Aisyah pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Raka akan bertahan selamanya. Selama lima belas tahun, mereka membangun keluarga sederhana dari nol, melewati susah dan senang hingga dikaruniai dua anak yang menjadi sumber kebahagiaan mereka.
Sampai suatu hari, suaminya mengaku telah jatuh cinta pada Nabila, sahabat Aisyah sendiri, dan meminta izin untuk menikahinya. Dengan hati yang hancur, pada akhirnya Aisyah mengizinkannya.
Namun, Aisyah tidak ingin menjadi.lemah. Demi anak-anaknya, dia mulai menyusun strategi. Hasil keringatnya bertahun-tahun, ia tak rela dinikmati oleh wanita lain yang sama sekali tak ikut berjuang.
Setelah Aisyah pergi, barulah Raka menyadari tak ada yang lebih baik dari Aisyah. Raka menyesal dan ingin kembali.
Namun, mampukan Aisyah melupakan luka ketika lelaki yang paling ia cintai pernah memilih wanita lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
09
.
Tiga hari pertama setelah pernikahan, Raka tinggal di rumah baru yang dibelinya untuk Nabila.
Rumah itu jauh lebih besar daripada rumah sederhana yang selama ini ia tempati bersama Aisyah. Halamannya luas, ruang tamunya mewah, perabotannya baru, bahkan kamar tidur yang disiapkan Nabila dihiasi dengan bunga-bunga segar dan aroma parfum yang lembut.
Nabila tersenyum lebar karena akhirnya berhasil menjadi istri Raka. wanita itu menikmati setiap detiknya dan selalu memberikan pelayanan terbaik pada Raka. Dan itu benar-benar membuat Raka bagai berada dalam surga dunia.
Hingga kemudian di hari keempat Raka pulang kerumah yang selama ini ia tempati bersama Aisyah.
Pria itu turun dari mobil sambil membawa beberapa barang. Berlari kecil masuk ke dalam rumah dengan langkah ringan. Bahkan ada senyum lebar di bibirnya membayangkan sebentar lagi akan melepas rindu dengan istri pertama.
Dalam hatinya sudah membayangkan Aisyah sedang menunggu dengan duduk di sofa ruang tengah seperti biasanya saat ia pulang. Lalu wanita itu akan tersenyum saat melihatnya datang. Berdiri menyambut dan bertanya bagaimana keadaan rumah barunya. Juga bertanya apakah ia sudah makan. Bibir Raka terangkat membayangkan semua itu.
Namun begitu pintu rumah terbuka, pria itu menghentikan langkahnya dengan kening berkerut. Tidak ada siapa pun yang menyambutnya. Aisyah tidak ada di sofa, tidak ada aroma makanan hangat, tidak ada yang menyongsong kedatangannya.
“Mungkin dia ada di belakang dan tak tahu kalau aku akan pulang,” pikirnya.
Raka pun bergegas menuju halaman belakang di mana biasanya Aisyah menyiram tanaman sayur di sana. Sesampainya di sana ia sama sekali tak melihat ada Aisyah dan itu membuat keningnya kembali berkerut.
“Aisyah?” panggilnya sambil kembali melangkah masuk. Namun ia sama sekali tak mendengar sahutan.
Raka kemudian berjalan menuju kamarnya. Namun saat pintu dibuka, kosong. Aisyah juga tidak ada di sana. Hingga kemudian saat ia kembali keluar, Aisyah datang dari arah luar dengan kantong belanjaan di tangan kiri dan kanan. Lalu dua anak mereka berjalan di belakang ibunya, dan berlari mendahului saat melihat keberadaan dirinya.
“Ayah… Ayah…”
Rangga dan Fatimah berteriak bersamaan dan langsung memeluk dirinya. Rangga memeluk pinggang, sementara Fatimah yang tubuhnya lebih pendek memeluk lututnya.
Raka membungkukkan badannya memeluk kedua anaknya sebentar lalu memberikan paperbag berisi jajan dan mainan untuk mereka lalu kembali berdiri tegak setelah kedua anaknya masuk ke kamar mereka. Pria itu menatap wajah Aisyah dengan penuh harap.
Sementara Aisyah, begitu melihat Raka ada di rumah wanita itu menghentikan langkahnya sejenak. Kenapa tadi saat di luar tak menyadari jika ada mobil Raka di halaman?
Raka tertegun melihat wajah itu. Aisyah sama sekali tidak terkejut, Tidak ada senyum lebar di wajahnya. Wanita itu juga tidak melangkah tergesa-gesa menghampirinya seperti biasanya. Aisyah hanya menatapnya sebentar lalu bertanya, “Kamu sudah pulang?”
Hanya itu yang Raka dapatkan. Raka yang semula menunggu sambutan hangat kini terdiam. Sebelum kemudian menjawab singkat. “Iya.”
Aisyah mengangguk kecil. “Mandi lah dulu. Aku akan menyiapkan makan malam untukmu.”
Aisyah berjalan menuju dapur dengan kantong belanjaan di tangannya tanpa menunggu jawaban dari Raka.
Raka berdiri di tempatnya, sebelah tangannya terulur untuk mencegah kepergian istrinya, namun bibirnya tak mampu bersuara. Tiba-tiba saja ia merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri. Aisyah yang selama lima belas tahun selalu menyambut kepulangannya, kini tidak lagi melakukan itu.
Raka akhirnya masuk ke kamar untuk membersihkan diri. Bergerak cepat, supaya bisa lekas kembali ke ruang makan dan bertemu dengan Aisyah.
Sesampainya di ruang makan, di atas meja sudah tersedia makanan kesukaannya. Ayam goreng, sayur bening, sambal terasi, dan nasi hangat.
Semuanya masih seperti dulu. Namun ada sesuatu yang berbeda. Aisyah tidak duduk menunggunya. Wanita itu malah sibuk merapikan beberapa piring di dapur.
“Aisyah,” panggilnya.
“Hm?” Aisyah menoleh singkat sebelum melanjutkan pekerjaannya.
“Kamu nggak makan?” tanya Raka.
“Aku barusan makan di luar sama anak-anak tadi,” jawab Aisyah bahkan tak menoleh
Sudah makan di luar? Kata-kata itu membuat dada Raka kembali terasa sesak. Sejak kapan istrinya itu makan di luar tanpa dirinya?
Raka menarik kursi lalu duduk perlahan. Biasanya Aisyah akan duduk di hadapannya. Mereka akan berbicara sambil makan. Membicarakan anak-anak, pekerjaan, harga bahan makanan, atau hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting. Namun malam ini hal seperti itu tidak ada.
Raka beberapa kali melirik istrinya. Namun Aisyah tetap tenang. Tidak ada tanda-tanda bahwa wanita itu telah menunggunya selama tiga hari. Aisyah tidak bertanya tentang bagaimana kehidupannya bersama Nabila. Tidak bertanya bagaimana kabarnya, tidak mengadu tentang anak-anak yang terus berlari-larian. Dan ketenangan itu membuat Raka semakin tidak nyaman.
“Aisyah,” panggilnya lagi.
“Ya?” Aisyah kembali menoleh.
“Selama aku pergi... kamu baik-baik saja?”
Aisyah tersenyum tipis. “Aku baik.”
Raka tidak tahu harus bertanya apa lagi. Padahal tadi dirinya berharap Aisyah berkata bahwa tiga hari tanpa dirinya terasa sangat lama. Ia ingin mendengar bahwa wanita itu merindukannya. Namun Aisyah justru terlihat baik-baik saja. Terlalu baik-baik saja.
“Aku kira kamu akan...” Raka menghentikan ucapannya.
“Akan apa?” tanya Aisyah dengan kening berkerut.
“Tidak apa-apa.” Raka menggelengkan kepalanya.
“Oh…?” Aisyah mengangguk kemudian kembali menyusun piring.
Raka menatap wanita itu lama. Dulu, ketika ia pulang terlambat satu malam saja, Aisyah pasti akan mengomel panjang kali lebar kali tinggi. Sekarang wanita itu bahkan tidak terlihat menunggu. Seolah kepulangannya bukan lagi sesuatu yang harus dirayakan.
Raka mencoba mengusir perasaan aneh yang mulai muncul. Pria itu mengambil segelas air dan meminumnya hingga tandas.
“Aisyah.”
Aisyah yang selesai membereskan peralatan dapur, berjalan lalu menarik kursi yang berada di hadapan Raka. “Ada apa? Apa masakanku tidak enak?”
“Kamu marah sama aku?” tanya Raka sambil menatap lekat wajah wanita itu.
“Kenapa harus marah?” Aisyah mengerutkan keningnya seolah tidak mengerti arah pertanyaan Raka.
Raka kehilangan kata-kata. Ia sendiri tidak mampu menjelaskan apa yang ia rasakan. Aisyah tidak berubah menjadi kasar. Tidak berteriak, tidak membentak, tidak pula menangis. Wanita itu masih menyiapkan makanannya. Tetapi rekam rasa ada sesuatu yang hilang.
“Aku hanya merasa kamu berbeda.” Raka menundukkan wajah.
“Berbeda bagaimana?” tanya Aisyah seolah tidak mengerti.
“Biasanya kita makan bersama,” ucap Raka sambil menatap wajahnya lebih lekat. “Aku, kamu, dan anak-anak.”
Aisyah tersenyum tipis. “Tiga hari ini kami sudah belajar untuk tidak menunggu.”
Jantung Raka seperti berhenti sesaat. Aisyah mengucapkan kalimat itu dengan begitu tenang.
“Kalau kami tetap menunggu, tiga hari ini kami mungkin sudah mati kelaparan,” lanjut Aisyah.
Raka membeku mendengar itu. Tubuhnya terasa lemas, bagaikan tulang-tulangnya dicabut dari tempatnya. Ia ingin mengatakan sesuatu. Namun tidak ada satu pun kata yang keluar dari bibirnya.
Aisyah kembali berdiri lalu mengambil piring yang ada di hadapan Raka. Masih tersisa separuh makanan di piring itu, tapi ia tahu Raka tidak akan lagi memakannya.
“Istirahatlah. Kamu pasti lelah,” ucap wanita itu berjalan pergi.
Raka hanya bisa menatap punggungnya dengan tatapan sendu. Saat meminta izin untuk menikah kemarin, ia masih yakin bahwa rumah ini tidak akan pernah berubah. Namun malam ini Raka menyadari sesuatu. Rumah itu masih sama. Meja makan masih sama. Istrinya masih melakukan semua hal yang sama. Namun, rumah itu sudah tidak terasa seperti dulu.
demi kedua ank mu ,,
kalo msh ngandelin raka ,, tkut nenek kebayan d sebrang sana jd tantrum🤭🤭😒😒😒😒
Nabila belum tahu aja semua surat-surat berharga harta Raka selama perkawinan dengan Aisyah sudah di amankan Aisyah...