Indonesia
NovelToon NovelToon
Terpikat Suami Sahabatku

Terpikat Suami Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Saling selingkuh
Popularitas:405
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

**Lima tahun menikah, yang tersisa dari Larasati cuma satu: lelah.**

Suaminya miskin. Keluarga suaminya menguras habis uang dan tenaganya demi biaya rumah sakit sang mertua—sampai untuk sekadar mencoba baju di toko pun, Laras tak pernah berani. Ia menyimpan foto rumah contoh di laci, memimpikan satu rumah kecil yang benar-benar miliknya. Tapi setelah lima tahun, ia tak punya apa-apa selain rasa capek yang tak berujung.

Sampai ia datang ke Jakarta, menumpang di apartemen mewah sahabat lamanya, **Tiara**. Di sanalah ia bertemu **Bram**—suami Tiara. Pria dari keluarga konglomerat Adiwangsa, berwajah dingin, angkuh, katanya suka main perempuan. Tapi entah kenapa, di depan Laras… pria itu memujanya seolah tak ada perempuan lain di dunia.

Satu malam nekat mengubah segalanya.

Transfer Rp200 juta tanpa diminta. Skincare mahal satu meja penuh, disusun rapi karena ia ingat Laras pernah dihina cuma pakai skincare murah. Diterbangkan sebelas jam ke luar negeri hanya untuk menjaganya semalam.

*"Kamu kurang apa, aku kasih. Jangan nangis buat hal begini—aku nggak tega."*

Masalahnya: Bram adalah suami sahabatnya sendiri.

Saat seluruh dunia menyebutnya **pelakor**, saat mantan suaminya mengacungkan pisau, saat Tiara bersumpah takkan pernah memaafkannya—Laras harus memilih. Tetap jadi "perempuan baik-baik" yang tenggelam pelan-pelan… atau untuk pertama kalinya, merebut kebahagiaan yang bahkan tak berani ia impikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 003

Semangkuk Nasi untuk Orang Asing

Laras menatap kartu akses di tangan Bram, lalu memaksa jarinya bergerak.

“Iya. Terima kasih.”

Ujung jari mereka bersentuhan saat kartu berpindah tangan. Hanya sebentar, tetapi Laras langsung menarik tangannya seperti terkena panas. Pintu di depannya menutup pelan.

Ia berdiri dua detik lebih lama sebelum sadar dirinya masih menghadap daun pintu.

“Astaga, Laras,” gumamnya, lalu berbalik cepat.

Minimarket di lantai dasar menjual bahan makanan dengan harga hampir dua kali lipat dari pasar Kebumen. Laras memasukkan telur, sawi, tomat, dan sedikit ayam ke keranjang. Ia sempat mengambil dua bungkus mi, menghitung totalnya dalam kepala, lalu mengembalikan satu.

Saat kembali, Bram sudah duduk di ruang tamu dengan kaus abu-abu dan celana olahraga. Rambutnya masih lembap. Tatapannya mengikuti kantong belanja di tangan Laras.

“Kamu mau masak?”

“Iya. Tiara pasti lapar kalau pulang.”

“Dia biasanya pesan makanan.”

Laras berhenti di ambang dapur. “Terus beras di lemari buat apa?”

Sudut bibir Bram terangkat. “Dekorasi, mungkin.”

Laras menahan senyum dan masuk ke dapur. Ia mencuci beras, mengiris bumbu, lalu membagi ayam menjadi potongan kecil agar cukup untuk makan malam dan bekal Tiara besok. Tak lama, suara minyak mendesis memenuhi apartemen. Aroma bawang putih dan cabai menggantikan wangi pengharum ruangan.

Bram beberapa kali melintas dengan alasan mengambil air. Pada lintasan ketiga, ia berhenti di depan panci.

“Masih lama?”

“Lapar?”

“Banget.”

“Tunggu sepuluh menit.”

“Lima.”

Laras menoleh. “Ayamnya belum matang.”

“Kalau begitu tujuh.”

Nada serius Bram membuat Laras terkekeh. “Duduk saja. Nanti aku panggil.”

Ketika makanan siap, Laras menata tiga piring. Satu ia tutup untuk Tiara, satu diletakkan di depan Bram, dan satu lagi di seberangnya. Nasi di piring Bram ia buat lebih banyak setelah melihat ukuran tubuh laki-laki itu.

Bram menatap semangkuk sayur bening, ayam kecap, dan nasi yang mengepul. “Ini buat aku?”

“Memangnya di sini ada orang lain?”

Ia mencicipi ayam, lalu diam.

Laras ikut berhenti makan. “Keasinan?”

Bram menggeleng. Ia mengambil suapan kedua, lebih besar dari yang pertama. “Enak.”

Hanya satu kata, tetapi cara laki-laki itu mengatakannya membuat Laras merasa baru saja menyerahkan sesuatu yang lebih berharga daripada sepiring nasi.

“Tiara nggak pernah masak?” Laras bertanya, lebih untuk memecah keheningan.

Bram menyandarkan punggung. “Pernah.”

“Apa?”

“Air.”

Laras menatapnya bingung.

“Dia pernah merebus air sampai pancinya gosong.”

Tawa Laras lolos sebelum sempat ditahan. Bram ikut tersenyum, bukan senyum sopan yang tadi ia berikan di lorong. Wajah kerasnya mendadak terlihat lebih muda.

“Jangan bilang Tiara aku menertawakannya.”

“Berarti aku punya rahasia pertama tentang kamu.”

Kalimat itu sederhana, tetapi senyum Laras langsung lenyap. Rahasia seharusnya tidak terdengar berbahaya. Namun dari mulut suami sahabatnya, kata tersebut membuat udara dapur terasa lebih sempit.

Bram mengambil air. “Kamu ke Jakarta cuma buat ketemu Tiara?”

“Ada pekerjaan dari dosenku dulu. Beliau minta bantuan menerjemahkan beberapa dokumen.”

“Kamu penerjemah?”

“Dulu kuliah Sastra Inggris. Sekarang kerja apa saja yang bisa dikerjakan dari Kebumen.”

Tatapan Bram turun pada tangan Laras yang kulitnya memerah karena sabun dan pekerjaan rumah. “Sayang.”

Laras mengangkat wajah.

“Maksudku, sayang kalau kemampuanmu cuma dipakai apa saja.” Bram menahan matanya sesaat, lalu mengetuk piring dengan sendok. “Masakan seenak ini juga sayang kalau cuma Tiara yang makan.”

Laras tidak tahu mana dari dua kalimat itu yang membuat dadanya terasa hangat.

Mereka makan dalam diam beberapa saat. Bram menghabiskan nasi dengan cepat, tetapi tidak langsung meminta tambah. Ia hanya melihat rice cooker di belakang Laras.

“Mau tambah?” tanya Laras.

“Boleh?”

“Tentu.”

Ia bangkit dan mengisi piring Bram sampai penuh. Saat hendak mengambil piring bersih dari rak atas, ujung jarinya tidak sampai. Laras berjinjit.

Tubuh besar Bram tiba-tiba berada di belakangnya.

Lengannya terulur melewati bahu Laras. Dada laki-laki itu hampir menyentuh punggungnya, cukup dekat untuk membuat Laras mencium aroma sabun dari kulitnya. Bram mengambil piring dengan mudah, tetapi tidak segera mundur.

“Yang ini?” Suaranya terdengar tepat di atas telinga Laras.

Laras mengangguk tanpa berani menoleh. “Iya.”

Piring itu berpindah ke tangannya. Baru setelah Laras bergeser, Bram kembali ke kursi seolah tidak terjadi apa-apa.

Jantung Laras belum juga kembali normal ketika ponselnya bergetar di meja.

Nama Mas Wahyu memenuhi layar.

Ia membawa ponsel ke kamar tamu sebelum menjawab. “Halo?”

“Kamu sudah sampai?”

“Sudah.”

“Ibu masih dirawat. Dokter minta pemeriksaan tambahan besok.” Suara Wahyu berat oleh lelah. “Uang yang tadi sudah kepakai buat deposit. Kamu bisa kirim lagi?”

Laras menutup mata. “Mas, aku baru sampai Jakarta.”

“Aku tahu. Tapi ini buat Ibu. Aku harus minta ke siapa lagi?”

“Aku sudah kasih semua uang tunai yang aku punya.”

“Coba pakai tabunganmu dulu. Atau pinjam Tiara. Dia kaya, kan?”

Sesuatu yang selama bertahun-tahun Laras tekan mendadak bergerak naik dari perut ke tenggorokan.

“Itu uangku, Mas.” Suaranya bergetar. “Tabunganku, gajiku, semuanya selalu habis buat keluargamu.”

Di ujung sana Wahyu terdiam.

“Aku juga keluarga kamu, Dik.”

“Tapi siapa yang menganggap aku keluarga?” Air mata mengaburkan pandangan Laras. “Lima tahun aku kerja. Lima tahun aku bayar kontrakan, listrik, belanja, rumah sakit. Aku sudah diperas habis sama keluargamu.”

“Jangan ngomong begitu soal orang tuaku.”

“Aku bicara soal hidupku!”

Suara Laras pecah. Ia menekan tombol akhir panggilan sebelum Wahyu menjawab, lalu mematikan ponsel. Tangannya gemetar hebat.

Ia menjatuhkan diri ke kasur dan membenamkan wajah pada bantal. Wangi parfum mahal menusuk hidungnya. Tiara pernah menyebut harga parfum itu enam juta rupiah, lebih besar daripada gaji bulanan Laras.

Bahkan air matanya sekarang jatuh di atas barang yang tak sanggup ia beli.

Laras menggigit bibir agar tangisnya tidak terdengar. Bahunya tetap berguncang.

Ketukan pelan muncul dari balik pintu.

“Laras?” suara Bram terdengar. “Kamu nggak apa-apa?”

Ia menyeka wajah dengan kedua tangan. “Nggak apa-apa.”

“Kamu nangis.”

“Aku bilang aku nggak apa-apa.”

Hening beberapa detik. Bram tidak membuka pintu, tidak pula pergi.

“Aku mau turun jalan sebentar,” katanya kemudian. “Kalau kamu butuh udara, ikut.”

Laras menatap ponsel yang sudah mati. Jika tetap di kamar, ia akan menyalakannya lagi, membaca pesan Wahyu, lalu melakukan hal yang selalu ia lakukan: meminta maaf dan mengirim uang.

Tidak malam ini.

Ia membasuh wajah, mengambil beberapa lembar uang, lalu meninggalkan ponselnya di atas kasur. Bram menunggu di ruang tamu dengan sepatu olahraga sudah terpasang. Tatapannya berhenti pada mata Laras yang merah, tetapi ia tidak bertanya.

Pintu lift terbuka.

Laras masuk lebih dulu. Permukaan logam memantulkan wajahnya yang pucat dan kelopak matanya yang bengkak. Bram berdiri di sampingnya, besar, diam, dan asing.

Malam ini, Laras ingin melakukan sesuatu yang tidak pernah berani ia lakukan seumur hidupnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!