Indonesia
NovelToon NovelToon
Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Pernikahan ini bukan tentang cinta, melainkan sebuah hukuman.

Bagi Alvan, Andira adalah wanita berdarah dingin yang harus membayar kematian adiknya. Demi membalas dendam, ia mengikat Andira dalam pernikahan sedingin es yang penuh aturan ketat dan kebencian.

Bagi Andira, pernikahan ini adalah satu-satunya cara membuktikan bahwa ia tidak bersalah dan mengungkap kebenaran di balik jebakan kelam keluarga sendiri.

Namun, saat rahasia mulai terkuak dan dalang sebenarnya bersembunyi di balik senyuman terdekat, akankah benih cinta sanggup tumbuh di atas tanah dendam?

"Aku menikahimu bukan untuk membahagiakanmu, Andira, tapi untuk memastikan kamu membayar setiap tetes air mata keluargaku."

Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Antara Benci Dan Cinta.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Suasana di mansion utama Samudra Group pagi itu harusnya dipenuhi sukacita. Berita kemenangan mutlak Andira di pengadilan mendominasi seluruh surat kabar nasional dan portal berita digital.

Kepala berita utama dengan cetak tebal memajang foto Andira dalam balutan gaun putihnya di samping Alvan, memulihkan kehormatan wanita itu sepenuhnya di mata publik.

Namun, di dalam ruang kerja Alvan, udara terasa begitu pekat dan sesak.

Sinar matahari pagi yang menembus celah jendela kaca besar tidak mampu menghangatkan wajah Alvan yang mengeras bagaikan batu karang. Ponselnya tergeletak di atas meja, masih menampilkan pesan terenkripsi dari sosok berinisial 'S' yang diterimanya di pemakaman Roy kemarin sore.

“Elena hanyalah pion yang kubuang... permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai dari aku... 'S'.”

Suara ketukan pintu memecah keheningan yang mencekam itu. Bima melangkah masuk dengan raut wajah yang amat tegas, membawa sebuah nampan perak berisi cangkir kopi dan sebuah amplop tebal berwarna biru tua tanpa label pengirim.

"Tuan Alvan," panggil Bima dengan suara pelan. "Kurir pribadi baru saja mengantarkan ini ke gerbang depan. Tidak ada nama pengirim, namun ditujukan langsung atas nama Anda pribadi dengan cap segel lilin berwarna hitam."

Alvan menyipitkan matanya. Hatinya membisikkan firasat buruk. Pria itu menyuruh Bima meletakkan amplop tersebut di atas meja.

Dengan gerakan perlahan, Alvan memotong segel lilin hitam itu menggunakan pisau pembuka surat.

Dari dalam amplop biru tua tersebut, Alvan mengeluarkan berkas tebal bersampul transparan yang berisi lembar analisis forensik grafologi, pemeriksaan keaslian tanda tangan dan tulisan tangan, berstempel lembaga independen internasional.

Jemari Alvan bergetar halus saat matanya menelusuri baris demi baris laporan teknis itu.

Di lembar utama, terlampir salinan dokumen persetujuan pengalihan dana rahasia sebesar seratus miliar rupiah dari rekening pribadi almarhum Roy ke sebuah bank cangkang di Kepulauan Cayman. Dan tepat di bawah kolom persetujuan penerima kuasa, tertera tanda tangan yang sangat khas.

Tanda tangan Andira.

Lampiran hasil analisis grafologi menyimpulkan dengan kepastian sembilan puluh sembilan persen. Keidentikan goresan, tekanan pena, dan lekukan sudut tanda tangan tersebut sepenuhnya identik dengan sampel tanda tangan asli milik Andira Samudra.

"Tidak mungkin..." desis Alvan dengan suara parau.

Tekanan emosional yang melanda pikiran Alvan selama bertahun-tahun, trauma kematian Roy, pengkhianatan Elena, dan ancaman konstan dari sosok 'S', seketika bergolak menjadi badai paranoid di dalam kepalanya.

Logikanya yang biasanya sekeras baja mulai terkikis oleh racun kecurigaan yang disuntikkan secara sangat halus oleh musuhnya.

Mengapa nama Andira selalu muncul di setiap alur dana rahasia Roy? Apakah Andira benar-benar tidak tahu apa-apa, ataukah Roy memang menyembunyikan sesuatu darinya sebelum pria itu tewas?

Di sayap barat mansion, suasana hangat menyelimuti area rumah kaca tempat Andira sedang menyiram tanaman bunga anggrek bersama Ibu Rosa. Senyuman manis terukir di bibir Andira. Untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan terakhir, dadanya terasa lapang tanpa beban tuduhan sebagai pembunuh atau penjahat.

Namun, kedamaian itu mendadak koyak saat empat orang pengawal pribadi berjas hitam tegap melangkah masuk ke dalam rumah kaca dengan wajah tanpa ekspresi.

"Nona Andira, mohon maaf atas ketidaknyamanannya," ucap kepala pengawal dengan nada kaku. "Mulai detik ini, atas instruksi langsung dari Tuan Alvan, Anda tidak diperkenankan meninggalkan area mansion tanpa pengawalan melekat dari kami. Ponsel pribadi Anda juga harus diserahkan untuk menjalani pemindaian keamanan berkala."

Andira menghentikan kuncuran air di tangannya. Dahinya berkerut bingung. "Pengawalan melekat? Pemindaian ponsel? Atas perintah Alvan?"

Ibu Rosa yang berada di atas kursi roda ikut tersentak kaget. "Apa-apaan ini?! Siapa yang memberi kalian izin bersikap tidak sopan pada menantuku?!"

"Ini instruksi langsung dari Tuan Alvan, Nyonya Besar," jawab kepala pengawal tegas. "Seluruh pintu keluar mansion telah dikunci aksesnya menggunakan kode enkripsi baru. Nona Andira hanya diperbolehkan berada di area kamar utama dan taman dalam."

Darah Andira terasa menyirap dingin. Sensasi terikat, dikurung, dan dicurigai yang pernah menghancurkan jiwanya sembilan bulan lalu mendadak bangkit kembali bagaikan gelombang pasang yang mencekik lehernya.

"Di mana Alvan sekarang?!" tanyanya dengan suara bergetar menahan amarah.

"Tuan Alvan berada di ruang kerja utama," jawab pengawal.

Tanpa memedulikan larangan para pengawal, Andira melangkah cepat meninggalkan rumah kaca, melintasi koridor megah mansion dengan langkah kaki yang tergesa-gesa. Ibu Rosa menyuruh Bima yang baru lewat untuk mendorong kursi rodanya mengikuti Andira.

Andira mendorong pintu ganda ruang kerja Alvan tanpa mengetuk, membantingnya terbuka hingga membentur dinding kayu mahoni.

BRAK!

Alvan yang sedang duduk terpaku menatap lembar-lembar berkas di amplop biru itu mendongak. Wajah pria itu tampak sangat lelah, namun matanya yang memerah memancarkan tatapan dingin yang dipenuhi keraguan dan kepanikan tersembunyi.

"Alvan! Apa maksud dari semua pengawal di luar itu?!" tuntut Andira dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Mengapa ponsel saya disita?! Mengapa saya dikurung di dalam rumah ini seperti seorang tahanan?!"

Alvan berdiri perlahan dari kursinya. Pria itu menyapu berkas dari amplop biru tua di atas mejanya, lalu memajukan tubuhnya.

"Ini demi keamananmu, Andira," jawab Alvan dengan suara rendah yang terdengar tertekan. "Ancaman dari dalang berinisial 'S' itu makin nyata. Aku harus memastikan seluruh akses komunikasi dan pergerakan di dalam mansion ini sepenuhnya terkendali."

"Demi keamanan saya... atau karena kamu kembali mencurigai saya?!" potong Andira tajam, melangkah mendekati meja kerja Alvan.

Kata-kata Andira menghantam tepat di titik syaraf Alvan yang sedang tegang. Alvan meremas tepi meja mahoninya. "Aku tidak mencurigaimu, Andira! Tapi dokumen-dokumen ini terus bermunculan! Bukti-bukti baru terus mengarah padamu!"

"Dokumen apa lagi, Alvan?!" jerit Andira dengan air mata yang menetes membasahi pipinya. "Bukankah kemarin di depan hukum, di depan media, dan di depan makam Mas Roy kamu sudah berjanji untuk memercayai saya?! Bukankah nama baik saya baru saja dipulihkan secara mutlak?!"

Alvan mengangkat lembar analisis grafologi dari amplop biru tua itu, lalu melayangkannya ke udara hingga lembaran-lembaran kertas tersebut berhamburan jatuh di atas tanah di hadapan kaki Andira.

"Lalu bagaimana kamu menjelaskan ini?!" bentak Alvan, suaranya menggelegar memenuhi ruangan hingga membuat Bima dan para pengawal di luar terpaku. "Ini adalah analisis forensik grafologi atas tanda tanganmu! Dokumen persetujuan pengalihan dana seratus miliar milik Roy ke rekening Cayman! Tanda tangan itu seratus persen identik dengan tulisan tanganmu!"

Andira berlutut di lantai, memungut salah satu lembar kertas itu dengan tangan yang gemetar hebat. Matanya membaca laporan analisis tersebut dengan rasa tidak percaya yang amat mendalam.

"Saya tidak pernah menandatangani dokumen ini..." bisik Andira, suaranya parau tercekik tangis. "Saya bahkan tidak tahu apa itu bank cangkang di Kepulauan Cayman, Alvan..."

"Tapi analisis ini menyatakan tanda tangan itu asli, Andira!" Alvan memegang pelipisnya yang berdenyut kencang, suaranya sarat akan rasa putus asa dan tekanan berat. "Aku mencoba melindungimu dari 'S', tapi bagaimana aku bisa bertindak jika setiap kali aku melangkah, namamu selalu tertanam di dalam lingkaran kejahatan ini?!"

Ibu Rosa masuk ke dalam ruangan dengan kursi rodanya, wajahnya memerah penuh amarah menatap anak kandungnya.

"Alvan! Cukup!" bentak Ibu Rosa dengan suara tegas. "Kamu sudah gila! Kamu membiarkan gertakan musuh merusak otakmu lagi! Bagaimana mungkin kamu lebih memercayai selembar kertas yang dikirimkan oleh musuh daripada menantu yang sudah berjuang mempertaruhkan nyawanya di sampingmu?!"

Alvan terpaku. Kata-kata ibunya menghantam dadanya bagaikan pukulan godam. Pria itu menatap Andira yang masih berlutut di lantai, memegang kertas analisis itu seraya menatapnya dengan pandangan yang hancur berkeping-keping.

Andira berdiri perlahan. Ia menyapu air mata di pipinya, menatap Alvan tidak lagi dengan rasa takut, melainkan dengan kekecewaan mendalam yang amat dingin.

"Sembilan bulan saya hidup dalam neraka tuduhan sebagai pembunuh Mas Roy..." ucap Andira dengan suara yang begitu tenang namun mengiris hati. "Saya bertahan karena saya berpikir, suatu hari nanti, jika kebenaran terungkap, laki-laki yang menjadi suami saya akan melihat saya dengan rasa percaya yang utuh."

Andira melangkah mendekati Alvan, menatap lurus ke dalam mata suaminya yang membeku.

"Tapi ternyata saya salah," bisik Andira, senyuman pahit terukir di bibirnya. "Kemenangan saya di pengadilan kemarin tidak ada artinya bagi kamu, Alvan. Hanya butuh satu amplop berwarna biru dari musuhmu untuk membuat seluruh janji manismu di makam Mas Roy hancur menjadi debu."

"Andira..." panggil Alvan dengan suara yang mendadak bergetar, menyadari betapa dalamnya luka yang baru saja ia goreskan di hati istrinya. Alvan mengulurkan tangannya hendak menyentuh bahu Andira.

Namun Andira melangkah mundur, menepis jemari Alvan secara halus.

"Jangan sentuh saya," kata Andira dingin. "Kamu tidak sedang melindungi saya, Alvan. Kamu sedang mengurung saya karena rasa curigamu sendiri."

Andira membalikkan badannya, melangkah keluar dari ruang kerja itu dengan tegak, meninggalkan Alvan yang berdiri mematung di antara berhamburannya kertas-kertas analisis palsu di lantai.

Di dalam kamar utama, Andira berjalan menuju meja riasnya. Jemarinya yang gemetar melepas cincin pernikahan berhiaskan berlian murni yang baru beberapa hari lalu dilingkarkan Alvan di jarinya.

Andira meletakkan cincin itu di atas permukaan meja kaca, menatap pantulan dirinya di cermin dengan tekad yang bulat.

Racun dalam amplop biru itu telah berhasil merusak dinding kepercayaan Alvan, dan Andira tidak akan pernah membiarkan harga dirinya dihancurkan untuk kedua kalinya di dalam mansion ini.

...----------------...

To Be Continue ....

1
mama
mencari 1 musuh smpe beberapa bab gk ketemu2🤣,ini emang km ceo terbodoh atau musuh mu yg kebangetan pinter ny🤣.. aneh2 dri kmrin cm perkara si misterius s yg gk ktmu2
Ibuk Oppo
dobel up kakak
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Andira kamu wanita kuat tetap semangat ya Allah bersamamu 🥺...elena kamu boleh tertawa sepuasnya sebelum semua kebusukan mu terbongkar 😏
Reniochim
seru nih kayaknya..sekelebat ceritanya kayak sinetron ikatan cinta.
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Rina Kurnia
waduuhh....miss ra...tragis kali ya....🥺🥺
Miss Ra: 🤗/Chuckle/
total 1 replies
Eva Karmita
mampir otor 🙏
Eva Karmita: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 2 replies
Ma Em
Miss jgn terlalu kejam nanti Alvan pada Andira kasihan karena Andira mungkin dijebak oleh adik tirinya si Alena .
Miss Ra: 🤗/Chuckle/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!