Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:342.9k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.

Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.

Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.

Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.

"Via... kita mulai dari awal."

"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Dulu, Bukan Sekarang

“Risa?” Suara Ratih terdengar lebih dulu.

Wanita di depan pintu tersenyum dan mengangguk sopan. “Selamat pagi, Bu Ratih.”

“Pagi, Risa.” Ratih mempersilakannya masuk.

Risa melangkah masuk, tetapi pandangannya sempat berhenti pada Levia. Keduanya saling menatap. Kemarin di minimarket, Risa masih sempat terkejut melihat perubahan Levia. Ia bahkan tidak menyangka wanita itu bisa bersikap begitu tenang ketika melihat dirinya bersama Vandra.

Namun pagi ini, Levia sudah berada di rumah Vandra. Pikiran itu membuat perasaan Risa kembali tidak nyaman. Selama ini ia mengira Levia sengaja pulang ke rumah ayahnya untuk mencari perhatian. Ternyata wanita itu masih datang ke rumah ini. Bahkan pagi-pagi sekali.

“Ada perlu apa pagi-pagi datang ke sini?” tanyanya Ratih setelah mereka duduk. "Apa ada perlu dengan Vandra?"

Risa tersenyum. "Iya." Kemudian ia menoleh kepada Vandra. “Aku dengar Kak Vandra berangkat besok.”

“Iya," jawab Vandra singkat.

“Aku cuma mau ngasih sesuatu sebelum Kak Vandra pergi.” Risa mengangkat sebuah kotak kecil yang sejak tadi dibawanya.

Vandra menatap benda itu. “Apa itu?”

“Buka nanti aja.” Risa menyerahkannya kepada Vandra. Jemari mereka sempat bersentuhan. Risa tersenyum lebih lebar. “Semoga berguna selama Kak Vandra bertugas.”

Vandra menerima kotak itu. “Terima kasih.”

Hanya dua kata yang keluar dari mulut Vandra. Tdak ada senyum lebar atau tatapan hangat seperti yang mungkin diam-diam Risa harapkan.

Namun Risa tetap berusaha mempertahankan senyumnya. “Aku dengar persiapan Kakak sudah hampir selesai.”

“Sudah.”

“Pasti berat ninggalin semuanya selama satu tahun.” Sekilas Risa melirik Levia yang duduk di dekat Ratih dengan tenang. Biasanya perempuan selalu menempel pada Vandra, tapi kali ini...

Vandra terdiam sejenak, pandangan matanya tanpa sadar beralih kepada Levia. Wanita itu justru sedang memerhatikan Ratih. Tidak ada usaha untuk mendekat. Tidak ada ekspresi cemburu atau tanda-tanda terganggu. Seolah percakapan antara dirinya dan Risa sama sekali bukan urusannya.

Entah mengapa, pemandangan itu membuat Vandra kembali teringat perkataan Levia saat sarapan tadi.

"Kalau suatu hari aku ketemu seseorang yang bener-bener cocok sama aku, aku juga gak bisa menjamin apa-apa.”

Vandra mengalihkan pandangan. “Namanya juga tugas.”

Risa mengangguk. “Aku berharap Kakak selalu baik-baik saja di sana.”

“Terima kasih.”

Ratih sejak tadi hanya diam, memerhatikan keduanya dengan saksama. Dulu, Risa adalah wanita yang sempat dianggap paling cocok untuk Vandra. Bahkan sebelum pernikahan Vandra dan Levia, Ratih tahu putranya pernah memiliki perasaan kepada gadis itu.

Namun sekarang...

Ratih justru melihat sesuatu yang berbeda. Risa masih berusaha mendekat. Sedangkan Vandra? Putranya memang sopan, tetapi tidak terlihat antusias. Bahkan beberapa kali matanya justru mencari keberadaan Levia. Ratih menahan senyum tipis.

Sementara itu, Risa kembali menatap Levia. “Levia.”

Levia menoleh. “Ya?”

“Kamu mau pulang?” Risa diam-diam memerhatikan penampilan Levia. Ia melihat perubahan pada wanita itu. Lebih cantik, tenang, dan dewasa. Jauh dari Levia yang pernah ia kenal.

“Iya," jawab Levia. "Tadi udah selesai sarapan.”

Risa mengangguk. “Oh.”

Nada suaranya terdengar biasa. Namun di dalam hati, ada rasa tidak suka yang sulit disembunyikan.

"Jadi kamu masih datang ke sini? Padahal Kak Vandra jelas-jelas gak suka sama kamu dan pengen ceraiin kamu."

Risa melirik Vandra. Lalu kembali menatap Levia. “Kak Vandra besok berangkat cukup lama. Mungkin sebaiknya kamu juga lebih sering menemani Kak Vandra sebelum dia berangkat.”

Kalimat itu terdengar seperti perhatian, namun Ratih menangkap ada sesuatu di baliknya.

Levia justru tersenyum tipis. “Dia berangkat untuk menjalankan tugas negara. Aku gak mau mengganggunya.”

Risa terdiam. Jawaban itu tidak sesuai dengan Levia yang ia kenal. Bukankah dulu wanita itu akan memanfaatkan kesempatan sekecil apa pun untuk mendekati Vandra?

Mata Vandra pun kembali tertuju pada Levia. “Gak mau mengganggu?” Entah kenapa, kalimat itu terasa aneh di telinganya.

Levia mengangguk. “Lagipula, aku udah ngucapin selamat. Aku rasa itu cukup.”

Vandra tidak menjawab.

Risa memerhatikan keduanya bergantian. Ada sesuatu yang berubah, dan perubahan itu justru membuatnya semakin tidak nyaman.

Levia akhirnya berdiri. "Kalau begitu, aku pamit."

Ratih ikut berdiri. “Ibu antar.”

Levia mengangguk. Vandra secara refleks menoleh mengikuti langkah Levia yang berjalan menuju pintu.

Risa melihat itu dan senyumnya perlahan menegang. Dulu, ia yang selalu berharap Vandra menatapnya seperti itu. Namun sekarang... justru Levia yang terus-menerus masuk ke dalam perhatian pria itu tanpa melakukan apa pun.

Vandra sendiri baru menyadari bahwa sejak Risa datang tadi, pandangannya berkali-kali tertuju kepada wanita itu. Padahal Risa berdiri tepat di depannya. Wanita yang dulu pernah ingin dinikahinya. Wanita yang selama ini ia pikir sebagai pilihan yang lebih tepat daripada Levia.

Namun pagi ini... mengapa keberadaan Risa tidak membuatnya merasa seperti yang ia bayangkan Sebaliknya, ketika Levia hendak pergi, ada dorongan aneh untuk memanggilnya.

“Via.”

Levia berhenti dan menoleh. “Ya?”

Vandra terdiam. Ia sendiri tidak tahu apa yang ingin dikatakannya. Akhirnya ia hanya berkata, “Hati-hati.”

Levia tersenyum. “Iya.” Kemudian ia melanjutkan langkahnya bersama Ratih.

Vandra tetap duduk di tempatnya, memandangi punggung Levia sampai wanita itu menghilang di balik pintu.

Risa yang duduk tidak jauh dari pria itu hanya bisa diam menahan dadanya yang terasa sesak. Karena ia mulai menyadari sesuatu yang tidak ingin ia akui. Levia mungkin sudah berhenti mengejar Vandra. Tetapi justru sekarang... Vandra yang mulai memerhatikan kepergian Levia.

Risa berdehem pelan. “Aku dengar... setelah kejadian di sungai itu, Levia langsung pulang ke rumah ayahnya, ya?”

Vandra yang sejak tadi memandangi Levia yang berjalan menuju mobilnya sedikit tersentak. “Iya.”

Risa mengangguk kecil. “Berarti sudah sekitar dua minggu?”

“Kurang lebih.” Vandra menjawab dengan singkat seolah enggan memperpanjang percakapan.

Risa memainkan jemarinya sendiri. “Aku sebenarnya sempat khawatir waktu dengar kabarnya. Apalagi katanya kondisi Levia cukup parah.”

Vandra hanya mengangguk.

Risa melirik ke arah Levia yang membuka pintu mobil. “Tapi... kalau melihatnya tadi, kayaknya dia udah jauh lebih baik.”

“Sudah.”

“Syukurlah.” Risa tersenyum tipis, kemudian ia berkata pelan, “Aku cuma heran.”

Vandra akhirnya menoleh. “Heran apa?”

“Selama ini bukannya Kak Vandra memang ingin bercerai?”

Vandra terdiam.

Risa buru-buru melanjutkan. “Maaf kalau aku terlalu ikut campur. Aku cuma... masih ingat dulu Kakak pernah cerita kalau pernikahan kalian memang cukup sulit.”

Sorot mata Vandra berubah sedikit. “Aku gak pernah cerita semuanya.”

Risa tersenyum canggung. “Iya. Maksudku, aku cuma tahu dari yang pernah aku dengar.” Ia menundukkan kepala sebentar. “Kalau sekarang Levia udah gak menghalangi perceraian, mungkin semuanya akan lebih mudah buat kalian.”

Vandra tidak menjawab. Risa mengira kalimatnya sudah tepat, tetapi beberapa detik kemudian Vandra justru berkata, “Memangnya kamu pikir dia masih menghalangi?”

Risa terdiam. “Bukankah selama ini begitu?”

Vandra menatapnya. “Dulu.”

Satu kata itu membuat Risa mengernyit.

Vandra memandangi mobil Levia yang mulai melaju meninggalkan pekarangan rumahnya. “Sekarang dia gak pernah bahas perceraian lagi.”

Risa berusaha tersenyum. “Mungkin karena dia sedang nyari cara lain.”

Vandra langsung menatapnya. “Apa maksudmu?”

 

...✨“Kadang seseorang tidak berubah untuk mendapatkan cinta kita. Ia berubah karena akhirnya sadar bahwa dirinya layak mendapatkan cinta yang lebih baik. Dan justru saat itulah kita mulai takut kehilangan.”✨...

.

To be continued

1
Lucyana H
risa harus tanggung dgn segala resikonya karna emang dia yg salah,harusnya ga gitu jendral,anak salah kok masih di bela
Lucyana H
rasain Risa kena batunya,nikma aja hotel prodeo bareng si Ninis
Lucyana H
Risa jd cewek jgn murahan atuh..kmu itu dokter,anak jendral ,kmu jg berpendidikan pasti tau etika dong,masa ngejar "suami orang ,emang ga malu kmu,udah putus kalo ya urat malunya,salah di vandranya sih..knp ngasih harapan dulunya
Lucyana H
vandra harusnya masalah rumah tangga kmu jgn sampe denger sm orang luar,apalagi si Risa katanya seorang dokter,bapanya jendral masa dtg ke rumah yg masih jd suami orang,pantes jg ga,
Lucyana H
ih..Ninis ga jelas bgt,....ngarep bgt jd si levia...mimpi aja Lo nis
Lucyana H
dih siapa Lo Ninis sadar.....Lo tuh cuma Pembokat...ga usah ngarep .....cih ngehalu
Siska Safitri
lanjut
Sulati Cus
👍🏻
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
anonim
Ninis ini masih saja ingin mencuri desain Levia. Otaknya perlu dicuci ini orang. Tak ada rasa bersyukur telah ditolong Gultom untuk bekerja dan tinggal di rumah Gultom.

Mimpi kali Ninis. Mau menjatuhkan Levia.

Ninis sendiri nanti yang nyungsep terjerembab karena ditendang keluar dari rumah Gultom.
anonim
Risa jangan berharap banyak pada Vandra yang masih belum mantap ingin menceraikan Levia.

Bagaimana caranya mau bikin Vandra mengurungkan niatnya untuk menceraikan Livia. Niat banget nih Risa.
anonim
Risa ini sudah disikapi dingin Vandra masih juga berharap.

Vandra tidak memberi peluang kepada Risa untuk membahas masa lalu.

Risa mau bikin Vandra cemburu atau marah ketika memberitahu tentang Levia yang menjalin kerjasama dengan Andri Mahesa.

Risa ngomongnya mbulet aja. Sudah Risa, kamu nggak ada peluang lagi untuk mendapatkan Vandra.
anonim
Vandra cemburu sama Andri makanya mengingatkan Levia masih istrinya.

Sekarang pusat dunia Vandra adalah Levia. Levia sendiri pusat dunianya Brenda, sudah bukan sang Kapten lagi.
anonim
Vandra menghubungi Levia, cemburu terselubung. Mengingatkan Levia masih istrinya.

Vandra belum bilang mau membatalkan perceraian. Belum punya nyali dia, belum tahu alasannya apa kalau Levia bertanya😁.

Salahnya sendiri kasih surat cerai untuk ditandatangani Levia. Kini menyesal.
anonim
Selama ini Vandra gigih untuk menceraikan Levia. Kini istrinya banyak mengalami perubahan terutama fisiknya dan tidak mengejar dirinya seperti dulu.

Sekarang Vandra tidak ingin kehilangan Levia. Mau membatalkan perceraian. Bingung sendiri jadinya.
anonim
Rekan-Rekan Vandra semakin gencar ngomong tentang Levia dengan segala perubahannya.

Mereka tertawa tanpa merasa dosa sedikitpun. Sedangkan Vandra tidak ikut tertawa. Ingatannya ada pada foto Levia yang tersenyum, berdiri di samping Andri Mahesa.

Vandra semakin diam, semakin nggak karuan rasanya ketika rekan-rekannya semakin gencar membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi nanti.

Rekan-rekan Vandra bicaranya semakin bikin Vandra benar-benar galau. Mereka dengan enaknya bicara seperti mengejek Vandra dengan kenyataan yang ada.
anonim
Rekan-rekan Vandra pada membicarakan Levia yang bekerja sama dengan Mahesa retail.

Yang punya Nahesa Retail masih muda, belum menikah pula.

Daun telinga Vandra panas ngga tuh mendengar obrolan rekan-rekannya.

Mereka juga membicarakan Levia di masa sebelum Vandra mendapat tugas tugas ke Libanon.

Vandra hanya diam.
anonim
Vandra membuka Akun Brenda.

Vandra melihat foto Levia sedang berjabat tangan dengan Andri yang dia tidak mengenalnya.

Perasaannya mulai tidak nyaman mengetahui Andri seorang pengusaha muda, belum menikah.

Vandra menyesal ngga setelah melihat foto-foto Levia dengan aktifitasnya dan segala perubahannya.

Belum bercerai namun sudah memberi surat perceraian untuk ditandatangani Levia.

Sepertinya Vandra masih punya harapan untuk bersama Levia yang belum menandatangani surat cerai.
anonim
Risa siap-siap saja menerima kenyataan kalau Vandra tidak jadi menceraikan istrinya yang sekarang jelas lebih menarik, lebih mandiri, punya perusahaan sendiri dan semua perubahan yang terjadi pada Levia.

Dari dulu Risa saja yang mengganggap remeh Levia.
A.R
knp ngk di ganti tuhh namanx calon mantan suami mu,,ntar dia liat teruss kepedeaan Krn km blum bisa move on
A.R
nihh Ninis jatuh cinta kh SM bpknx Levis atau gmna??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!