Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Istrimu, Bukan Babu Mu

Aku Istrimu, Bukan Babu Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Wirly Pena

perkenalkan namaku Jasmine. Usiaku 34 tahun. aku sudah menikah dan mempunyai dua orang anak yang berusia 7 tahun dan 4 tahun. Kegiatanku hanya seorang Ibu rumah tangga.
Suamiku bekerja sebagai PNS di kelurahan desa.
Simak kisahku yang begitu berat aku jalani . Hanya karena ingin mendapatkan surga dari ridho suamiku.
Tapi ternyata aku tak lebih hanya dijadikan seorang babu berkedok istri.
Simak kisah lengkapku ...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirly Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

membuatmu luluh

Setelah ronde kedua berakhir, Mas Rama sudah terkulai lemas di sampingku. Napasnya terdengar berat, sementara matanya mulai sayu karena kelelahan.

" Mas tidak lapar?" Tanyaku.

" Sangat lapar, yang." Jawabnya singkat.

" Kalau gitu, Mas mau makan dulu atau...........melanjutkan permainan lagi?" Tanyaku, sengaja memberi jeda di antara kalimatku.

" Kamu benar-benar luar biasa, yang. Sudah lama aku menginginkan kamu seperti ini. Aku mencintaimu, yang.. Sangat mencintaimu." Jawab Mas Rama.

Mendengar ucapannya itu, rasanya aku ingin muntah. Aku bahkan tidak tahu harus tertawa atau menangis mendengar pengakuan cinta dari seorang laki-laki yang selama ini telah menghancurkan kepercayaanku. Namun, malam ini bukan waktunya untuk menunjukkan kebencian. Aku masih mempunyai tujuan. Aku masih harus menjalankan rencanaku sampai semuanya selesai.

" Aku juga mencintaimu, Mas." Bisik ku lirih di telinga Mas Rama.

Mendengar ucapanku, Mas Rama langsung terbuai. Tangannya mendekapku erat-erat sambil terus menciumiku berkali-kali. Dengan situasi yang seperti ini, adalah waktu yang tepat untuk memanfaatkannya.

" Mas, boleh aku pegan ATM mu? Ada yang harus aku bayar beso. Uang sekolah Aldi dan juga biaya untuk persiapan masuk TK." Ucapku lembut.

" Tentu saja boleh, yang. Ambil saja semu ATM ku yang ada di dalam dompet. Itu adalah milikmu semua. Ambil saja." Jawab Mas Rama dengan kedua matanya yang terkantuk-kantuk.

Mendengar jawaban itu, hatiku terasa lega. Karena misi pertamaku berhasil. Ternyata tidak sulit membuat Mas Rama luluh.

" Lalu nomor pin nya berapa, Mas?" Tanyaku santai.

" Tanggal pernikahan kita."

Mas Rama sama sekali tidak menyadari bahwa percakapan kami sejak tadi telah kurekam menggunakan ponsel yang sengaja kuletakkan di bawah bantal. Aku ingin memiliki bukti jika dia lupa pernah mengatakannya sendiri kepadaku. Karena seseorang yang suka berbohong akan mudah menyangkal ucapannya sendiri ketika keadaan mulai berbalik.

Beberapa menit kemudian, napas Mas Rama mulai teratur. Kulihat dia sudah tertidur pulas. Kemudian aku bangkit dari tempat tidurku dengan hati-hati, lalu mengambil dompet milik Mas Rama yng di letakkan di atas meja riasku. Didalam dompet itu, terdapat beberapa kartu ATM. Aku mengambil semuanya. Setelah mendapatkan apa yang aku inginkan. Sekarang aku siap untuk langkah selanjutnya.

......................................

Pukul 06.00, sarapan telah tersedia di atas meja. Nasi hangat, telur dadar, tumis sayur, dan beberapa potong buah sudah kusiapkan sejak subuh.

Aldi dan Aira juga sudah berpakaian rapi. Hari ini Aldi sudah kembali masuk sekolah setelah tiga hari izin karena sakit. Syukurlah, keadaannya sudah sehat. Wajahnya kembali ceria dan tidak terlihat lemas seperti beberapa hari sebelumnya.

" Abang, tas nya jangan lupa, ya. Ayo kita berangkat." Ucapku sambil merapikan kerah bajunya.

" Iya, mama." jawabnya.

Aku tersenyum melihatnya. Sementara itu, Mas Rama masih belum bangun. Namun semua keperluannya sudah kusiapkan seperti biasa. Sarapan, pakaian kerja, bahkan secangkir kopi sudah tersedia di atas meja.

Aku bahkan tidak tahu apakah setelah semua yang terjadi aku masih bisa menyebut diriku sebagai istri yang sama. Mungkin secara status, iya. Tetapi di dalam hati, aku sudah berubah. Rasa cintaku kini perlahan mulai memudar.

Setelah memastikan semuanya aman. Kemudian aku segera mengajak Aldi dan Aira berangkat. Kulajukan motorku perlahan, menikmati suasana pagi hari yang ramai lalu lalang orang-orang yang sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing.

Pukul 06.40, aku telah sampai di depan sekolah Aldi. Anak laki-laki ku turun dari kendaraan, lalu berdiri sebentar dihadapanku.

" Abang sekolah yang pintar, ya. Terus jangan jajan yang aneh-aneh lagi," Pesanku kepada Aldi.

" Iya, Ma." Jawabnya singkat ,lalu mencium punggung tanganku.

Aldi berlari kecil memasuki halaman sekolah, karena bel sebentar lagi akan berbunyi. Aku terus memperhatikannya sampai dia menghilang di antara anak-anak lainnya.

Apapun yang terjadi antara aku dan Mas Rama, satu hal yang tidak boleh berubah adalah aku harus tetap menjadi ibu yang kuat untuk kedua anak ku.

Tujuan ku selanjutnya setelah mengantar Aldi yaitu menuju mesin ATM. Aku ingin mengambil uang dari kartu ATM Mas Rama. Setelah itu aku akan menemui Mbak Rima, karena hari ini kita sudah ada rencana untuk bertemu pemilik ruko yang akan aku sewa.

Ku lajukan motorku ke arah ATM terdekat bersama Aira.

Beberapa menit kemudian, aku tiba di sebuah ATM. Aira berdiri disampingku sambil memegang tanganku. Kemudian aku mengeluarkan salah satu kartu yang semalam aku ambil dari dompet Mas Rama. Aku memasukkannya kedalam mesin ATM, memasukkan nomor pin. Aku ingin melihat isi saldo nya terlebih dahulu.

Tertera di layar monitor nominal saldo milik Mas Rama. Lumayan besar ternyata. Jadi benar yang dikatakan oleh atasan Mas Rama kemarin, kalau gaji Mas Rama tidaklah sekecil yang pernah dia katakan padaku dulu.

Aku menatap sejenak angka saldo yang terpampang di layar ATM. Ada sedikit rasa ragu di dalam hati. Namun aku segera teringat semua yang sudah terjadi. Uang belanja yang selalu diberikan pas-pasan. Kebutuhan anak-anak yang harus kupikirkan sendiri. Sementara selama ini Mas Rama ternyata memiliki penghasilan dan simpanan yang jauh lebih besar daripada yang pernah dia ceritakan kepadaku.

Tanpa membuang banyak waktu, aku segera mentransfer nya ke rekening pribadiku. Aku sisakan 500 ribu ,untuk keperluan Mas Rama membeli bensin.

Setelah transaksi pertama selesai. Aku memasukkan kartu yang satunya lagi. Ternyata nominal nya juga lumayan besar. lalu aku kembali melakukan transfer ke rekening pribadiku. Setidaknya aku bisa menggunakannya untuk tambahan modal usaha ku nanti.

Setelah semua transaksi selesai. Aku keluar dari ATM dengan menggandeng tangan Aira. Kulanjutkan perjalanan untuk bertemu Mbak Rima dan temannya.

Rasanya puas sekali hatiku. Tinggal menjalankan langkah berikutnya. Dan aku yakin, mulai hari ini hidupku akan berubah sedikit demi sedikit. Aku tidak tahu apakah perubahan itu akan mudah. Tapi untuk pertama kalinya, setelah sekian lama..aku tidak lagi takut menghadapi hari esok.

...****************...

Terimakasih sudah membaca 🙏😘

1
partini
habis masuk lobang si jalang masuk lobang istri,,apa ga takut jas banyak penyakit takut kena penyakit kelamin
Wirly Pena: Ikuti terus episode selanjutnya ya kak 😄
total 1 replies
Anonim
Lemah banget jadi cewe ,
Wirly Pena: jangan lupa, ikutin terus ceritanya, ya kak ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!