Indonesia
NovelToon NovelToon
Kapten Halim, Istrimu Sudah Tiga Tahun "Menjanda"

Kapten Halim, Istrimu Sudah Tiga Tahun "Menjanda"

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Nikah Kontrak / Kapten
Popularitas:19.8k
Nilai: 5
Nama Author: Elara Aisyah

Dianggap "gadis bangkrut yang beruntung", diperlakukan seperti janda selama tiga tahun pernikahan rahasianya. Tapi begitu Renata melepas cincin dan pergi, topeng demi topeng terbuka: peretas nomor satu, putri hilang konglomerat permata, penyelamat nyawa sang Kapten. Saat semua yang menghinanya bertekuk lutut—Kapten Nathan Halim justru jatuh paling dalam, mengejar istri yang telah ia sia-siakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 29

Mual di Pagi Hari

Dua hari setelah pulang dari Maladewa, aroma santan dari dapur membuat Renata berlari ke kamar mandi.

Ia berlutut di depan toilet kamar tamu dan muntah meski perutnya kosong. Setelah rasa mual mereda, ia membasuh wajah dengan air dingin.

Di cermin, wajahnya terlihat pucat.

Mungkin perubahan waktu. Mungkin makanan di pesawat. Mungkin kelelahan.

Namun ketika Bik Inah menggoreng tempe dan aromanya naik ke lantai dua, perut Renata kembali berbalik.

Ia menutup pintu kamar mandi dan membuka kalender di ponsel.

Menstruasinya terlambat.

Renata menghitung ulang tanggal dua kali. Rasa kantuk selama di Maladewa, payudara yang terasa lebih sensitif, dan mual pagi ini membentuk kemungkinan yang tidak ingin ia sebut.

Ingatan tentang satu malam sebelum perjalanan muncul.

Malam itu Nathan pulang dalam keadaan sakit lambung setelah menunggunya di Purnama. Renata masuk ke kamarnya untuk memastikan ia sudah minum obat. Percakapan yang seharusnya singkat berubah menjadi pengakuan tentang kesepian mereka. Untuk satu malam, batas sandiwara menjadi kabur.

Keduanya sadar, tidak mabuk, dan tidak ada yang memaksa. Pagi berikutnya, Renata mengatakan kejadian itu tidak mengubah rencana berpisah. Nathan tidak membantah.

Mereka tidak pernah membicarakannya lagi.

Sekarang tubuh Renata mungkin sedang menagih akibat dari satu-satunya kelengahan tersebut.

“Nyonya?” suara Bik Inah terdengar dari luar. “Sarapan sudah siap.”

“Saya nggak lapar, Bik.”

Renata mengganti pakaian dan keluar lewat pintu samping sebelum Nathan turun. Ia memesan Grab menuju sebuah apotek yang cukup jauh dari Puri agar tidak bertemu kenalan keluarga.

Di sana, ia mengambil dua alat tes kehamilan dari merek berbeda. Ia juga membeli vitamin biasa agar belanjaannya tidak terlalu mencolok.

Petugas apotek memasukkan semuanya ke kantong buram.

“Gunakan urine pertama pagi hari untuk hasil lebih jelas,” katanya.

“Kalau sudah terlambat beberapa hari?”

“Bisa diperiksa sekarang, tapi tetap konfirmasi ke dokter.”

Renata mengangguk. Dari area tunggu, ia membuat janji di klinik swasta untuk dua hari kemudian. Apa pun hasil tes rumah, ia membutuhkan pemeriksaan profesional.

Ia memilih jadwal paling pagi dan meminta semua hasil hanya dikirim ke surel pribadinya. Pada formulir kontak darurat, jemarinya berhenti di kolom nama pasangan. Renata membiarkannya kosong dan menulis nomor Tania sebagai orang yang dapat dihubungi.

Keputusan kecil itu membuat kenyataan terasa lebih dekat. Jika benar hamil, Nathan adalah ayah biologisnya. Namun status tersebut tidak otomatis memberinya hak untuk memakai anak sebagai alasan menahan Renata dalam perkawinan.

Ia akan memastikan kondisi kandungan lebih dulu, memahami pilihan medis, lalu bicara kepada Gerald tentang perlindungan hukum. Tidak ada pengumuman keluarga, tidak ada perayaan, dan tidak ada keputusan berdasarkan kepanikan.

Tania menelepon saat Renata menunggu mobil pulang.

“Aku sudah kirim bukti lengkap soal Cheryl. Nathan sama sekali nggak merespons mesra. Dia malah memblokir nomornya.”

“Aku sudah baca.”

“Kamu masih mau lanjut cerai?”

“Ya.”

“Ren...”

“Tata, aku punya masalah lain.”

“Masalah apa?”

Renata hampir menjawab. Suara kendaraan dan orang-orang di depan apotek membuatnya menahan diri.

“Aku terlambat.”

Tania langsung diam. “Terlambat yang itu?”

“Aku belum tes.”

“Aku ke Puri sekarang.”

“Jangan. Aku mau memastikan sendiri dulu.”

“Kalau hasilnya positif, telepon aku. Jangan hadapi sendirian.”

Renata menutup mata sesaat. Setidaknya ada satu orang yang selalu memilih berdiri di sisinya tanpa diminta.

Renata menatap kantong apotek di tangannya. Ia belum siap mengucapkan kemungkinan itu bahkan kepada sahabatnya.

“Nanti aku telepon lagi.”

Sesampainya di Puri, Nathan duduk di ruang makan. Cheryl tidak terlihat di bandara setelah keamanan memindahkan fotografer, tetapi peristiwa itu membuat Opa memanggil seluruh keluarga untuk berkumpul malam ini.

Nathan melihat wajah Renata. “Kamu sakit?”

Ia bangkit dari kursi dan menarik satu kursi untuknya. Gerakan itu canggung, seolah Nathan baru belajar bahwa perhatian bisa dimulai dari hal kecil.

“Aku sudah minta dapur tidak membuat makanan berat,” katanya. “Bik Inah bilang kamu muntah.”

Renata menahan tatapan. “Dia juga melaporkan itu?”

“Dia khawatir.”

“Cuma jet lag.”

“Kamu pucat.”

Ia mendorong obat lambung ke arah Renata. “Minum setelah makan.”

Renata tidak menyentuhnya. “Saya nggak mau minum obat sembarangan.”

Nathan mengernyit. “Itu obat biasa.”

“Tetap nggak perlu.”

Bik Inah membawa semangkuk bubur polos karena Renata tidak tahan gorengan. Ia memaksa diri menelan beberapa suap agar tidak menimbulkan pertanyaan.

“Malam ini Opa ingin semua datang,” kata Nathan. “Cheryl juga dipanggil untuk menjelaskan foto dan kejadian di bandara.”

“Saya akan datang.”

“Kalau kamu sakit, kita bisa membatalkan.”

Renata menatapnya. Nathan benar-benar terlihat khawatir. Beberapa minggu lalu, perhatian itu mungkin membuatnya berharap. Kini ada kemungkinan lain yang jauh lebih besar daripada perubahan lelaki tersebut.

“Saya baik-baik saja.”

Ia membawa kantong apotek ke kamar tamu.

Di kamar mandi, Renata membuka alat tes pertama dan mengikuti petunjuk. Tangannya tetap tenang sampai ia meletakkan alat itu di tepi wastafel.

Hasil membutuhkan beberapa menit.

Satu garis kontrol mulai muncul.

Renata menahan napas, menunggu bagian kedua.

Jika dua garis muncul, rencananya berubah tetapi tidak batal. Ia harus menyelesaikan perceraian sebelum tubuhnya terlihat berbeda. Anak itu akan tumbuh bersama dirinya, membawa nama yang ia pilih, bukan menjadi alat tawar keluarga Halim.

Pikiran itu seharusnya menakutkan. Anehnya, di balik takut ada dorongan pelindung yang sudah terasa nyata bahkan sebelum hasilnya jelas.

“Nyonya!” panggil Bik Inah dari lantai bawah. “Kapten cari Nyonya. Mobil ke rumah Opa segera berangkat.”

Renata tersentak. Ia mengambil alat tes sebelum garis berikutnya terlihat jelas, membungkusnya dengan tisu, lalu memasukkannya ke kantong jubah.

Ia belum tahu hasilnya satu garis atau dua.

1
Siti Kamisah Hasnul
Ya Allah sedihnya
Bulan-³
yuk mulai dari awal dengan lebih baik lagi
yuqana
berhasil bikin aku nangis bombay kak, 😭😭😭😭
tri septi
oh, Tante Sisca yang tantenya Nathan sering merendahkan Rena 😣 bisa ada kemungkinan kaitan dengan Cheryl ga? kok ada nyangkut angkasa juga🤔
tri septi
Tante Sisca siapa lagi ya.....🤔 apa harus scroll ke atas🤔🤭😄
Siti Kamisah Hasnul
😍
tri septi
keras kepala 😔
tri septi
penyesalan pada akhirnya 🌧️🌧️🌧️
𝐙⃝🦜M⃟3💋eRo
kasihan opa, nama basar keluarga disalah gunakan anaknya dijadikan tameng untuk menutupi kejahatan mereka
tri septi
semangat thor💪
tri septi
mengapa Cheryl kekeh merebut Nathan dan niat menjadi pelakor ? apakah ada keturunan ?😣🤔🤔
tri septi
Cheryl, bisa2nya mengaku-ngaku karya orang lain , oh malunya....😄😄😄😄 🤭
tri septi
lanjut thor 👍💪
tri septi
jadi belibet ya 🤭😄
tri septi
apa itu 🤭
𝐙⃝🦜M⃟3💋eRo
banyak kasus dan nama yang perlu pembaca cari sendiri hubungannya
𝐙⃝🦜M⃟3💋eRo
jangan terlalu memaksa,, turutilah keinginan Rena
Siti Kamisah Hasnul
lanjutttt.....serruuuuu👍
𝐙⃝🦜M⃟3💋eRo
Nathan gak sabaran
𝐙⃝🦜M⃟3💋eRo
wowww bom update
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!