Malam yang mengerikan telah menimpa seorang gadis malang bernama Asri Devantara, kesuciannya di renggut oleh Angga Pratama dalam keadaan mabuk. Sejak malam itu Asri berusaha melarikan diri dari masalah sekaligus traumanya, namun takdir selalu punya cara mempertemukannya kembali dengan pria yang sudah merusak masa depannya. Ini bukan suatu kebetulan melainkan sebuah takdir kejam untuk keduanya, takdir yang ditulis semesta agar memang keduanya bersatu. Apa alasan semesta menyatukan keduanya dengan cara kejam dan waktu yang dipaksakan.
"Saya akan nikahi kamu Asri, meski saya tahu kamu masih trauma akan kejadian malam itu." Mayor Angga Pratama.
"Kasih aku waktu, Mas. Aku masih takut melayanimu." Asri Devantara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Di sebuah ruangan kedinasan yang terkesan dengan suasana formal, bersamaan dengan aroma kayu jati tua dan kopi tercium pekat.
Kini, Angga dan Bima berdiri tegak dengan lantai yang mengkilap.
Tubuh kedua perwira muda ini terbalut seragam dinas harian warna hijau dengan pangkat di kanan dan kirinya, sepatu dinas warna hitam legam terpakai di kaki mereka----seolah menegaskan status keduanya sebagai perwira TNI angkatan darat.
Di pundak dan kerah seragam yang di kenakan mereka, nampak tersemat tanda pangkat Mayor sebagai bukti dari dedikasi dan pengabdian mereka selama lebih dari dua belas tahun.
Keduanya berdiri tegak di depan Mayor Jendral Hussen Siregar.
"Kalian berdua adalah anak buah sekaligus perwira muda terbaik yang di miliki kesatuan ini," suara sang jendral memecah kesunyian di ruangan ini.
Sang jendral berjalan mendekati meja yang di atasnya tergeletak sebuah gulungan surat tugas yang bersegel resmi dengan lambang negara, lalu meraihnya.
"Kalian akan di tugaskan di desa pedalaman Tasikmalaya untuk kepemimpinan, kalian saya tugaskan untuk ketahanan pangan di desa Sodong Hilir. Saya menunjuk kalian karena integritas dan dedikasi kalian yang sudah teruji di medan penugasan sebelumnya," tuturnya dengan nada tegas.
"Siap laksanakan Jendral," ucap keduanya dengan nada tegas penuh wibawa sembari memberikan gerakan hormat yang presisi.
Angga maju mewakili Bima dengan gerakan hormat, tangannya tegap sedikit bergetar saat meraih surat tugas dari tangan sang Jendral.
"Ambil Ini! Ini surat tugas untuk kalian," ujar Jendral Siregar sekali lagi.
Angga dan Bima sekali lagi memberikan hormat, dengan tatapan mereka yang lurus, fokus dan siap.
"Siap, Jenderal! Kami akan melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab dan menjaga kehormatan satuan," jawab Angga tegas.
Jendral Hussen Siregar, maju lalu memberikan arahan sekali lagi kepada dua anak buahnya yang akan bertugas di koramil Sodong Hilir.
"Ingat!" tambah sang Jendral.
"Kalian berdua saya tugasnya disana bukan hanya memimpin wilayah itu, kalian pelindung dan pengayom sekaligus membantu warga dalam misi ketahanan pangan, laksanakan dengan hormat titah saya," tambah Hussen kepada anak buahnya.
"Siap laksanakan Jendral, titah jendral akan kami laksanakan," ucap keduanya sembari memberi hormat secara presisi.
Lalu keduanya balik badan dengan postur tubuh tegap, untuk keluar dari ruangan Jendral Hussen Siregar.
Setelah keduanya keluar dari ruangan itu, Bima dan Angga berjalan berdampingan di lorong dengan banyak TNI yang lalu-lalang sembari berjaga atau sekedar lewat saja---Bima menepuk bahu Angga mencoba mencairkan ketegangan.
"Angga, apa kau yakin akan keputusan ini...kita akan mimpin koramil di sodong hilir. Ini misi ketahanan pangan dan pemberdayaan masyarakat," ucap Bima berusaha meyakinkan sahabatnya.
Angga berjalan berdampingan dengan sahabatnya ini, lalu menganggukkan kepalanya dengan yakin---namun tatapan matanya tertuju pada lorong markas.
"Iya Bim, mungkin ini jalan untuk aku...biar ngelupain masalah aku disini. Pertunangan aku sudah di batalkan...dan Asri sudah di luar negeri," sahut Angga yang wajahnya dingin tanpa ekspresi.
Hati Bima terasa di iris saat mendengar cerita hidup Angga yang memilukan, entah dari mana satu pertanyaan terlontar dari mulut Bima yang seperti mengundang kontroversi.
"Tapi misalnya, kalo Asri nggak di luar negeri apa kau mau menikahinya?" tanya Mayor Bima dengan menatap ke arah sahabatnya.
Seketika Angga menghentikan langkahnya, lalu menatap Bima.
Pria itu hanya menganggukkan kepalanya, lalu Angga mengaku jika dirinya amat kagum dengan Asri---dan sangat mengutuk cara takdir mempertemukannya dengan Asri.
"Udahlah yang di atas tahu...kalo yang terbaik buat kau, jika Asri atau Alina jodoh kau pasti akan ada jalannya. Jika bukan jodoh kita mau ngomong opo," hibur Bima dengan logat khas Jawa yang kental, tangannya menepuk bahu Angga.
Kedua perwira muda ini berjalan berdampingan di lorong markas, sembari bicara mengenai perlengkapan mereka untuk berangkat ke Koramil Sodong Hilir.
Di sisi lain, berjarak ribuan kilometer.
Sebuah mobil melaju di jalanan menuju desa Sodong Hilir di Tasikmalaya, posisi desa di tempat pelosok.
Mobil berjalan dengan kecepatan normal, sembari membawa penumpang seorang peneliti muda yang sedang terdiam kecewa.
Asri Devantara.
Asri duduk di kursi penumpang dengan tatapan mata yang kosong.
Tubuh wanita ini mengenakan kaos lengan pendek warna cokelat mahoni, di lapisi jaket baseball hitam di tengahnya dan putih di bagian tangan---tas ransel besar bertengger di sebelahnya.
Tas ransel ini buku-buku penelitian dan keperluan mengajar anak-anak di desa ini.
Asri menatap ke luar jendela, melihat sawah dan pemandangan desa yang indah---rambutnya yang tergerai tertiup angin dengan sepasang headset bluetooth di telinganya.
Pandangannya menatap luar jendela dengan kosong, pikirannya masih memikirkan soal Angga---soal mimpi yang di pagi hari, mimpi dirinya melakukan zina bersama Angga.
Asri kini memikirkan Angga, hatinya tak berdoa yang buruk untuk pria itu---dirinya hanya berdoa agar Angga di tempatkan di tempat yang jauh darinya.
"Mas Angga...kenapa...kenapa sih Mas, kamu selalu di pikiran aku. Aku cuman berharap kita tak bertemu lagi Mas...anggap kita nggak saling kenal," ucap Asri dalam batinnya.
Hati Asri terasa berat, seolah sulit meyakinkan dirinya.
"Semoga dengan kepergianku ke desa ini, aku bisa melupakan masa-masa kelam bersama Angga, dan benar-benar menghapus namanya dari hidupku."
Asri merasa jika pelariannya ke desa ini bisa membantu sembuh atas luka traumanya yang di toreh oleh Angga, entah mengapa Asri merasa jika dirinya sedang berbohong----berbohong akan hatinya.
Keputusannya untuk melarikan diri di pedalaman Tasikmalaya ini, akan menjadi takdirnya.
Mobil yang di tumpangi Asri terus melaju, membawa harapan agar bisa melupakan traumanya---trauma saat dirinya di nodai.
Sementara, Angga dan Bima memulai persiapan untuk perjalanan menuju tanah yang sama dimana Asri juga sedang di Desa Sodong Hilir.
Baik Angga ataupun Asri, tak akan menduga jika takdir akan mempertemukan mereka kembali.
Dua garis takdir yang seharusnya berjalan sejajar, kini dipaksa bersinggungan oleh titah semesta yang tak terduga.
Di dua titik berbeda, di bawah langit Indonesia yang sama, Angga dan Asri sedang melangkah menuju arah yang akan mengubah segalanya.
*