Di masa perkuliahan, di sela petualangan dan kebersamaan, benih cinta tumbuh tulus di antara Doni dan Kristin. Hati mereka saling tertaut, menyusun janji dan harapan akan masa depan. Namun setelah lulus, takdir masing-masing membawa mereka berdua ke jalan yang berbeda. Cinta yang sempat bersemi indah pun terpaksa terhenti, dan mereka berpisah — membiarkan waktu dan jarak memisahkan raga, meski perasaan itu tak sepenuhnya hilang. Beberapa tahun kemudian, takdir kembali menyatukan mereka. Saat mata mereka saling bertemu, kenangan lama bangkit seketika. Perasaan yang sempat terpendam seakan kembali menyapa, utuh seperti sedia kala. Namun kini keduanya bukan lagi anak muda yang dulu tanpa beban. Banyak hal telah berubah, banyak hal telah mengisi hidup mereka masing-masing. Di hadapan perasaan yang kembali menyapa, satu pertanyaan menggantung di udara: apakah kali ini mereka akan bersatu, atau justru kembali melanjutkan jalan masing-masing dengan kenangan yang tersimpan rapi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HANYUT TERBAWA BANJIR
Pagi itu, udara di dalam kawasan hutan terasa sejuk dan menyegarkan. Setelah para peserta baru selesai menikmati sarapan pagi mereka, Rangga pun segera memanggil mereka agar berkumpul dan berbaris rapi di lapangan terbuka tak jauh dari tenda. Wajah-wajah mereka tampak bersemangat sekaligus penuh rasa ingin tahu, menantikan kegiatan apa yang akan dijalani pada hari kedua perkemahan itu.
Rangga melangkah ke depan barisan mereka, berdiri tegak dengan pandangan yang tegas namun tetap ramah. Setelah memastikan semua perhatian tertuju kepadanya, Rangga pun mulai membagi tugas dengan suara yang lantang dan jelas terdengar oleh setiap orang yang hadir.
"Jeki," panggil Rangga menatap pemuda itu, "kau yang bertugas membawa tas carrier berisi tali carmantel sepanjang dua ratus meter. Pastikan tali itu terjaga dengan baik dan tidak tersangkut atau terbuang di sepanjang jalan."
Jeki mengangguk mantap. "Siap, Kak."
"Joel dan Bobi," lanjut Rangga berpindah menatap dua pemuda itu, "kalian berdua bersama-sama membawa tas carrier berisi persediaan bahan makanan yang akan kita masak untuk makan siang nanti. Jaga agar bahan-bahan tersebut tidak rusak atau basah."
Joel dan Bobi pun serentak menjawab, "Siap, Kak."
Rangga kemudian melangkah selangkah ke depan, menatap seluruh peserta baru dengan saksama sebelum menjelaskan rangkaian kegiatan hari itu. "Baik, perhatikan penjelasannya. Hari ini, kegiatan pertama yang akan kita lakukan adalah telusur sungai. Setelah itu, kita akan berlatih pembacaan kompas secara tepat dan akurat untuk menunjuk ke arah lokasi tenda kita. Selanjutnya, kita beristirahat untuk makan siang bersama. Setelah makan siang, kita akan bergerak menuju lokasi lain yang agak jauh dari sini untuk melakukan kegiatan panjat tebing sekaligus menuruni jurang menggunakan tali."
Suasana seketika menjadi hening sejenak, namun semangat di wajah mereka tak surut sedikit pun. Rangga kembali membuka suaranya dengan nada yang lebih lembut namun tetap tegas, mengingatkan mereka agar tetap waspada.
"Selama kegiatan berlangsung, tetaplah fokus dan jaga kesehatan tubuh masing-masing. Jangan memaksakan diri jika merasa kurang kuat, dan sampaikan segera kepada panitia jika ada yang merasa tidak enak badan. Keselamatan adalah yang utama," pesan Rangga dengan tulus.
Setelah pembagian tugas dan penjelasan selesai disampaikan, Rangga pun memberi isyarat agar mereka bergerak. "Baik, mari kita berangkat."
Mereka pun berjalan beriringan mengikuti arah aliran sungai yang melintasi kawasan hutan tersebut. Namun perjalanan itu ternyata tidak semudah yang mereka bayangkan. Sebabnya, mereka harus berjalan melawan arus sungai yang terkadang berderu deras dan airnya cukup dalam hingga menyentuh pinggang. Air sungai yang dingin menyentuh kulit, membuat napas mereka seakan tertahan sesaat. Satu per satu melangkah dengan hati-hati, tangan mereka saling memegang erat tali yang direntangkan sebagai pegangan bersama, agar tidak tergelincir atau terbawa arus yang kuat. Setiap langkah terasa berat dan melelahkan, namun tak satu pun dari mereka mengeluh atau berhenti melangkah. Mereka terus berjuang maju, menahan rasa lelah dan dingin yang menyusup ke seluruh tubuh, terus berjalan melawan arus sungai itu selama beberapa jam lamanya.
Hingga akhirnya, ketika matahari mulai meninggi dan hari menjelang siang, Rangga memberi isyarat agar mereka berhenti berjalan. Mereka pun beristirahat sejenak di tepian sungai yang agak luas dan kering, sambil mengatur napas yang terasa tersengal. Belum lama mereka beristirahat, sesosok pemuda berjalan mendekat dari arah hutan. Itu adalah Billy, yang datang menyusul mereka sambil membawa beberapa buah kompas di tangannya.
Billy pun berdiri di hadapan mereka, lalu memanggil nama peserta baru satu per satu. Setiap nama yang dipanggil maju ke depan, menerima kompas dari tangan Billy, lalu belajar membaca arah dan menunjuk ke arah lokasi tenda kita. Dengan sabar dan teliti, Billy membimbing mereka satu per satu hingga setiap orang mampu memahami dan menggunakan kompas dengan benar.
Siang pun semakin terasa menyengat. Setelah latihan kompas selesai dilakukan, Billy mengarahkan mereka agar segera mengeluarkan bahan makanan yang dibawa untuk kemudian dimasak bersama sebagai makan siang. Semua orang pun segera bergerak menyiapkan bahan makanan, ada yang membersihkan sayuran, ada yang memotong bahan-bahan, dan ada pula yang menyiapkan api untuk memasak.
Di sudut tempat itu, Ari berjalan mendekati Kristin yang sedang sibuk memotong sayuran dengan hati-hati. Melihat cara Kristin bergerak yang tampak sedikit tertahan, Ari pun bertanya dengan nada lembut penuh perhatian.
"Bagaimana keadaan kakimu, Kristin? Apakah masih terasa perih?"
Kristin menghentikan sejenak gerakan tangannya, lalu menoleh menatap Ari dengan senyum tipis. "Terima kasih sudah bertanya, Ari. Kakiku masih terasa sedikit perih, namun aku masih mampu berjalan dan melakukan kegiatan seperti biasa. Jangan khawatirkan aku."
Ari mengangguk pelan, namun wajahnya masih tampak penuh kekhawatiran. "Kalau begitu, nanti saat kita berjalan kembali, biarkan aku berjalan bersamamu. Jika kau merasa lelah atau kesulitan, berpeganganlah padaku. Aku akan membantumu agar tidak tertinggal atau jatuh."
Mendengar tawaran tulus itu, hati Kristin terasa hangat. Ia pun tersenyum tulus kepada pemuda di hadapannya itu. "Terima kasih banyak, Ari. Kau sungguh baik. Terima kasih sudah banyak membantuku sejak kita pertama kali masuk ke dalam hutan ini. Aku sungguh merasa terbantu."
Ari hanya tersenyum menanggapi ucapan terima kasih itu, lalu kembali membantu menyiapkan bahan makanan agar masakan mereka segera siap dinikmati.
Tak lama kemudian, masakan pun selesai dan mereka pun menikmati makan siang bersama dengan penuh kehangatan. Makanan sederhana yang dimakan dalam keadaan lelah dan lapar itu terasa begitu nikmat dan lezat. Setelah selesai makan dan merapikan kembali peralatan, Rangga pun berdiri dan menyampaikan pengumuman untuk kegiatan selanjutnya.
"Baik, perhatikan. Setelah ini, kita akan bergerak menuju tebing curam yang berada tidak jauh dari sini. Di sana, kegiatan kita adalah menuruni jurang menggunakan tali, lalu dilanjutkan dengan mendaki kembali naik ke atas melalui dinding tebing tersebut. Lakukan dengan tenang, ikuti setiap arahan yang diberikan, dan jangan panik."
Namun di saat yang bersamaan, langit yang sedari tadi cerah tiba-tiba berubah menjadi kelabu dan gelap seketika. Billy yang memperhatikan perubahan cuaca itu pun segera bersuara dengan nada mendesak.
"Kita harus bergerak cepat. Langit terlihat sangat gelap seolah-olah badai akan segera turun, meskipun ini masih siang hari. Segera selesaikan kegiatan ini dengan tertib namun secepat mungkin, agar kita dapat kembali ke lokasi tenda kita yang aman sebelum hujan turun semakin deras."
Mendengar peringatan itu, mereka pun segera beranjak menuju lokasi tebing jurang yang dimaksud. Sesampainya di tepi jurang yang dalam dan terjal itu, udara terasa semakin dingin dan angin mulai bertiup kencang. Rangga segera mengambil tali carmantel yang dibawa Jeki, lalu mengikatkan salah satu ujungnya dengan kuat pada batang pohon besar yang tumbuh kokoh di tepi jurang. Setelah memastikan ikatannya terpasang sangat kuat dan tak akan mudah lepas, Rangga pun memasang kunci pengaman serta alat penahan beban agar tali itu aman digunakan untuk menuruni dinding jurang. Setelah segala sesuatu dipastikan terpasang dengan sempurna, Rangga pun mempraktikkan sendiri cara menuruni jurang tersebut dengan benar. Dengan gerakan yang lincah dan terampil, ia melangkah turun membelah udara menuju dasar jurang yang cukup dalam, sambil sesekali menoleh ke atas memberi isyarat agar semuanya aman.
Cintya yang memperhatikan Rangga bergerak begitu luwes dan berani tak kuasa menahan kekagumannya. Matanya tak berkedip menatap sosok itu yang perlahan menjauh ke bawah. "Wah... Kak Rangga sungguh keren sekali. Berani dan terampil sekali menuruni jurang sedalam itu," gumam Cintya dengan mata berbinar kagum.
Berbeda dengan Cintya, Kristin yang berdiri tak jauh dari sana justru menatap ke bawah dengan wajah yang pucat dan ketakutan. Kakinya terasa lemas seketika saat melihat betapa dalam dan terjalnya jurang tersebut. Jantungnya berdegup kencang luar biasa, napasnya pun terasa sesak. Dengan suara yang bergetar penuh ketakutan, Kristin pun berbisik pelan. "Aku... aku takut ketinggian. Bagaimana aku bisa melakukannya..."
Tak lama kemudian, terlihat Rangga kembali memanjat naik ke atas dengan sangat lincah menggunakan jalur yang sama, dibantu perlengkapan tambahan yang telah dipasangnya di dinding tebing. Dalam sekejap mata, ia pun telah kembali berdiri di tepi jurang bersama mereka dengan napas yang tetap teratur.
Billy segera melangkah ke depan dan menyampaikan arahan dengan nada yang semakin mendesak. "Segera mulai turun satu per satu. Hujan sudah mulai turun, dan kita harus menyelesaikan ini secepat mungkin sebelum cuaca menjadi semakin buruk."
Joel melangkah maju sebagai orang pertama. Dengan tenang dan mengikuti arahan yang telah diberikan, ia pun berhasil menuruni jurang dengan selamat dan kembali naik ke atas tanpa kesulitan berarti. Selanjutnya adalah Jeki. Meski tampak belum terlalu terbiasa dengan kegiatan seperti itu, Jeki tetap berusaha sebaik mungkin dan akhirnya berhasil menyelesaikannya dengan selamat pula. Kemudian disusul Cintya yang harus dibantu dan dipandu langsung oleh Rangga agar tetap aman, lalu Bobi yang melakukannya dengan sangat cepat dan gesit seolah tak menemukan kesulitan sedikit pun.
Hingga akhirnya tibalah giliran Kristin. Jantungnya berdegup kencang tak karuan, kakinya terasa gemetar hebat. Ari yang berdiri di sampingnya pun segera menyadari keadaan Kristin yang tampak ketakutan luar biasa. Dengan sigap, Ari pun melangkah maju dan berkata kepada Rangga.
"Kak, izinkan aku turun lebih dulu. Nanti aku bisa membantu dan memandu Kristin dari bawah saat ia hendak turun."
Rangga mengangguk setuju. "Baik, Ari. Turunlah hati-hati."
Ari pun segera melangkah turun dengan cepat dan terampil, tak lama kemudian ia pun telah berdiri di dasar jurang sambil mendongak ke atas memberi isyarat agar Kristin turun.
Rangga pun segera bergegas menyuruh Kristin turun secepat mungkin, karena butiran hujan mulai turun semakin deras membasahi wajah dan pakaian mereka. "Kristin, turunlah perlahan. Pegang tali dengan kuat, dan jangan takut. Ari sudah menunggu di bawah untuk membantumu."
Kristin menarik napas panjang berusaha menenangkan diri, lalu perlahan melangkah turun menuruni dinding jurang yang licin karena air hujan. Tangan kirinya memegang tali erat-erat, sementara tangan kanannya menjaga posisi tali pengaman yang terpasang di belakang pinggangnya agar menahan tubuhnya dengan kuat. Hujan turun semakin deras, membasahi wajahnya hingga pandangannya menjadi kabur. Angin pun bertiup semakin kencang, membuat tubuhnya terasa menggigil kedinginan.
Namun belum sempat Kristin turun jauh ke bawah, tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang sangat dahsyat dari kejauhan. Tanah di sekitar dinding jurang seakan bergetar hebat. Terdengar suara longsoran tanah dan bebatuan yang jatuh, disertai suara aliran air yang tiba-tiba membahana dengan sangat deras dan mengerikan. Air hujan yang turun tanpa henti itu seketika mengubah aliran sungai di dasar jurang menjadi banjir besar yang melaju dengan kecepatan luar biasa.
Melihat hal itu dari atas, Billy seketika berteriak dengan suara melengkung penuh kepanikan. "Kristin! Ari! Segera naik ke atas! Cepat! Naik sekarang juga!"
Namun terlambat. Dalam sekejap mata, air yang keruh dan berarus sangat deras itu langsung meluap dan mengalir deras ke arah dasar jurang tempat Kristin dan Ari berada. Tinggi air itu naik dengan luar biasa cepat, membawa bebatuan dan ranting pohon yang hanyut terbawa arus.
Di atas tepi jurang, Billy, Rangga, serta keempat peserta baru yang masih berada di atas pun terpaku ketakutan. Wajah mereka seketika pucat pasi menatap pemandangan mengerikan di bawah sana. Hujan turun semakin deras, kabut mulai menyelimuti dasar jurang, menyembunyikan sosok Kristin dan Ari yang seketika terjebak di tengah luapan air bah yang mengamuk itu. Teriakan nama mereka bergema di tengah deru hujan dan gemuruh air, namun tak ada balasan yang terdengar. Hanya suara air yang mengamuk menyahut, membawa ketakutan luar biasa ke dalam hati setiap orang yang berdiri terpaku di tepi jurang itu.