Indonesia
NovelToon NovelToon
Dalam Pengawasan Kakak Tiri

Dalam Pengawasan Kakak Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Teen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti

Sejak ibunya menikah lagi, Aria terpaksa tinggal serumah dengan kakak tirinya, Lucien Ashford, pria yang nyaris sempurna di mata semua orang. Tampan, sopan, dan selalu hadir saat Aria membutuhkan bantuan.

Awalnya, Aria mengira Lucien hanya menjalankan perannya sebagai seorang kakak.
Sampai ia menyadari satu hal.
Lucien selalu tahu ke mana ia pergi.
Selalu muncul di waktu yang tepat.

Dan perlahan, semua orang yang mencoba mendekatinya mulai menghilang dari hidupnya.
Saat Aria berusaha mencari jawaban, ia justru menemukan rahasia yang jauh lebih mengerikan.
Lucien ternyata telah mengenalnya jauh sebelum mereka menjadi keluarga.

Kini Aria harus memilih, tetap tinggal di rumah yang perlahan berubah menjadi sangkar, atau melarikan diri dari seseorang yang tidak pernah berniat melepaskannya.

"Di rumah ini, tidak ada yang lebih berbahaya daripada seseorang yang mengaku ingin melindungimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Dinginnya pendingin udara di kamar presidential suite tak mampu meredam gelombang panas yang membakar tubuh Clara. Efek obat di dalam darahnya telah menyatu sepenuhnya dengan rasa rindu, amarah, dan rasa sakit yang menyiksa jiwanya selama berminggu-minggu. Namun malam ini, tidak ada lagi perlawanan. Di bawah kungkungan tubuh tegap Kenzo, seluruh benteng pertahanan Clara runtuh menjadi abu.

Kenzo menunduk, menatap wajah Clara yang basah oleh peluh dan air mata. Pendar mata gelap pria itu membara oleh gairah dan kecemburuan gila yang membakar habis sisa rasa kemanusiaannya. Melihat bibir Clara yang gemetar menahan desah, Kenzo meraih rahang gadis itu dengan cengkeraman lembut namun mengunci.

"Buka matamu, Clara,"

bisik Kenzo dengan suara berat yang parau, tepat di atas bibir Clara.

"Tatap mataku. Katakan padaku, siapa pria yang sedang memelukmu sekarang?"

Clara perlahan membuka matanya. Pandangannya yang buram menyatukan pendar lampu temaram dengan garis wajah Kenzo yang tegas, dominan, dan sangat dipujanya.

"K-Kenzo"

bisik Clara pasrah, suaranya pecah oleh gelombang gairah yang menyiksa dadanya.

"Katakan lagi,"

tuntut Kenzo posesif. Jemari tegapnya merayap naik ke leher Clara, merasakan denyut nadi gadis itu yang berpacu liar.

"Katakan siapa satu-satunya pria yang berhak menyentuhmu."

"Kau... Kenzo... hanya kau..."

tangis Clara meledak seketika, air matanya menetes membasahi jemari Kenzo.

Jawaban itu menjadi sulut api yang memusnahkan seluruh kendali diri Kenzo. Tanpa memberi jeda satu detik pun, Kenzo mendaratkan bibirnya di atas bibir Clara. Ciuman itu tidak lagi berhati-hati. Itu adalah tuntutan mutlak, liar, dan penuh dahaga kerinduan yang telah melampaui batas kegilaan. Kenzo melumat bibir Clara, menyesap setiap desah napas yang lolos dari tenggorokan gadis itu, seolah menuntut ganti rugi atas hari-hari menyiksa yang ia lewati tanpa menyentuh milik utamanya.

Clara tidak menolak. Jemari Clara yang gemetar justru merayap naik, melingkar erat di leher bidang Kenzo. Clara meremas rambut gelap pria itu, melayani ciuman Kenzo dengan kepasrahan dan dahaga yang sama besarnya. Di dalam hatinya yang hancur, ia merindukan cengkeraman Kenzo. Ia merindukan kehangatan pria ini.

"Ah... Kenzo..."

desah Clara parau saat Kenzo memindahkan ciumannya turun ke garis rahang, mengecup leher mulusnya dengan gigitan-gigitan kecil yang meninggalkan jejak merah kepemilikan.

"Kau membuatku hampir gila di London, Dear," bisik Kenzo parau di ceruk leher Clara, napas panasnya membakar kulit sensitif gadis itu. "Melihatmu pergi bersama pria lain... mendengar namamu diucapkan oleh bangsat itu... aku ingin meruntuhkan seluruh kota ini hanya untuk menyeretmu kembali."

Kenzo merenggut gaun marun Clara tanpa ragu, membiarkan pakaian mahal itu terlepas dan mengekspos kulit mulus Clara yang meremang di bawah cahaya lampu. Kenzo menyapu seluruh tubuh Clara dengan tatapan lapar dan posesif, memastikan tidak ada sisa sentuhan pria lain di kulit murni milik gadisnya.

Saat tubuh mereka menyatu sepenuhnya di atas kasur tebal yang berantakan, gesekan kulit dan gejolak emosi yang membuncah memecahkan keheningan malam. Setiap sentuhan jemari tegap Kenzo yang membelai pinggangnya, setiap dorongan ritmis yang mendalam dari Kenzo, mengirimkan gelombang kenikmatan menyengat yang membuat Clara membusungkan dadanya dan mencengkeram bahu tegap Kenzo hingga membiru.

"Kenzo... ah... peluk aku..."

bisik Clara histeris, air matanya terus menetes bukan karena sakit, melainkan karena gejolak emosi yang terlalu kuat menembus batas kesadarannya.

"Aku memelukmu, Clara... aku memegangmu seutuhnya,"

balas Kenzo parau. Pria itu menindih tubuh Clara lebih rapat, menyatukan jemari mereka di atas bantal seraya mengunci pergerakan Clara. "Jangan pernah berpikir untuk melarikan diri dariku lagi. Kau adalah nafasku. Kau adalah penjaraku, dan aku tidak akan pernah melepaskanmu."

Puncak gelombang gairah dan kerinduan itu menghantam mereka berdua sekaligus. Clara menjerit lirih seraya menyembunyikan wajahnya di dada bidang Kenzo yang naik-turun memburu, sementara Kenzo mendekap tubuh Clara dengan dekapan yang sangat erat, seolah ingin menyatukan jiwa Clara ke dalam dirinya sendiri.

Keesokan harinya.

Sinar matahari pagi menembus celah gorden tebal kamar presidential suite, membiaskan pendar keemasan di atas seprai putih yang berantakan. Clara perlahan membuka matanya. Efek obat dan rasa lelah yang luar biasa membuat tubuhnya terasa pegal dan lemah, rasa panas beracun di dalam darahnya telah hilang sepenuhnya.

Clara menoleh pelan. Di sampingnya, Kenzo terbaring miring. Satu lengan kekar pria itu melingkar posesif di pinggang telanjang Clara, menarik tubuh gadis itu tetap menempel erat di dadanya bahkan saat tidur.

Wajah Kenzo yang biasanya dingin dan kejam kini tampak sangat tenang. Kerutan di dahinya menghilang, digantikan oleh raut pria yang baru saja mendapatkan kembali hartanya yang paling berharga.

Clara menatap garis wajah pria itu. Jemari tangannya yang gemetar terulur pelan, mengusir helai rambut hitam Kenzo dari dahinya. Ada rasa pedih yang mendalam di dada Clara, namun juga ada rasa aman yang anehnya tak pernah ia dapatkan dari orang lain.

Mata gelap Kenzo perlahan terbuka saat merasakan sentuhan lembut jemari Clara. Pria itu tidak terkejut. Ia langsung menarik Clara makin merapat, mendaratkan kecupan hangat di dahi Clara yang polos.

"Selamat pagi,"

bisik Kenzo dengan suara parau khas bangun tidur.

Clara menatap mata gelap Kenzo dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu.

"Kenzo... soal Eleanor..."

Kenzo menyunggingkan senyum tipis yang dingin, mengelus rambut panjang Clara dengan lembut.

"Eleanor hanyalah pion bisnis untuk meruntuhkan kekuasaan Ayah di bursa London. Pertunangan itu tidak pernah ada, Clara. Aku sengaja membiarkan berita itu menyebar... hanya untuk melihat apakah kau akan merindukanku."

Clara tersentak kecil, mendongak menatap Kenzo dengan air mata yang kembali menggenang di pelupuk matanya.

"Kau sengaja... menyiksaku?"

"Aku menyiksamu agar kau sadar di mana hatimu berada,"

balas Kenzo tegas, mencium bibir Clara dengan lembut namun penuh dominasi.

"Dan semalam... kau sudah memberikan jawabannya."

Clara memejamkan mata, membiarkan Kenzo kembali menguasai bibirnya. Ia tahu dirinya telah terperangkap selamanya di dalam sangkar emas beracun ini, namun kali ini, ia berada di sana atas kesadaran dan cintanya sendiri.

Kenzo menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh mereka berdua, mengurung Clara sepenuhnya dalam dekapan hangat yang tak menyisakan jarak sedikit pun. Bisikan janji-janji posesif yang mengalun dari bibir Kenzo terus menggema di telinga Clara, menegaskan bahwa tidak akan ada lagi pria lain, tidak akan ada lagi tempat sembunyi, dan tidak akan ada lagi pintu keluar dari kehidupan pria ini. Di bawah tatapan pendar mata gelap yang penuh kepemilikan mutlak itu, Clara menyerahkan sisa perlawanannya, membiarkan jiwanya terkunci abadi di dalam sangkar cinta sang predator.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!