Dalam hidup Kyra, ia hanya ingin merasakan arti sebuah keluarga. Namun, keinginan sederhananya itu harus ia pendam, karena kedua orang tuanya tidak menginginkan kehadirannya yang dianggap sebagai pembawa sial.
Setelah banyaknya penderitaan, Kyra akhirnya melangkah keluar dari bayang-bayang trauma untuk menuntut balas pada orang tuanya yang telah membuangnya.
Namun, saat Kyra berhasil bertemu dan tinggal dengan kedua orang tuanya, ia justru dijadikan kambing hitam untuk menggantikan posisi sepupunya dalam sebuah pernikahan bisnis. Jebakan takdir ini justru dimanfaatkan Kyra sebagai senjata untuk menghancurkan keluarganya sendiri.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apakah rencana balas dendam Kyra berhasil? Siapa pria yang harus Kyra nikahi? Mengapa kedua orang tua Kyra menganggap jika Kyra adalah pembawa sial?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Sebuah senyuman kecil terukir di bibirnya. Tiba-tiba saja, terlintas bayangan sosok suaminya di dalam benaknya. Brian selalu terlihat sibuk dengan dunia bisnisnya yang kejam dan dingin, tetapi di balik itu semua, pria itu selalu memperlakukannya dengan penuh perhatian.
Alangkah menyenangkannya jika bisa menikmati waktu senggang ini bersama suaminya, duduk berdampingan di kursi bioskop sambil memegang berondong jagung manis layaknya pasangan normal pada umumnya.
Kyra segera merogoh tas tangannya dan mengeluarkan ponsel pintar lalu mencari kontak sang suami, ia menekan tombol panggil dan mendekatkan layar ke telinganya.
Tut... tut... tut...
Nada dering pertama bergeming, Kyra menunggu dengan sabar sambil tersenyum kecil membayangkan reaksi Brian jika ia tiba-tiba mengajak pria kaku itu menonton film romantis.
Namun, hingga dering ketiga, panggilan itu belum juga diangkat. Kyra mengerutkan keningnya tipis, ia mencoba menelepon untuk kedua kalinya dan masih sama, hanya suara sambungan kosong yang terdengar di ujung sana.
Tidak menyerah, Kyra kembali menekan tombol panggil untuk ketiga, keempat, hingga kelima kalinya. Hasilnya tetap nihil tidak ada jawaban dan tidak ada pula pesan balasan yang masuk ke ponselnya.
Suasana bising di sekitar tiba-tiba terasa agak senyap bagi Kyra. Ada sedikit rasa kecewa yang menyelinap di dadanya, meski ia langsung memaklumi karena Brian adalah seorang pimpinan tertinggi di Raymond Group, wajar jika pria itu tengah terjebak dalam rapat penting atau urusan mendesak yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja.
Kyra menghela napas pelan dan menatap layar ponselnya yang kini padam, "Lagi sibuk banget, ya..., yaudah deh gapapa," gumamnya pelan pada diri sendiri.
Kyra sempat bimbang, apakah sebaiknya langsung pulang ke mansion atau tetap melanjutkan niatnya. Namun, ego kecil dan rasa penasaran yang teramat besar terhadap film tersebut mendadak mengalahkan keraguannya.
Lagi pula, apa salahnya menikmati waktu sendiri untuk pertama kalinya? Selama ini hidupnya selalu diatur oleh orang lain atau berada di bawah bayang-bayang orang lain. Hari ini, ia ingin menikmati kebebasannya secara utuh.
Dengan mantap, Kyra melangkah mendekati konter tiket bioskop dan memesan tiket untuk menonton film yang baru saja ia lihat di lobi.
Kyra membayar dengan kartu kreditnya, lalu berjalan ke arah area concession untuk membeli seember kecil berondong jagung manis dan minuman dingin. Setelah semuanya beres, ia melangkah masuk ke dalam studio empat yang mulai meredup, mencari kursinya dan duduk bersandar dengan nyaman di kursi empuk beludru bioskop.
Suasana di dalam studio begitu temaram, hanya diterangi oleh pantulan cahaya dari layar raksasa yang sedang memutar iklan dan cuplikan film-film mendatang. Kyra menemukan nomor bangkunya di barisan tengah, posisi yang sangat pas untuk menikmati visual film secara utuh. Ia duduk, meletakkan popcorn di pangkuannya dan melepas kacamata hitamnya, membiarkan matanya terbias dengan cahaya redup ruangan.
Beberapa menit kemudian, lampu studio perlahan padam sepenuhnya, menandakan film utama segera dimulai. Alunan musik orkestra yang megah langsung mengalun dari pengeras suara surround, menghanyutkan Kyra ke dalam dunia fiksi yang romantis namun penuh liku emosional.
Di tengah-tengah alur film yang semakin menghanyutkan, di mana sang pemeran utama wanita tengah meneteskan air mata di bawah payung di tengah hujan deras, perhatian Kyra mendadak teralihkan. Kursi kosong di sebelah kanannya, yang sejak ia masuk studio tidak berpenghuni, tiba-tiba terasa berderit pelan, dimana seseorang baru saja mendudukinya.
Kyra menoleh sekilas, bermaksud memberikan senyuman sopan kepada penonton yang datang terlambat itu. Namun, napasnya langsung tertahan di tenggorokan begitu kilasan cahaya dari layar bioskop memantul di profil wajah tegas sosok di sebelah kanannya.
Aroma maskulin yang sangat ia hafal, campuran khas kayu cendana dan parfum berkelas yang selalu menguar dari tubuh suaminya itu mengisi indra penciumannya sebelum suara bariton yang rendah dan berat itu menyapa telinganya.
"Menonton film romantis tanpa mengajak suami, Nyonya Raymond? Tidakkah itu sebuah kejahatan?" bisik Brian tepat di samping telinganya.
Kyra membelalakkan matanya, menatap pria itu dengan rasa tak percaya yang teramat sangat. "B-Brian? Bagaimana... bagaimana kau bisa ada di sini?" cicit Kyra dengan suara berbisik, berusaha agar tidak mengganggu penonton lain di sekitar mereka.
Brian menoleh, menyunggingkan senyuman miring yang begitu memesona di tengah kegelapan studio. Jari-jari kokoh pria itu terulur, meraih tangan Kyra yang masih memegang ember popcorn, lalu menggenggamnya erat-erat. Telapak tangan Brian terasa hangat, memberikan kontras yang nyata dengan dinginnya AC bioskop.
"Ponselmu tidak aktif saat aku menelepon balik, terus aku cari tahu dan ternyata kau sedang menonton bioskop sendirian," bisik Brian santai, sementara matanya beralih menatap layar lebar sekilas sebelum kembali fokus sepenuhnya pada wajah istrinya.
Pipi Kyra merona merah. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa gerak-geriknya, bahkan di luar rumah, selalu berada dalam pengawasan tak kasat mata dari jaringan pria ini. "Aku... hanya ingin menikmati waktu luang sebentar," bela Kyra pelan.
Brian terkekeh pelan, sebuah suara tawa rendah yang membuat dada Kyra bergemuruh hangat. Pria itu mendekatkan wajahnya, mengecup sekilas puncak kepala Kyra dengan penuh pemujaan.
"Aku tahu, maaf karena tadi aku tidak bisa jawab atau balas pesanmu, aku tadi lupa bawa ponsel," bisik Brian protektif.
"Gapapa kok, aku paham," jawab Kyra.
Di dalam gelapnya studio bioskop, di antara sorotan cahaya layar yang terus berganti adegan, dunia seolah berhenti berputar hanya untuk mereka berdua. Kyra menyadari satu hal, di balik julukan monster dingin yang disematkan orang-orang pada Brian, pria itu justru telah menjelma menjadi rumah paling aman dan hangat yang pernah Kyra miliki di dunia ini.
Dua jam berlalu dengan cepat, lampu di dalam studio bioskop perlahan menyala terang, menandakan film telah berakhir dan kredit titel mulai bergulir di layar. Para penonton satu persatu mulai bangkit dan berjalan keluar, namun Brian dan Kyra masih duduk tenang di kursi barisan tengah mereka.
"Bagaimana filmnya?" tanya Brian sambil melirik istrinya yang tengah merapikan tasnya.
"Bagus... tapi akan jauh lebih bagus kalau tadi ditemani suami dari awal," jawab Kyra dengan nada menggoda, sebuah keberanian baru yang kini berani ia tunjukkan pada suaminya.
Brian mengangkat sebelah alisnya, seringai jahil terukir di bibirnya. "Oh? Jadi sekarang Nyonya Raymond sudah pandai merayu, ya?" bisik Brian, membuat Kyra buru-buru berdiri sambil tertawa kecil untuk menghindari godaan lanjutan dari suaminya.
Mereka berjalan berdampingan keluar dari area mal menuju mobil limosin mewah yang telah menunggu di depan lobi. Sepanjang perjalanan pulang menuju mansion Raymond, suasana terasa begitu hangat.
.
.
.
Bersambung.....
semangat balas dendam
salah sendiri ngapain doyan ngangkang sama orang yang tidak jelas 🤣🤣🤣🤭🤭🤭