Indonesia
NovelToon NovelToon
Keluarga Suamiku Adalah Masalahku

Keluarga Suamiku Adalah Masalahku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ovelia.shin

Nadira menikah dengan Arga karena percaya bahwa laki-laki itu akan menjadi tempatnya pulang. Namun setelah menikah, ia sadar bahwa yang ia nikahi bukan hanya Arga—melainkan seluruh keluarganya.
Ibu mertua yang selalu merasa berhak mengatur kehidupan mereka. Adik ipar yang iri dan gemar mengadu domba.

Akankah Nadira tetap bersabar menghadapi sikap keluarga suaminya.Sementara Arga sang suami tak bisa bersikap tegas.Karena baginya Nadira dan keluarga sangat penting bagi hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ovelia.shin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

— BATAS KESABARAN ARGA

Arga masih berdiri di tangga.

Ia mendengar semuanya.

Tentang pekerjaan.

Tentang keinginan Bu Ratih agar Nadira mencari pekerjaan yang jauh.

Dan tentang Rani yang justru mendukungnya.

Arga menarik napas panjang sebelum akhirnya turun.

“Bu.”

Bu Ratih dan Rani langsung menoleh.

Wajah keduanya berubah.

“Arga? Kamu belum tidur?”

“Aku dengar semuanya.”

Bu Ratih terdiam.

Rani menunduk.

Arga berjalan mendekat.

“Kenapa Ibu menyuruh Nadira mencari pekerjaan yang jauh?”

Bu Ratih mencoba tersenyum.

“Ibu cuma ingin dia punya kesibukan.”

“Kalau cuma ingin dia bekerja, kenapa harus jauh?”

Bu Ratih tidak menjawab.

Arga menatap Rani.

“Dan kamu?”

Rani mengangkat wajah.

“Aku cuma setuju dengan Ibu.”

“Setuju supaya Nadira jarang ada di rumah?”

Rani diam.

Arga menggeleng.

“Aku sudah cukup sabar.”

Bu Ratih langsung menyela.

“Arga, jangan membentak Ibu.”

“Aku tidak membentak.”

Suara Arga memang tidak tinggi.

Tetapi justru terdengar lebih tegas.

“Aku sedang bicara serius.”

Bu Ratih terdiam.

Arga melanjutkan,

“Nadira adalah istriku. Kalau dia mau bekerja, aku akan mendukung. Kalau dia tidak mau, tidak ada seorang pun yang berhak memaksanya.”

“Tapi Ibu hanya memberi saran.”

“Saran tidak dipaksakan.”

Arga menunjuk laptop di meja.

“Apalagi kalau setiap pekerjaan yang dia pilih selalu Ibu tolak.”

Bu Ratih terkejut.

“Kamu tahu?”

“Aku tahu cukup banyak.”

Rani mulai gelisah.

“Kak, kami tidak bermaksud—”

“Rani.”

Arga memotong.

“Jangan cari alasan.”

Rani terdiam.

“Aku sudah membela kamu berkali-kali.”

Arga menatap adiknya.

“Bahkan ketika kamu jelas-jelas salah.”

Rani menunduk.

“Tapi bukan berarti aku akan terus membela semua yang kamu lakukan.”

Air mata Rani mulai jatuh.

“Aku cuma…”

“Aku tahu kamu tidak suka Nadira.”

Rani membeku.

“Dan Ibu juga.”

Bu Ratih mengalihkan wajah.

Arga menarik napas.

“Kalian tidak harus menyukai istriku.”

Ia menatap keduanya satu per satu.

“Tapi kalian wajib menghormatinya.”

Ruangan menjadi sunyi.

“Mulai sekarang,” lanjut Arga, “jangan ada lagi yang mengatur hidup Nadira tanpa sepengetahuanku.”

Bu Ratih terlihat tidak terima.

“Jadi sekarang untuk bicara dengan menantuku saja harus lewat kamu?”

“Kalau menyangkut keputusan besar dalam rumah tangga kami, iya.”

“Arga!”

“Aku tidak sedang melawan Ibu.”

Arga menatap ibunya dengan tenang.

“Aku sedang menjaga rumah tanggaku.”

Kalimat itu membuat Bu Ratih terdiam.

Kemudian Arga menoleh kepada Rani.

“Dan kamu.”

Rani mengangkat wajah.

“Jangan lagi menyuruh Nadira melakukan pekerjaan rumahmu.”

Rani membuka mulut.

“Tapi…”

“Tidak ada tapi.”

Nada suara Arga kembali tegas.

“Kamu sudah dewasa. Urus sendiri.”

Rani menangis.

“Kakak berubah sejak ada Nadira.”

Arga menghela napas.

“Bukan Nadira yang membuatku berubah.”

Ia menatap adiknya.

“Kalian yang membuatku sadar bahwa selama ini aku terlalu memanjakan kalian.”

Rani terdiam.

Arga kemudian berbalik menuju kamar.

Namun sebelum pergi, ia berhenti.

“Dan satu lagi.”

Bu Ratih menatapnya.

“Kalau Nadira ingin bekerja, biarkan dia memilih sendiri. Jangan pernah lagi sengaja mencari pekerjaan yang membuatnya tidak betah di rumah.”

Arga menatap ibunya dengan serius.

“Karena kalau itu terjadi lagi, aku sendiri yang akan meminta Nadira pergi dari rumah ini.”

Bu Ratih terlihat lega.

Namun Arga melanjutkan,

“Bersamaku.”

Wajah Bu Ratih langsung berubah.

Arga kemudian pergi.

Meninggalkan Bu Ratih dan Rani dalam keheningan.

Di dalam kamar, Nadira ternyata sudah mendengar sebagian percakapan itu.

Ia menatap Arga ketika pria itu masuk.

“Kamu marah?”

Arga duduk di sampingnya.

“Iya.”

Nadira tersenyum kecil.

“Karena aku?”

“Bukan.”

Arga menggenggam tangannya.

“Karena aku baru sadar, selama ini kamu terlalu sering mengalah.”

Nadira menunduk.

“Aku cuma tidak mau kamu kehilangan keluargamu.”

Arga tersenyum tipis.

“Aku tidak kehilangan keluargaku.”

Ia mengusap kepala Nadira.

“Aku cuma sedang belajar menempatkan mereka pada tempatnya.”

Nadira menatapnya.

Dan untuk pertama kalinya, ia merasa Arga benar-benar mengerti.

Menjadi suami bukan berarti harus meninggalkan keluarga.

Tetapi juga bukan berarti membiarkan keluarga menyakiti istrinya.

1
tanjiro azuma
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!