Sepanjang hidupnya, Bayu Rahaja selalu dijuluki si pembawa sial hingga puncaknya kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah tragedi yang memaksanya pulang ke rumah tua keluarganya. Di tengah keputusasaan saat ditagih hutang dan membereskan barang-barang usang peninggalan kakeknya, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah batu hitam kehijauan yang diam-diam mengaktifkan sebuah pusaka kuno. Waktu di sekitarnya mendadak berhenti, dan Bayu menyadari bahwa kesialannya selama ini adalah harga yang harus dibayar untuk membangkitkan Batu Waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
"Kenalkan, ini Clara," ucap Anya santai sambil menyesap es teh manisnya yang baru saja diantarkan oleh pelayan kafe.
"Dia adalah informan dunia bawah tanah yang paling bisa diandalkan di kota ini."
Clara menarik paksa kursi kosong di sebelah Anya dan duduk dengan menyilangkan kedua kakinya secara elegan.
"Aku sudah melihat berita kekacauan di gudang kawasan industri utara tadi, kerjaan kalian berdua sangat berantakan dan amatir," kritik Clara langsung pada intinya.
Bayu menatap gadis berambut merah itu dengan penuh rasa curiga dan waspada.
"Darimana kamu tahu kalau kekacauan besar itu adalah ulah kami berdua?" tanya Bayu dengan nada menyelidik tajam.
Clara tertawa pelan, suara tawanya terdengar sangat meremehkan di telinga Bayu.
"Anya menghubungiku lima menit yang lalu, dia bilang kalian baru saja berhasil mencuri buku dosa milik geng Cobra," jawab Clara santai memutar bola matanya.
"Selain itu, perasaanku sangat peka, aku bisa merasakan sisa benturan energi relik yang sangat kuat menempel bau di baju kalian berdua."
Mata Bayu langsung terbelalak kaget mendengar kata relik keluar dengan mudahnya dari mulut gadis asing tersebut.
"Kamu... kamu juga tahu tentang keberadaan benda-benda gaib itu?" tanya Bayu setengah berbisik mencondongkan badannya agar tidak didengar pelanggan lain.
Clara mencondongkan tubuhnya ke depan meja dan menatap tajam langsung beradu dengan bola mata Bayu.
"Tentu saja aku tahu, bodoh. Dunia ini jauh lebih luas dan gelap dari sekadar rumus fisika di kepala teman kacamata mu ini," ejek Clara sambil melirik sinis ke arah Anya.
Anya hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh menanggapi ejekan pedas dari informan andalannya tersebut.
"Clara ini memang bukan pengguna relik, tapi dia adalah penyedia informasi utama bagi para pengguna yang bergerak di kegelapan kota," jelas Anya menengahi pertikaian kecil itu.
"Aku mengenalnya saat kami tidak sengaja bertengkar berebut produk telur ayam LunaraMode edisi terbatas di pasar swalayan bulan lalu."
Bayu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan merasa kepalanya semakin pening menghadapi situasi aneh ini.
"Jadi nyawaku sekarang bergantung sepenuhnya pada pertemanan yang berawal dari perebutan telur ayam di pasar?" keluh Bayu meratapi nasibnya yang tragis.
Clara menjentikkan jarinya dengan keras tepat di depan hidung Bayu untuk menyadarkan pemuda itu dari lamunannya.
"Jangan berani meremehkan telur ayam bernutrisi tinggi, kandungan proteinnya sangat penting untuk menjaga bentuk tubuhku tetap sempurna," balas Clara membela diri dengan narsis.
"Sekarang dengarkan aku baik-baik, Sang Penghapus Jejak itu bukan pembunuh bayaran sembarangan yang bisa kau ajak main lari-larian."
Clara mengeluarkan sebuah tablet kecil berlayar sentuh dari tasnya dan menampilkan sebuah foto buram hasil rekaman CCTV malam hari.
"Nama aslinya tidak pernah diketahui siapa pun, tapi dia adalah pengguna relik Pedang Ruang yang sangat ditakuti," jelas Clara dengan raut wajah mulai serius.
"Dia bisa melipat jarak dimensi dalam radius lima puluh meter sesuka hatinya tanpa batasan halangan fisik."
Bayu mengangguk pelan mengkonfirmasi kebenaran informasi yang baru saja dialaminya secara langsung tadi siang.
"Aku sudah tahu itu, dia nyaris memotong putus leher Anya kalau aku tidak segera membawanya lari menjauh," ucap Bayu sengaja menutupi fakta kekuatan penghenti waktunya.
Clara menatap Bayu dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan menilai yang sangat teliti.
"Kamu berhasil kabur hidup-hidup dari tebasan ruangnya tanpa terluka sedikit pun?" gumam Clara terlihat sangat terkejut dengan fakta tersebut.
"Relik apa yang sebenarnya kamu miliki di sakumu, cowok udik? Apakah itu masuk ke dalam relik tipe kecepatan murni tingkat tinggi?" Bayu memilih untuk diam membisu dan tidak menjawab pertanyaan provokatif dari Clara tersebut.
"Itu sama sekali bukan urusanmu, yang penting sekarang ajari aku bagaimana caranya aku bisa membunuhnya sebelum dia membunuhku malam ini," jawab Bayu dingin mengalihkan topik.
Clara menyeringai lebar memperlihatkan gigi putihnya mendengar jawaban penuh nyali dari pemuda yang terlihat sangat kelelahan di depannya ini.
"Aku suka sekali semangat membunuhmu itu, tapi dengan kondisimu yang lemah sekarang, kamu hanya akan jadi daging cincang gratis di hadapannya," ejek Clara membeberkan realita menyakitkan.
"Kamu harus segera meningkatkan kapasitas energi relikmu jika ingin bisa mengimbangi pergerakan ruangnya yang serba instan."
Bayu melirik menatap layar biru sistemnya yang masih melayang pasif menampilkan angka dua dari sepuluh.
"Bagaimana caranya aku bisa meningkatkan kapasitas poin energi ini dengan cepat?" tanya Bayu menuntut jawaban secepatnya.
"Aku pasti akan memberitahumu rahasianya, tapi tentu saja informasi semahal ini tidak datang dengan gratis," jawab Clara sambil tersenyum sangat licik layaknya pedagang serakah.
"Berikan map merah dan buku hitam curian itu padaku sekarang juga sebagai bayaran awalnya."