Di dunia di mana yang kuat memangsa yang lemah, kebenaran tidak ditentukan oleh siapa yang benar, melainkan oleh siapa yang masih hidup.
Xuan Chen, seorang pemuda yang dikhianati dan dipandang sebelah mata, memilih melangkah di Jalan Demonic yang penuh darah. Berbekal rahasia Mata Dewa Iblis yang sanggup menembus segala hukum alam dan menaklukkan Qi Demonic yang liar, dia menginjak-injak aturan moralitas palsu dunia kultivasi.
Dari murid luar yang diburu hingga menjadi sosok yang ditakuti seluruh sekte, ini adalah kisah perjalanan dingin Xuan Chen menginjak setiap penentangnya, merebut kembali takdirnya, dan meniti jalan berdarah menuju puncak lima kaisar agung penguasa alam semesta.
"Qi Demonic ataupun Qi murni hanyalah kekuatan. Seberapa jauh kekuatan itu membawamu bergantung pada seberapa bijak kau mengendalikannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29:
Wuuuush!
Belati beracun itu melesat membelah udara dari jarak yang sangat dekat. Lintasan kilat hitamnya bergerak terlalu cepat, menembus celah udara tepat di saat Yan Ge sedang mengerahkan seluruh tenaganya untuk menyerang.
Mata tunggal Yan Ge membelalak lebar, pupil matanya mengecil secara ekstrem. Perasaan terancam yang luar biasa dingin mendadak menyapu seluruh jiwanya.
(Sialan! Aku dibodohi bocah tengik ini...!) jerit batin Yan Ge dalam kepanikan murni.
Ia mencoba memutar tubuhnya di udara untuk menghindar, namun momentum gerakannya yang terlalu deras ke depan membuat fisiknya mustahil untuk menghindari serangan tersebut.
Srebbb!
Suara robekan jaringan kulit dan tumpuan keras bergema nyaring di tengah heningnya hutan. Ujung tajam belati beracun itu menembus lurus dan menancap dalam tepat di area Dantian di bawah pusar Yan Ge!
"Ugh... A-AKHHHHHH!"
Jeritan histeris yang memekakkan telinga meledak dari tenggorokan Yan Ge.
Bukan sekadar luka tusuk biasa, Dantian adalah pusat dari seluruh fondasi fisik dan akumulasi energi kultivasi seorang praktisi. Hantaman belati yang sangat presisi itu seketika meretakkan fondasi fisiknya. Racun korosif pekat yang melumuri bilah pisau tersebut merembes masuk tanpa hambatan, membakar dan menghancurkan seluruh hasil latihan keras yang telah dikumpulkan Yan Ge selama bertahun-tahun di Ranah Penempaan Tubuh Lapisan Lima Puncak.
"Dantianku... D-Dantianku...!" raung Yan Ge dengan suara gemetar hebat.
Akumulasi kekuatan fisiknya merosot drastis dalam hitungan detik. Warna kulit wajahnya berubah menjadi pucat pasi bagaikan mayat, sementara darah kental berwarna kehitaman terus menyembur keluar dari mulutnya dan luka di perutnya.
Belati di tangan kanan Yan Ge terlepas, jatuh menghantam tanah basah dengan bunyi dentang teredam. Tubuh kurusnya tak mampu lagi menopang beban, berguling dan ambruk berlutut di atas tanah tepat dua tapak di hadapan Xuan Chen.
Yan Ge mendongak dengan gemetar hebat, menatap Xuan Chen dengan sisa-sisa pandangan matanya yang kian kabur dan dipenuhi keputusasaan murni.
"K-kau..." desis Yan Ge parau, jarinya yang bersimbah darah menunjuk ke arah Xuan Chen tanpa sanggup melanjutkan kalimatnya.
Di sisi lain, kondisi Xuan Chen juga tidak jauh dari kata baik.
Meskipun jebakannya berhasil menumbangkan praktisi Lapisan Lima Puncak, harga yang harus dibayarnya sangatlah mahal. Xuan Chen terduduk lemas menyandarkan punggungnya pada batang pohon besar. Luka tusuk di rusuk kirinya memercikkan darah kehitaman, dan hawa dingin dari racun belati Yan Ge perlahan menyebar, menggerogoti ketahanan fisiknya dari dalam.
Namun, di tengah rasa sakit yang membakar seluruh tubuhnya, raut wajah Xuan Chen telah kembali sedatar telaga es. Tidak ada lagi jejak ketakutan atau keputusasaan palsu yang tadi ia tampilkan.
Xuan Chen menatap Yan Ge yang terkapar di bawah kakinya dengan sepasang mata yang sedingin kematian.
"Sekarang..." bisik Xuan Chen datar, suaranya tenang namun sarat akan kejamnya hukum jalan demonic.
"...ingatlah namaku di neraka nanti, Senior Yan."
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Xuan Chen merayap dengan sisa-sisa tenaganya menghampiri tubuh Yan Ge yang sudah tak bernyawa. Jarinya yang gemetar merogoh bagian dalam jubah Yan Ge, menarik keluar kantung semesta milik praktisi senior tersebut.
Xuan Chen paham betul bahwa seorang kultivator yang berfokus pada jalan racun selalu membawa racun sekaligus penawarnya di dalam kantung pribadinya.
Tanpa sempat mengidentifikasi satu per satu nama obat di dalam botol-botol porselen yang berserakan, Xuan Chen yang merasa kesadarannya makin kabur langsung membuka beberapa botol pil dan menelan seluruh isinya secara kalap!
Sensasi pahit, panas, dan dingin bercampur aduk menghantam ulu hatinya seketika sebelum pandangan Xuan Chen akhirnya menggelap total. Ia terkapar pingsan di samping mayat Yan Ge di tengah kesunyian hutan.
Keesokan harinya, sinar matahari keemasan yang menerobos celah dedaunan membangunkan Xuan Chen.
Mata Xuan Chen terbuka perlahan. Ia menarik napas panjang, meresapi aliran darah di dalam tubuhnya. Rasa membakar di rusuk kiri dan hawa dingin yang menggerogoti organ dalamnya telah surut sepenuhnya.
"Racun dari belati Yan Ge telah dinetralisir..." gumam Xuan Chen pelan seraya memegangi rusuknya yang kini mulai merapat.
"Aku beruntung tidak mati," lanjut Xuan Chen datar seraya berdiri dan merapikan jubah hitamnya. "Andai aku terlambat menyadari atau salah memilih pil, nasibku saat ini mungkin sama persis seperti Yan Ge."
Xuan Chen merunduk kembali, mengambil kantung semesta milik Yan Ge dan memeriksa seluruh isinya dengan lebih cermat.
Di dalamnya terdapat beberapa puluh Batu Spiritual kualitas rendah, tiga butir pil pemulih fisik, serta sebuah belati cadangan bertingkat artefak kelas rendah.
Namun, benda yang menarik perhatian utama Xuan Chen bukanlah tumpukan harta tersebut, melainkan selembar gulungan kulit binatang tua yang berada di sudut dasar kantung.
Xuan Chen membuka gulungan kulit tersebut secara perlahan.
Meski pinggirannya telah robek dan tidak utuh lagi, garis-garis ukiran dan tanda wilayah di atas permukaannya terlihat begitu jelas.
"Ini... peta Alam Rahasia Kuno."
Xuan Chen meneliti setiap sudut garis di atas kulit binatang tua tersebut.
Peta itu menggambarkan bentuk wilayah Alam Rahasia Kuno secara keseluruhan, yang ternyata membentuk lingkaran memanjang. Wilayah luar terbagi secara sejajar menjadi beberapa ekosistem yang amat berbeda satu sama lain—mulai dari gurun pasir yang panas, danau raksasa, padang rumput yang luas, hutan belantara tempat ia berdiri saat ini, hingga wilayah padang es yang membeku.
Melihat struktur peta tersebut, Xuan Chen langsung menyadari satu hal.
"Jadi seratus murid dari empat sekte tersebut tidak hanya dipindahkan secara acak, melainkan tersebar di lima wilayah luar ini..." batin Xuan Chen seraya mengusap dagunya. "Lu Feng yang berada di danau dan Mo Cheng di padang es adalah bukti bahwa formasi ruang ini membagi para peserta secara merata."
Xuan Chen mengepalkan jemarinya, menggulung kembali peta kulit binatang tersebut dan menyelipkannya ke dalam kantung semestanya sendiri.
"Aku telah membuang waktu terlalu lama di wilayah luar ini," gumam Xuan Chen dingin.
Tanpa membuang waktu lagi, Xuan Chen mengemasi seluruh hasil jarahannya. Puluhan Batu Spiritual kualitas rendah, beberapa butir pil pemulih fisik, dan belati artefak kelas rendah milik Yan Ge langsung dipindahkan ke dalam kantung miliknya. Setelah memastikan tidak ada barang berharga yang tertinggal, Xuan Chen menghentakkan kakinya ke tanah, melesat deras menuju arah wilayah dalam Alam Rahasia Kuno sesuai petunjuk di peta.
Namun, kenyataan di lapangan ternyata tidak seindah yang ia bayangkan.
Sepanjang perjalanan menembus rimbunnya hutan belantara, Xuan Chen tidak menemukan satu pun tanaman spiritual, bahan herbal langka, ataupun artefak peninggalan kuno. Bahkan keberadaan murid-murid dari sekte lain maupun sektenya sendiri tidak terlihat sama sekali di sepanjang jalur yang ia lalui. Seolah-olah wilayah tempatnya berada hanyalah hamparan tanah kosong yang tak bernilai.
"Cih... Apa-apaan Alam Rahasia ini?!" gerutu Xuan Chen seraya menghentikan langkahnya di atas dahan pohon tinggi.
Raut wajahnya yang biasanya sedingin es kini dihiasi sedikit rasa jengkel yang jarang terlihat.
Ia telah menghabiskan waktu setengah hari penuh melintasi hutan tersebut, memeras tenaga fisiknya tanpa henti, hanya untuk mendapati bahwa wilayah luar yang ia jelajahi sepenuhnya kosong dari harta karun maupun kesempatan kultivasi.
Xuan Chen membuang napas panjang, menatap lurus ke arah cakrawala di depan tempat batas wilayah dalam berdiri.
tapi so cerita nya menarik.