Bagaimana jika hidupmu seperti di neraka hanya karena sebuah kesalahpahaman yang sulit untuk dibuktikan?
Sienna Breezie Sinclair seorang wanita malang yang dituduh membunuh seorang konglomerat terpandang, harus menerima perlakuan tak adil sepanjang hidupnya. Bak angin lalu suaranya tak pernah didengar, ia justru dituntut untuk mengakui perbuatan bejat yang tidak pernah ia lakukan.
Bisakah Sienna membuktikan bahwa bukanlah dia pelaku pembunuhan itu? atau Selamanya namanya akan tercatat dan dikenang sebagai seorang pembunuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5
Keheningan di dalam perpustakaan tua itu terasa membekukan. Setiap jengkal udara mendadak sarat akan tekanan. Nico melangkah perlahan, sepatu kulitnya yang mengilap menghantam lantai kayu jati dengan ketukan yang ritmis dan mengancam. Sepasang mata kelabu gelapnya menyapu wajah Sienna yang pucat pasi, lalu turun ke arah jemarinya yang menyatu dan gemetar hebat di balik celemek pelayan.
"Aku menanyaimu, Sienna," suara Nico terdengar pelan, namun bergaung menembus kesunyian ruangan. "Apa yang sedang kau sembunyikan di sana?"
Sienna menelan ludah. Tenggorokannya terasa sekering padang pasir. Bingkai foto kecil yang terbungkus kain lap di lantai tepat di belakang kakinya terasa bagai sebuah bom waktu.
Jika Nico melihat foto itu, jika pria itu menyadari keberadaan fotografer yang berada di lokasi penembakan belasan tahun lalu Sienna tidak tahu apakah ketakutan pria itu akan meledak menjadi amarah yang lebih liar, atau justru menghancurkan satu-satunya petunjuk yang ia miliki.
"T-tidak ada, Tuan Vance," jawab Sienna lirih, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ia berusaha menjaga agar dagunya tetap tegak, meski kakinya terasa seperti jeli. "Saya hanya... mengusap debu di kolong lemari buku terendah."
Nico menghentikan langkahnya tepat di hadapan Sienna. Pria itu menyandarkan satu tangannya ke tiang lemari kayu di samping kepala Sienna, mengurungnya dalam jangkauan pandangan yang teramat dekat. Hawa dingin bercampur aroma tembakau yang maskulin membelai kulit wajah Sienna yang sensitif.
Nico menunduk sedikit, matanya menyipit penuh rasa curiga. "Kau pembohong yang buruk, Sienna. Sejak dulu kau selalu payah dalam menutupi ketakutanmu."
Tangan Nico yang bebas terulur ke bawah.
Jantung Sienna berdesir hebat. Seluruh persendiannya membeku. Secara refleks, Sienna mengambil satu langkah mundur untuk menutupi bingkai foto itu dengan ujung gaun seragamnya. Namun, gerakan tubuhnya yang panik justru menegaskan kecurigaan Nico.
Nico mendorong bahu Sienna ke samping secara kasar hingga wanita itu sedikit limbung dan menabrak rak buku. Pria itu menunduk dan menyambar kain lap berdebu yang tergeletak di lantai.
Di dalam lipatan kain itu, sebuah bingkai foto tua berukuran kecil terjatuh, memantulkan pendar cahaya remang perpustakaan.
Nico memungut bingkai foto kayu yang berdebu itu. Dahi pria itu berkerut dalam. Ia menyapu debu tebal pada permukaan kaca foto dengan ibu jarinya yang panjang.
Sienna menahan napasnya rapat-rapat, menggigit bibir bawahnya hingga terasa asin oleh darah tipis. Matanya memperhatikan setiap perubahan ekspresi pada wajah Nico.
Foto itu memperlihatkan pesta ulang tahun ke-15 Nico, sebuah pesta mewah di halaman belakang mansion lama mereka. Di dalam foto, mendiang Christina Blaire sedang memeluk Nico kecil dari belakang dengan senyuman yang begitu hangat dan penuh kasih.
Tatapan Nico memaku pada wajah ibunya. Untuk beberapa detik, aura kejam dan dingin yang menyelimuti pria itu meleleh, digantikan oleh gumpalan kesedihan mendalam yang tertahan di balik matanya. Garis rahangnya mengetat keras, menahan rasa sakit dari luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh.
Namun, ketika mata Nico bergeser meneliti latar belakang foto tersebut, tempat di mana sosok pria berjaket hitam memegang kamera dengan lensa panjang bersandar di balik semak-semak dekat pintu servis dapur, alis Nico bertaut keras.
"Dari mana kau mendapatkan foto ini?" tanya Nico. Suaranya tidak lagi membentak, melainkan terdengar berdesis dan sangat berbahaya.
"Foto itu... terselip di bawah rak buku paling bawah, Tuan," bisik Sienna dengan suara bergetar. "Saya menyenggolnya saat sedang menyapu debu."
Nico membalik bingkai foto itu. Di bagian belakang kertas cetakan tua tersebut, terdapat stempel kecil berwarna abu-abu pudar yang bertuliskan sebuah nama studio, Diovanni Photography - Official Event Coverage.
Nico memiringkan kepalanya, menatap tulisan itu dengan pandangan membeku. Evander Diovanni.
Nico mengingat nama itu. Evander adalah fotografer komersial yang disewa oleh ibunya sebelas tahun lalu untuk mendokumentasikan pesta ulang tahunnya. Namun dalam laporan kepolisian malam itu, Evander memberikan kesaksian bahwa ia telah meninggalkan lokasi pesta satu jam sebelum penembakan terjadi karena kamera utamanya rusak.
Jika Evander sudah pulang, mengapa fotografer itu masih berada di dekat pintu servis dapur saat foto ini diambil, beberapa menit sebelum penembakan terjadi?
"Siapa pria ini?" gumam Nico pelan, seolah bertanya pada dirinya sendiri.
Sienna keberanian diri untuk bersuara. "Malam itu, Tuan Vance malam saat ibumu..."
Nico mendongak seketika, menancapkan tatapannya yang setajam pisau ke mata Sienna. "Jangan berani-berani kau menyebut malam itu!"
"Tolong dengarkan saya sekali ini saja!" jerit Sienna lirih, air matanya menetes tanpa bisa ditahan lagi. Rasa frustrasi dan ketidakadilan yang dipendamnya selama sebelas tahun mendadak menuntut jalan keluar.
"Malam itu saya melihat cahaya kilat kamera dari balik semak-semak. Sebelum ayah saya tertembak, sebelum ibumu jatuh, ada suara ketukan tombol kamera berulang kali. Pria itu ada di sana, Ayah saya bukan pencuri, dan saya tidak pernah menyentuh senjata itu untuk melukai siapa pun."
"CUKUP!"
Nico melempar bingkai foto itu ke meja kayu besar di dekat mereka. Suara benturan keras kaca retak bergema nyaring di seluruh ruangan.
Nico mencengkeram kedua bahu Sienna, menghentakkan tubuh wanita itu ke dinding perpustakaan dengan tenaga yang sanggup meremukkan tulang. Wajah Nico berada hanya beberapa inci dari wajah Sienna, napasnya memburu oleh kebencian yang berkobar kembali.
"Kau pikir cerita dongeng buatanmu ini bisa menghapus fakta bahwa tanganmu berdarah malam itu?!" desis Nico tajam. "Kau pikir satu foto lama ini bisa membebaskanmu dari dosa keluarga Sinclair?"
"saya tidak berbohong," tangis Sienna meledak, dadanya naik-turun oleh isakan yang memilukan. "Saya hanya anak tiga belas tahun yang ketakutan. Saya cuma ingin membuang pistol itu agar tidak melukai Ayah lagi. Mengapa tidak ada satu orang pun yang mau mendengarkanku? Mengapa kau begitu buta oleh dendam hingga tidak melihat ada sesuatu yang salah malam itu?"
Kalimat Sienna, Mengapa kau begitu buta oleh dendam, menghantam dada Nico seperti sebuah hantaman godam.
Nico membeku. Cengkeramannya pada bahu Sienna perlahan mengendur. Ia menatap wajah wanita muda di hadapannya, mata cokelat yang basah oleh air mata murni ketakutan, bibir yang memar memerah, dan tubuh kurus yang bergetar hebat di bawah seragam pelayan murahan.
Tidak ada jejak kebohongan licik dari seorang kriminal berpengalaman di sana. Yang ada hanyalah sosok manusia yang telah hancur dan diperas habis oleh ketidakadilan.
Sebuah benih keraguan yang sangat kecil dan tidak menyenangkan mendadak merayap masuk ke dalam benak Nico.
Namun sebelum keraguan itu sempat berakar, rasa gengsi dan kebencian yang dipeliharanya selama sebelas tahun dengan cepat membakar habis pikiran tersebut. Nico menolak untuk percaya bahwa ia telah menghabiskan sepertiga hidupnya membenci orang yang salah. Jika Sienna tidak bersalah, maka seluruh dendam yang menopang hidupnya selama ini hanyalah sebuah lelucon tragis.
Nico menarik tangannya kembali dari bahu Sienna secara kasar. Ia membalikkan badan, menyapu jasnya dengan gerakan kaku.
"Simpan cerita bohongmu untuk dirimu sendiri, Sienna," kata Nico, suaranya kembali menjadi es yang tidak tersentuh. "Kau berada di rumah ini untuk menjalani hukumanmu, bukan untuk menjadi detektif."
Nico melangkah ke meja, memungut bingkai foto yang kacanya telah retak itu, lalu memasukkannya ke dalam saku dalam jas hitamnya.
"Bersihkan pecahan kaca ini," perintah Nico tanpa menoleh seraya melangkah menuju pintu perpustakaan. "Dan jika aku mendengar kau membicarakan hal ini pada siapa pun, termasuk Pak Vincent atau Grace, aku akan memastikan panti jompo tempat nenekmu dirawat kehilangan donatur utamanya esok pagi."
Ancaman itu menutup rapat mulut Sienna. Sienna terduduk meluncur di lantai kayu, menyembunyikan wajahnya di balik kedua lututnya seraya menangis sesenggukan dalam kesunyian perpustakaan yang dingin.
...****************...
Sementara itu, di sebuah kafe mewah berkonsep privat di kawasan mewah, cahaya matahari siang menembus kaca patri yang indah.
Isabelle Douglas duduk menyilangkan kakinya yang jenjang, memutar-mutar cangkir cappuccino dengan jemari berhias cincin berlian. Di hadapannya, Liam Young Vance duduk bersandar dengan gaya santai, menyunggingkan senyum khasnya yang penuh pesana palsu.
"Jadi," ujar Isabelle, meletakkan cangkirnya dengan ketukan pelan yang elegan, "kenapa kau mendadak mengajakku minum kopi siang ini, Liam? Bukankah kau tahu aku lebih suka menghabiskan waktu bersama Nico?"
Liam mendengus pelan, senyumnya berubah sedikit sinis. "Nico tidak punya waktu untukmu, Isabelle. Kakakku yang hebat itu sedang sibuk bermain-main dengan mainan barunya di rumah."
Mata Isabelle memicing. "Maksudmu pelayan murahan yang baru bebas dari penjara itu?"
"Tepat," jawab Liam seraya memajukan tubuhnya ke depan meja. "Tapi kau harus tahu, ini bukan sekadar pelayan biasa. Nico membawanya langsung ke mansion. Dia menaruh perempuan itu di bawah pengawasannya 24 jam. Apakah kau tidak merasa aneh?"
Isabelle merapikan gaun bahagian atasnya, berusaha menyembunyikan rasa jengkel yang mulai membakar dadanya. "Nico cuma membencinya. Perempuan itu pembunuh ibunya. Sangat wajar jika Nico ingin menyiksanya secara pribadi."
"Benarkah?" Liam terkekeh rendah, nada suaranya provokatif. "Aku kenal Nico sejak kecil, Isabelle. Dia tidak pernah membawa masalah pribadinya ke dalam rumah. Tapi perempuan Sinclair itu... Nico menatapnya dengan cara yang beda. Ada amarah, tapi ada juga sesuatu yang lain. Posesif. Jika kau terus berdiam diri, posisi calon Ny. Vance yang kau impikan itu bisa terancam oleh seorang bekas narapidana."
Isabelle mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kuku-kuku terawatnya menekan telapak tangan. Kata-kata Liam menembus tepat pada titik rasa terancam terbesarnya.
Isabelle tahu betul betapa dinginnya Nico pada semua wanita, termasuk dirinya yang telah bertahun-tahun mencoba mendekati pria itu. Fakta bahwa Nico memberikan perhatian sebesar itu pada Sienna, meski berupa kebencian tetap saja menyalakan api cemburu yang liar di dalam hatinya.
"Apa mau mu sebenarnya, Liam?" tanya Isabelle dingin, menatap Liam dengan curiga. "Kau tidak mungkin memberitahuku ini cuma karena peduli padaku."
Liam tersenyum manis, sebuah senyuman yang menyimpan racun. "Aku cuma ingin membantumu mendapatkan apa yang kau mau, Isabelle. Kau menginginkan Nico dan posisi di keluarga Vance. Dan aku... aku hanya ingin melihat Kakakku kehilangan kendali. Kita bisa saling memanfaatkan."
Isabelle menatap Liam sejenak, menimbang-nimbang penawaran itu. "Apa yang harus kukakukan?"
"Buat hidup perempuan itu seperti neraka di mansion," bisik Liam penuh niat jahat. "Tekan dia sampai dia melakukan kesalahan besar yang membuat Nico harus mengusirnya atau bahkan menghancurkannya sekalian. Saat perempuan itu hilang dari bayang-bayang Nico, kau bisa masuk sebagai penyembuh lukanya."
Isabelle menyunggingkan senyum kejam di bibir mewahnya. "Itu bukan hal yang sulit. Seorang pelayan bekas narapidana akan sangat mudah untuk disingkirkan."
...****************...
Malam kembali jatuh memeluk kota.
Di dalam ruang kerja Nico di lantai dua mansion, suasana terasa sangat mengintimidasi. Lampu meja hanya menyinari separuh ruangan, membiarkan sudut-sudut lain tenggelam dalam bayangan remang-remang.
Nico duduk di balik mejanya. Di hadapannya tergeletak foto tua dengan kaca retak yang dibawanya dari perpustakaan tadi siang.
Suara ketukan pelan di pintu memecah keheningan.
"Masuk," kata Nico datar.
Pintu terbuka, dan Pak Vincent melangkah masuk dengan tenang. Pengawal tua itu menunduk hormat. "Anda memanggil saya, Tuan Nicolas?"
Nico meraup foto itu dari meja, lalu menggesernya ke tepi ke arah Pak Vincent.
Pak Vincent menerima foto tersebut, menelitinya sejenak, lalu mendongak menatap Nico dengan rasa bingung. "Ini... foto pesta ulang tahun Anda yang ke-15, Tuan."
"Lihat pria berjaket hitam di dekat pintu dapur," perintah Nico dingin.
Pak Vincent mendekatkan foto itu ke matanya. Setelah beberapa detik, mata pengawal senior itu melebar sedikit. "Ini... Evander Diovanni? Fotografer acara malam itu?"
"Ya," kata Nico seraya menyandarkan tubuhnya ke kursi mahoni. "Dalam berkas pemeriksaan polisi sebelas tahun lalu, Evander mengaku sudah meninggalkan area mansion pada pukul delapan malam satu jam sebelum penembakan karena kameranya rusak. Tapi foto ini diambil pada pukul delapan lewat empat puluh lima menit. Pria itu masih ada di sana."
Pak Vincent menarik napas pendek. "Apakah ini berarti... kesaksiannya palsu?"
Nico mengepalkan jemarinya di atas meja. Kalimat Sienna di perpustakaan tadi siang kembali bergaung di telinganya, Pria itu ada di sana! Ayahku bukan pencuri, dan aku tidak pernah menyentuh senjata itu untuk melukai siapa pun!
"Aku ingin kau melacak keberadaan Evander Diovanni sekarang juga," perintah Nico, suaranya sangat menekan.
"Cari tahu apa yang dilakukannya setelah malam itu, di mana dia tinggal sekarang, dan dari mana sumber penghasilannya selama sebelas tahun terakhir."
Pak Vincent menatap Nico dengan cermat. Ada titik harapan kecil di mata pengawal tua itu saat melihat tuannya mulai membuka mata pada janggalnya kasus ini. "Baik, Tuan Nicolas. Saya akan segera menyuruh tim internal pelacak kita untuk memprosesnya secara rahasia."
"Satu hal lagi," tambah Nico sebelum Pak Vincent berbalik. "Jangan biarkan Claudia atau Liam tahu tentang pencarian ini."
Pak Vincent mengangguk paham. "Saya mengerti, Tuan."
Setelah Pak Vincent keluar dan menutup pintu rapat-rapat, Nico berdiri dari kursinya. Ia berjalan mendekati jendela kaca besar yang menghadap ke halaman belakang mansion yang gelap dan diguyur gerimis tipis.
Dari ketinggian lantai dua, mata Nico menangkap sosok kecil berpakaian abu-abu yang sedang berjalan gemetar menyeberangi pelataran bawah menuju gubuk penyimpanan luar untuk mengambil kayu bakar.
Sienna.
Tubuh wanita itu tampak begitu ringkih di bawah terpaan angin malam.
Nico mengepalkan tangannya di balik saku celananya. Perasaan gundah dan marah berkecamuk di dalam dadanya. Jika ternyata kesaksian Evander palsu, jika ternyata ada pihak lain yang membunuh ibunya, maka selama sebelas tahun ini, ia telah menyalurkan seluruh amarah dan kebenciannya pada sasaran yang salah.
Dan yang lebih mengerikan dari itu, ia telah menyeret seorang gadis tidak bersalah ke dalam neraka yang diciptakannya sendiri.
"Siapa sebenarnya yang bermain di belakangku?" bisik Nico pada kegelapan malam, matanya berkilat oleh bahaya yang mulai mengintai dari balik tembok mansion mewahnya.
...Bersambung......