Indonesia
NovelToon NovelToon
Dinikahi Anak Juragan

Dinikahi Anak Juragan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah
Popularitas:15.4k
Nilai: 5
Nama Author: ntaamelia

Selama lima tahun Diyah Melati percaya bahwa cintanya akan berakhir di pelaminan. Namun, ketika sang kekasih pulang dari perantauan, harapan yang selama ini dia rajut justru hancur dalam sekejap. Alih-alih membawa cincin lamaran, pria itu justru memilih mengakhiri hubungan.

Di usianya yang telah menginjak kepala tiga, Diyah tak hanya harus menanggung patah hati, tetapi juga menghadapi cibiran sebagai "Perawan Tua" yang terus menghantuinya. Meski terluka, Diyah bertekad bangkit dan menyembuhkan hatinya tanpa bergantung pada siapa pun.

Namun, saat Diyah mulai menata kembali hidupnya, sebuah lamaran tak terduga datang dari seorang juragan terpandang di desanya. Tawaran perjodohan itu sontak mengusik ketenangan yang baru saja ia bangun. Di balik niat baik tersebut, tersimpan sosok yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.

Akankah Diyah membuka kembali pintu hatinya dan menerima perjodohan itu? Ataukah luka masa lalu membuatnya memilih berjalan sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15. Malam Petaka

Setelah mengganti pakaiannya, Diyah segera turun supaya tidak membuat Biyakta menunggu lama. Dari tempatnya berdiri Laksmi memandang penuh remeh, sebab penampilan Diyah memang sangat kontras dengan kehidupannya saat ini.

'Gembel memang selamanya akan menjadi gembel! Bagaimana bisa dia sebanding dengan Biyakta?' makinya sambil menggenggam tangan putranya, Tama. Hari ini Laksmi ingin mengantar sekolah.

"Aduh, Ibu, tanganku sakit," keluh Tama sambil mengernyit. Tangan mungilnya seperti ingin dipatahkan.

"Maaf-maaf, Sayang, Ibu tidak sengaja," balas Laksmi merasa bersalah. Gara-gara terlalu fokus pada Diyah, dia sampai tak sadar meremas tangan putranya. Tama mengangguk meski hampir menangis, kemudian mengikuti langkah ibunya masuk ke dalam mobil.

Di teras, seorang wanita paruh baya sudah menunggu Diyah.

"Sudah siap, Non?" tanyanya sambil tersenyum. Dia sudah membawa cukup perbekalan untuk mengganjal perut saat lapar.

"Sudah, Mbok."

Lantas keduanya pun naik ke mobil yang dikemudikan oleh Biyakta. Menyusuri jalanan desa yang sebagian masih tanah bercampur batu.

"Mbok, tidak perlu ditunjukkan semua ya. Kalau sudah capek kalian langsung pulang saja, bisa besok lagi," ujar Biyakta sambil melirik istrinya yang duduk anteng di sebelah.

"Iya siap, Den," jawab Mbok Sum. Yang kemudian beralih bicara pada Diyah. "Gimana, Non, sudah mulai diminum vitaminnya?"

Diyah yang sedang menikmati pemandangan langsung mengalihkan perhatian.

"Sudah, Mbok," jawabnya. Padahal satu pun belum ada yang masuk ke tubuhnya. Karena sebagai kader posyandu yang sering mendapat edukasi, Diyah cukup mengenali bentuk pil yang diberikan oleh Mbok Sum.

Namun, untuk memastikan apa tujuannya, dia perlu mengikuti permainannya. Sesuai kecurigaan Diyah, sepertinya sang bude sedang membuat rencana.

'Di dalam rumah itu, aku belum tahu mana yang betulan baik dan mana yang jahat. Jadi aku perlu beradaptasi terlebih dahulu. Dan yang terpenting, Mas Biyakta menjadi garda terdepan untukku.'

"Vitamin apa?" sambar Biyakta yang tampak penasaran dengan pembicaraan tersebut.

"Untuk kesehatan, Mas," jawab Diyah sambil tersenyum tipis. Biyakta manggut-manggut, dan tak terasa jalan mereka sudah menyempit.

"Aku hanya bisa mengantar kalian sampai sini. Karena jalannya terlalu sempit untuk mobil," ujar pria itu.

"Tidak apa-apa, Mas, aku dan Mbok Sum jalan saja," balas Diyah, tanpa merasa keberatan sedikit pun.

"Iya, Den, Mbok juga masih kuat kok."

Diyah dan Mbok Sum bergegas turun, sebelum Biyakta benar-benar pergi wanita itu menyalimi tangan suaminya dengan takdzim. Biyakta sempat tertegun, dan tersadar saat Diyah mulai melambaikan tangan.

Dia membiarkan kakinya berjalan tanpa alas, menyusuri jalanan penuh rumput, dan jalanan setapak yang membelah hamparan sawah.

Di kejauhan para petani mulai menanam padi. Hamparan tanah luas sebagian menghijau, seperti rumput di lapangan bola. Beberapa di antara mereka yang sudah mengenal Diyah langsung menyapa.

"Selamat pagi, Bu Juragan. Mau ngecek sawah ya?"

Diyah tersipu malu.

"Jangan panggil begitu, Pak, yang juragan kan mertua saya," ujarnya merasa canggung dengan panggilan tersebut. Namun, para petani hanya tertawa kecil. Mbok Sum juga ikut tersenyum.

"Sama saja, Non, kan nanti Den Biyakta yang meneruskan," kata Mbok Sum yang mengekor di belakang Diyah.

Mereka kemudian beralih menuju kebun buah milik keluarga Juragan Marta. Mangga, alpukat, durian, hingga rambutan tumbuh subur. Diyah memandang sekeliling dengan takjub.

"Luas sekali ya, Mbok? Aku baru tahu kebun yang di sini," ujar Diyah dengan mata yang berbinar.

Mbok Sum mengangguk bangga.

"Non Diyah bisa tanam buah lain di sini, lahannya masih luas. Dulu almarhumah ibu Mas Biyakta paling senang ke sini," paparnya menceritakan. Karena dia memang salah seorang yang paling lama mengabdi di keluarga Kusuma.

Diyah menoleh.

"Ibu mertua?"

"Iya, Non, Ibu Ainun sering metik buah sendiri terus dibagiin ke warga. Makanya banyak yang sayang sama beliau."

Diyah tersenyum sambil meraba bayangan wajah ibu mertuanya yang samar-samar diingatan.

"Pantas Mas Biyakta juga senang membantu orang," ujar Diyah seraya mengambil buah yang jatuh ke tanah. Masih mulus.

Mbok Sum mengangguk pelan.

"Anak itu memang paling mirip ibunya, Non. Kalau boleh jujur, Non Diyah beruntung mendapatkan Mas Biyakta, Mbok do'akan pernikahan kalian langgeng sampai tua."

Kalimat itu membuat Diyah diam sejenak, sementara hatinya ikut mengaminkan.

***

Saat perjalanan pulang, dari kejauhan terlihat seorang wanita sedang membawa rumput untuk pakan ternak.

"Diyah!" panggil Anjani. Sahabatnya itu berlari kecil menghampiri. "Wah ... sekarang makin susah ditemui."

Diyah terkekeh kecil.

"Bukan begitu, Jan, aku kan masih adaptasi dengan kehidupan baruku."

"Gimana rasanya jadi menantu juragan?" tanya Anjani dengan senyum menggoda. Diyah menggeleng dengan rona malu-malu.

"Masih sama saja."

Anjani memandang Mbok Sum dengan sopan. "Permisi, Mbok."

Mbok Sum mengangguk ramah.

"Nggak perlu sungkan kalo mau mengobrol."

Anjani segera menggandeng tangan Diyah dan mereka berjalan beriringan.

"Serius, kamu bahagia? Nggak ada yang rese 'kan?" tanya Anjani, karena dia cukup khawatir dengan kehidupan Diyah, takut seperti di sinetron yang sering dia tonton.

Diyah terdiam sesaat.

"Aku bahkan belum sebulan menikah, Jan. Tapi ...." Diyah tersenyum kecil. "Mas Biyakta orang yang sangat baik. Aku dikasih kartu ATM." Lanjutnya sambil bisik-bisik, dan langsung membuat Anjani menganga.

"Nah, itu yang penting!" balasnya heboh. Anjani benar-benar ikut bahagia, jika Diyah bahagia.

Sebelum berpisah di pertigaan, karena rumah Anjani lebih dekat, Diyah berkata. "Kalau ada waktu mainlah ke rumah. Nanti aku siapin jamuan yang banyak."

"Emangnya boleh?" tanya Anjani sambil melirik ke arah Mbok Sum. Sedangkan Diyah langsung mengangguk tanpa menunggu persetujuan siapa pun.

"Aku kangen ngobrol sama kamu."

Anjani mengangguk penuh semangat. Karena ini akan menjadi momen pertamanya menginjakkan kaki di rumah orang terkaya di desa. "Oke, aku bakal dateng."

***

Hari yang sama juga menjadi hari pernikahan Cakra dan Rani. Gedung pernikahan dipenuhi keluarga dari pihak keduanya. Termasuk ibu Cakra yang tersenyum sepanjang acara.

'Lihatlah, Diyah, anakku sama sekali tidak menyesal putus denganmu. Karena dia juga dapat yang lebih baik, wanita terhormat, muda dan kaya!'

Musik mengalun meriah. Foto-foto mereka terus diabadikan oleh fotografer.

Cakra tampak tersenyum lebar, begitu pula dengan wanita yang telah sah menjadi istrinya. Dua cincin yang tersemat di jari masing-masing dipamerkan. Banyak orang memuji mereka sebagai pasangan yang serasi.

"Aku bahagia sekali, Mas, akhirnya aku bisa nikah sama kamu," ucap Rani saat di atas pelaminan. Cakra meraih tangan Rani, kemudian mengecupnya sekilas.

"Aku juga, bahkan aku udah nggak sabar ...." Pria itu berbisik hingga membuat Rani terkekeh karena merasa kegelian.

"Mas, kamu nakal deh," ucapnya sambil mencubit perut Cakra.

Hingga tiba di malam hari, setelah seluruh acara selesai, mereka langsung masuk ke kamar pengantin. Wajah mereka memang terlihat lelah, tetapi sesuatu yang membara di dalam dada mengalahkan segalanya.

Dalam sekejap ruangan itu dipenuhi dengan tawa dan suara decapan. Rasanya benar-benar menggairahkan, apalagi untuk Cakra yang sudah di atas ubun-ubun.

"Pelan-pelan ih," rengek Rani dengan manja. Cakra hanya tersenyum lebar, berlanjut melucuti pakaian istrinya.

Namun, suasana yang semula hangat perlahan berubah menjadi tegang. Sebuah kenyataan yang tidak pernah dibayangkan Cakra mulai terungkap. Cakra menatap istrinya dengan tatapan penuh amarah.

"Kenapa kamu tidak jujur dari awal?" sentaknya sambil membanting apa saja yang ada di ruangan itu.

Rani menundukkan kepala, memeluk tubuhnya yang sudah polos.

"Aku takut kamu marah, aku takut kehilangan kamu, Mas."

"Kamu bohong! Pantas setiap kali aku meminta lebih kamu tidak pernah mau. Ternyata memang sudah ada yang mendahului aku," rancau Cakra, menuding tepat ke wajah Rani.

"Aku memang salah, Mas ...."

Cakra mengepalkan tangan. Rani turun dari ranjang dan hendak memeluk kaki Cakra, agar amarah pria itu bisa redam.

"Jangan dipikir aku bisa ditipu!"

Air mata Rani mulai berjatuhan. "Aku ingin menjelaskannya, tapi aku tidak pernah punya keberanian. Maafin aku, Mas."

Cakra menggeleng kecewa. Baginya yang paling melukai bukan hanya kenyataan yang baru dia ketahui, tetapi juga karena merasa kejujuran dalam hubungan mereka telah hilang sejak awal.

"Aku butuh waktu sendiri."

"Mas!" Rani mencoba menahan agar suaminya tidak pergi. Namun, pria itu tetap melangkah dan membuka pintu kamar.

"Jangan ikuti aku!" tandasnya.

Cakra melangkah keluar rumah dengan langkah cepat, meninggalkan Rani yang terduduk di lantai sambil menangis. Para keluarga yang melihat itu tentu bertanya-tanya.

"Cakra, ada apa ini?" tanya ibu Rani.

"Tanyakan saja pada anak ibu!" jawabnya tanpa menoleh atau pun menghentikan langkah kakinya.

Malam itu Cakra berjalan tanpa tujuan. Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Diyah, hidup yang dia bayangkan akan sempurna justru mulai dipenuhi masalah.

1
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
hayolohhh kapokkk! ngeyell sih...mau di jadikan LC kamu tuh. di nasehati diyah kagak mau denger, malah di kira diyah irii. rasainn...pasti kamu kena tipuu. bukannya di jadikan artis malah di jadikan LC
Margaretha Indrayani
dasar sarmila ndableg sudah dicegah malah nekat, ya terima saja akibatny
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
sekarang beda lah, sekarang kan sudah ada istri, ada yang masakin, ngeloninn, ngobati jadi biyakta aura nya makin aur2ran .murah senyum dan selalu bahagia 😆
Margaretha Indrayani
enak ya punya suami pengangguran gitu rani, 👍👍👍👍
rani hamil anaknya cakra apa bevar anaknya cakra?
Radya Arynda
semangaaat diyah,biyahta,,,,tetap ber sama suka duka,,,hancur kan para sengkuni dan antek2 nya...
makanya sarimi jangan sombong dan ber lagu,,,,kan dapat karma....
Dien Elvina
kapok kau Sarmila makanya jadi orang gak usah jahat iri hati yg mala menjerumuskan kan mu ..gak kebayang malunya pas pulkam malah hanya jadi pekerja pabrik 🤪😂
Margaretha Indrayani
januar memang cari masalah terus dengan biyakta gara" komporan laksmi😡😡😡😡😡
Septi
semangat pokonya Dyah 💪🏻
Diah_Kustantie ✨💛
Next
Radya Arynda
semangaaat diya,biyahta,,semogah kalia selalu ber sama dalam suka duka,,,,,
Rasakan karma nya kra cakra,,,,
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
kapokkkk! kurma di bayarr kontan. dulu kalian pamerr kemesraan di depan Diyah, tapi nyatanya semua itu hanya sementara saja. di saat rumah tangga kalian penuh prahara, beda dnegan rumah tangga diyah yang banyak di hujani kebahagiaan.
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
astagaa manten baru, masak mau mesrah2han di tengah sawah 😆 kayak enggak ada tempat lain saja. lagian kalau dah kebelett mending pulang sono...jangan guling2 di tengah sawah 😆
Dien Elvina
sementara s Cakra seperti hidup d neraka dgn Rani ..jangan² s Rani hami anak orang lain
Dien Elvina
good Dyah s Laksmi harus d lawan jangan mau d tekan s benalu ..lama² juga bakal berhenti sendiri
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
nahhh gitu dong diyah! aku suka perubahan kamu. kamu harus lebih berani dan jangan cuma diam saja, saat orang lain meremehkan atau merundungmu. dengan begini, laksmi enggak bakal berani macam2...karena kamu enggak cuma diam dan pasrah.
Diah_Kustantie ✨💛
Janu sudh mulai terprovokasi kayanya.akang biya udh mulai terdiyah Diyah nih ga malu2 ngumbar kemesraan
Dien Elvina
ihh jahat banget Januar ..pengen liat Biyakta rugi dgn mengganti pupuk biar panen hancur n Biyakta kena Omelan pak Marta ..ini gara² hasutan s Laksmi sang benalu 😡
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
hohoho seperti kamu mau ngerjain mas kamu januar, kamu asal ganti pupuk supaya hasil panen hancur dan biyakta kena omel bapak kamu gitu kan? gara2 pengaruh dari laksmi. kamu sampai segitunya sama mas kamu. kamu bakal nyesel, jika tahu kalian sedang di adu dombaa.

mamvusss Sarah 🤣 bisa2nya kagak punya malu, masih pagi kok yaa bertamu ke rumah orang. gitu katanya wanita berpendidikan, tapi enggak punya attitude. malah mau jadi velakorr....bener2 enggak tahu diri.
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ: pasangan klop! 😆 januar lebih percaya sama orang lain, daripada sama saudara kandung. di peralat laksmi saja kok yaa mau2nya.
total 2 replies
Mira Hastati
bagus
Radya Arynda
waaah januar sudah ke makan sama hasutan sengkuni,,wanita iblis si lasmi....semogah kamu tidak menyesal saja war januwar...,
Mantap Biyahta,,,jangan ter goda sama perempuan lain,,,jaga selalu diyah dari orang2 sikir dan jahat....sarah,sarah katanya pramugari kok semangaat banget mau jadi pelakor....haduh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!