Indonesia
NovelToon NovelToon
Terpaksa Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

“Jadi ini wanita yang akan menjadi istri ku?” Suara nya rendah penuh cemooh. “Ayah benar benar berhasil menemukan wanita yang paling membosankan untuk ku”

Dreven Orsley Dastan, pewaris keluarga Dastan, dikenal sebagai pria kasar, pengacau, sekaligus cassanova yang tak pernah serius pada wanita mana pun. Namun, sebuah kecelakaan membuatnya harus duduk di kursi roda—tanpa sedikit pun mengubah sifat liarnya.

Sampai akhirnya, sang ayah menjodohkannya dengan Elnara Sevana, gadis dingin dan cerdik yang terkenal mampu membungkam siapa pun dengan tatapan dan kata-katanya. Ia bukan wanita yang mudah dipermainkan. Setiap serangan lawan selalu dipatahkan sebelum sempat menjadi ancaman.

Elara diminta untuk melahirkan pewaris untuk keluarga Dastan , dan sebagai gantinya Saham perusahaan.

Elara terkekeh sinis, "Sepertinya tidak adil. Bagaimana jika kesepakatannya begini. Aku rubah putramu menjadi anak anjing penurut dan hadiahnya adalah perceraian untukku. Ini terdengar menguntungkan bagiku"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

"Senyum..."

Cekrek!

"Tolong lebih dekat, tuan, nona." Suara orang yang mengambil foto pernikahan mereka terdengar sedikit kesal karena sejak tadi Elara dan Dreven belum pas di dalam posisinya.

Elara menghela nafas, karena ingin segera menyelesaikan ini dia sedikit mendekat pada Dreven dan mendorong kursi rodanya agar lebih dekat ke kamera, lalu foto mereka diambil.

Dreven menahan senyum sinisnya ketika merasakan tangan Elara menyentuh pegangan kursi rodanya. Wanita ini benar-benar memperlakukannya seperti pasien yang perlu diurus.

Setelah proses foto, mereka menandatangani buku nikah mereka.

"Selamat, anda sekarang resmi menjadi sepasang suami istri secara hukum." Kata petugas sipil itu sambil menyerahkan buku nikah yang sudah diberikan cap tersebut.

Mereka masing-masing mengambil satu lalu pergi dari sana. Elara dengan anggun mendorong kursi roda Dreven meninggalkan ruangan, membuat beberapa pegawai kantor sipil menatap heran karena biasanya istri-istri para pria kaya akan berjalan di samping atau di belakang suami mereka, bukan mendorong kursi roda seperti perawat.

"Ini hanya sebuah pernikahan. Jangan berharap lebih." Kata Dreven dengan cuek, suaranya penuh sarkasme.

Elara menatap buku nikah di tangannya, jemarinya sedikit mengelus permukaan sampulnya sebelum dia memasukkannya ke dalam tas dengan ekspresi tanpa emosi.

"Percayalah," ucapnya santai, melirik Dreven sekilas sambil terus mendorong kursi rodanya. "Aku bahkan tidak menganggap ini pernikahan."

Dreven menyeringai sinis. "Bagus. Kalau begitu, kita akan lebih mudah selanjutnya."

Mereka berjalan keluar dari kantor sipil. Elara terus mendorong kursi roda Dreven dengan gerakan yang terampil—setelah sepuluh tahun merawat Veyla, dia sudah terbiasa dengan segala hal tentang kursi roda dan orang cacat.

Namun, baru saja sampai pintu keluar tiba-tiba seorang wanita berlari menghampiri mereka dan langsung mencium pipi Dreven dengan mesra.

"Drev, kau jadi menikah? Bukankah katamu kita akan menikah?" Kata wanita itu dengan nada merajuk manja pada pria itu, sepenuhnya mengabaikan kehadiran Elara di belakang kursi roda.

Dreven hanya terkekeh pelan, "Tenang saja kita masih bisa keluar bersama, istriku tak akan menendangmu." Katanya dengan seringaian kecil sambil menatap ke belakang, menatap Elara yang masih mendorong kursi rodanya.

Elara menghentikan langkahnya. Dia memutar mata dengan malas—dia sudah mendengar jika pria itu suka bermain dengan banyak wanita. Tapi dia benar-benar tak peduli, malah bagus jika pria itu tak akan sering di rumah.

Dia melepaskan tangannya dari pegangan kursi roda dan melangkah ke samping, memberikan ruang bagi wanita itu dan Dreven.

"Aku tidak peduli dengan apa yang kau lakukan di luar rumah, Dreven," ucap Elara akhirnya, suaranya datar tanpa emosi. "Asal kau tidak membawanya pulang ke ranjangku, lakukan sesukamu."

Mata Dreven menyipit tipis, jelas tidak menyangka Elara akan bereaksi seperti itu.

"Oh?" Ia menoleh, ekspresinya penuh ketertarikan. "Jadi kau tidak akan cemburu?"

Elara mendengus kecil. "Aku lebih baik menghabiskan waktuku untuk hal yang berguna daripada mengkhawatirkan pria yang bahkan tidak bisa berdiri dari kursi rodanya."

Wanita di samping Dreven tampak kaget, mungkin mengira Elara akan menangis atau marah. Namun, reaksi yang diterima justru sebaliknya—kebosanan dan ketidakpedulian yang dingin.

Dreven tertawa kecil—bukan tawa yang hangat, melainkan tawa sinis yang penuh kekaguman tersembunyi. "Kau menarik, Elara."

Elara menatapnya sekilas, lalu berjalan melewati mereka berdua menuju mobil yang sudah menunggunya tanpa menoleh sedikitpun.

"Dan kau membosankan."

Dengan santai, ia membuka pintu mobil dan melangkah masuk ke dalam, masih meninggalkan Dreven yang duduk di kursi rodanya dengan seorang wanita di sampingnya.

Dreven duduk di tempatnya, masih menyeringai.

"Sepertinya aku tidak akan bosan dengan pernikahan ini."

Wanita yang berada di samping Dreven terkejut, "Drev, kau.."

Dreven memutar kursi rodanya meninggalkan wanita itu. "Rena, kau pulang sendiri hari ini." Katanya sambil mendorong kursi rodanya menuju mobil yang telah dimodifikasi khusus untuknya.

Melihat itu Rena terkejut, "Drev!! Kau meninggalkanku?!" Suara Rena sangat keras namun pria itu pura-pura tak mendengarkannya dan dengan bantuan supirnya, Dreven masuk ke dalam mobil dan memerintahkan supirnya untuk mengejar mobil Elara.

---

"Tuan besar ingin menemui anda, Nyonya." Suara pelayan yang berada di belakang Elara yang tengah melepas antingnya setelah pulang dari kantor sipil.

"Bilang aku akan turun sebentar lagi." Kata Elara dengan datar.

Pelayan itu membungkuk hormat sebelum keluar dari kamar, meninggalkan Elara sendirian.

Elara menatap pantulan dirinya di cermin.

Ia tahu pasti bahwa Raviel tidak memanggilnya hanya untuk mengucapkan selamat.

Dengan santai, Elara melepas gaun yang ia kenakan, menggantinya dengan pakaian yang lebih nyaman namun tetap elegan—sebuah blus putih sederhana dan rok panjang berwarna krem. Rambut panjangnya ia biarkan tergerai, lalu tanpa ragu ia melangkah keluar dari kamarnya.

Saat tiba di ruang kerja Raviel, pintu sudah terbuka. Pria paruh baya itu duduk di belakang meja besar dengan segelas anggur di tangannya.

"Duduklah." Katanya dengan tenang.

Namun Elara tetap berdiri, "Apa yang ayah mertua butuhkan dariku?" Tanya Elara blak-blakan.

Raviel menatap Elara, dia benar-benar tak menyangka jika wanita itu benar-benar berani padanya. Tapi, dia tak mengambil hati dan malah tersenyum.

"Kau sangat kasar pada ayahmu ini." Katanya dengan tenang lalu mengeluarkan sebuah map hitam dari sana.

Elara mengira jika itu adalah perjanjian pernikahan yang harus dia tanda tangani. Tapi pikirannya salah.

"Ini hak kepemilikan sahammu sebesar lima persen di perusahaan Dastan. Jika kau bisa hamil anak laki-laki, anakmu akan mewarisi dua puluh persen saham Dastan tapi jika perempuan dia hanya bisa mewarisi lima belas persen. Meskipun kau bercerai, anakmu tetap mendapatkan hak. Ini segera tanda tangani." Kata Raviel dengan santai.

Elara menatap map hitam itu dengan ekspresi datar. Tawaran ini tidak mengejutkannya—keluarga Dastan memang terkenal memperlakukan pernikahan sebagai transaksi bisnis. Tapi tetap saja, Raviel terlalu terburu-buru.

Ia mengambil map itu dengan tenang, membolak-balik halaman tanpa terburu-buru. Matanya menangkap setiap detail, terutama pasal tentang hak waris dan klausul yang mengikatnya.

Setelah beberapa detik keheningan, ia mendongak, menatap langsung ke mata Raviel.

"Ayah mertua, bukankah ini terlalu cepat?" katanya dengan nada santai. "Aku bahkan belum menghabiskan satu malam pun dengan suamiku, dan ayah sudah membicarakan tentang anak."

Raviel tersenyum kecil. "Kau cerdas. Tapi dalam keluarga ini, waktu adalah uang, dan aku tidak suka membuang-buang keduanya."

"Bagaimana jika aku tak ingin punya anak dengannya?" Tanya Elara dengan datar.

"Kenapa?" Tanya Raviel dengan penasaran.

Elara menghela nafasnya, "Tentu saja karena anakmu. Aku tidak ingin ketularan penyakit karena dia suka tidur dengan banyak wanita. Aku lebih baik cerai dibanding tidur dengannya." Katanya dengan serius.

Ruangan itu langsung hening.

Raviel menatap Elara dengan tatapan tajam yang sulit diartikan. Sementara itu, Elara tetap berdiri tegak, tidak menunjukkan sedikit pun rasa takut atau gentar.

Setelah beberapa detik, pria paruh baya itu tertawa pelan. "Kau benar-benar berani, ya?" katanya, suaranya terdengar lebih terhibur daripada marah.

Elara mengangkat bahu santai. "Aku hanya mengatakan yang sebenarnya."

"Aku tambah menjadi tujuh persen saham kepemilikanmu, asal kau bisa merubah putraku." Kata Raviel dengan serius.

Elara terkekeh sinis, "Sepertinya tidak adil. Bagaimana jika kesepakatannya begini. Aku rubah putramu menjadi anak anjing penurut dan hadiahnya adalah perceraian untukku. Ini terdengar menguntungkan bagiku."

Raviel menatap Elara dalam diam, matanya menyipit seolah sedang menilai wanita di hadapannya dengan lebih seksama.

Kemudian, dia tertawa—bukan tawa hangat seorang ayah mertua, melainkan tawa seorang pebisnis yang baru saja mendengar tantangan menarik.

"Kau benar-benar tidak takut padaku, ya?" katanya sambil menyandarkan punggungnya ke kursi.

Elara tersenyum tipis. "Jika aku takut, aku tidak akan berani datang ke keluarga ini."

Raviel mengetuk meja kayu di depannya pelan, ekspresinya kembali serius. "Baiklah. Aku setuju dengan kesepakatan itu. Jika kau bisa menjinakkan Dreven dan membuatnya menjadi pria yang bertanggung jawab, kau akan mendapatkan perceraian yang kau inginkan—ditambah dengan kompensasi yang pantas."

Elara menaikkan satu alis. "Berapa?"

Raviel tersenyum kecil. "Sepuluh persen saham Dastan."

Elara berpikir sejenak. Membuat pria semacam Dreven tunduk bukanlah tugas yang mudah. Terlebih dengan kondisi kakinya yang lumpuh, mungkin pria itu menjadi lebih temperamental dan sulit diatur. Tapi... sepuluh persen saham dan kebebasan? Terdengar seperti tawaran yang menarik.

"Aku terima."

Raviel mengangguk puas, "Bagus. Sekarang kau bisa pergi."

Elara berbalik dan berjalan menuju pintu. Namun di depan pintu, dia berhenti sejenak.

"Dan ayah mertua," katanya tanpa menoleh. "Satu hal lagi."

"Apa?" tanya Raviel.

"Aku tidak akan menyentuh putramu untuk urusan ranjang selama dia masih bergaul dengan wanita-wanita di luar. Aku menikah dengannya atas nama, bukan atas dasar cinta. Jadi jangan berharap aku akan melahirkan ahli waris untuk keluargamu. Setidaknya, tidak untuk saat ini."

Raviel terdiam sesaat, lalu tertawa kecil. "Kau benar-benar wanita yang menarik, Elara. Dreven mungkin tidak menyadarinya sekarang, tapi aku yakin suatu hari nanti dia akan menyadari apa yang dia miliki."

Elara tersenyum tipis. "Saya ragu tentang itu, Ayah mertua."

Tanpa menunggu jawaban, dia melangkah keluar dari ruangan, meninggalkan Raviel yang menggeleng-gelengkan kepala dengan senyum yang tak bisa ia hilangkan.

---

Di sisi lain mansion, Elara berjalan melewati koridor menuju sayap timur. Namun, di pertengahan jalan, dia mendengar suara kursi roda yang berhenti di belakangnya.

"Berhenti."

Suara Dreven terdengar dingin dan penuh perintah.

Elara berhenti dan menoleh. Pria itu duduk di kursi rodanya dengan ekspresi sinis.

"Aku dengar kau membuat kesepakatan dengan ayahku." Katanya dengan nada menuduh.

Elara tersenyum tipis. "Pendengaranmu bagus meskipun kakimu tidak berfungsi."

Dreven mengepalkan tangannya, tetapi dengan cepat mengendalikan emosinya. "Kau pikir kau bisa mengubahku? Wanita seperti kau terlalu naif."

"Aku tidak perlu mengubahmu, Dreven," jawab Elara tenang. "Aku hanya perlu membuatmu tampak berubah. Itu bedanya."

Dreven terdiam, matanya menatap Elara dengan intensitas yang sulit diartikan.

"Kau menarik," katanya akhirnya. "Tapi ingat, aku tidak akan membiarkan siapa pun mengatur hidupku. Bahkan jika kau adalah istriku."

Elara mendekat, berjalan perlahan ke arahnya dan meletakkan tangannya di pegangan kursi roda Dreven.

"Kau salah, Dreven," katanya dengan suara rendah. "Aku tidak akan mengatur hidupmu. Aku hanya akan menonton dirimu menghancurkan hidupmu sendiri, lalu dengan senang hati aku akan pergi dengan sepuluh persen saham dan kebebasanku."

Dia mendorong kursi roda Dreven bergerak maju, menuju kamarnya.

"Mari, Suamiku. Aku akan mengantarmu kembali ke kamar. Kau pasti lelah setelah seharian bermain dengan wanitamu."

Dreven menahan diri untuk tidak membalas, karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia tidak tahu harus berkata apa pada seorang wanita.

Bersambung

1
꧁𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱𝓡𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲꧂
Siapa yang wanita ini maksudkan? Elara?🤔
🦋Little Butterfly🦋
sadis banget...
Arni Arlinawati Pratiwi💃
iya tau kok emak.. dia lagi cemburu, hanya saja dia sendiri pun gak sadar sama perasaan nya, ego nya aja yang di duluin.. kan ngenes, makin mnedihkan aja lu drev! udah lum*** juga!!! coy.. coy.. takut kualat emak, 🗿😭
naws
bodo amat. elara juga cuma manfaatin lu biar lepas dari keluarga palsunya kok /Smug/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
cembukur nih pasti perkara elara sama leo.. /Facepalm/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
nyari penyakit lu drev.. 🗿
Alia Chans
😭😭😭 Elara bisa yok
꧁𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱𝓡𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲꧂
Dreven kayaknya udah mulai nyaman dengan Elara, tapi gengsi untuk mengakui🤭
Alia Chans: yakin nyaman doang kk🤭🤭
total 1 replies
Syahira🌹
pasti dia tidak Terima saat dia di bilang lemah, egonya pasti sangat tersenggol🤣
Alia Chans: kalo gak ego tinggi gak cowok namanya🤣🤣🤣
total 1 replies
Mingyu gf😘
di keluarga dastan kamu seperti ratu ya
Mingyu gf😘
dihh modus lu😆
Miranda.
kritik sedikit ya thor. mungkin bisa sedikit membantu dan membangun.

karaktermu ini duduk di kursi roda loh. kurang-kurangi memakai kalimat yang merepresentasikan bahwa dia bisa berjalan dong. biar ga cacat logika./Frown/
Alia Chans: emang dia beneran lumpuh kk🤭🤭
total 1 replies
Miranda.
cara menasehatinya nusuk banget yaa/Frown/
My_Lucia
Edeh... deh... apa dia penganut sex menyimpang 🤣
Alia Chans: eitss belum pasti ye👑🔥
total 1 replies
My_Lucia
what?? serem amadt🫣
Miranda.
bapak mertua mulai berharap pada elara nih yee🤭🤭
Miranda.
ehm... logikanya ini gimana thor? menggandeng? mungkin lebih tepatnya "meletakkan tangan elara ke dorongan kursi roda untuk membantunya bergegas"/Slight/
Alia Chans: kan tinggi Elara gak setinggi menara Eiffel juga kk😭😭
dimana " cowok kan, you know lah☺
total 1 replies
Miranda.
eughhh alasan yang tidak begitu logis
naws
punya kekurangan gini, sombongnya masih selangit
Alia Chans: 😭😭😭 masa harus merendah mulu, kan gak Dreven dong🤣🤣
total 1 replies
🦋Little Butterfly🦋
emang boleh/Slight/
Alia Chans: boleh "🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!