Indonesia
NovelToon NovelToon
Su Yu Memberontak Takdir

Su Yu Memberontak Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Action / Epik Petualangan
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: YUKARO

Dia bukan siapa-siapa di keluarganya sendiri. Dihina, dipukul, dan dianggap sampah oleh adik kandungnya sendiri, Su Yu hanya punya satu harga diri tersisa: kepatuhan. Ketika ia diperintahkan masuk ke Hutan Kelabu yang mematikan untuk mencari Tanduk Rusa Malam, ia tidak punya pilihan selain menurut.

Namun di dalam hutan, ia menyaksikan pertarungan antara dua makhluk dahsyat yang seharusnya tidak pernah ia lihat. Ketika seorang peri cantik terjatuh tak berdaya di hadapannya, Su Yu dihadapkan pada pilihan sederhana: pergi menyelamatkan diri, atau mempertaruhkan nyawanya untuk orang asing.

Ia memilih yang kedua.

Tanpa disadarinya, satu tindakan kecil itu akan mengubah takdirnya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Pria Sejati di Sarang Perampok

Malam telah turun sempurna di kaki Gunung Batu Putih. Nyala api unggun di area terbuka menjulang setinggi dua zhang, menari-nari liar diterpa angin pegunungan yang dingin. Cahayanya yang merah kekuningan menerangi barak-barak kayu di sekelilingnya.

Di dalam salah satu kandang, Su Yu telah duduk bersila sejak senja tiba. Kedua matanya terpejam, tetapi kesadarannya justru terjaga penuh. Setiap kali langkah kaki mendekat untuk memeriksa, tubuhnya sudah lebih dulu tenggelam ke dalam tanah, menghilang tanpa bekas. Ia sudah melakukannya tujuh kali hari ini, cukup untuk menghafal seluruh sudut tempat dan seluruh perampoknya.

Delapan anak buah, dan satu pemimpin.

Dua berdiri di depan pintu markas sebelah utara. Enam lainnya mabuk berat di sekeliling api unggun. Pemimpin mereka berada di kamp utama sebelah selatan, pria bertubuh besar dengan rahang keras dan aura Pendekar Besi tahap puncak yang tidak bisa disembunyikan.

Su Yu membuka matanya perlahan. Kedua gadis belasan tahun itu masih memeluk lutut di sudut kandang, sementara empat anak laki-laki menatapnya dengan mata penuh harap.

"Kalian tunggu sebentar lagi," bisik Su Yu nyaris tanpa suara. "Kakak pasti bebaskan kalian."

Anak-anak itu mengangguk patuh tanpa bersuara. Dua gadis di sebelah mereka tampak ragu-ragu, tetapi mereka menatap Su Yu dengan kecemasan yang tidak berlebihan.

"Tenang saja. Kakak akan baik-baik saja."

Gadis yang lebih tua menggigit bibir bawahnya, lalu mengangguk pelan. Gadis yang lebih muda mengikutinya, meski jemarinya saling bertaut erat.

Su Yu memejamkan mata.

"Xioutian, sekarang."

"Baik, Tuan."

Dari telapak tangan Su Yu, seberkas cahaya biru menyelinap keluar melewati celah kayu kandang. Xioutian muncul dalam wujud kecilnya, lalu terbang rendah menuju gerbang utara dengan kedua sayapnya mengepak tanpa suara.

Dua penjaga di depan pintu markas sedang duduk di atas batu, saling berbagi kendi arak. Wajah mereka merah, tatapan mereka mulai sayu.

"Kalau besok tebusan belum juga datang, bos pasti suruh kita potong jari anak-anak itu satu-satu," ujar salah satunya sambil menyeka mulutnya.

"Terserah. Yang penting kita tetap dibayar."

Belum sempat rekannya menjawab, suara aneh terdengar dari arah halaman.

"Hei, perampok bodoh! Lihat ke sini!"

Kedua penjaga itu mendongak hampir bersamaan. Dua zhang di depan mereka, seekor burung kecil berbulu biru melayang di udara. Burung itu menjulurkan lidahnya, lalu mengepakkan sayap dengan gaya yang mengejek.

"Sial... burung iblis apa itu? Berani sekali menghina kita!" maki salah satu penjaga sambil bangkit dengan golok di tangan.

"Bedebah! Tangkap burung jelek itu!"

Xioutian menjulurkan lidahnya sekali lagi, lalu membalikkan badannya ke kanan. "Kalau berani, mari bertarung! Atau jangan bilang kalian takut pada burung sebesar ini?"

Kedua penjaga itu langsung bangkit dan berlari ke arah Xioutian dengan langkah sempoyongan. Burung kecil itu melesat perlahan, sengaja menjaga jarak agar keduanya semakin menjauh dari pos jaga mereka.

Sementara itu, Su Yu sudah lebih dulu masuk ke dalam tanah. Ia bergerak cepat menuju area api unggun, muncul kembali beberapa zhang dari keranjang senjata yang terletak di sisi kiri. Kedua matanya menyapu keenam perampok yang tersisa.

Dua orang sudah tergeletak tak sadarkan diri. Empat lainnya duduk dengan punggung menyandar pada kayu bakar, mata mereka setengah tertutup oleh pengaruh arak.

Su Yu mengendap menuju keranjang senjata. Jemarinya meraih sebilah golok yang gagangnya terbungkus kulit usang. Begitu senjata itu berpindah ke tangannya, tubuhnya langsung bergerak mendekati perampok terdekat.

Sosok pertama yang ia tuju adalah pria gemuk yang masih setengah sadar. Ketika tiba dibelakangnya, Su Yu menjambak rambutnya ke belakang, memaksa leher perampok itu terbuka tidak terlindungi.

Golok itu bergetar di tangannya sebelum melakukan tugas berat.

"Maafkan aku..."

Su Yu menyayat leher dengan cepat.

Sret!

Kepala itu terlepas dari tubuhnya. Darah menyembur liar ke segala arah, membasahi wajah Su Yu yang hanya terlihat dari balik tudung jubah.

Tubuhnya terhuyung mundur. Kedua lututnya gemetar, dan pandangannya kosong menatap kepala yang kini menggantung di jari-jarinya. Mata kepala itu masih terbuka lebar, seolah tidak sempat memahami apa yang baru saja terjadi.

Su Yu menjatuhkannya. Air mata keluar tanpa ia sadari, bercampur dengan darah yang menetes dari dahinya.

Namun perampok lain yang setengah sadar langsung tersentak. "Hei, bangun semuanya! Ada penyusup!"

Empat sosok langsung terjaga dalam kondisi tidak stabil. Mereka berusaha meraih senjata masing-masing, tetapi Su Yu tidak memberi ruang. Ia berlari ke arah pria yang berteriak tadi, lalu menebas lehernya dari samping kiri.

Sret!

Kepala itu terlempar dari tubuh.

"Maafkan aku..."

Lalu Su Yu masuk ke dalam tanah, menghilang sebelum tiga perampok sisanya sempat bereaksi.

"Hei! Ke mana dia?!"

"Sial! Di bawah tanah!"

Su Yu muncul di belakang pria paling kurus. Goloknya berayun dari atas ke bawah.

Sret!

Tanpa menunggu tubuh itu jatuh, ia kembali menyelam ke dalam tanah. Dari arah lain, satu tebasan lagi. Lalu masuk lagi. Tebasan berikutnya. Berulang tanpa jeda.

Perampok terakhir berteriak histeris sambil mengayunkan goloknya ke arah yang tidak jelas.

"Keluar kau! Jangan sembunyi seperti tikus!"

Su Yu muncul di samping kanannya. Kali ini tebasan datang dari arah bawah, mengarah ke perut.

Sret!

Pria itu jatuh berlutut, lalu tersungkur di atas tanah yang telah berubah menjadi lumpur darah.

Su Yu keluar dari tanah, lali berdiri di tempatnya dengan kepala tertunduk. Jubah abu-abunya berlumuran darah, sementara tatapan matanya kosong.

"Rasanya... hatiku ikut terpotong setiap kali golok ini merenggut nyawa..."

Tidak sempat ia menenangkan gejolak rasa bersalah, mendadak suara langkah berat terdengar memecah keheningan.

"Siapa kau?!"

Tekanan dari suara itu menghantam tubuh Su Yu seperti gelombang yang tidak terlihat. Ia menoleh ke arah selatan. Di sana, pria tinggi besar itu berdiri di depan kamp utamanya, kedua tinjunya sudah terangkat. Matanya menyala seperti binatang yang baru saja terusik.

Su Yu mengangkat wajahnya.

"Aku... Su Yu..."

Pria itu melangkah maju. Setiap injakan kakinya meninggalkan jejak di atas tanah berpasir.

"Su Yu? Bocah, dari mana kau berasal? Kenapa kau membunuh anak buahku?"

Su Yu mengangkat goloknya yang masih meneteskan darah. "Untuk membebaskan orang-orang yang kau tahan."

Pemimpin perampok itu tertawa pendek, lalu mengepalkan tangannya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Oh, mau bermain pahlawan? Kalau begitu, datanglah. Serang aku jika ingin membebaskan tahanan itu."

Su Yu menyipitkan matanya.

"Angkat senjatamu."

Pria itu menggosok kedua tinjunya bergantian. "Aku tidak pernah bertarung seperti pengecut yang bergantung pada senjata. Laki-laki sejati bertarung dengan tubuh, bukan dengan alat bantu."

Su Yu tertegun. Sesaat ia tidak menyangka mendengar kalimat aneh dari seorang penjahat yang sehari-harinya hidup dengan menculik orang tak berdosa. Ada sesuatu yang ironis di sana. Ia menjatuhkan golok dari tangannya.

Bilah itu jatuh ke tanah keras dengan suara logam yang nyaring.

Lalu Su Yu melepas tudung yang menutupi kepalanya. Jubah itu menyingkap rambut hitamnya yang basah oleh keringat dan darah. Ia merentangkan kedua lengannya ke samping, membiarkan dadanya terbuka lebar.

"Apa ini cukup terlihat seperti seorang pria?"

Pemimpin perampok itu menyeringai. "Belum. Tapi setidaknya kau tidak pengecut seperti kebanyakan pendekar muda."

Dua pasang mata saling bertaut di antara nyala api unggun yang masih membumbung tinggi. Di belakang mereka, bulan menggantung pucat di atas puncak Gunung Batu Putih, menjadi saksi bisu atas pertarungan yang sebentar lagi dimulai.

1
iwakali
berenang dalam tanah
septian arista
👍👍👍👍👍
septian arista
malu nggak tuh😀😀😀
AAAAAA: Hehe/Chuckle//Chuckle/
total 1 replies
septian arista
👍👍👍
septian arista
untuk mengelabuhi musuhnya Kenapa nggak lompat ke sungai terlebih dahulu baru masuk ke dalam tanah
AAAAAA: Sungai dibelakang musuh. Nanti lari ke musuh dong.
total 1 replies
septian arista
semoga novel ini benar-benar tamat sampai episode terakhir enggak kaya novel-novel yang sebelumnya
AAAAAA: Ya semoga aja/Grievance/
total 1 replies
septian arista
semakin bagus ceritanya
AAAAAA: Terimakasih/Determined/
total 1 replies
Aisyah Suyuti
good
septian arista
benar-benar menarik
Fajar Fathur rizky
bikin jika su yu sudah kuat bantai klan su sampai ke akar akarnya thor bantai tetua keempat yang menendang suyu itu dengan cara paling kejam pajang tubuhnya yang tidak bernyawa itu
Fajar Fathur rizky: thor bikin su yu tubuhnya yang baru tubuh lamanya hancur jiwanya masuk ke dalam tubuh baru yang menyimpan rahasia seperti novel sebelumnya thor tolong di jawab
total 2 replies
septian arista
apa novel yang satunya lagi nggak dilanjutin
AAAAAA: Enggak. Nanti mau di pindahkan ke tempat lain.
total 1 replies
septian arista
mau seperti apapun dia harus ingat istrinya yang sudah berjanji menunggu dia di benua Tengah
AAAAAA: Santay aja, aman/Smile/
total 1 replies
Agus Rose
Hmmm selalu ada aj perempuan muda yang belom apa2 sudah mengarah ke su yu ,semoga tidak ada kata "merah merona,menggigit bibir" karena kalo ada itu tanda2 😍❤️
AAAAAA: Enggak lah/Facepalm/
total 1 replies
septian arista
ini para pembaca yang lain ke mana ya
biasanya novel karyamu selalu mendapatkan atensi yang banyak🤔🤔🤔
septian arista
Ayo Terus lanjut👍👍👍
Fajar Fathur rizky
thor bikin su yu mendapatkan teknik untuk membuat klon thor bikin nanti yang ketemu istri peri cangle ketemu tubuh klone su yu
septian arista
semakin seru dan menarik Sayang kalau novel ini nggak sampai tamat
AAAAAA: Kita lihat nanti/Sweat//Cry/
total 1 replies
septian arista
ini berarti burung biru itu akan menjadi mentor bagi dia
AAAAAA: Aman itu. Nanti dapat teknik dia/Determined/
total 3 replies
septian arista
Kenapa istrinya tidak memberikan teknik beladiri kepada suaminya walaupun sedikit saja sebagai bekal
AAAAAA: Si Peri Cangle dari keluarga kelas SSS. Jadi dia gak punya teknik dasar yang normalnya manusia dana di benua Ming. Kalau author buat Cangle kasih teknik, cerita jadi gak menarik akibat Su Yu terlalu mudah nantinya. Jadi ini keputusan author aja sih. Nanti juga si Xiaotian sedikit banyaknya yang bimbing. Jadi santuy/Determined//Determined/
total 1 replies
septian arista
semoga dua novel yang baru ini nggak berhenti di tengah jalan atau dihapus lagi🥺🥺🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!