Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Dewa Hoki : Aku Bukan Pembawa Sial

Sistem Dewa Hoki : Aku Bukan Pembawa Sial

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Selama bertahun-tahun, Akbar dicap sebagai pembawa sial oleh seluruh warga kampung, bahkan disalahkan atas kecelakaan tragis yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Kelelahan dengan hidup yang penuh penderitaan dan cemoohan, Akbar memutuskan untuk mengakhiri segalanya dengan melompat dari atas jembatan. Namun, tepat sebelum tubuhnya jatuh, sebuah layar hologram mendadak muncul dan memberinya "Sistem Dewa Hoki". Kini, berbekal keberuntungan absolut dari sistem tersebut, Akbar siap membalikkan keadaan, membungkam mulut orang-orang yang merendahkannya, dan membongkar rahasia kelam di balik kematian orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Belasan anggota polisi berseragam dinas lengkap dan berpakaian preman reserse sedang berjaga ketat di depan pagar kayu ukir itu.

Garis polisi berwarna kuning hitam menyala sudah dipasang membentang melingkari seluruh area depan pekarangan rumah mewah tersebut.

"Ya ampun Gusti Pangeran, Pak Kades kita beneran ditangkap polisi!" jerit histeris seorang ibu-ibu gemuk di barisan paling depan warga.

Dari balik dalam pintu utama rumah, terlihat sosok Pak Wanto sedang digelandang paksa berjalan oleh dua orang petugas kepolisian bertubuh besar.

Tangan kepala desa yang botak licin itu sudah diborgol besi erat menyilang ke belakang punggungnya.

Wajah Pak Wanto terlihat sangat kuyu, pucat pasi seperti mayat, dan tidak ada lagi sisa-sisa wibawa kesombongannya seperti semalam.

Tepat di belakang Pak Wanto, terlihat anak kesayangannya Dion sedang menangis meraung-raung meronta sambil memegangi kaki seorang polisi.

"Tolong lepaskan ayah saya Pak Polisi! Ayah saya itu orang baik, dia tidak mungkin melakukan korupsi uang desa!" teriak Dion menangis tersedu-sedu memelas ampun.

"Minggir kamu anak muda, menyingkir dan jangan coba-coba menghalangi tugas penyidikan kami," tegur polisi itu tegas menyingkirkan tubuh Dion.

"Pak Wanto sudah resmi kami tetapkan sebagai tersangka tangkap tangan kasus penggelapan dana subsidi pupuk negara."

Mendengar pengumuman resmi dari petugas kepolisian berpangkat balok tersebut, warga kampung seketika meledak dalam keributan gosip massal.

"Ternyata jatah pupuk murah kita bulan lalu tidak turun karena uangnya dimakan kades sendiri," umpat seorang bapak petani tua dengan wajah sangat marah.

"Dasar tikus berdasi rakus tidak tahu diri! Pantas saja dia bisa beli mobil baru dan anaknya pamer motor sport setiap hari!" tambah Bu Tejo tidak mau kalah nyinyir mencaci maki.

"Hukum mati saja sekalian Pak Polisi! Jangan kasih ampun koruptor pemakan hak keringat rakyat kecil!" teriak warga serempak meluapkan amarah dendam mereka.

Pak Wanto hanya bisa menunduk pasrah gemetar menyembunyikan wajahnya dari tatapan jijik puluhan warganya sendiri yang dulu menghormatinya.

Dion yang tadinya selalu bersikap sok jagoan kini hanya bisa duduk lemas di lantai teras rumahnya sambil menangis sesenggukan meratapi nasib.

Keluarga kades yang selama ini sangat berkuasa dan ditakuti di kampung itu hancur lebur tanpa sisa dalam waktu satu malam saja.

Tidak jauh dari titik kerumunan warga, sebuah mobil polisi lain baru saja tiba melaju dari arah gang sebelah barat.

Di dalam mobil itu, terlihat jelas sosok Parmin si bendahara desa juga sudah diborgol dengan wajah tertunduk lesu menangis.

Seorang petugas reserse keluar dari mobil itu dengan susah payah membawa sebuah tas kain besar yang terlihat sangat penuh dan berat.

"Lapor Komandan, barang bukti uang tunai pecahan seratus ribu senilai lima ratus juta berhasil kami amankan utuh dari dalam galian tanah gudang tersangka Parmin," lapor petugas tersebut memberi hormat.

Laporan lantang itu semakin membakar emosi warga kampung yang merasa dikhianati mentah-mentah oleh dua pemimpin mereka sendiri.

Akbar yang berdiri diam bersandar di sebuah tiang listrik agak jauh dari kerumunan hanya tersenyum tipis menikmati tontonan kehancuran itu.

Dia sama sekali tidak merasa kasihan sedikit pun melihat dua keluarga penguasa lalim itu dihancurkan di depan mata umum.

Ini adalah bayaran karma instan yang sangat setimpal karena Dion sudah berkali-kali mencoba melukai fisiknya secara brutal selama ini.

"Selamat menikmati sisa kehidupan kelam barumu di balik dinginnya jeruji besi Pak Wanto," bisik Akbar pelan pada dirinya sendiri penuh kepuasan.

Ding!

Suara jernih mekanis tiba-tiba bergema merdu layaknya lonceng gereja di dalam kepala Akbar.

Layar holografik biru yang sangat terang mendadak muncul mengambang di udara menutupi pemandangan kerumunan warga di depannya.

[Selamat! Tuan telah berhasil menyelesaikan Misi Sampingan dengan sangat brilian, mematikan, dan tanpa celah sedikit pun.]

[Tindakan membongkar kejahatan korupsi secara anonim ini telah menghasilkan perubahan nasib keadilan bagi banyak warga desa.]

[Hadiah Misi Sampingan telah disiapkan dan ditambahkan ke dalam inventaris ruang spasial Tuan secara otomatis.]

[Tuan mendapatkan imbalan: 50 Poin Hoki.]

[Tuan mendapatkan imbalan tambahan utama: Satu Kotak Item Misteri Kelas Perak.]

[Apakah Tuan ingin membuka dan melihat isi Kotak Item Misteri Kelas Perak sekarang juga?]

Akbar langsung membalikkan badannya dan berjalan santai menjauh dari keributan itu kembali menuju ke rumah kontrakannya.

"Buka kotak perak itu sekarang juga sistem, aku sangat penasaran barang mahal apa yang ada di dalamnya," perintah Akbar sangat antusias dalam hati.

Ding!

Animasi sebuah peti perak berukiran rumit muncul melayang di layar dan perlahan terbuka memancarkan cahaya putih keperakan yang cukup silau.

[Kotak Item Misteri Kelas Perak berhasil dibuka dengan sukses tanpa kendala!]

[Selamat yang luar biasa! Tuan beruntung mendapatkan Item Gaib Permanen: Kacamata Penilai Harta Karun Level 1.]

"Kacamata penilai harta karun?" ulang Akbar membaca nama barang tersebut dengan dahi berkerut keheranan.

"Tolong jelaskan secara detail, apa bedanya kacamata ini dengan skill Mata Hoki bawaan milikku sistem?"

[Mata Hoki berfungsi murni untuk melihat aura keberuntungan nasib pada benda mati dan statistik kesialan pada makhluk hidup.]

[Sedangkan Kacamata Penilai Harta Karun ini berbentuk fisik gaib dan berfungsi khusus untuk menganalisis nilai nominal uang rupiah dari sebuah barang.]

[Jika Tuan memakai kacamata ini, Tuan bisa melihat nilai jual asli pasar dari sebuah barang rongsokan, barang antik, atau perhiasan tersembunyi dengan akurasi seratus persen.]

Akbar sontak menghentikan langkah kakinya seketika di tengah jalan gang kampung yang sudah sepi ditinggal warga.

Kedua tangannya mengepal kuat menahan rasa gembira yang luar biasa meledak-ledak di dalam dadanya.

"Berarti logikanya, kalau aku pergi ke pasar loak atau toko barang antik, aku bisa menemukan barang berharga mahal yang dijual dengan harga sangat murah?" tanya Akbar memastikan teori liarnya.

[Benar sekali Tuan, fitur eksklusif ini memang sangat cocok digunakan untuk memulai pengumpulan kekayaan skala besar dalam waktu singkat.]

[Kacamata gaib ini hanya bisa dilihat dan disentuh secara fisik oleh Tuan, bagi mata orang lain kacamata ini seratus persen transparan tidak kasatmata.]

"Ini benar-benar benda gaib luar biasa, kekuatan ini murni bertindak sebagai mesin pencetak uang tunai tanpa batas bagiku," puji Akbar tertawa pelan.

Akbar langsung memerintahkan sistem untuk mengeluarkan kacamata ajaib itu dari dalam inventarisnya sekarang juga.

Wush.

Sebuah kacamata dengan bingkai kawat hitam bergaya klasik retro tiba-tiba muncul entah dari mana di telapak tangannya.

Ukurannya terasa sangat ringan di tangan namun materialnya terasa sangat kokoh saat disentuh oleh jemarinya.

Akbar tanpa ragu langsung memakai kacamata itu membiarkannya bertengger manis di tulang hidung mancungnya.

Begitu kacamata itu terpasang, pandangan mata Akbar sama sekali tidak berubah menjadi abu-abu seperti saat dia memakai Mata Hoki.

Semuanya tampak normal berwarna-warni, tapi saat dia iseng menatap tumpukan rongsokan besi tua di pekarangan rumah tetangganya, sebuah keajaiban terjadi.

Sebuah tulisan hijau terang berukuran kecil muncul melayang tepat di atas tumpukan besi berkarat tersebut.

[Besi Tua Karatan. Nilai Jual Pengepul Pasar: Rp 12.500.]

"Wah, gila! Benda ini benar-benar memunculkan harganya secara real-time persis seperti scan barcode di minimarket modern," takjub Akbar menggelengkan kepalanya.

Dia kemudian iseng menunduk menatap jam tangan plastik murahan yang melingkar lusuh di pergelangan tangan kirinya.

[Jam Tangan Plastik Bekas. Nilai Jual Pasar: Rp 0 Sama sekali tidak ada nilai pasar.]

Akbar tertawa terbahak-bahak melihat betapa jujur dan kejamnya sistem kacamata ini menilai barang pribadi miliknya.

"Oke, rencanaku hari ini sudah sangat jelas dan terang benderang berkat hadiah kejutan dari sistem ini."

Akbar mempercepat langkahnya berlari kecil kembali ke rumah untuk mengambil jaket dan kunci motor Scoopy barunya.

Hari ini dia menolak untuk berdiam diri bersantai di kampung yang sedang heboh dengan penangkapan kades korup itu.

Dia akan pergi cukup jauh ke pusat kota kabupaten, tepatnya menuju ke pasar loak dan sentral barang antik terbesar di sana.

Fase uji coba keberuntungannya di level pedesaan kampung ini sudah dianggap selesai dengan hancurnya dominasi keluarga Dion.

Kini sudah saatnya Akbar melangkah masuk ke arena yang jauh lebih besar untuk mengeruk harta kekayaan dan membangun kerajaan finansialnya sendiri.

Akbar masuk ke kamarnya dan langsung menyambar jaket hitam kesayangannya yang tergantung usang di paku dinding.

Dia menyempatkan diri menatap pantulan dirinya sejenak di cermin retak kamarnya.

Pemuda miskin berwajah murung dan ketakutan itu kini terlihat sangat percaya diri dengan sorot mata yang tajam dan postur tubuh yang jauh lebih tegap.

Kacamata gaib yang tidak kasatmata oleh orang lain itu menambah pesona kesan cerdas pada wajah tampannya.

"Dunia ini selama bertahun-tahun selalu menilaiku murni dari seberapa banyak uang yang kumiliki di saku," ucap Akbar pada cermin tersebut dengan nada dingin.

"Kalau memang begitu aturannya, mari kita tunjukkan pada dunia luar seberapa banyak uang yang bisa kudapatkan murni dalam satu hari penuh."

Brummm.

Suara mesin motor hitam matic itu kembali meraung membelah angin meninggalkan halaman rumah reyotnya.

Akbar melaju lurus meninggalkan batas kampung halamannya tanpa berniat menoleh lagi ke arah kerumunan warga di rumah kades.

Masa lalunya yang penuh penderitaan kelam telah resmi dia kubur dan tinggalkan dalam-dalam pagi ini.

Perjalanan sang dewa hoki yang sesungguhnya menuju puncak kejayaan baru saja dimulai dari jalanan aspal menuju pusat peradaban kota.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!