Galih, seorang remaja SMA 17 tahun yang lugu dan penyendiri karena dianggap aneh memiliki kemampuan indigo, mendadak tersedot ke dalam lubang hitam misterius di tengah kelas bersama teman-temannya. Ia terbangun seorang diri di Hutan Wanasari, sebuah dunia fantasi berlatar era keemasan Majapahit yang dipenuhi ancaman sarang monster dimensi lain (Loka Gaib). Diselamatkan oleh Ki Wira, seorang pendekar sepuh, dan dibawa ke rumah panggungnya, Galih bertemu dengan Sekar, cucu angkat Ki Wira yang cantik, tegas, dan lincah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasar Desa
Riuhnya suara pedagang bersahutan menyambut Galih begitu ia dan Sekar melangkah memasuki gerbang pasar utama Desa Wanasari. Aroma rempah-rempah bercampur bau tanah basah dan asap panggangan daging menguar pekat di udara, menciptakan gempuran sensasi yang jauh berbeda dari suasana rumah panggung yang biasa menemani hari-harinya selama tiga bulan terakhir.
"Kita jarang keluar," kata Sekar, langkahnya santai menyusuri lorong sempit di antara lapak-lapak kayu. "Sesekali kau perlu tahu bagaimana rasanya desa ini di luar halaman belakang. Lagipula kita butuh belanja beberapa bahan masakan."
Galih mengangguk, matanya menjelajah ke segala arah, tidak tahu harus fokus ke mana lebih dulu. Ia berjalan berdampingan dengan Sekar, sedikit canggung melihat ramainya warga lokal yang berlalu-lalang, menenteng keranjang berisi hasil panen atau memikul hewan buruan aneh yang belum pernah ia lihat seumur hidup. Seorang pedagang menawarkan sisik berkilau yang katanya berasal dari monster air, pedagang lain memamerkan taring panjang yang digantung sebagai jimat.
"Itu apa?" tanya Galih, menunjuk seonggok daging berwarna keunguan yang tergantung di salah satu lapak.
"Daging Gandaru. Kalau dimasak benar, rasanya seperti daging sapi tapi lebih kenyal," jawab Sekar singkat, tidak berhenti melangkah.
Galih hanya bisa mengangguk-angguk, mencoba menyerap sebanyak mungkin detail dunia baru ini. Ia melewati lapak yang menjual jimat kayu berukir, lapak lain yang memajang botol-botol kaca berisi cairan berwarna aneh, dan seorang nenek tua yang menjajakan buah-buahan asing dengan kulit berduri lembut. Suara tawar-menawar bersahutan di sela-sela derap kaki dan gemerincing uang logam, menciptakan irama khas yang jauh berbeda dari suasana mal atau pasar swalayan yang biasa ia kunjungi dulu. Untuk sesaat, suasana pasar yang hidup dan penuh warna berhasil membuatnya melupakan rasa rindu pada rumah, tenggelam dalam keramaian yang terasa jujur dan sederhana.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Di persimpangan lorong pasar, langkah mereka terhenti oleh sekelompok pemuda berseragam mewah bersulam benang emas, lambang kepala naga tersemat jelas di dada masing-masing. Mereka berjalan santai namun dengan sikap seolah seluruh pasar adalah milik mereka, sesekali menyentil barang dagangan atau meminta upeti kecil dari pedagang yang gemetar ketakutan. Seorang pedagang tua yang menjual keranjang anyaman buru-buru menyingkirkan barang dagangannya begitu melihat mereka mendekat, seolah sudah hafal betul apa yang akan terjadi jika ia tidak cepat mengalah.
"Bayar biasa saja," ujar salah satu dari mereka pada pedagang buah-buahan, suaranya penuh ancaman terselubung meski tersenyum santai. Pedagang itu buru-buru menyerahkan beberapa keping uang logam tanpa berani menatap wajah si penagih.
Sekar mendecih pelan, menarik lengan Galih agar mereka berbelok menghindari kerumunan itu. Namun terlambat. Sosok yang berdiri paling depan, seorang pemuda tampan berperawakan tegap dengan seringai angkuh, sudah lebih dulu menangkap sosok Sekar di tengah keramaian.
"Sekar," panggilnya, suaranya penuh percaya diri, melangkah mendekat dengan gaya yang jelas terlatih untuk memikat perhatian. "Sudah lama kita tidak bertemu. Masih betah main sendirian di gubuk kakekmu?"
"Raka," sahut Sekar datar, tidak menyembunyikan nada malas dalam suaranya. "Minggir. Aku sedang jalan-jalan."
Raka tidak bergeming, malah semakin mendekat, matanya melirik sekilas ke arah Galih yang berdiri di samping Sekar dengan tatapan meremehkan yang tidak berusaha ia sembunyikan sama sekali.
"Jalan-jalan sama siapa ini?" tanyanya, menyeringai lebih lebar, memutari Galih pelan seperti sedang memeriksa barang murahan di lapak. "Anak baru yang katanya diselamatkan Ki Wira dari hutan? Pantas saja bajunya lucu begini."
Beberapa anak buah Raka terkekeh mendengar sindiran itu. Galih merasakan wajahnya memanas, namun ia menahan diri untuk tidak membalas, teringat pesan Sekar untuk tidak mencari masalah di luar rumah. Ia menunduk sedikit, menatap tanah berdebu di bawah kakinya, mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa kata-kata itu tidak perlu dianggap serius.
"Serius, Sekar, kau turun derajat sekali membawa orang cupu begini jalan-jalan," lanjut Raka, kali ini nadanya berubah lebih genit, mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Sekar. "Kenapa tidak ikut aku saja? Naga Selatan bisa memberimu jauh lebih banyak daripada latihan sia-sia di gubuk tua itu. Kau terlalu cantik untuk buang waktu di sana."
Di belakang Raka, seorang gadis berambut panjang sewarna madu bernama Larasati berdiri agak menjauh dari kerumunan, mengenakan jubah ringan bersulam simbol yang sama dengan yang lain. Matanya, berbeda dari anggota kelompok lainnya yang sibuk menikmati ketakutan para pedagang, justru terpaku pada Galih dengan tatapan penuh selidik, seolah sedang merasakan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan sendiri dari sosok pemuda asing itu. Ia mengernyitkan dahi tipis, kepalanya sedikit dimiringkan seperti orang yang sedang mencoba mendengar bisikan yang nyaris tak terdengar.
Galih tidak menyadari tatapan itu, terlalu sibuk menahan amarah yang perlahan naik ke ubun-ubunnya mendengar cara Raka bicara.
"Aku tidak tertarik," jawab Sekar tegas, mulai melangkah maju untuk memaksa jalan di antara kerumunan Naga Selatan. "Dan jangan sentuh dia. Minggir, Raka, aku tidak ada waktu untuk basa-basi denganmu."
Raka tertawa pendek, matanya kembali menatap Galih dengan tatapan merendahkan. "Dia? Aku cuma heran, apa untungnya bawa-bawa orang lemah seperti ini. Tidak usah sok jadi pahlawan, cupu. Kau cuma beban yang menghambat langkah Sekar."
Galih mengepalkan tangannya kuat-kuat, rahangnya mengeras menahan diri agar tidak membalas. Buku-buku jarinya memutih, sisa latihan tiga bulan membuat tubuhnya ingin bergerak maju, namun akal sehatnya masih cukup kuat menahan dorongan itu. Namun sebelum ia sempat membuka mulut, Sekar sudah lebih dulu menarik lengannya, menyeretnya menjauh dari kerumunan tanpa memberikan Raka kesempatan untuk melanjutkan ejekan lebih jauh.
"Abaikan saja," bisik Sekar pelan, tidak menoleh sedikit pun ke belakang, langkahnya cepat dan tegas menembus keramaian pasar. "Dia cuma cari perhatian."
Galih mengikuti dalam diam, dadanya masih bergemuruh oleh amarah yang belum sepenuhnya reda, meski ia tahu Sekar benar. Mencari keributan di tengah pasar hanya akan membuat masalah lebih besar bagi mereka berdua. Ia menoleh sekilas ke belakang, mencuri satu pandangan terakhir ke arah kerumunan berlambang naga yang perlahan mengecil di antara riuhnya lorong pasar.
Di belakang mereka, di tengah kerumunan pasar yang kembali riuh oleh aktivitas normal, Raka berdiri diam, seringainya perlahan luntur digantikan tatapan tajam penuh kebencian yang terkunci lurus ke arah punggung Galih yang semakin menjauh. Tangannya terkepal erat di samping tubuhnya, matanya berkilat dengan sesuatu yang jauh lebih gelap dari sekadar rasa terhina di depan anak buahnya sendiri. Salah satu anak buahnya bertanya sesuatu padanya, namun Raka tidak menjawab, tatapannya tetap terpaku pada dua sosok yang perlahan menghilang ditelan keramaian lorong pasar, seolah sedang menyimpan sebuah janji yang belum ia ucapkan.