"Jauhi suami saya!"
Teriakan melengking di sebuah kafe elit Manhattan itu meremukkan dunia Pearl Glow Hurt dalam sekejap.
Pria bertutur kata lembut yang dicintainya ternyata seorang penipu beristri. Demi menyelamatkan harga diri dari skandal yang memalu, Glow nekat membual bahwa kekasih aslinya bernama "Lean"—dan bersumpah akan mengelilingi New York untuk menemukan serta menikahi pria bernama Lean demi memvalidasi kebohongannya.
Pencarian impulsif itu membawa Glow ke sebuah bengkel kusam di Queens, memutuskannya berhadapan dengan Lean—seorang mekanik bersikap dingin yang mengintimidasi dan mengaku sebagai kanibal. Glow menganggap sosoknya hanyalah rakyat jelata bersikap sok misterius.
Namun, Glow tidak menyadari bahwa pria itu adalah Orion Leander Ashford, putra penguasa takhta kegelapan New York yang menjalankan bisnis senjata rahasia.
Ketika takdir bertabrakan di antara intrik dan bahaya, permainan nama Lean mendadak berubah menjadi pusaran cinta dan bahaya yang mengancam nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#32
Suara derak pintu kamar rawat VIP nomor 408 bergema pelan di lorong rumah sakit yang lengang. Glow melangkah masuk dengan gaun turtleneck-nya, mencoba menetralkan raut wajahnya yang sempat menegang akibat badai informasi di luar sana. Namun, begitu matanya menangkap sosok Angelina yang berbaring di atas ranjang RS, atmosfer kelam itu seketika sirna.
"Astaga, Angelina yang malang!" pekik Glow dengan raut terkejut yang dibuat-buat, melangkah kaku mendekati ranjang. "Kau tau? Aku baru saja digulung badai Manhattan?!"
Angelina yang sedang mengunyah buah apel menyeringai lebar, Matanya yang tajam menatap Glow dari atas sampai bawah, memperhatikan cara berjalan Glow yang agak pincang dan kaku.
"Heh, Pearl!" tembak Angelina tanpa ampun, suaranya melengking memenuhi ruangan. "Kau tak usah mengasihani aku! Lihat caramu berjalan itu! Kau habis ditabrak truk kontainer jenis apa sampai melangkah seperti penguin begitu, hah?!"
Glow tersentak, pipinya seketika merona merah padam. "Jangan sembarangan bicara! Aku... aku hanya terkilir!"
"Terkilir bibirmu!" cetus Angelina dengan tawa berderai yang vulgar. "Kecuali kalau terkilir di atas kasur! Bau-bau percintaan maraton satu bulan tertunda menyengat sampai ke ujung ruang rawatku ini, Pearl! Lihat lehermu, meskipun kau tutup dengan turtleneck dan bedak tebal, warna kebiruan di dekat telingamu itu berteriak kalau suamimu bertingkah seperti binatang buas!"
"Angelina! Mulutmu benar-benar minta dijahit!" seru Glow panik, menyelimuti rasa malunya dengan kekehan ketus.
Di balik pintu, Orion Leander Ashford melangkah masuk secara diam-diam.
Pria tegap itu memilih menyandarkan punggungnya pada dinding di sudut ruangan, melipat kedua tangannya di dada. Malam ini, penguasa Ashford yang ditakuti itu menjelma murni menjadi seekor "nyamuk" yang diabaikan di antara kehebohan dua sahabat berotak mesum tersebut.
Glow yang sadar Lean berada di sudut ruangan mendadak membuang muka, kekesalan dan kecemburuan soal Shannon Matias kembali meletup secara implisit di dalam dadanya. Untuk melampiaskan kejengkelannya dan membalas dendam pada keangkuhan suaminya, bibir pedas Glow mulai beraksi.
Glow mendudukkan dirinya di kursi samping ranjang, melempar pandangan angkuh ke arah jendela. "Bicara soal bertingkah gila, tidak ada yang bisa mengalahkan mantan-mantanku di zaman kuliah dulu. Pria-pria zaman dulu jauh lebih berjuang dan bertaruh nyawa demi mendapatkan perhatianku."
Angelina terkekeh geli hingga dadanya terbatuk-batuk. "Oh! Aku ingat! Siapa pria malang bernama Julian itu? Yang waktu kau abaikan selama satu minggu di kampus, dia sampai depresi berat dan hampir meminum cat kuku berwarna merah milikmu karena mengira itu sirup racun cinta?!"
"Benar!" sahut Glow dengan dada terangkat bangga, memamerkan senyuman sombong yang meluap-luap. "Pesona dan daya tarikku sewaktu kuliah itu tak kalah dengan pesona aktris papan atas yang sedang menerima piala penghargaan Oscar di atas panggung! Mereka mengantre hanya untuk melihatku tersenyum!"
Di sudut ruangan, tawa rendah yang renyah tiba-tiba lolos dari mulut Lean. Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya, tak sanggup lagi menahan tawa mendengar tingkat kepercayaan diri istrinya yang melambung tinggi ke angkasa.
"Aktris Oscar?" selutuk Lean dengan suara beratnya, memutar bola matanya penuh ironi. "Aku baru tahu kalau ada aktris Oscar yang cara berjalannya pincang karena tidak tahan dengan permainan suaminya sendiri."
ZAP!
Glow memutar kepalanya seketika, menatap Lean dengan pandangan tajam bagaikan belati. "Diam kau, Pria Kanibal! Tidak ada yang memintamu berbicara!"
Angelina menyemburkan tawa gila hingga penyangga Lengannya bergetar. Kehebohan di kamar rawat itu berlanjut hingga satu jam berikutnya, dipenuhi saling lempar sindiran pedas, cerita-cerita konyol masa lalu, dan tawa yang berhasil mengalihkan ketegangan sejenak.
Namun, saat waktu menunjukkan pukul sepuluh malam dan mereka mengucapkan selamat tinggal pada Angelina, kehangatan itu menguap kembali.
Glow melangkah keluar dari kamar rawat dengan wajah membeku.
Rasa cemburu yang menggerogoti dadanya soal kata "mantan tunangan" belum memudar sedikit pun. Ia mempertahankan sikap dinginnya, menolak dirangkul atau disentuh oleh Lean sepanjang koridor.
Mereka melangkah masuk ke dalam lift khusus lantai VIP yang kosong.
Saat pintu baja rapat tertutup dan lift mulai bergerak turun secara perlahan, keheningan di dalam kotak besi itu terasa begitu pekat dan berat. Glow berdiri di sudut kiri depan, menatap lurus ke arah pintu lift dengan tangan terlipat di dada.
Di belakangnya, mata biru Lean berkilat penuh kelelahan atas penolakan istrinya. Sisi liar dan dominan dari seorang penguasa Ashford meledak begitu saja.
Tanpa peringatan, Lean melangkah lebar, memojokkan tubuh mungil Glow ke dinding besi lift. Kedua tangannya mengunci sisi kiri dan kanan kepala Glow.
"Lean, apa yang kau—"
Sebelum Glow sempat menyelesaikan bentakannya, bibir tegap Lean langsung menempel erat, membungkam bibir merah muda istrinya tanpa ampun.
Ciuman itu tidak lagi canggung seperti pagi tadi; ciuman kali ini terasa panas, menuntut, penuh dengan kepemilikan mutlak dan rasa frustrasi yang memburu. Lean melumat bibir Glow dengan keahlian yang memabukkan, menyapu bersih seluruh penolakan dan amarah yang dibangun oleh Glow sejak di lorong tadi.
"Mph... L-lean..." desah Glow tertahan di balik desakan bibir suaminya. Jemari Glow yang semula berniat mendorong dada tegap Lean perlahan melemah, justru meremas kain kaus suaminya ketat.
TING.
Suara dentang lift menandakan mereka sampai di lantai tiga. Pintu lift terbuka secara otomatis.
Dalam hitungan milidetik, Lean melepaskan ciumannya, menarik tubuhnya tegak lurus kembali, dan berdiri bersedekap dengan wajah yang berubah tenang secara instan. Glow menyandar pada dinding lift, terengah-engah dengan bibir yang basah dan merah merona, mencoba menetralkan detak jantungnya yang bergemuruh gila.
Seorang perawat wanita melangkah masuk ke dalam lift, memberikan anggukan sopan pada mereka. Baik Lean maupun Glow bertingkah seolah-olah tidak ada hal aneh yang baru saja terjadi, menyembunyikan badai gairah di balik raut wajah netral mereka.
Begitu perawat tersebut keluar di lantai dasar dan pintu lift kembali tertutup rapat untuk menuju lantai basement...
Lean kembali menerjang.
Pria itu merengkuh pinggang Glow, menarik tubuh istrinya rapat-rapat ke dalam pelukannya dan kembali melumat bibir Glow dengan intensitas yang lebih dalam. Air mata yang dibendung Glow sejak tadi akhirnya menetes tipis menyusuri pipinya—campuran antara emosi yang meluap dan ketakutan akan kehilangan pria ini.
Lean merenggangkan kecupannya beberapa sentimeter, mengusap lelehan air mata di pipi Glow dengan ibu jarinya yang lembut.
Untuk pertama kalinya sepanjang hidupnya, dengan sorot mata biru yang penuh kejujuran murni tanpa tameng kebohongan, Lean berbisik lirih di depan wajah istrinya.
"Aku hanya mencintaimu, Honey... Hanya dirimu. Tidak ada wanita lain di masa lalu, sekarang, atau selamanya."
Glow mendongak dengan tatapan bergetar, dadanya naik-turun memburu. "A-apa benar...?" bisiknya parau, menatap dalam ke balik manik mata Lean.
Lean mengangguk mantap, menyunggingkan senyuman tipis yang teramat tampan dan hangat. Pria itu melirik ke arah indikator lantai lift yang sudah sampai di area parkir bawah tanah.
"Hotel di depan rumah sakit ini sepertinya cukup beruntung untuk kita menginap malam ini," ujar Lean dengan nada serak yang sarat akan godaan terselubung.
Sebelum Glow sempat melayangkan protes atas ide gila itu, pintu lift terbuka. Dengan gerakan yang teramat cekatan dan dominan, Lean menyelipkan tangannya di bawah lipatan lutut dan punggung Glow, mengangkat tubuh mungil istrinya ke dalam gendongan bridal style.
Glow refleks melingkarkan kedua tangannya di leher tegap Lean, menyembunyikan wajahnya yang memerah padam di dada bidang suaminya saat Lean melangkah lebar keluar dari lift menuju mobil mereka.
pdhl penasaran ama kelanjutannya😍😍😍