❌ BOM LIKE‼️
Suara musik menghentak memenuhi klub malam. Malam itu, Cintya baru saja dijual oleh ayah kandungnya sendiri. Ia berlari menghindari pria-pria yang ingin menyentuhnya.
"Gue gak mau! Lepasin gue!"
"Berhenti! Gak ada jalan keluar untukmu!"
Bruk!
Tanpa sengaja, Cintya menabrak Victor Joseph, mafia berdarah dingin yang hendak masuk ruang VIP.
"Maaf ... maaf..." ucap Cintya ngos-ngosan.
Victor yang hendak marah, mendadak terdiam. Selama lima tahun, sentuhan wanita selalu membuatnya mual dan sesak napas akibat racun. Namun, sentuhan Cintya ... tidak bereaksi.
"Tuan Victor, gadis itu baru dijual ke sini."
"Serahkan dia."
"Harganya mahal."
"Saya beli. Sepuluh miliar."
"Apa?!" Cintya syok berat.
Tak ada yang menyangka, Cintya adalah satu-satunya penawar bagi Victor.
Namun, sanggupkah Cintya bertahan di tengah keluarga mafia yang dipenuhi kekejaman dan perebutan takhta pewaris?
Cintya merasa seperti baru saja keluar dari kandang buaya & masuk ke kandang macan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Cutꪻᶠᵃᵗᶦ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
021 – TVPM
...🍷 Happy Reading 🍷...
......-------🦋-------......
FLASHBACK — BEBERAPA MENIT SEBELUMNYA
Sejak tadi, Xen, orang suruhan Marco, diam-diam memata-matai Cintya dari kejauhan tanpa diketahui gadis itu.
Ia bahkan sudah berhasil menyusup ke dalam rumah Joseph dengan cara menyamar. Tidak ada yang curiga, karena Xen memiliki kemampuan khusus untuk meniru suara orang lain kapan saja. Ia menyamar sebagai salah satu bodyguard yang bertugas di mansion ini.
Lalu ke mana bodyguard yang identitasnya ia curi? Tentu saja sudah tidak ada.
Xen telah menyingkirkannya sebelum mengambil identitas tersebut. Mendapatkan penyamaran ini juga bukan perkara mudah. Penjagaan di mansion Joseph sangat ketat.
Namun setelah berusaha keras dan berhati-hati, Xen akhirnya berhasil menyusup dan menjalankan tugasnya dengan nyaman walau tetap berhati-hati.
Xen menghentikan langkahnya saat melihat gadis itu berhenti melangkah.
Dari balik lorong yang sepi, ia memperhatikan Cintya sedang menatap dinding dengan serius.
Xen mengernyit, saat Cintya seperti ingin menyentuh dinding, tapi ragu-ragu. "Apa yang dia lakukan?"
Lalu saat Cintya menekan dinding.
Jari Xen bahkan belum sempat menyentuh alat komunikasi ketika—
Klik.
Terdengar suara mekanisme dari dalam dinding.
Grrrrkkk...
Dinding di hadapan Cintya bergeser perlahan, lalu Cintya maju dan berakhir terperosok ke bawah dengan pekikannya terdengar menggema.
Mata Xen langsung membesar, ia refleks maju setengah langkah. "Hei?"
Tapi Cintya tidak terlihat lagi.
Beberapa detik kemudian, dinding kembali tertutup. Xen terdiam.
'Serius?' Xen tidak menyangka rumah Joseph memiliki sesuatu seperti itu.
Namun ia juga tidak terlalu heran. Bagaimanapun, ini adalah rumah mafia. Rumah seperti ini pasti menyimpan banyak rahasia, seperti bossnya juga.
Xen tersenyum smirk. 'Menarik. Mari kita lihat apa ada sesuatu yang bisa dilaporkan kepada Tuan Marco.'
Dua menit berlalu dalam keheningan yang mencekam. Cintya tak kunjung kembali. Sadar waktu terus berputar, tak menunggu lama, ia mendekati dinding itu, kemarinya meraba permukaan dinding, mencari hal janggal, lalu menemukan tombol kecil. "Mungkin gadis itu menekan ini?"
Tentu saja Xen tidak tau, jika tidak terlalu dekat dengan dinding, tombol hitam yang menyerupai cat dinding. Dia tidak akan tau jika tidak meraba dan menatapnya dengan teliti.
Xen menekan tombol tersebut perlahan.
Klik.
Begitu dinding terbuka, Xen melangkah maju, beberapa detik kemudian pijakannya hilang. Tubuhnya merosot jatuh ke bawah. Sebagai agen terlatih, ia berhasil meredam bunyi deburan tubuhnya agar tidak terdengar oleh Cintya. Ia bangkit, lalu mulai berjalan pelan, jangan sampai Cintya tahu.
Lorong itu membawanya menuju jalan gelap lalu ke kawasan hutan yang sama sekali tidak pernah ia ketahui berada di balik rumah Joseph.
Xen mengikuti jejak Cintya dari kejauhan. Namun semakin jauh masuk, langkah Xen semakin pelan.
Beberapa batang pohon di sekitarnya memiliki tanda aneh.
Xen mengerut keningnya, ia mendekati salah satunya.
Seekor ular hitam.
Lambangnya memang sudah agak samar, tetapi Xen mengenal simbol tersebut. Tatapannya langsung berubah. "Black Viper..."
Xen tidak berani berjalan lebih jauh. Di depannya, beberapa titik cahaya merah berkedip di antara pepohonan. 'Sensor...'
Xen langsung berhenti. Kalau melewati batas itu, keberadaannya bisa diketahui.
Xen kemudian mengalihkan pandangan ke arah lain, ke ujung kawasan hutan.
Dari sela-sela pepohonan, terlihat sebuah jalur. Xen menyipitkan mata. "Sebentar..." Ia memperhatikan jalur tersebut lebih lama. "Bukannya..."
Jalur itu seharusnya merupakan jalan bersih—jalur yang dari luar terlihat biasa saja dan tidak menunjukkan tanda-tanda sebagai bagian dari markas Black Viper.
Selama ini, jalan tersebut tidak lebih dari jalur kosong. Tidak ada bangunan, gerbang, bahkan tidak ada penjagaan.
Namun dari tempat Xen berdiri sekarang, ada sesuatu yang terasa janggal.
Jalur tersebut ternyata memanjang hingga ke sisi kawasan hutan.
Xen menatapnya lekat-lekat. "Kalau itu benar jalan bersih..." Matanya bergerak dari jalan tersebut menuju hutan di depannya. "...kenapa jalurnya justru seperti terhubung dengan kawasan ini?"
Xen terdiam. Ia kembali memperhatikan jalan tersebut. 'Bukankah selama ini jalan itu terlihat seperti jalan buntu?'
'Kalau seseorang masuk lebih jauh ... apa mungkin jalan itu sebenarnya memiliki akses menuju hutan ini?'
Sebuah kemungkinan mulai muncul di benaknya. Bukan jalan itu yang berubah.
Melainkan ... ada bagian dari jalur tersebut yang sengaja dibuat seolah-olah tidak memiliki hubungan dengan kawasan ini. Xen tersenyum tipis. "Jadi begini caranya..."
Namun ia tidak berani masuk lebih jauh. Sensor di depannya terlalu berisiko. Setidaknya sekarang ia sudah mendapatkan cukup banyak informasi.
Lambang Black Viper, lorong rahasia dari rumah Joseph, kawasan hutan yang tersembunyi. Dan ... kemungkinan adanya akses lain melalui jalan bersih.
Xen segera berbalik, keluar melalui lorong yang sama sebelum keberadaannya terdeteksi. Sesampainya di area aman, ia langsung menghubungi tangan kanan Marco.
"Laporkan ini kepada Bos," perintahnya dingin sembari menyampaikan seluruh informasi baru tersebut.
Xen tidak tahu, informasi yang awalnya hanya dipicu oleh rasa penasaran acak dari Cintya itu, sebentar lagi akan membawa Marco membongkar salah satu rahasia terbesar yang paling dijaga oleh Victor.
...⊹🧺⊹🧺⊹🧺⊹...
KEMBALI KE SAAT CINTYA SUDAH TERTEMBAK.
Marco tertawa kecil. "Haha, bagus! Jadi ini markasmu? Dan aku lihat kau sangat perhatian dengannya?"
Victor tidak menjawab, tatapannya justru semakin dingin. Sementara Cintya masih berada dalam pelukannya.
Beberapa detik berlalu.
Victor menundukkan pandangan pada Cintya yang tidak sadarkan diri. Tatapannya jatuh pada luka di tubuh gadis itu.
Rahangnya mengeras. "Kau menembaknya."
Marco mengangkat sudut bibirnya santai. "Bukankah itu yang kau lihat?"
Victor menatap Marco dengan tatapan membunuh. "Aku beri kau satu kesempatan." Suaranya rendah dan berat.
Marco mengangkat alis. "Kesempatan?"
"Pergi."
Satu kata dari Victor membuat senyum Marco justru semakin lebar. "Setelah aku berhasil menemukan markas rahasiamu, kau menyuruhku pergi begitu saja? Apa kau kira aku bodoh."
Victor mengangguk pelan. Tatapannya semakin menusuk. "Jangan karena kau sudah mengepungku, saya akan takut. Tidak Marco. Kau salah besar."
Rahang Marco mengeras.
"Apa kau sudah lupa bagaimana aku membuat kelompokmu hancur? Kau ingin mengulanginya, hm?" Tangan Victor semakin erat menopang tubuh Cintya.
Marco tertawa terbahak-bahak tapi wajah memerah menahan amarah. "Oh. Apa kau kira aku takut? Lihat. Aku sudah membawa hampir semua pasukanku. Tentu saja aku ke sini bukan untuk bergaya," decihnya.
Marco perlahan berjalan semakin maju.
Victor menatapnya santai, tapi hatinya terasa resah karena kondisi Cintya.
Axel siap siaga dengan pistolnya, jika Marco macam-macam ia pastikan akan menembak.
"Aku ke sini untuk membalas apa yang kau lakukan dulu. Bisa saja, lebih dari itu, maybe?"
Victor menatap Marco datar. "Kau kira saya takut? Palingan kau hanya bisa membuat sebagian anak buahku mati. Ya walau sangat di sayangkan. Tapi..."
Mata Victor mengode Axel.
"Tuan..."
"Jaga dia." Victor menyerahkan Cintya kepada Axel dengan hati-hati.
Axel yang mengerti itu menggangguk pelan.
Axel langsung menangkap tubuh Cintya dan membawanya menjauh dari posisi Victor.
Lalu Victor mengeluarkan pistol dari saku celananya. "Tapi ... kau belum tentu bisa membunuhku dengan mudah," bisik Victor dingin, lalu menembak Marco, cepat.
DOR!
Untung saja Marco cepat mengelak, jadi, peluru hanya mengenai lengan kanannya saja. Darah merembes dari lengannya, tangan Marco mengepal kuat. "Berhenti sombong. Lihat saja, akan aku buat kau lebih rugi dari aku sebelumnya."
Akhirnya perang terjadi, Victor bertarung dengan Marco dan di sisi lain yang tidak jauh dari tempat mereka, alias markas Victor sudah dari tadi baku tembak.
DOR!
DOR!
"Coba saja jika kau mampu," sinis Victor di sela-sela menembak.
Sementara itu, Axel sudah berhasil membawa Cintya sampai ke dalam mobil. "Jangan khawatir, Nyonya. Kita akan segera ke rumah sakit."
Axel langsung masuk ke kursi pengemudi dan menyalakan mesin. Namun baru saja kakinya hendak menginjak pedal gas—
"Ugh..."
Suara lirih terdengar dari kursi belakang.
Axel langsung menoleh.
Mata Cintya perlahan terbuka.
"Nyonya Cintya?"
Cintya mengerjapkan mata beberapa kali. Pandangannya masih buram, tetapi suara tembakan dari kejauhan membuat kesadarannya perlahan kembali. "Om..."
Axel terdiam.
Cintya berusaha bangkit. Rasa sakit di punggungnya langsung membuat wajahnya meringis.
"Jangan bergerak dulu!" Axel buru-buru menahannya.
"Om Victor..." Cintya menoleh ke arah suara tembakan.
Dari kejauhan, ia masih bisa melihat beberapa orang bertarung di antara pepohonan. Dan di sana, Victor masih berdiri. Sendirian menghadapi Marco.
Cintya menatapnya lama. "Dia masih di sana...?"
Axel menghela napas. "Tuan menyuruh saya membawa Anda ke rumah sakit."
Cintya menangis ngilu, punggung terasa seperti di sayat pisau, darah hangat masih merembes di bajunya. "Tapi suami gue belum pergi."
Axel berusaha sabar karena keras kepala istri tuannya. "Justru karena itu saya harus membawa Anda keluar."
Cintya menggeleng cepat. "Gak mau!" Cintya perlahan membuka pintu mobil dengan lemah.
Axel langsung panik. "Nyonya! Anda belum pulih! Bahaya! Anda tidak bisa ke sana!"
Cintya tidak peduli, ia tetap turun walau badannya lemas. Punggungnya terasa sangat perih, tetapi ia tetap berdiri. Tatapannya tertuju pada sosok Victor. "Kalau Om masih di sana, gue gak mungkin pergi begitu aja setelah buat kekacauan ini."
Axel hendak menghentikannya. Namun suara tembakan kembali terdengar.
DOR!
...🦋Bersambung...🦋...