Update Setiap Hari dijam yang sama 12.00 WIB
Bagaimana jika jodoh ternyata bukan pilihan sendiri, tetapi dari kiriman ayah?
Reina Lunox harus menghadapi Tuan Muda Angkuh dari anak sahabat ayahnya. Meski, awal ia menolak untuk perjodohan itu. Reina tidak bisa menolak kemauan ayahnya.
Apa yang akan Reina lakukan untuk menaklukkan Tuan Muda Angkuh, Jino West? Ikuti kisah mereka!!
Karya Author// DILARANG PLAGIAT//
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai di Balik Layar Kampus
Hari-hari menjelang pertunangan berjalan seperti mimpi buruk yang berputar dalam kecepatan tinggi bagi Reina Lunox. Jadwal kuliah yang padat, revisi skripsi dari dosen pembimbing yang tiada berujung, ditambah teror psikologis terselubung dari Jino West, benar-benar menguras seluruh energi fisik dan mentalnya.
Pagi itu, udara di lingkungan kampus terasa lebih lembap dari biasanya. Langit tampak kelabu menggantung di atas gedung fakultas ekonomi, seolah ikut merestui suasana hati Reina yang sedang dirundung kekesalan tingkat dewa. Gadis itu baru saja keluar dari ruang dosen setelah kembali mendapatkan coretan merah di lembar bab empat skripsinya. Dengan langkah gontai, ia menyeret kakinya menuju kantin fakultas untuk mencari secangkir kopi hitam demi menyelamatkan kewarasannya.
"Sumpah ya, kalau dosen itu minta revisi lagi minggu depan, aku bakal resign jadi mahasiswi!" gerutu Reina seorang diri sambil menggebrak pelan nampan plastik di atas meja kosong sudut kantin.
Ia baru saja hendak meneguk es americano pesanannya ketika sebuah bayangan tinggi tiba-tiba berdiri di hadapannya, menghalangi cahaya lampu kantin yang menyinari mejanya. Reina mendengus kesal, mengira ada mahasiswa usil yang ingin mengganggunya. Namun, saat ia mendongakkan kepala, umpatan yang sudah di ujung lidahnya langsung tertelan mentah-mentah.
Jino West berdiri di sana. Pemuda itu tampak sangat kontras dengan keramaian kantin kampus yang sederhana. Mengenakan kemeja putih lengan panjang yang digulung rapi sampai siku dan celana bahan gelap, Jino memancarkan aura bangsawan arogan yang membuat seisi kantin mendadak melirik ke arah mereka dengan tatapan kagum sekaligus penasaran.
"Gaya bicaramu di ruang publik sungguh tidak mencerminkan status sosialmu sebagai calon nyonya besar keluarga West," ucap Jino dengan nada datar, suaranya tenang namun sukses membuat darah Reina mendidih seketika. Tanpa diundang, pemuda itu langsung menarik kursi di hadapan Reina dan duduk begitu saja tanpa izin.
Reina meletakkan gelas plastiknya dengan kasar ke atas meja hingga cairan hitam di dalamnya terciprat keluar. Ia melotot tajam, menatap pria di hadapannya dengan manik mata cokelat yang menyala-nyala karena emosi.
"Hei, Tuan Muda yang terhormat!" seru Reina setengah berbisik penuh penekanan, berusaha menjaga agar suaranya tidak memancing perhatian mahasiswa lain lebih jauh lagi. "Ini area kampusku, bukan ruang rapat kantormu! Dan berhenti muncul di hadapanku secara tiba-tiba seperti hantu penasaran! Apa kurang kerjaan sekali hidupmu sampai harus menguntitku di sini?"
Jino tidak menunjukkan reaksi tersinggung sama sekali. Sebaliknya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang menyebalkan. Ia melipat kedua tangannya di atas meja, menatap Reina dengan sorot mata menilai yang selalu berhasil membuat harga diri sang gadis merosot ke titik nadir.
"Menguntit?" Jino mengulangi kata-kata itu dengan nada mengejek. "Jangan kegeeran, Reina. Aku kebetulan sedang ada pertemuan dengan dekan fakultas ekonomimu untuk membahas program kerja sama beasiswa tahun ini. Dan kebetulan pula, jalan penuhkupku melewati kandang tikus ini—maksudku, kantin fakultasmu."
Kandang tikus? Sialan! Dia benar-benar menghina kantin kesayanganku! maki Reina dalam hati, giginya bergemeretuk menahan geram.
"Kalau begitu, silakan lanjutkan jalanmu, Tuan Jino! Pintu keluar ada di sebelah sana, dan udara di sini mendadak jadi sangat buruk sejak kehadiranmu," usir Reina blak-blakan, menunjuk ke arah pintu masuk kantin dengan dagunya.
Alih-alih pergi, Jino justru melirik sekilas ke arah tumpukan kertas skripsi yang tergeletak di samping tas Reina. Tanpa meminta izin, tangan kokoh pemuda itu terulur mengambil selembar kertas yang penuh dengan coretan merah tinta dosen pembimbing. Jino membaca tulisan di atasnya dengan saksama selama beberapa detik, sementara Reina langsung panik dan berusaha merampas kembali kertas tersebut.
"Kembalikan! Jangan lancang membaca milik orang lain!" seru Reina setengah berdiri dari kursinya.
Namun, Jino mengangkat kertas itu lebih tinggi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menahan pergelangan tangan Reina dengan genggaman yang kuat namun tidak menyakitkan. Jarak di antara mereka mendadak menjadi sangat dekat. Reina bisa mencium aroma parfum woody maskulin yang bercampur dengan bau kertas baru dari tubuh pemuda itu, membuat jantungnya berdegup kencang—bukan karena jatuh cinta, melainkan karena rasa marah yang teramat sangat.
"Metode analisis datamu salah," komentar Jino dingin setelah membaca ringkasan bab tersebut. "Variabel yang kaugunakan terlalu kuno dan tidak relevan dengan tren ekonomi modern saat ini. Pantas saja dosenmu mencoret hampir seluruh isinya. Otakmu memang keras kepala, tapi rupanya wawasanmu juga payah."
Skakmat. Kalimat itu meluncur begitu telak hingga membuat Reina tertegun seketika. Alih-alih membantah dengan teriakan, Reina justru merasakan hantaman telak di harga dirinya. Ia tahu persis bahwa teori yang digunakannya memang sudah usang, tetapi ia tidak memiliki waktu untuk merombak ulang semuanya dari awal.
Melihat ekspresi wajah Reina yang mendadak berubah muram dan kehilangan kata-kata untuk pertama kalinya, Jino perlahan melepaskan genggamannya dari pergelangan tangan gadis itu. Ia meletakkan kembali kertas tersebut ke atas meja dengan rapi.
"Malam ini, jam tujuh," ucap Jino dengan nada suara yang berubah menjadi lebih rendah dan serius, tidak lagi bernada mengejek seperti tadi.
Reina mengerjap, menatap pemuda itu dengan sebelah alis terangkat bingung. "Ha? Apa maksudmu?"
"Datanglah ke kafe di dekat apartemen pusat kota. Aku akan membantumu merapikan kerangka analisis data skripsimu itu," ujar Jino tanpa keraguan, lalu beranjak berdiri dari kursinya. Ia merapikan jasnya sejenak, menatap Reina sekilas dari atas ke bawah sebelum melanjutkan kalimatnya, "Jangan salah paham. Aku melakukan ini bukan karena peduli padamu, tapi demi menjaga reputasi keluarga besar West agar tidak memiliki menantu yang gagal lulus kuliah hanya karena masalah sepele."
Sebelum Reina sempat memproses tawaran sekaligus penghinaan terselubung itu, Jino sudah berbalik memunggungi meja dan berjalan pergi meninggalkan kantin dengan langkah tegap penuh wibawa, mengabaikan tatapan memuja dari para mahasiswi lain yang berpapasan dengannya.
Reina berdiri terpaku di tempatnya, menatap punggung bidang Jino yang semakin menjauh. Ia mengepalkan kedua tangannya erat-erat di atas meja. Di satu sisi, harga dirinya berteriak keras untuk menolak mentah-mentah bantuan dari pria arogan tersebut. Namun di sisi lain, tenggat waktu sidang skripsinya sudah di depan mata, dan tawaran Jino—bagaimanapun caranya ia membungkusnya—adalah penyelamat di saat-saat paling kritis hidupnya.
Sialan, Tuan Muda Jino West! Kau benar-benar berhasil membuatku terjebak dalam perangkapmu lagi! batin Reina merutuk frustrasi, meski di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia tahu ia tidak punya pilihan selain datang malam nanti.