"Kalau umur 30 gue belum nikah, lo wajib nikahin gue, Ka!"
Janji konyol lima tahun lalu kini jadi bumerang untuk Nadira. Sisa waktunya tinggal menghitung hari, tapi semua perburuannya mencari pacar selalu berujung tragis—ditipu hingga nyaris jadi selingkuhan!
Di sisi lain, ada Askara. Sahabat sejak kecil yang tampan dan mapan. Askara sengaja menolak ratusan wanita demi menanti hari ini tiba. Bagi Askara, janji umur 30 bukanlah lelucon, tapi strategi untuk memiliki Nadira seutuhnya.
Waktu habis, Askara pun menagih janji! Nadira yang gengsi setengah mati terpaksa menikah dengan sahabat yang tahu semua kebiasaan buruknya.
Mampukah Nadira bertahan saat Askara mulai membongkar batas friendzone dan menagih haknya sebagai suami?
Gengsi tingkat tinggi VS Cinta tulus sahabat sendiri. Siapa yang bakal menyerah duluan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Pelarian ke Bandung dan Proteksi Tanpa Batas
Pukul lima sore lewat sedikit. Jam kerja di kantor Ruella Creative resmi berakhir. Nadira merapikan draf di atas mejanya, memasukkan ponsel dan dompet ke dalam tas sandang.
Begitu keluar dari ruang kerja, Sagara sudah berdiri di dekat meja Odelia sambil tersenyum manis. Pemuda itu melangkah mendekati Nadira dengan percaya diri. Sikap ramah dan humorisnya selama beberapa hari terakhir membuatnya yakin bahwa Nadira sudah cukup nyaman di dekatnya.
"Mbak Nadira!" sapa Gara ceria. "Hari ini kan Friday night, besok weekend. Jalan bareng yuk? Saya tahu tempat coffee shop baru yang seru di daerah Selatan. Nanti saya yang antar pulang sampai depan rumah."
Nadira tertegun sejenak. "Eh? Hari ini?"
"Iya, Mbak. Mumpung besok libur, kita santai-santai dulu," bujuk Gara dengan kedipan mata jenaka.
Belum sempat Nadira menjawab, pandangannya menerobos kaca depan lobi utama. Di luar sana, berdiri sosok Askara yang bersandar di pintu SUV hitamnya. Pria itu mengenakan kemeja hitam dengan lengan digulung hingga sikut, matanya menatap lurus ke arah Gara dan Nadira dengan raut wajah super protektif dan dingin yang tidak bersahabat.
Nadira menelan ludahnya, menyadari ancaman bahaya jika ia menerima ajakan Gara.
"Sori banget ya, Gara," tolak Nadira dengan nada suara yang sangat lembut dan sopan. "Saya gak bisa. Hari ini saya udah ada janji sama Askara."
Senyum di wajah Gara mendadak luntur. "Tapi kan cuma ngopi sebentar, Mbak..."
"Gak bisa, Gara. Lain kali aja ya," potong Nadira halus, lalu melangkah melewati Gara menuju pintu lobi.
Gara berdiri mematung di koridor. Kedua tangannya mengepal erat di dalam saku celana, rahangnya mengeras menatap punggung Nadira yang berjalan menghampiri Askara. Penolakan itu benar-benar menghantam harga dirinya.
...****************...
Di depan mobil, Askara langsung menyambar tas laptop Nadira tanpa bersuara, membukakan pintu penumpang, lalu memutar ke kursi pengemudi.
Begitu mobil melaju membelah jalanan, bukannya mengambil rute menuju kompleks perumahan mereka, Askara justru mengarahkan mobil masuk ke jalur tol arah Purbaleunyi.
Nadira mengerutkan dahi, memperhatikan papan petunjuk jalan. "Loh, Ka? Ini kan jalan tol ke arah Bandung? Mau ke mana sih? Rumah kita kan muter di depan!"
Askara tidak menjawab. Ia meraih ponselnya yang terhubung ke speaker mobil, lalu menekan tombol panggilan cepat.
"Halo, Ka?" suara Dinan terdengar nyaring di kabin mobil.
"Siang, Tante," sapa Askara tenang. "Askara mau izin bawa Nadira jalan-jalan ke Bandung akhir pekan ini. Kita mau nginep di vila Askara di Lembang."
Nadira membelalakkan mata. "ASKARA! LO GILA YA?!" bisiknya panik, mencoba merebut ponsel Askara, namun ditahan oleh sebelah tangan kekar pria itu.
Di seberang telepon, Dinan justru tertawa lega. "Oh, mau ke Lembang? Boleh banget, Ka! Bawa aja anak itu, biar gak kelayapan carinya cowok aneh-aneh di Jakarta. Tapi ingetin ya, waktu kalian bersenang-senang tinggal tiga minggu lagi. Habis itu wajib beneran nikah!"
"Siap, Tante. Askara jaga Nadira baik-baik," jawab Askara mantap.
"Oke, hati-hati di jalan ya, Anak-anak!"
Teeet.
Sambungan terputus. Nadira meledak seketika. "ASKARA PRADIPTA! LO APA-APAAN SIH MAIN AMBIL KEPUTUSAN SENDIRI?! GUE GAK BAWA BAJU GANTI, GAK BAWA SKINCARE, GAK BAWA APA-APA!"
Askara tetap tenang, tidak menggubris omelan histeris wanita di sampingnya. Sudut bibirnya justru terangkat tipis. Ia sudah hafal luar kepala perangai Nadira. Wanita ini selalu sok menolak di awal, namun begitu sampai di lokasi, dia yang paling heboh minta dibelikan ini-itu dan melupakan omelannya sendiri.
"Urusan baju sama perlengkapan gampang, Nad," sahut Askara santai. "Nanti sampai pusat kota Bandung kita tinggal belanja sepuas lo. Gue yang bayar semuanya."
"Gue gak bisa dibeli pake uang ya!" bentak Nadira bersungut-sungut, menyilangkan tangan di dada dan memalingkan wajah ke kaca jendela.
"Ya udah, kalau gak mau belanja, nanti di vila pakai kemeja gue aja. Gak usah pakai baju," goda Askara dengan nada suara rendah.
TAK!
"MESUM!" jerit Nadira sambil menepuk lengan Askara galak, walau pipinya merona parah.
Pukul delapan malam, SUV hitam itu memasuki kawasan pusat kota Bandung yang sejuk dan riuh oleh lampu-lampu kota.
Sesuai tebakan Askara, begitu mereka berhenti di salah satu pusat perbelanjaan dan butik ternama di Jalan Riau, raut muka bersungut-sungut Nadira luntur seketika.
"Ka! Gaun tidur yang ini lucu banget! Sepatu boot yang ini juga cocok kan buat dinginnya Lembang?" seru Nadira dengan mata berbinar-binar, menunjuk berbagai pakaian.
"Ambil aja semuanya, Nad," kata Askara tenang di belakangnya, menyodorkan kartu kredit ke kasir tanpa mengedipkan mata.
Setelah selesai berbelanja baju, perlengkapan mandi, hingga skincare darurat, mereka melangkah menyusuri trotoar kota Bandung yang ramai di malam Sabtu. Suasananya persis seperti masa-masa kuliah mereka dulu saat masih sering jalan-jalan bersama.
Askara memindahkan posisinya ke arah luar trotoar, melindungi Nadira dari lalu lalang kendaraan. Tangannya terulur, menggenggam erat jemari Nadira dan memasukkannya ke dalam saku jas hangat yang dikenakannya.
"Dingin kan? Jangan lepas tangan gue," bisik Askara protektif.
Nadira tidak memprotes. Kehangatan tangan Askara menjalar manis ke dadanya. Merasakan kepedulian yang begitu besar dari pria ini membuat perasaannya menghangat.
Mereka berhenti di beberapa penjual jajanan pinggir jalan. Nadira sibuk memilih ronde hangat, kue cubit, dan jagung bakar, sementara Askara dengan sabar berdiri di sampingnya, memegangi kantong belanjaan dan memperhatikan setiap tingkah konyol calon istrinya.
Malam itu ditutup dengan makan malam di sebuah restoran bernuansa vintage langganan mereka sejak dulu. Di meja kayu yang hangat, dua porsi steak sapi panggang favorit mereka disajikan.
"Enak banget..." gumam Nadira sambil mengunyah potongan daging dengan wajah berbinar bahagia.
Askara tersenyum manis dari seberang meja, meraih tisu dan mengusap saus yang menempel di sudut bibir Nadira dengan lembut.
"Makan yang banyak, Nad," ujar Askara tulus, matanya menatap iris mata Nadira dengan kasih sayang mendalam. "Tiga minggu lagi, lo udah gak bisa lari ke mana-mana lagi dari gue."
Nadira menatap mata cokelat gelap itu. Kali ini, tidak ada bantahan, tidak ada jeritan gengsi. Nadira hanya tersenyum tipis, menunduk malu, dan melanjutkan makan malamnya dalam kehangatan malam kota Bandung.
semangat terus thor...
/Heart/