Indonesia
NovelToon NovelToon
Karma Suami Durhaka

Karma Suami Durhaka

Status: tamat
Genre:Pelakor / Keluarga & Kasih Sayang / Selingkuh / Tamat
Popularitas:2.1M
Nilai: 4.7
Nama Author: Miss Ra

​"Aku menceraikanmu, Hana. Hari ini, detik ini, saat ini juga."

​Hana Anindita terpaku, tangannya yang gemetar mengusap perutnya yang sudah memasuki bulan ketujuh.

Di hadapannya, Bima Erlangga - pria yang berjanji akan menjaganya sehidup semati - menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.

Demi mengejar cinta masa lalunya yang kembali, Bima tega membuang belahan jiwanya sendiri. Bima mengira Hana akan bersimpuh di kakinya, memohon agar tidak ditinggalkan demi janin di rahimnya.

Namun, dugaannya salah besar. Hana hanya tersenyum tipis, mengemasi barang-barangnya, dan pergi tanpa menoleh lagi.

​Saat Bima mulai menyadari bahwa Clarissa tidak sesempurna bayangannya, dan saat Hana mulai bersinar di tangan pria lain, sanggupkah Bima menjilat kembali ludah yang telah ia buang?

Atau selamanya ia hanya akan menjadi orang asing bagi anak yang dulu ia tolak kehadirannya?

Kita simak cerita selanjutnya yuk di karya Novel => Karma Suami Durhaka.
By: Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

"Selamat datang kembali di perjalanan Hana. Terkadang, kita harus hancur terlebih dahulu untuk menemukan kekuatan yang sebenarnya. Di episode ini, kalian akan melihat kontras yang nyata antara nurani yang mati dan harapan yang baru saja tumbuh. Jangan lupa berikan dukungan kalian di kolom komentar agar Hana tetap kuat !"

.

.

Bau antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman Hana, membawanya kembali dari kegelapan yang pekat. Hal pertama yang ia rasakan adalah dinginnya cairan infus yang mengalir ke pembuluh darahnya, dan hal kedua yang paling penting adalah sebuah tekanan lembut di perutnya.

Hana tersentak, matanya terbuka lebar. Langit-langit putih dan lampu neon yang menyilaukan menyambutnya.

"Anakku..." suaranya parau, nyaris tidak terdengar.

"Tenanglah, Mbak. Bayi Anda selamat. Anda hanya mengalami kontraksi palsu akibat stres berat dan kelelahan akut."

Hana menoleh ke samping. Di sana berdiri seorang pria mengenakan kemeja putih dengan stetoskop yang melingkar di lehernya. Pria itu memiliki sorot mata yang teduh, sangat berbeda dengan tatapan tajam dan penuh penghakiman yang ia terima sepanjang hari kemarin.

"Dokter?" bisik Hana.

"Saya Adrian. Saya yang menemukan Anda di stasiun tadi," pria itu tersenyum tipis, mencoba memberikan rasa aman. "Tubuh Anda sangat lemah, Mbak. Nutrisi Anda buruk sekali. Jika terlambat sedikit saja, kita mungkin akan membicarakan hal yang berbeda sekarang."

Hana memejamkan mata, membiarkan air mata syukur mengalir di sudut matanya. Ia tidak mengenal pria ini, tapi di saat keluarga dan suaminya membuangnya, seorang asing justru mengulurkan tangan.

"Terima kasih, Dokter... terima kasih," isak Hana.

"Istirahatlah dulu. Setelah infus ini habis, kita akan bicara soal pemulihan Anda."

Pagi harinya, meski tubuhnya masih terasa seperti remuk, Hana memaksa diri untuk keluar dari rumah sakit. Ia tidak bisa tinggal lama-lama di Jakarta. Setiap sudut kota ini mengingatkannya pada penghinaan Bima dan penolakan ibu tirinya. Ia merasa Jakarta sedang mencoba mencekiknya.

Setelah membayar tagihan rumah sakit dengan sisa uang tunai yang ada di dompetnya, yang membuatnya meringis karena melihat saldonya kian menipis, Hana kembali ke rencana awalnya.

Ia akan pergi ke Desa Sukamaju, sebuah kota kecil di kaki gunung tempat almarhumah neneknya dulu tinggal. Di sana ada sebuah rumah tua kayu yang diwariskan kepadanya.

Rumah yang selama ini dianggap Bima sebagai sampah dan tidak layak dikunjungi. Namun bagi Hana, itu adalah satu-satunya benteng pertahanan yang tersisa.

Hana duduk di dalam kereta kelas ekonomi yang pengap. Ia tidak lagi peduli dengan daster hamilnya yang masih menyisakan noda lumpur samar di bagian bawah. Ia menatap ke luar jendela, melihat gedung-gedung tinggi Jakarta mulai menghilang, digantikan oleh hamparan sawah dan pepohonan hijau.

Di tangannya, ia memegang buku tabungan pribadi yang ia sembunyikan dari Bima selama ini. Isinya hanya beberapa juta rupiah, hasil dari sisa gajinya sebelum menikah.

Angka yang bagi Bima mungkin hanya seharga satu botol minuman keras, tapi bagi Hana, ini adalah napas untuk menyambung hidup bayinya.

"Kita akan baik-baik saja, Nak. Ibu janji," gumamnya sembari mengelus perutnya yang kini terasa lebih tenang.

~

Kontras dengan keheningan dan keprihatinan yang dialami Hana, di sebuah kelab malam eksklusif di jantung Jakarta, dentuman musik house menggetarkan dinding-dinding berlapis beludru.

Bima duduk di sofa VIP, dikelilingi oleh teman-temannya dan Clarissa yang menggelayut manja di bahunya. Di atas meja, botol-botol minuman mahal tertata rapi. Gelak tawa pecah setiap kali Bima menceritakan betapa "mudahnya" ia menyingkirkan Hana.

"Jadi benar-benar kau usir malam itu juga, Bim? Gila, dia kan lagi hamil tua," cetus salah satu teman Bima, antara kagum dan ngeri.

Bima meneguk wiskinya hingga tandas, lalu menyeringai sombong. "Wanita seperti Hana itu cuma butuh pelajaran. Dia pikir dia bisa mengikatku dengan alasan anak. Dia pikir aku tidak tahu kalau itu cuma trik supaya dia bisa terus menikmati fasilitas dariku."

"Tapi dia tidak menangis kan?" tanya Clarissa sambil mengelus rahang Bima. "Ingat tidak tadi pagi di pinggir jalan? Dia sombong sekali berdiri di sana seolah dia wanita paling suci sedunia."

"Sombong karena dia pikir aku akan mengejarnya," Bima tertawa keras, suaranya sedikit sengau karena pengaruh alkohol. "Paling-paling sekarang dia sedang menangis di emperan toko atau pulang ke rumah orang tuanya dan kena semprot ibu tirinya. Aku tahu persis bagaimana ibunya memperlakukan dia. Dia tidak punya pilihan selain kembali padaku dan bersujud meminta maaf."

"Dan kalau dia kembali?"

Bima menaruh gelasnya dengan dentuman keras. "Kalau dia kembali, aku akan pastikan dia masuk lewat pintu belakang. Dia harus tahu posisinya sekarang. Istri resmi di rumah ini adalah Clarissa."

Clarissa mencium pipi Bima dengan penuh kemenangan. Mereka bersulang untuk kebebasan Bima, tanpa tahu bahwa di saat yang sama, Hana baru saja turun dari angkutan pedesaan di sebuah desa yang terpencil.

~

Hana berdiri di depan sebuah pagar kayu yang sudah lapuk dan tertutup tanaman merambat. Di balik pagar itu, berdiri sebuah rumah panggung tua yang tampak menyedihkan. Gentingnya ada yang copot, dan debu tebal menutupi jendelanya.

Angin gunung yang dingin berembus, membuat Hana mengeratkan jaket tipisnya. Suasana di sini sangat sunyi, hanya ada suara jangkrik dan gemericik air sungai di kejauhan. Tidak ada lampu neon, tidak ada suara klakson, dan tidak ada Clarissa yang tertawa mengejek.

Hana mendorong pintu depan yang berderit nyaring. Bau kayu tua dan kenangan masa kecil menyeruak. Ia masuk ke dalam, menyalakan lampu kuning yang redup. Di sudut ruangan, terdapat sebuah foto tua neneknya yang sedang tersenyum.

Hana terduduk di lantai papan yang dingin. Ia kelelahan, lapar, dan takut. Namun, untuk pertama kalinya dalam empat puluh delapan jam terakhir, ia merasa bisa bernapas tanpa perlu waspada.

"Kita sudah sampai, Nak," bisiknya.

Tiba-tiba, ponsel jadul yang ia gunakan saat sebelum menikah dengan Bima, bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

"Mbak Hana, ini Adrian, dokter yang di stasiun. Saya menemukan kartu nama Anda jatuh di ambulans semalam. Saya hanya ingin memastikan, apakah Anda sudah sampai di tempat tujuan dengan selamat? Tolong jaga kesehatan, bayi Anda membutuhkan ibunya yang kuat."

Hana menatap layar ponsel itu lama sekali. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah juga. Bukan air mata kesedihan karena Bima, melainkan air mata karena ia menyadari bahwa di dunia yang kejam ini, Tuhan masih menyisakan orang-orang baik untuknya.

Hana mematikan lampu, berbaring di atas dipan tua dengan alas seadanya. Di luar, bintang-bintang mulai muncul menghiasi langit desa yang bersih.

Bima mungkin sedang berpesta, merasa telah memenangkan peperangan. Namun di rumah tua yang sunyi itu, Hana baru saja memulai sebuah revolusi. Revolusi seorang ibu yang akan mengubah rasa sakit menjadi kekuatan yang tak terkalahkan.

Bagaimana cara Hana bertahan hidup di desa dengan uang yang sangat minim? Dan apa yang akan dilakukan Bima saat ia menyadari bahwa Hana benar-benar menghilang dan tidak kembali mengemis padanya seperti yang ia bayangkan?

Ikuti terus perjuangan Hana yaaa...

...----------------...

To Be Continue....

1
Paw_chan🐾
mantap banget
frida
suka suka author.
tiba tiba saja udah gede
kadang manggil mama papa
kadang ayah ibu
kadang bapak ibu
besuk akan ada kejutan apalagi
frida
alur cerita bima menarik semoga tidak berantakan seperti alur cerita Hana
evana gusani
baru mampir
Cici Mamatoni
ini juga selalu ada akhiran disetiap episode..mending ceritanya aja dipanjangin kak...tulisan anda bagus loh...🙏✌
Cici Mamatoni
saya rasa epilog author terlalu banyak..jadi mengganggu cerita..mending ga usah ada
Raji Hamizan
uang hasil jual mobil kemana
Raji Hamizan
bujanya pengacarabya tahu hana dmn, bingung jadinya
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
assalamualaikum ka . bisa saling support aku penulis baru
Hasnawati 64
Kren ceritanya lanjutkan
Omah Opah
andai ada di dunia nyata laki berdasi seperti dr Adrian di novel baik hati dan mau mencintai wanita tanpa asal usul yang jelas 👍👍👍
Ungu Acova
buat Hana jadi cantik donk jangan cuma pake daster melulu, biar bima mnyesal
Raymatul Hanisa
ceritanya kebanyakan tentang Bima dan nadin
On-On Onsu Sukaedah
Nadin ga sepantasnya terus Bilang mas Gembel ke Bima
Mei Saroha
mantan CEO ngga ngerti bahasa receh Wong bule - agak aneh yaaa. secara emaknya juga hidup di London. othor menghina karakter Bima nih
Mei Saroha
nama tokonya beda lagi? bukan ska's kitchen?
Mei Saroha
tiba2 Adrian Tau aja nama bayinya hana
Mei Saroha
apakah pak pengacara juga menghilang ? 😄😁 othor nya nulis suka2 dia ajaaa... ngga sesuai kronologis ya udah dehh..
Sunarti Pridayani
lanjut kak
Raymatul Hanisa
bahasa minangnya : SIA BANA WAANG? 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!