Jingga Arletha Alinka punya segalanya—kecerdasan, karier gemilang, dan kehidupan glamor sebagai pewaris perusahaan besar. Sayangnya, satu hal yang tidak pernah masuk dalam daftar pencapaiannya adalah: pacar. Bukan karena tak ada yang mendekat, tapi karena ia terlalu sibuk dengan tumpukan pekerjaan dan target perusahaan.
Sampai akhirnya, orang tuanya melemparkan sebuah “kejutan”: perjodohan dengan Levin Artama Putra. Levin adalah pengusaha muda sukses, anak tunggal yang super manja dan Possessive. Tampan? Tentu saja. Menyebalkan? Jelas.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin seorang wanita tegas seperti Jingga bisa cocok dengan pria yang bahkan tidak percaya pada cinta? Atau jangan-jangan, justru pertemuan konyol inilah yang akan mengubah hidup mereka berdua selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biqy fitri S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Lamaran Moza & Egha
Hari yang ditunggu pun tiba. Sejak pagi buta rumah keluarga Moza sudah ramai. Beberapa pekerja dekorasi sibuk menata bunga mawar putih dan pink di halaman depan, lampu-lampu gantung sudah berjejer, dan karpet merah dibentangkan menuju ruang tamu besar. Tak lupa mempersiapkan penampilannya masing- masing.
Tak terkecuali Jingga. Ia sudah siap dengan kebaya mewah nan elegan berwarna peach silver, rambutnya disanggul rapi, wajahnya terlihat sangat cantik mewah dan elegant. Hanya saja… ada yang membuatnya sedikit bingung.
Tatapannya jatuh ke bagian dada kebayanya. Ada kain tile tipis yang menutupi area itu, membuatnya tidak terlalu menonjol. Masih anggun, tapi jelas berbeda dari desain awal.
“Mba, ini modelnya agak… berubah ya?” tanya Jingga pada Yola dengan kening berkerut.
“Kayak ada tambahan kain gitu. Tapi tetep sih, aku selalu suka apa yang mba buat.”
Yola hanya tersenyum simpul.
“Oh, itu… iya, memang ada perubahan. Levin yang minta kemarin.”
“Hah?” Jingga melongo. “Levin? Maksudnya apa coba?”
---
Flashback
Jam makan siang di butik Yola.
Pintu butik terbuka, masuklah seorang pria yang tampan dengan wajah dinginnya Levin dan disusul oleh Roy, sekretaris setianya.
“Siang, Mba,” sapa Levin singkat.
“Eh, Levin? Tumben ke butik? Ada angin apa?” tanya Yola, sedikit heran.
“Ngga papa, Mba. Saya cuma mau nitip pesan,” ujar Levin datar, namun matanya serius. “Bisa tolong tambahkan kain transparan di bagian dada kebaya yang akan di pakai Jingga? Soalnya kemarin saya lihat… terlalu terbuka.”
Nada suaranya tegas, seolah sedang mengutarakan bahawa dia tidak suka yang jadi miliknya terlihat oleh orang lain, terkhusus laki-laki lain.
Yola nyaris tertawa tapi buru-buru menutup mulut.
“Ah, jadi gitu ya… kamu cemburu toh? Hahaha.”
Levin menatapnya dingin tapi wajahnya sedikit memerah.
“Pokoknya saya nggak mau bagian itu jadi pusat perhatian. Saya nggak suka laki-laki lain melihatnya. Titik.”
Roy yang berdiri di samping hanya geleng-geleng sambil menahan senyum.
“Baik, Vin. Nanti Mba kasih tambahan kain tipis, dan nggak akan merusak desainnya kok. Tetep elegan dan cantik ketika jingga memaikainya .” Yola mengangguk. “Tapi… kenapa kamu nggak ngomong aja langsung waktu Jingga ada kemarin?”
Levin menghela napas. “Soalnya kalau aku ngomong langsung, dia pasti nggak terima. Makanya aku titip ke Mba. Aku yakin, bagaimanapun juga, dia tetap bakal memakainya.”
Yola terkekeh. “Astaga, dasar kamu. Posessif tingkat dewa.”
Roy menambahkan sambil berbisik, “Saya tidak sabar tuan, melihat ekspresi nona jingga.”
Yola langsung ngakak, sementara Levin hanya melirik tajam ke arah Roy.
---
Kembali ke Hari Lamaran
“Hah? Levin? Maksudnya apa coba?” Jingga melongo, masih bingung mendengar penjelasan Yola.
Yola terkekeh sambil mengangkat bahu.
“Ya maksudnya jelas lah, Ji. Dia nggak mau kamu jadi tontonan gratis.”
“Yaelah… dasar orang itu!” Jingga merengut, tangannya refleks meraba kain tile tipis di dadanya. “Siapa suruh dia atur-atur baju aku? Aku kan bisa pilih sendiri.”
Tapi kemudian ia terdiam sebentar, pipinya sedikit merona. Dalam hatinya ada perasaan aneh, antara kesal dan… entah, ada rasa hangat juga.
“Duh, gila sih… ini namanya posesif kebangetan. Baru calon aja udah kayak gitu.” Jingga menggerutu sambil cemberut.
Yola menahan tawa. “Ih, jangan bohong, Ji. Aku lihat dari ekspresi kamu, ada bagian yang seneng kan?”
“Seneng apanya mba ?!” Jingga cepat-cepat menyangkal, meskipun telinganya memerah.
“Cuma… ya, gimana ya. Aneh aja. Emangnya dia siapa, atur-atur aku?!”
Tapi dalam hatinya, batin Jingga justru berbeda:
“Tapi… kok manis juga ya, dia sampai repot-repot datang ke butik cuma buat itu…”
Ketukan pintu terdengar dari luar, Saat itu Roy masuk membawa pesan yang tuannya ingin sampaikan.
"Mba Yola. Tuan Levin nitip pesan, katanya tolong ingatkan Nona Jingga supaya jangan pakai baju yang terlalu terbuka. Kalau perlu, dipasangkan safety pin cadangan.”
“ROY!!!” Jingga hampir melempar bros yang sedang ia pegang. Yola langsung ngakak sampai keluar air mata.
Roy langsung kabur ke pintu sambil berseru, “maaf nona saya cuma nyampein pesan tuan levin ! Jangan salahin aku, Nonaaa!”
---
Acara lamaran pun akhirnya dimulai. Ruang tamu besar yang sudah didekorasi penuh bunga segar tampak elegan, aroma wangi melati bercampur dengan harum dupa tipis yang menenangkan suasana. Semua tamu undangan sudah duduk rapi, mengenakan pakaian terbaik mereka.
Keluarga Moza duduk berhadapan dengan keluarga besar Egha. Senyum hangat dan wajah penuh harap menghiasi ruangan. Suasana terasa khidmat, setiap detik seolah menambah getaran di dada semua yang hadir.
Perwakilan keluarga Egha memulai dengan salam pembuka.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…”
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh…” sahut semua tamu serempak.
Suara itu terdengar mantap dan tenang, membuat suasana semakin sakral.
“Dengan niat baik dan ridha Allah SWT, kami sekeluarga datang untuk meminang putri tercinta Bapak Ali dan Ibu Rika, saudari Moza, untuk putra kami tercinta, Egha.”
Semua mata menoleh pada Moza yang duduk anggun di kursinya, wajahnya menunduk dengan pipi merona merah. Tangannya gemetar pelan, Jingga yang duduk di sampingnya sempat menggenggam lembut, memberi kekuatan.
Ali, ayah Moza, menjawab dengan suara bergetar haru.
“Bismillah… dengan senang hati kami terima lamaran ini. Semoga Allah meridhoi dan melancarkan niat baik kedua anak kita.”
Tepuk tangan kecil terdengar, dan beberapa tante langsung mengusap mata karena tak kuasa menahan haru.
Egha menoleh ke arah Moza, menatapnya penuh cinta. Moza mendongak sedikit, lalu tersenyum malu-malu. Hanya sebentar, tapi cukup membuat beberapa sepupu berbisik heboh, “Ih romantis banget!”
Levin yang duduk di belakang hanya tersenyum tipis. Tatapannya sesekali melirik ke arah Jingga yang terlihat anggun dengan kebaya mewahnya. Seolah ingin berkata, Suatu hari… giliran kita.
Sementara itu,Arin berbisik kecil kepada Roy.
“jadi kita kapan mas ?,” celetuk Arin.
Roy menutup mulut menahan tawa dan malu atas celetukan Arin.
---
Suasana kembali hening saat seserahan dibawa masuk. Kotak-kotak indah berhias bunga diletakkan di meja utama, membuat decak kagum para tamu.
Sakral, khidmat, tapi penuh kehangatan keluarga. Hari itu menjadi awal perjalanan baru bagi Moza dan Egha.
Setelah cincin melingkar manis di jari Moza Ali ayah Jingga berdiri dengan senyum lebar.
“Alhamdulillah, hari ini kita semua bisa menyaksikan Moza dan Egha dalam prosesi lamaran yang indah ini. Semoga ke depannya acara pernikahan juga berjalan lancar, penuh keberkahan,” ucapnya lantang, disambut tepuk tangan para tamu.
Ali kemudian mengalihkan pandangan ke arah Levin yang duduk bersebelahan dengan Jingga. Sorot matanya terlihat begitu hangat dan bangga.
“Dan… di kesempatan ini, saya ingin memperkenalkan satu lagi calon menantu saya, yaitu Levin putra Arthama dia akan menjadi calon suami dari putri kedua saya Jingga. Yang kebetulan dia merupakan putra dari Thama sahabat lama saya.” ucap Ali tersenyum penuh rasa bahagia. Pasalnya bukan hanya hubungan bisnisnya yang semakin erat tapi akan menjadi hubungan keluarga bersama sahabat lamanya itu.
Para tamu langsung bersorak kecil, suasana riuh penuh antusias. Jingga yang duduk di samping Levin langsung melotot ke arah ayahnya, wajahnya memerah karena malu.
“Ya Allah, Pi… serius nih diumumin sekarang juga?” gumamnya panik dalam hati.
Levin berdiri dengan tenang, lalu menundukkan kepala memberi hormat kepada para tamu dan keluarga. Sambil melirik sekilas ke arah Jingga yang wajahnya sudah semerah buah tomat, ia tersenyum kecil.
Semntara itu Thama dan Wina yang ikut serta hadir tersenyum bahagia seolah mengiyakan apa yang terjadi di depannya.
---
Acara lamaran akhirnya selesai. Para tamu undangan sudah pulang satu per satu, meninggalkan rumah yang kini hanya dipenuhi keluarga inti. Suasana jadi lebih tenang, hanya terdengar suara malam dan lampu-lampu taman yang temaram.
Levin duduk di kursi taman belakang, menikmati secangkir kopi hangat. Ia tampak lebih rileks setelah seharian penuh berhadapan dengan banyak orang.
Tak lama kemudian, Grey datang menghampirinya.
“Wih, calon kakak ipar santai banget di sini,” sapa Grey sambil menarik kursi dan duduk di sampingnya.
Levin menoleh dan tersenyum tipis. “Habis ramai banget dari tadi, Gue butuh udara segar sebentar energi gue seharian terkuras banyak.”
Grey mengangguk-angguk, lalu tersenyum.
“Tapi Vin, jujur gue seneng banget kalo lo beneran sama Kak Jingga. Dari dulu gue nganggep lo udah kayak abang gue sendiri. Sekarang, beneran bisa jadi abang ipar gue
Dan dari kecil gue tau lo bukan cuma tajir, tapi juga orang yang bertanggung jawab.”
Levin menatap Grey sekilas, lalu tertawa kecil. “Anak kecil udah bisa ngomong bijak sekarang, ya?”
Grey cengengesan. “Ya iyalah. Tapi inget ya Vin titip kak Jingga dia cewe mandiri tapi dia manja, dan dia itu keras kepala. Lo Jangan sakitin dia apalagi bikin dia nangis. lo harus sabar, harus bisa membimbing dia.” sambungnya penuh arti.
"Iya Grey lo tenang aja, gue gak akan sakitin Jingga, gue akan jagain dia gk akan gue biarin siapapun dengan lancang sentuh dia."
"Awas aja lo berani sakitin, gue gk akan segan segan buat tonjok lo."
Mereka berdua pun tertawa kecil.