Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Belum Siap Pulang

Aku Belum Siap Pulang

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:230
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Rin Tachibana memilih menjadi hikikomori. ia mengurung diri berminggu-munggu di lantai atas rumah neneknya di Ishikawa. Ia muak dengan keluarganya yang terus memaksanya menikah.

Sang nenek yang sudah tidak tahan melihat tingkah cucunya akhirnya memilih berlibur tanpa sepengetahuan Rin & menyewakan rumah itu kepada Takumi Kurosawa, seorang arsitek sampai proyeknya selesai.

Masalahnya...
Takumi tidak tahu bahwa rumah yang ia sewa masih memiliki seorang penghuni. Dan Rin tidak tahu bahwa rumah neneknya sudah memiliki pemilik baru.

pertemuan awal mereka jauh dari romantis bahkan takumi kira rin ada setan penghuni rumah dan gadis itu mengira takumi adalah maling.

Dua orang dengan kehidupan yang bertolak belakang akhirnya terpaksa tinggal di bawah satu atap.

takumi yang membenci kekacauan dan terobsesi pada kebersihan

Dan Rin yang bahkan tidak peduli kamarnya berantakan atau tidak tahu cara menjaga rumah tetap rapi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1000 Alasan Rin

Warung tempat mereka biasa makan mi hanya berjarak beberapa blok dari rumah. Rin berjalan cukup cepat, dan begitu sampai, ia melihat Kiba sudah duduk santai di kursi depan warung dengan beberapa kaleng minuman dingin serta camilan tersusun di meja kecil.

"Kibaa..."

Kiba menoleh, senyum khasnya langsung muncul.

"Rin. Kau datang."

Rin menghampiri lalu duduk, napasnya sedikit terengah-engah sambil mengipas wajah dengan tangan. Kiba memperhatikannya sambil tersenyum.

"Capek ya?"

"hm..Sedikit... Haahh boleh aku minta minumnya?"

Kiba mengangguk sambil ia minum minumannya "Minum lah."

Rin mengambil satu kaleng minuman dan membukanya. ia langsung meneguk beberapa kali. Namun baru satu tegukan, wajahnya berubah dan ia menjauhkan kaleng dari mulut.

"Ini minuman apa?"

Kiba langsung tertawa geli. "Kenapa?"

"Rasanya aneh."

"hahaha..."

Rin mengerutkan hidung, tetapi tetap meletakkan kaleng itu di sampingnya. Kiba kemudian bersandar.

"Aku cukup kaget melihat kau pergi bersama Takumi."

Rin yang sedang membuka camilan langsung berhenti. Ia menelan ludah, berusaha memasang wajah santai.

"Oh ya... Aku juga kaget melihat wanita yang bersama denganmu."

Kiba langsung menoleh. "Wanita?"

"Iya, di supermarket tadi. Di stan makanan kecil. Dia cantik."

Kiba tampak sedikit tertawa. "Kau melihat aku bersama wanita?"

"Iya," Rin memasukkan camilan ke mulutnya. "Dia siapa?"

Kiba terdiam sesaat, lalu tertawa kecil. "Hei kenapa sekarang malah jadi aku yang diinterogasi?"

Rin mengangkat bahu. "Aku cuma tanya."

Kiba mengambil minumannya. "Yang jelas, aku juga ingin tahu kenapa kau bisa pergi berdua dengan Takumi."

Nah, pertanyaan itu akhirnya muncul. Rin terkekeh kecil, sudah menduga Kiba akan menanyakannya.

"Sebenarnya aku sudah lebih dulu mengenal Takumi sebelum pertemuan kita di rumah makan dulu"

Kiba mengerutkan kening.

"Benarkah..Tapi waktu itu kalian terlihat seperti orang asing," kata Kiba penasaran.

"Bagaimana bisa kalian kenal?"

Rin menggaruk pipinya. "Ah, dia menyewa rumah nenekku."

"Oh..." Kiba mengangguk perlahan. "Rumah yang dia tinggali sekarang itu milik nenekmu?"

"Iya. Obaachan sedang di Hokkaido. Jadi mau tidak mau kami jadi sering berkomunikasi jika ada masalah dengan rumah"

"Oh, begitu," Kiba mengangguk lagi, lalu teringat sesuatu. "Lalu kenapa kalian belanja bersama?"

"Kebetulan dia mau ke supermarket yang lengkap, jadi aku mengantarnya, sekalian aku juga ingin membeli beberapa kebutuhanku supaya tidak repot membawanya sendiri."

Penjelasan itu terdengar cukup masuk akal, dan Kiba pun tidak mempermasalahkannya. Ia mengambil camilan.

"Baiklah. Aku paham." Kemudian ia kembali menatap Rin. "Lalu kau tinggal di mana?"

Rin sempat terdiam, sudah menduga pertanyaan itu akan muncul. "Ahh... aku tinggal di belakang rumah nenekku."

"Di belakang?"

"Iya. Ada jalan kecil yang bisa jadi jalan pintas. Kalau lewat jalan besar, aku harus memutar."

"Ohh..." Kiba mengangguk. "Lain kali aku boleh ke rumahmu?"

Rin langsung tertawa canggung. "Jangan."

"Kenapa?"

"Nggak ada siapa-siapa di rumahku," Rin mengambil camilan lagi. "Bisa bahaya kalau pria sepertimu masuk ke rumahku."

Kiba tertawa. "Memangnya apa yang akan terjadi kalau aku ke rumahmu?"

Rin menatapnya. "Kita mungkin tidak akan keluar lagi dari rumah."

Kiba mengangkat alis. "Kenapa?"

"Karena kita akan terus melakukan battle game."

Kiba tertawa lepas, dan Rin ikut tersenyum. Untuk beberapa saat, suasana kembali santai,

"Eh, bagaimana kalau kita makan ramen instan lagi sebelum makan malam?"

Rin langsung teringat sesuatu—Takumi dan makan malam. Ia menelan ludah.

"Ahh, tidak bisa."

"Kenapa?"

"Aku..." Rin berhenti sebentar. "...sudah masak makan malam. Nanti tidak termakan kalau sudah kenyang duluan."

Bzzt.

Ponsel Rin bergetar, dan begitu ia menunduk melihat layarnya, wajahnya seketika berubah pucat saat melihat nama Takumi tertera sebagai panggilan masuk. Rin membeku.

Kiba ikut melirik. "Dia menelepon?"

"Kenapa pakai acara telepon segala sih..." gumam Rin, lalu menelan ludah. "Iya..."

Ia menekan tombol jawab dan mendekatkan ponsel ke telinga. "Ha... halo?"

Suara Takumi langsung terdengar dari seberang dengan nada tegas:

"PULANG!"

Tut. Panggilan langsung terputus.

Rin terpaku. Di depannya, Kiba masih memperhatikannya dengan penasaran. Spontan, Rin memasang akting seolah sambungan teleponnya masih berlangsung.

"Oh, iya... baik, Kurosawa-san," ucapnya sambil mengangguk beberapa kali. "Iya. Aku akan panggil tukang sekarang."

Kiba menatapnya bingung.

"Iya... iya, sekarang." Rin kemudian menekan tombol mati di layarnya, padahal panggilan itu sudah terputus sejak tadi.

Kiba mengerutkan kening. "Kenapa?"

Rin langsung berdiri. "Maaf, Kiba. Aku harus pulang."

"Hah?"

"Wastafelnya bocor lagi. Aku harus pulang sekarang."

Kiba tertawa kecil. "Oh, iya. Baiklah." Ia menunjuk kaleng minuman di depan Rin. "Habiskan dulu minumannya."

Rin buru-buru mengambil kaleng tersebut. "Terima kasih," ujarnya, lalu meneguk isinya sampai habis. "Ahh..."

Rin meletakkan kaleng itu dan melangkah pergi. "Aku pulang dulu."

"Hati-hati."

Rin mengangguk dan langsung berjalan cepat meninggalkan warung. Kiba memperhatikannya sampai sosok gadis itu menghilang di ujung jalan. Namun, saat pandangannya turun ke meja kecil, matanya melebar.

"Eeehhh..."

Kiba mengambil kaleng minuman yang tadi diminum Rin, lalu mendengus geli. "Dia salah minum! Pantasan mukanya aneh dari tadi."

Sementara itu, Rin sudah berlari kecil menuju rumah, bersiap menghadapi amukan Takumi.

Rin akhirnya sampai di depan rumah dengan napas ngos-ngosan, lalu membuka pintu.

"Aku pulang!"

Tidak ada jawaban. Rin masuk dan melihat sandal yang tadi ia tinggalkan sembarangan ternyata sudah tersusun rapi di sisi tembok. Ia meliriknya sebentar.

"Dia sempat merapikannya..." gumamnya.

Rin kemudian berjalan menuju dapur. Takumi masih berada di sana, sedang mencicipi kuah masakannya dengan kemeja yang digulung sampai ke siku. Takumi meniup sendoknya beberapa kali sebelum mengangkat wajah dan menyadari kehadiran Rin.

Ia tidak berkata apa-apa, melainkan langsung menyodorkan sendok itu kepada Rin. Rin berkedip bingung, lalu mendekat dan mencicipi kuah tersebut. Beberapa detik kemudian, ia mengangguk-angguk.

"Sedap."

Takumi ikut mengangguk. "Enak?"

"Iya."

Tiba-tiba—

Tok!

Jari Takumi menyentil keningnya.

"Aaah! Sakit!" Rin langsung mengusap keningnya sambil cemberut. "Takumi!"

Takumi hanya menatapnya sebentar sebelum melepas celemeknya dan berjalan menuju ruang tengah untuk duduk bersandar di sofa.

Masakan sudah selesai, dan sekarang giliran Rin mencuci peralatan yang digunakan agar gadis itu tetap punya waktu untuk bermain.

Di dapur, Rin mulai mencuci panci, talenan, centong, dan pisau. Karena dapur terasa cukup panas, ia membuka beberapa kancing kemeja flanelnya hingga tank top putih di dalamnya sedikit terlihat, tidak terlalu memikirkannya yang penting cepat selesai.

Tidak butuh waktu lama, semua peralatan kembali bersih. Rin masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajah dan lehernya yang gerah, lalu mengikat rambutnya asal ke atas sebelum meneguk segelas air putih sampai habis untuk menghilangkan rasa pahit bekas minuman Kiba tadi.

Setelah itu, ia berjalan ke ruang tengah dan menjatuhkan tubuhnya ke sofa.

"Ahhh... capek."

Rin mengambil ponselnya untuk bermain, tetapi entah kenapa game itu terasa membosankan dan ia kembali meletakkannya. Takumi yang sedang menonton televisi melirik sekilas.

"Rin."

"Hm?"

"Kau tadi ke mana?"

Rin menatapnya, sementara Takumi menyandarkan tubuhnya lebih dalam ke sofa dengan tatapan lurus.

"Keluar mengendap-ngendap seperti maling?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!