Indonesia
NovelToon NovelToon
The Path To Godhood

The Path To Godhood

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Dikelilingi wanita cantik / Fantasi
Popularitas:399
Nilai: 5
Nama Author: Made Budiarsa

Xuan Han terbangun di dalam gua sembari mengingat kalimat tentang cinta. Ia hanya tahu namanya, tidak ada yang lain, kecuali kalimat itu.
Berbekal rasa penasaran tentang identitasnya ia mulai menelusuri hutan, bertemu para kultivator, hewan-hewan buas dan berbagi hal unik di dunia itu.
Perlahan-lahan ingatannya kembali pulih dan pada saat ia tahu jika kebenarannya menyakitkan, akankah ia mau menerimanya?

Ikuti perjalanannya yang memegangkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hewan buas yang menyeramkan

Xuan Han berlari menembus hutan gelap. Ia dapat bergerak cepat dan telinganya memindai seluruh suara.

Akhirnya, setelah beberapa menit menerobos, ia tiba di dua batang pohon hijau besar. Segera melompat, memanjatnya setinggi mungkin lalu diam di sana.

Detak jantungnya berdegup kencang dan napasnya cepat. Keringat mengalir di pelipis dan dadanya. Menatap ke bawah, ia masih mendengar suara langkah kaki dan raungan serigala itu.

Xuan Han menggenggam pedang berkarat di tangannya untuk berjaga-jaga.

Tiga serigala itu segera muncul dengan wajah ganas. Namun setelahnya, ekspresi mereka menjadi redup dan ekornya melengkung ke bawah. Tubuh mereka gemetar. Xuan Han merasa aneh. Tiga serigala itu menatapnya sebentar lalu perlahan-lahan menghilang di balik semak.

Xuan Han bisa menghela napas. Ia kemudian duduk. Memeriksa ikan bawaannya, beberapa terjatuh dan hanya tersisa lima. Lalu mengeluarkan tusuk rambut bunga peoninya sebentar. Mengamatinya, ia penasaran apakah ada hubungan tusuk rambut ini dengan dirinya atau tidak, lalu menyimpannya kembali.

Setelah merasa tiga serigala itu pergi, ia melompat turun dan akhirnya baru menyadari ada gerbang tori merah yang dililit tanaman rambat. Ada kuil tua dengan pohon persik di belakangnya yang berbunga lebat. Pemuda itu merasa tertarik dan segera mendekatinya.

Ketika ia melewati tori itu, ada embusan angin, dan udaranya jauh lebih dingin. Ia juga melihat cahaya putih dan beberapa kelopak bunga yang beterbangan. Sosok wanita bergaun merah berdiri membelakanginya. Ia terlihat sangat cantik, langsing, dan memesona. Ketika wanita itu perlahan-lahan berbalik, Xuan Han merasa kepalanya sakit dan tanpa sadar berteriak kesakitan. Ia merasa sedikit pusing, lalu akhirnya hampir terjatuh. Beruntung ia dapat menjaga keseimbangannya.

Xuan Han segera berjalan ke arah kuil yang gelap itu. Perlahan-lahan ia membuka pintu tuanya yang berderit. Ketika itu aroma usang tercium dan beberapa serangga segera berlarian bersembunyi. Namun tidak lama, pemandangan di depannya segera berubah. Seperti ada sebuah planet hitam pekat dan seorang wanita bergaun merah yang memiliki rambut panjang melayang-layang.

Itu hanya sekilas, kemudian digantikan oleh cahaya merah yang melayang-layang.

Cahaya itu sedikit bergetar, lalu akhirnya melesat ke arahnya, menghantam dahinya hingga ia terpental keluar.

Di udara, tubuhnya diselimuti cahaya merah. Ia juga merasa suhu tubuhnya memanas, pembuluh darahnya dialiri sesuatu yang aneh, dan kepalanya juga terasa sakit. Tanpa sadar ia berteriak kesakitan, sebelum akhirnya cahaya itu menghilang dan perlahan-lahan Xuan Han jatuh pingsan.

Secara bersamaan, pintu kuil dibuka dari dalam.

Seorang wanita menatap Xuan Han beberapa saat. Ekspresinya terlihat sangat dingin. Ia kemudian mendengus lalu kembali masuk dan pintu dibanting.

Semuanya kembali sunyi. Namun, perlahan-lahan akar-akar pohon mulai memanjang mendekati Xuan Han.

...----------------...

Keesokan harinya ketika sinar matahari menyentuh pipinya, wajah Xuan Han sedikit mengernyit, bergerak-gerak, sebelum akhirnya ia membuka mata.

Ada rasa pusing di kepalanya. Lalu saat melihat hamparan hutan dan tubuhnya terlilit di batang pohon, ia terkejut.

“Apa yang terjadi?”

Ia berusaha menggerakkan tubuhnya, tapi akar-akar pohon melilitnya kuat hingga ia tidak bisa bergerak.

Dengan cepat ia menggigit akar-akar itu, meronta-ronta. Akar-akar itu jelas kuat dan ia tidak peduli dengannya.

Xuan Han tidak bisa mengambil pedangnya. Ia menggigit dan terus menggigit. Tidak lama giginya terasa sakit, gusinya mulai berdarah, namun cengkeraman akar-akar ini semakin kuat. Ia terus melakukannya.

Namun, pada akhirnya ia kelelahan dan menghela napas.

“Akar-akar ini terlalu kuat. Pohon sialan ini ingin memakanku!”

Setelah mengambil jeda sebentar, ia lagi-lagi menggigitnya dan terus melakukannya. kemudian, ia menjadi kelelahan dan keringat membasahi tubuhnya. Menatap ke sekeliling, hanya ada beberapa kicauan burung dan tupai yang melompat-lompat. Xuan Han tidak tahu harus melakukan apa. Ia berteriak meminta tolong dengan sekuat tenaga beberapa kali, tapi itu hanya membuat burung-burung ketakutan.

Akhirnya ia menjadi lemah dan hanya bisa berusaha meronta-ronta. Tidak lama, tanaman anggrek di pakaiannya terjatuh. Xuan Han melihatnya. Itu hanya anggrek yang unik dan mungkin sebagai tanaman obat yang akan coba dikonsumsinya ketika terluka. Tidak berguna baginya sekarang. Ia jadi terus meronta-ronta sembari berteriak. Tidak ada orang yang datang, dan ketika ia berteriak lagi, terdengar raungan dari kejauhan. Xuan Han terkejut dan ekspresinya jadi masam.

Ia menghela napas dan bergumam, “Kenapa aku harus berada di hutan seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi?” Ia mengembuskan napas kesal dan tidak lama perutnya berbunyi lagi. Entah mengapa perutnya selalu berbunyi seperti ini. Rasanya aneh sekali jika perutnya memiliki rasa lapar yang tinggi seperti ini.

“Tidak ada makanan,” katanya lalu menatap anggrek yang ada di depannya. “Hanya bunga itu yang ada.”

Xuan Han diam sebentar dan mulai mencoba meronta-ronta tapi cengkeraman akar ini jauh lebih kuat, sementara perutnya semakin lapar.

“Tidak ada pilihan,” gumamnya.

Ia menatap anggrek di depannya, lalu mencondongkan mulutnya untuk memakan satu kelopak bunganya. Awalnya ia mengunyah pelan, tapi segera berhenti, sedikit terkejut lalu berseru, “Manis! Bunga ini manis!”

Ia tidak peduli lagi, entah karena rasa laparnya terlalu tinggi atau tidak, setidaknya perutnya mampu menerima bunga ini.

Ketika mulai memakan batang dan daunnya, ada sedikit rasa asam. Kemudian saat memakan bagian akarnya, terasa sedikit pahit. Xuan Han tidak peduli; ia menghabiskan semuanya tanpa sisa. Tidak lama kemudian, ia bersendawa. Ingin menghela napas, tapi tiba-tiba perutnya terasa sakit dan panas, membuatnya berteriak kesakitan.

Tidak lama, api merah menyelimuti tubuhnya, jantungnya berdegup kencang dan panas tubuhnya terasa menyengat, seperti terbakar. Xuan Han meronta-ronta. Lalu akhirnya berteriak nyaring.

Tiba-tiba, angin kencang berembus dari tubuhnya, bersamaan dengan itu juga menghancurkan akar-akar pohon yang menyelimutinya.

Xuan Han segera melompat. Ia hanya sekilas melihat pohon yang melilitnya, sebelum akhirnya tubuhnya melayang-layang. Energi merah mengalir ke jantungnya, seperti lubang pembuangan air.

Jantungnya berdegup kencang lagi. Ia berteriak nyaring, bersamaan dengan angin yang bertambah kencang, menghempaskan tas daun dan pedang berkaratnya.

...----------------...

Para rusa yang sibuk makan tiba-tiba mengangkat wajah mereka, lalu buru-buru berbalik pergi. Para tupai segera melompat-lompat kembali. Burung-burung terbang sembari berteriak panik.

Suara Xuan Han bergema ke seluruh hutan, membawa ketakutan bagi para hewan. Bahkan, suaranya masuk ke telinga indah yang putih, sehingga membuat seorang gadis menoleh menatap ke dalam hutan. Ia diam sebentar untuk menyimak.

Tidak lama, seorang gadis yang lebih tua memanggilnya. Ia menoleh, menyebabkan rambut pendeknya berayun.

“Xiao Meimei, ayo. Sepertinya kita bisa berburu hewan buas di sana.”

Tidak jauh darinya ada seorang wanita memakai gaun kuning keemasan. Di punggungnya membawa sebuah pedang dan di lehernya ada gantungan botol air minum.

Barangkali kakak seniornya tidak mendengar suara teriakan itu, sehingga tidak memperhatikannya. Gadis itu mengangguk, sementara kakak seniornya sudah berjalan ke sana. Segera ia menyusulnya tanpa mencari tahu apakah teriakan itu benar-benar manusia atau bukan.

Sepanjang perjalanan mereka di pulau ini, belum ada jejak peradaban manusia atau sisa-sisanya yang ditemukan. Selain hewan buas, tidak ada yang mereka temukan sepanjang jalan. Jadi, barangkali itu juga suara hewan buas yang menyeramkan.

1
Pena Quality
saling support
Budiarsa: Terima kasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!