Indonesia
NovelToon NovelToon
Tujuh Kembaran

Tujuh Kembaran

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur
Popularitas:335
Nilai: 5
Nama Author: Seven Gu

⚠️ PERINGATAN

Jika Anda hanya ingin membaca kisah salah satu karakter utama, silakan loncat tujuh bab sejak kemunculan pertama kali dari tujuh tokoh utama.

Contoh Fang Ye 1 > 8 > 15 >... >... >.. dst



Dalam berbagai legenda, Tujuh Kembaran dipercaya sebagai tujuh sosok yang berasal dari satu sumber, tetapi lahir dengan jalan hidup yang berbeda.

Ada yang mengatakan mereka adalah pecahan jiwa. Ada yang menyebut mereka sebagai tujuh kemungkinan dari satu keberadaan. Sebagian bahkan percaya bahwa mereka tidak pernah benar-benar ada.

Namun semua legenda memiliki satu kesamaan:

Tujuh Kembaran bukanlah tujuh orang yang sama. Mereka adalah tujuh kehidupan yang memilih menjadi berbeda.

Di tempat yang tidak memiliki nama, seseorang telah hidup terlalu lama. Ia telah melihat kerajaan bangkit dan runtuh, para penguasa menjadi debu, cinta berubah menjadi kebencian, dan kehidupan yang begitu panjang hingga tidak lagi memiliki arti.

Ketika seseorang telah memiliki segala

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seven Gu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SESEORANG YANG MEMILIH UNTUK KEMBALI [POV FRAGMEN KEDUA: GU MOYUAN]

Jiao Yun kembali ke kios "SOLUSI" dua bulan setelah anaknya meninggal di tanah tepat di depan pintunya.

Gu Moyuan mengenalinya seketika—wajah yang sama, meski sekarang lebih tenang daripada teriakan mengerikan yang pernah keluar dari mulutnya hari itu, membawa sesuatu yang tidak ia duga akan pernah kembali ke tempat ini setelah kejadian tersebut.

"Aku tidak datang untuk pil," ia berkata, sebelum Gu Moyuan sempat bertanya apa pun. "Aku datang untuk menawarkan bantuan."

 

"Bantuan," Gu Moyuan mengulang, tidak yakin ia mendengar dengan benar.

"Aku sudah menyaksikan antreanmu berbulan-bulan sejak hari itu," Jiao Yun berkata, matanya tidak menghindar dari tatapannya meski topik yang mereka bicarakan jelas menyentuh luka yang belum sembuh bagi mereka berdua. "Kau sendirian mengelola puluhan keluarga, memeriksa gejala, mencatat prioritas, meracik obat, semuanya sekaligus. Anakku mungkin masih hidup kalau ada seseorang yang bisa mengawasi antrean lebih ketat, memperhatikan siapa yang memburuk lebih cepat daripada yang diperkirakan."

"Kau menyalahkan sistemku," Gu Moyuan berkata, tidak dengan pembelaan, hanya pengakuan.

"Aku menyalahkan banyak hal," Jiao Yun berkata. "Tapi aku tidak datang kemari untuk menyalahkanmu secara pribadi. Aku datang untuk memastikan tidak ada ibu lain yang berdiri di posisi keenam dalam antrean sambil berpikir anaknya 'cukup stabil untuk menunggu' sampai terlambat."

 

Gu Moyuan menatapnya lama, mencoba memahami logika di balik tawaran yang begitu tidak terduga ini.

"Kau ingin bekerja untukku," ia berkata, "di tempat yang membunuh anakmu."

"Aku ingin bekerja di tempat yang mungkin bisa mencegah kematian seperti anakku terjadi lagi," Jiao Yun mengoreksi. "Kalau aku hanya duduk di rumah dengan kesedihanku, itu tidak mengubah apa pun untuk siapa pun. Kalau aku di sini, mengawasi, mencatat, memastikan sistemmu berjalan lebih baik daripada yang bisa kau lakukan sendirian, mungkin kesedihanku bisa berarti sesuatu selain sekadar kesedihan."

 

"Aku tidak yakin aku pantas menerima bantuanmu," Gu Moyuan akhirnya berkata, sesuatu yang jarang ia akui pada siapa pun. "Aku yang membuat keputusan yang menempatkan anakmu di posisi keenam hari itu. Menerimamu di sini terasa seperti meminta pengampunan yang tidak seharusnya kuminta."

"Aku tidak menawarkan pengampunan," Jiao Yun berkata tegas. "Aku masih marah, kalau kau ingin tahu yang sebenarnya. Aku masih marah pada dunia yang membuat pilihan sepertimu harus dibuat sama sekali—pada pajak yang membuat keluarga kelaparan, pada penyakit yang menghapus ingatan, pada makhluk langka yang harus menderita agar manusia bisa disembuhkan, pada segalanya yang membuat keadilan sesederhana 'siapa berada di posisi berapa dalam antrean.' Aku tidak sepenuhnya memaafkan itu, dan aku tidak yakin aku pernah akan sepenuhnya memaafkannya."

Ia menarik napas panjang.

"Tapi aku juga tahu marah saja tidak mengembalikan anakku. Jadi aku memilih melakukan sesuatu dengan kemarahan itu, alih-alih membiarkannya membusuk di dalam diriku tanpa tujuan."

 

Gu Moyuan tidak punya jawaban cepat untuk kejujuran seperti itu.

"Aku tidak tahu bagaimana bekerja dengan orang lain," ia akhirnya berkata, pengakuan yang terdengar kecil dibandingkan dengan apa yang baru saja diucapkan Jiao Yun, tapi jujur dengan caranya sendiri. "Aku sudah bekerja sendirian selama tiga ratus tahun. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan proses kerjaku pada seseorang yang bukan diriku sendiri."

"Kau bisa belajar," Jiao Yun berkata sederhana. "Atau kau bisa terus bekerja sendirian sampai kesalahan berikutnya terjadi karena kau kelelahan mengurus semuanya tanpa bantuan siapa pun. Pilihan itu ada padamu."

 

Ia menerimanya, akhirnya, dengan keraguan yang tidak sepenuhnya hilang bahkan setelah keputusan itu diambil.

Jiao Yun mulai bekerja keesokan harinya—mencatat nama dan gejala setiap keluarga yang datang, membuat sistem pengawasan berkala yang memastikan tidak ada pasien yang "diperkirakan stabil" dibiarkan tanpa pemeriksaan ulang selama lebih dari beberapa jam, mengorganisir antrean dengan cara yang jauh lebih sistematis daripada yang pernah bisa dikelola Gu Moyuan sendirian di tengah kesibukan meracik pil.

Dalam minggu pertama, sistem barunya menangkap dua kasus yang memburuk lebih cepat dari perkiraan awal—kasus yang, tanpa pengawasan tambahannya, mungkin akan terlewat sampai terlambat seperti anaknya sendiri.

Tidak satu pun dari dua kasus itu berakhir fatal. Bukan karena Gu Moyuan tiba-tiba punya lebih banyak pil untuk diberikan, tapi karena mereka bisa dipindahkan lebih cepat ke perawatan suportif intensif sebelum kondisinya benar-benar kritis.

 

"Ini tidak menyelesaikan masalah utamanya," Gu Moyuan berkata suatu malam, setelah Jiao Yun menunjukkan catatan mingguannya. "Aku masih hanya bisa membuat lima pil setahun. Empat puluh empat keluarga masih menunggu, mungkin bertahun-tahun, mungkin tidak akan pernah mendapat giliran sama sekali."

"Aku tahu," Jiao Yun berkata. "Aku tidak berpura-pura ini menyelesaikan segalanya. Tapi ini menyelesaikan sesuatu—memastikan yang kita punya sekarang digunakan seefisien dan seadil mungkin, memastikan tidak ada lagi kematian yang terjadi karena kelalaian yang bisa dicegah, meski kita tidak bisa mencegah kematian yang terjadi karena keterbatasan yang memang nyata."

 

"Kenapa kau begitu yakin tentang semua ini?" Gu Moyuan bertanya, benar-benar ingin tahu. "Kau kehilangan anakmu di tempat ini. Kebanyakan orang akan lari sejauh mungkin, bukan kembali untuk bekerja di sini setiap hari."

Jiao Yun diam sesaat, matanya menerawang ke arah tempat, tepat di depan kios, tempat anaknya pernah terbaring tak bergerak.

"Aku tidak yakin," ia akhirnya mengakui. "Aku bangun setiap pagi dan masih tidak sepenuhnya yakin ini keputusan yang benar. Tapi aku tahu duduk di rumah, membiarkan kesedihanku tidak berbuat apa-apa selain menghancurkan diriku perlahan, terasa jauh lebih buruk daripada berada di sini, melakukan sesuatu, bahkan kalau sesuatu itu tidak sempurna."

 

Mereka duduk dalam diam beberapa saat, dua orang yang terhubung oleh tragedi yang sama, mencoba menemukan cara untuk terus melangkah tanpa berpura-pura tragedi itu tidak pernah terjadi atau bahwa mereka sudah sepenuhnya sembuh darinya.

"Aku tidak akan pernah bisa membalas apa yang hilang darimu," Gu Moyuan akhirnya berkata.

"Aku tidak memintamu membalasnya," Jiao Yun berkata. "Aku hanya meminta kau membiarkanku membantu memastikan lebih sedikit orang mengalami apa yang kualami, sebanyak yang bisa kita lakukan bersama dengan keterbatasan yang ada."

 

Malam itu, setelah Jiao Yun pulang, Gu Moyuan duduk sendirian di laboratoriumnya seperti biasa, tapi untuk pertama kalinya dalam tiga ratus tahun, "sendirian" terasa sedikit berbeda maknanya—bukan karena Jiao Yun ada di sana malam itu, tapi karena ia tahu besok pagi, seseorang akan datang lagi, membawa catatan, membawa sistem yang lebih baik daripada yang bisa ia ciptakan sendirian, membawa kemarahan yang belum reda tapi memilih untuk diarahkan menjadi sesuatu yang berguna.

Ia masih punya empat puluh empat keluarga menunggu. Ia masih tidak tahu bagaimana menyelesaikan dilema skala yang sudah menghantuinya berbulan-bulan. Rambut putihnya di pelipis masih ada, pengingat permanen dari harga yang sudah ia bayar dan akan terus ia bayar setiap kali membuat pil berikutnya.

Tapi untuk pertama kalinya sejak proyek ini dimulai, ia tidak menghadapi semua itu benar-benar sendirian lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!