengan penuh kerinduan.

 

"Mama duduk dulu..." ajak Rina pelan, suaranya masih sedikit serak karena tangis yang baru saja ia tahan, namun lembut dan penuh hormat. 

 Mereka pun duduk berdampingan, Rina menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, namun tangannya tidak pernah melepaskan genggaman tangan ibunya. Jari-jarinya saling mengait erat dengan jari-jemari ibunya, seolah takut jika ia melepaskan, wanita itu akan menghilang dari sisinya.

 

"Bagaimana kabar Mama?" tanya Rina lembut, matanya menatap wajah ibunya dengan penuh kasih sayang, meneliti setiap perubahan kecil yang ada di sana, mencari tahu apakah wanita itu sehat dan baik-baik saja selama ia tidak ada di sisinya.

 "Apakah Mama sehat? Apakah Mama makan dengan baik? Apakah Mama tidak terlalu lelah bekerja di sawah?"tanya rina.

 

 Jihan tersenyum lembut, matanya menatap Rina dengan tatapan yang begitu lembut dan penuh kebanggaan, tatapan seorang ibu yang melihat anaknya tumbuh menjadi manusia yang berharga. 

 Tangannya terulur menyentuh pipi putrinya, mengusapnya dengan lembut seolah mengelus benda paling berharga di dunia ini, seolah takut sedikit saja tekanan akan melukai wajah yang selama ini ia rindukan itu. Matanya menatap Rina lekat-lekat, menyimpan setiap detail wajah itu di dalam ingatannya, menyimpannya rapat di dalam hatinya.

 

"Sangat baik, Nak. Apalagi sekarang..." ucapnya pelan, air mata bahagia kembali menetes di pipinya yang keriput namun lembut, jatuh di atas punggung tangan Rina yang menggenggamnya erat. 

"Apalagi sekarang Mama bisa melihatmu dengan mata kepala sendiri. Mama sehat sekali, senang sekali. Tidak ada yang bisa membuat Mama lebih bahagia dari saat ini, Nak. Tidak ada."

 

 Mendengar kata-kata itu, mata Rina tak lagi bisa membendung air matanya. Kekuatan yang selama ini ia bangun begitu kokoh seketika runtuh. Tembok pertahanan yang ia bangun tinggi-tinggi di hadapan semua orang—di hadapan ibu tirinya, di hadapan Rania, di hadapan siapa pun—seketika hancur lebur di hadapan wanita yang melahirkannya.

  Ia tidak sanggup lagi menatap wajah ibunya, beban di pundaknya terasa begitu berat dan ia tak sanggup lagi menahannya sendirian. Dengan gemetar, ia merebahkan kepalanya ke pangkuan sang Ibu, membenamkan wajahnya di kain baju ibunya yang berbau wangi sabun sederhana namun begitu menenangkan. 

 Bahunya terguncang halus, dan air mata yang selama ini ia simpan rapat-rapat, yang selama ini ia tahan agar tidak jatuh di hadapan siapa pun, akhirnya tumpah sepenuhnya. Ia menangis tanpa menahan lagi, membiarkan segala beban yang selama ini dipikulnya sendirian mengalir keluar bersama air mata itu.

 

 Air mata itu bukan hanya sekadar air mata kebahagiaan karena pertemuan yang lama dinanti itu. Bukan hanya rindu yang akhirnya terobati. Air mata itu menandakan sesuatu yang jauh lebih dalam dan menyakitkan—ia menangis karena lelah. Lelah menjadi tegar terus-menerus, lelah bersikap tegas dan mandiri di hadapan semua orang, lelah menampilkan wajah yang kuat dan tak tergoyahkan di hadapan ibu tirinya yang selalu menuntut kesempurnaan, lelah bersikap seolah tidak ada yang bisa melukainya di hadapan Rania yang ia lindungi dengan segala kekuatannya, lelah tampak arogan dan dingin padahal hatinya hancur berkeping-keping. 

 Selama ini ia selalu tampak hebat, selalu tampak berwibawa, seolah tak ada satu pun hal yang bisa melemahkannya. Orang-orang melihatnya sebagai wanita yang sukses, mandiri, tegas, dan tak terkalahkan. Namun tidak ada yang tahu bahwa di balik semua kekuatan itu, hatinya menangis setiap malam. 

 Tidak ada yang tahu bahwa setiap senyum yang ia tampilkan adalah topeng yang ia pakai agar tidak ada yang melihat betapa rapuhnya dirinya. Tidak ada yang tahu betapa lelahnya ia menjadi Rina yang selalu kuat.

 

 Namun di pangkuan ibunya, di tempat yang paling aman di dunia ini, ia tidak perlu lagi berpura-pura. Ia boleh lemah. Ia boleh lelah. Ia boleh menangis tanpa merasa malu atau takut dihakimi. 

 Di sini, ia bukan pemilik restoran sukses yang tegas dan berwibawa. Di sini, ia bukan kakak yang harus selalu melindungi dalam diam, disini ia bukan anak yang harus membuktikan dirinya layak di mata siapa pun. Di sini, ia hanyalah anak kecil yang rindu pada pelukan ibunya. Hanya itu.

 

 Jihan diam sejenak, membiarkan putrinya menumpahkan segala beban yang selama ini dipikulnya sendirian. Ia tidak buru-buru menyuruhnya berhenti menangis, tidak buru-buru menghiburnya dengan kata-kata kosong. Ia hanya membiarkannya menangis, membiarkannya melepaskan segala yang selama ini mengganjal di dadanya. 

  Tangannya terulur lembut, membelai pucuk kepala Rina dengan penuh kelembutan dan pengertian, jari-jarinya menyisir rambut putrinya perlahan, menenangkan setiap getaran tubuh yang menangis di pangkuannya. Usapannya begitu lembut, begitu penuh kasih sayang, seolah menyampaikan bahwa ia mengerti semuanya—ia mengerti kelelahan itu, ia mengerti beban itu, ia mengerti betapa beratnya jalan yang dipilih putrinya.

 

"Jika kamu sudah lelah... berhentilah, Sayang"ucap Jihan pelan namun penuh pengertian, suaranya lembut namun menembus hingga ke hati terdalam Rina, terdengar begitu jelas di tengah isak tangis putrinya. 

"Berhentilah berjuang sendirian. Kamu sudah cukup kuat, Nak. Sudah cukup. Kamu sudah berjuang terlalu lama, terlalu keras. Sekarang istirahatlah di sini... di pelukan Mama. Lepaskan semuanya, biarkan Mama yang memikul bebanmu sebentar saja. Kamu tidak perlu selalu kuat di hadapan Mama" ucapnya.

 

 Rina menggeleng pelan di pangkuan ibunya, napasnya terisak halus namun ia berusaha menenangkan dirinya. Perlahan ia mengangkat kepalanya, menyeka air matanya dengan punggung tangan yang masih gemetar, lalu kembali duduk tegap di samping ibunya. 

 Matanya masih merah dan basah, pipinya masih basah oleh air mata yang tak sempat kering, namun tatapannya kembali tegas, seolah ada tekad yang membakar di dalam dadanya—tekad yang belum selesai, janji yang belum terpenuhi, tujuan yang belum tercapai. Bahkan di saat kelelahan melanda tubuh dan jiwanya, ia tetap tidak bisa berhenti. Ada sesuatu yang harus ia selesaikan, ada keadilan yang harus ia tegakkan, ada janji yang harus ia tepati.

 

"Tidak, Ma..." ucap Rina, suaranya masih bergetar namun matanya menatap lurus ke depan dengan keteguhan yang tak tergoyahkan, tangannya mengepal erat di atas pangkuannya seolah menahan diri agar tidak kembali menangis. 

"Belum... belum bisa berhenti sekarang. Belum waktunya" ucap rina kekeh dengan pendiriannya.

 

"Sampai kapan, Nak?" tanya Jihan lembut, tangannya kembali menyentuh pipi putrinya dengan penuh kekhawatiran, matanya menatap Rina dengan tatapan yang penuh kasih sayang sekaligus cemas.

 "Sampai kapan kamu akan memikul beban ini sendirian? Sampai kapan kamu akan menyembunyikan kelelahanmu di balik senyumanmu? Mama tidak ingin kamu terluka, Nak. Mama tidak ingin kamu menghancurkan dirimu sendiri hanya untuk menyelesaikan sesuatu yang bisa menunggu"

 

 Rina terdiam sejenak, menatap ke arah dedaunan yang bergoyang tertiup angin sore, matanya menerawang jauh seolah melihat masa depan yang sedang ia perjuangkan. Ia menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan seolah melepaskan sebagian beban di dadanya, lalu menatap ibunya dengan tatapan yang lembut namun bulat tekadnya.

 

"Sebentar lagi, Ma" jawab Rina pelan namun tegas, suaranya penuh keyakinan meski matanya masih berkaca-kaca.

 "Hanya sebentar lagi. Tunggu aku sampai di garis finis, lalu aku akan berhenti. Aku janji. Setelah semuanya selesai, setelah semuanya kembali pada tempatnya, aku akan berhenti dan pulang ke Mama. Aku akan pulang, Ma" ucap rina.

 

 Jihan menatap putrinya dengan pandangan yang penuh doa dan keikhlasan. Ia tahu betul sifat anaknya—sekali ia bertekad, tak ada yang bisa mengubahnya. Ia tidak bisa memaksanya untuk berhenti, tidak bisa melarangnya melanjutkan perjuangannya, karena ia tahu betul bahwa Rina tidak akan berhenti sebelum tujuannya tercapai. Yang bisa ia lakukan hanyalah mendoakan, mendoakan agar jalan yang dipilih putrinya membawa kebaikan, agar hatinya tetap tenang, dan agar ia terlindungi dari segala bahaya.

 

"Baiklah..." ucap Jihan pelan, mengangguk pelan sambil mengusap air mata di pipi Rina dengan ujung jarinya yang lembut. 

"Mama tidak akan melarang. Mama tidak akan menghalangi jalanmu. Mama hanya bisa mendoakan semoga apa yang kamu tuju segera kamu capai. Semoga jalanmu dimudahkan, hatimu ditenangkan, dan usahamu diberkahi. Semoga Tuhan melindungimu di mana pun kamu berada, Nak. Mama akan selalu mendoakanmu dari mana pun Mama berada, siang dan malam, tanpa pernah putus. Mama akan selalu ada untukmu, di sini" Jihan meletakkan tangan Rina di atas dadanya, tepat di atas jantungnya yang berdetak lembut dan penuh kasih sayang.

 

 Rina menatap ibunya lekat-lekat, matanya kembali berkaca-kaca namun kali ini bukan karena kesedihan—melainkan karena rasa syukur yang begitu dalam, rasa terima kasih yang tak terhingga memiliki ibu sebaik dan sepenuh hati seperti Jihan. Ia menggenggam tangan ibunya erat-erat, mendekapkannya ke dadanya, mencium punggung tangan itu dengan penuh hormat dan kasih sayang.

 

"Terima kasih, Ma..." ucap Rina tulus, suaranya bergetar penuh penghargaan dan kasih sayang yang tak terhingga. 

"Terima kasih sudah mengerti. Terima kasih sudah menerima aku apa adanya. Terima kasih sudah menjadi Mama yang selalu ada untukku, walau hanya dalam doa. Terima kasih tidak pernah menyerah padaku, Ma. Terima kasih karena selalu percaya padaku, bahkan saat aku sendiri tidak percaya pada diriku sendiri. Terima kasih untuk semuanya" ucap rina.

 

 Jihan tersenyum lembut, menarik tubuh putrinya ke dalam pelukan singkat namun penuh makna, mencium kening Rina dengan penuh kasih sayang, memeluknya erat seolah ingin menyampaikan seluruh kasih sayangnya melalui pelukan itu.

 "Terima kasih kembali, Nak. Terima kasih sudah menjadi anak Mama yang hebat. Mama bangga padamu... sangat bangga. Apa pun yang terjadi, apa pun yang orang lain katakan, bagi Mama kamu tetap anak yang paling berharga. Jangan pernah lupa itu, ya"

 

 Angin sore berhembus pelan di antara mereka, membawa serta dedaunan kering yang berputar halus di udara, menyapu halaman belakang restoran itu dengan kelembutan yang menenangkan. Di bawah pohon mangga yang rindang itu, ibu dan anak itu duduk berdampingan dalam keheningan yang hangat—menikmati setiap detik kebersamaan yang terasa begitu singkat namun begitu berharga, menyimpan kekuatan baru untuk melanjutkan perjalanan yang masih panjang di depan mereka.

  Rina menyandarkan kepalanya di bahu ibunya sejenak, merasakan ketenangan yang selama ini ia rindukan, berdoa dalam hati agar waktu berhenti berputar sebentar saja, agar ia bisa lebih lama lagi berada di samping wanita yang paling ia cintai di dunia ini. Namun ia tahu, waktu tidak bisa berhenti, dan tugasnya belum selesai. 

 Hati ini penuh rindu, namun tekadnya lebih kuat dari rindu itu. Ia akan menyelesaikan apa yang harus diselesaikan, lalu ia akan pulang. Ia berjanji pada dirinya sendiri, dan ia berjanji pada ibunya.

 

Bersambung...

 

 

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!