Ketika cinta berubah menjadi sebuah penjara.
Menikah adalah impian setiap wanita, pernikahan yang bahagia penuh keharmonisan adalah harapan. Namun, bagaimana jika cinta hanya membawanya dalam sebuah Sangkar Pernikahan?
Seruni menikahi Tuan Muda pertama dari keluarga Danuel. Tentu pernikahan dalam sebuah keuntungan bagi orang tuanya. Namun, sial ketika Seruni jatuh cinta pada sosok ramah dan hangat itu. Yang dalam sekejap mata berubah, nyatanya Tuan Muda pertama keluarga Danuel ini adalah sosok pria arogan yang dingin.
Seruni menjalani pernikahan yang bagaikan sebuah penjara. Dia harus melepas karir sebagai model yang saat itu sedang begitu naik. Lalu, semua hal yang dia lakukan harus atas persetujuan suaminya. Hingga, Seruni mulai jengah dan memberanikan diri mengajukan Perceraian. Tapi, apakah suaminya akan menyetujui Perceraian itu?
"Ceraikan aku, Mas. Pernikahan ini tidak akan bisa di lanjutkan lagi. Wanita dari masa lalumu sudah kembali sekarang"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seandainya Tidak Kuat Bolehkah?
Raifan kembali ke tempat tidur dan memeluknya semalam. Lalu pagi ini mereka terbangun dengan masih berpelukan di tempat tidur. Seruni menyandarkan kepalanya di dada Raifan tanpa sadar, saat terbangun dia juga cukup tertegun dengan tindakannya. Tetap selalu merasa nyaman saat suaminya memeluknya.
"Tidurlah lagi, kita masih punya waktu sebelum pergi ke Bandara" bisik Raifan dengan suara serak khas bangun tidur. Mengelus lembut punggung Seruni, dan mengecup puncak kepalanya.
Seruni hanya diam, masih menyandarkan kepalanya di dada suaminya. Jika dalam posisi seperti ini, siapa yang akan mengira jika pernikahan ini hanya sebuah perjodohan dan tidak ada cinta. Bahkan Seruni saja dibuat bingung dengan sikap suaminya. Hal yang paling membuatnya lelah, bukan karena pernikahan ini, tapi karena sikap suaminya yang tidak bisa di tebak. Membuat Seruni terus bertanya-tanya tentang perasaan Raifan yang sebenarnya, meski dia tetap tidak menemukan jawabannya.
Seruni bangun, membuat Raifan membuka matanya dan menatapnya. "Kau mau kemana? Masih terlalu pagi"
"Aku ingin cari udara segar di Pantai"
Raifan mengusap wajahnya, menghilangkan kantuk yang masih menyerangnya. Lalu dia bangun dan menatap istrinya. "Baiklah, kita pergi bersama kesana"
"Kalau kamu masih mau tidur, tidak papa. Aku-"
"Tidak, kita pergi kesana bersama"
Seruni mengangguk saja, mereka segera mandi dan berganti pakaian. Pergi ke Pantai di pagi hari, menikmati angin pagi yang masih menyegarkan. Meski sedikit terlambat karena tidak bisa melihat matahari terbit.
Seruni duduk di atas pasir, menekuk lututnya dan menatap hamparan luas lautan. Angin menerpa wajahnya, membuat rambut berkibar tertiup angin.
"Kau suka Pantai?" tanya Raifan yang duduk di belakangnya dengan membuka kakinya lebar. Raifan merapikan rambut istrinya yang berantakan karena angin. Meraih kepala Seruni untuk bersandar di dadanya.
"Aku suka Pantai sejak kecil, tapi dulu Ayah tidak membawaku ke Pantai karena aku nakal dan membantah ucapannya. Jadi, Pantai mempunyai banyak kenangan untukku. Termasuk saat Ibu masih ada"
Raifan mengelus lembut kepala istrinya, beberapa kali mengecup puncak kepalanya. "Setelah kembali nanti, kau bisa datang ke Pantai di sana. Tidak kalah indah dari Pantai di sini"
Seruni mengangguk pelan, dia menatap lautan dengan berbinar. Dulu, bersama Ibu dan Ayahnya mereka pergi ke sebuah Pantai untuk liburan. Seruni membuat istana pasir bersama Ayahnya saat itu. Lalu, waktu berlalu terlalu cepat, saat Ibunya sudah tiada, Seruni tidak di bawa oleh Ayahnya ke Pantai karena membantah ucapannya dan membuat Selina menangis. Sebuah kenangan yang sulit untuk dilupakan, bahkan sampai sekarang. Terlalu menyedihkan.
"Aku sayang Papa"
Tanpa sadar kalimat yang ada dalam pikiran dan hatinya terucap nyata dari bibirnya. Seruni mengerjap pelan, dia juga terkejut.
"Aku tahu, terlihat dari sikapmu yang selalu menuruti perkataannya. Meski terkadang semuanya membuatmu terluka"
Seruni menghela napas pelan. "Karena dia Ayahku, jadi semuanya harus aku turuti. Jika aku membantah, Ayah akan menghukum lebih dari saat kecil"
Raifan hanya diam, ada perasaan tidak suka dari ucapan Seruni. Ketika istrinya bercerita tentang Ayahnya, sudah membuat Raifan tahu jika selama ini hidup Seruni selalu dibedakan dengan adiknya oleh Ayahnya sendiri.
"Tidak perlu memikirkan Papamu lagi, sekarang kau sudah menikah dan lepas dari rumah itu"
"Ya, kamu benar, Mas"
Seruni sudah keluar dari rumah Ayahnya, tapi masuk ke dalam rumah suaminya. Keduanya sama-sama memberikan suasana yang berbeda. Dan Seruni hanya di paksa diam dalam rumah yang terkadang membuatnya terluka.
*
Sebelum pergi kembali ke Bandara, mereka kembali ke rumah orang tua Raifan. Menemui kedua orang tuanya untuk berpamitan. Mama Sonya membawa Seruni pergi ke kamarnya, kejadian kemarin, tentu membuatnya tidak tenang.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi, Runi? Kemarin kamu pergi kemana pas acara pernikahan Alby?"
Seruni tersenyum tipis pada Ibu mertuanya itu. Mungkin Seruni bisa saja menceritakan semuanya, tapi nyatanya dia tidak bisa melakukan itu. Sejauh ini Seruni masih cukup terus menutupi tentang apa yang terjadi pada pernikahannya.
"Ma, seandainya Papa tidak pernah memberikan hatinya untuk Mama, apa yang akan Mama lakukan?"
Mama Sonya terdiam, menatap menantu pertamanya ini dengan tatapan yang sulit di artikan. Tiba-tiba Mama Sonya memeluk Seruni. "Rai masih belum membuka hatinya untukmu, ya? Tolong tetap bertahan ya, Run. Kamu yang terbaik untuk Raifan, Mama dan Papa tahu jika kali ini pilihan kami benar, meski kami salah memilihkan calon untuk Albyan sebelumnya. Tapi kamu ... adalah yang terbaik untuk Raifan"
Air mata Seruni menetes begitu saja, pelukan hangat dari Mama mertuanya adalah pelukan seorang Ibu yang hilang sejak Ibunya meninggal. Sekarang dia mendapatkan lagi pelukan hangat ini dari Mama Sonya.
"Ma, seandainya Runi tidak kuat, bolehkah aku berhenti? Apa boleh aku menyerah?"
Pertanyaan dengan suara parau, serak menahan tangis yang tercekat di tenggorokan. Seruni tahu perasaannya, dia sangat paham. Namun, sekarang yang jadi pertanyaan, apa dia akan terus bertahan dalam pernikahan seperti ini? Suaminya hanya menjadikannya tawanan dalam sangkar pernikahan.
Mama melerai pelukannya, menatap menantunya dengan lekat. "Kalau memang kamu sudah benar-benar tidak tahan, kamu boleh bicara sama Mama. Nanti Mama akan mengambil keputusan, jika memang berpisah adalah keputusan terbaik, Mama juga tidak akan terus menahan kamu, Nak"
Seruni mengangguk, setidaknya dia mempunyai Mama mertua yang cukup memahami keadaannya. Meski sebenarnya sangat sulit untuk mengambil keputusan di saat Seruni mempunyai suami yang benar-benar memantau setiap pergerakannya.
"Tapi Runi, percayalah jika Raifan juga peduli padamu. Dia melindungi kamu, dia hanya ingin yang terbaik untuk kamu. Karena Mama juga tidak pernah melihat dia sampai menyewa pengawal untuk seseorang"
Seruni tersenyum tipis, bukan karena peduli lebih tepatnya, tapi karena tidak mau Seruni lari dari pernikahan ini. Sudah tahu jika Seruni berada dalam sangkar pernikahan yang membuatnya sulit untuk bebas.
"Mama yakin, Rai akan mencintaimu"
Satu kalimat terakhir dalam percakapan diantara mereka. Meski Seruni merasa lucu dengan kalimat Mama Sonya, karena mendapatkan cinta suaminya seperti hal yang mustahil baginya.
Mereka berpamitan untuk pulang, Mama Sonya memeluknya sejenak, berbisik di telinganya. "Tetaplah bertahan jika bisa, Mama sangat berharap mendapatkan seorang anak darimu dan Rai"
Seruni hanya tersenyum, senyuman yang miris. Karena tidak mungkin mereka mendapatkan seorang anak saat alat kontrasepsi terpasang di tubuh Seruni. Menjadi penghalang kehamilan, karena suaminya sendiri tidak menginginkan anak.
Bersambung
Setidaknya pada like komen dan kasih bintang lima dong gengss... Kan biar gue semangat🥱