Indonesia
NovelToon NovelToon
Detak Jantung Di Balik Jas Putih

Detak Jantung Di Balik Jas Putih

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sabia Sky

Menjadi korban perundungan dan anak broken home membuat Ardelia Aira Safira berharap kehidupan barunya di SMA Bangsa Indonesia berjalan tenang. Namun, segalanya berubah saat ia bertemu kembali dengan dr. Arkanza Dirgantara dokter muda dingin, tampan, sekaligus sahabat dari kakak iparnya.

​Berawal dari insiden yang menyelamatkan harga dirinya, Aira perlahan melihat luka masa lalu di balik sikap kaku sang dokter. Dengan kepolosan dan keberaniannya, Aira nekat mengejar Arkan. Namun bagi Arkan, perbedaan usia dan status Aira sebagai adik ipar sahabatnya adalah batas yang tak boleh dilanggar. Puncaknya, Arkan secara tegas menolak Aira serta menghancurkan hati gadis itu seketika.

​Namun, ketika Aira benar-benar memilih mundur dan menghilang, keheningan justru menyadarkan Arkan bahwa hidupnya yang monoton terasa hampa. Di antara dinding kaku rumah sakit dan riuhnya masa SMA, akankah Arkan tetap berpegang pada logika, atau menyerah pada hatinya yang mendadak kacau?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehangatan Sahabat dan Jarak yang Terbentang

​Dinginnya lorong rumah sakit seakan mengendapkan bisikan doa, air mata, serta hembusan napas yang tertahan. Di luar ruang perawatan intensif, Aira setia mendampingi Zara. Kakak laki-laki sahabatnya itu kembali harus masuk ruang rawat usai mendadak pingsan di rumah mereka tadi pagi. Kedua orang tua Zara tengah berada di luar kota untuk urusan pekerjaan sebuah realita yang sudah diakrabi Zara sejak kecil, di mana ia lebih banyak menghabiskan waktu bertumbuh bersama sang kakak.

​"Zara... Kita ke kantin dulu, yuk? Cari sarapan sebentar," ajak Aira lembut.

​Zara menggelengkan kepala pelan, menoleh pada Aira dengan sorot mata redup. "Aku belum lapar, Aira... Kamu sarapan duluan saja."

​Aira menatap raut cemas di wajah sahabatnya dengan hati teriris. Sejak lama Aira sudah mengetahui bahwa kakak Zara, Bimo, mengidap kelainan jantung bawaan lahir berupa Tetralogy of Fallot (TOF). Bimo pernah menjalani prosedur pemasangan alat pacu jantung serta ICD. Namun, kondisinya tak pernah benar-benar stabil, dan kini mendadak merosot tajam.

​Tadi pagi saat dilarikan ke IGD, Bimo mengalami serangan Tet Spell. Bibir dan ujung-ujung jarinya mendadak sianosis, napasnya tersengal parah, hingga akhirnya hilang kesadaran akibat kadar oksigen dalam darahnya anjlok drastis. Tindakan darurat segera dilakukan penanganan medis pemberian oksigen aliran tinggi, injeksi obat penenang serta beta-blocker melalui infus untuk merelaksasikan otot jantung, hingga memposisikan kedua kakinya ditekuk ke dada demi memicu aliran darah kembali ke paru-paru. Setelah krisis terlewati secara darurat, Bimo langsung dipindahkan ke ICU untuk pemantauan ketat.

​"Mama sama Papa kamu masih di jalan?" tanya Aira sembari membelai lembut kepala Zara.

​"Iya, mereka membatalkan acara di Semarang dan langsung meluncur balik ke sini begitu tahu Kak Bimo drop lagi."

​Tak lama kemudian, Arkan melangkah menghampiri mereka. Kendati bukan dokter penanggung jawab Bimo, Arkan berinisiatif membantu mencari opsi penanganan terbaik agar Bimo bisa segera mendapatkan tindakan operasi permanen.

​"Salah satu profesor di kampus saya merekomendasikan dokter spesialis bedah jantung anak dan bawaan senior di rumah sakit Singapura," ujar Arkan membuka pembicaraan. "Melihat kondisi Kak Bimo yang terus mengalami krisis sianotik akibat penyakit Tetralogy of Fallot-nya, serangan ini bisa berulang dan berisiko fatal. Saya sangat menyarankan agar segera dilakukan operasi korektif total open-heart surgery untuk menambal kebocoran dinding jantung dan memperlebar jalur pembuluh darah ke paru-parunya. Saya sudah mengirimkan seluruh rekam medis Kakakmu ke sana."

​Saat Arkan menerangkan, Bayu dan Panji muncul tergesa-gesa. Keduanya tampak panik melihat wajah pucat Zara.

​"Bang... Bagaimana kondisi kakaknya Zara?" tanya Bayu cemas.

​Arkan menggeleng kecil, lalu mengalihkan pandangan pada Zara untuk menunggu keputusan. "Keputusan harus diambil secepatnya agar jadwal operasi di sana bisa diprioritaskan. Kamu bisa menandatangani formulir persetujuan awal ini sebagai perwakilan keluarga." Arkan menyodorkan berkas dan sebatang pulpen.

​Zara menerima lembaran itu dan membacanya perlahan. Namun, ketika Arkan menyodorkan pulpen, tangannya mematung.

​"Tanda tangan dulu saja, Zara. Ini demi kebaikan Kak Bimo juga. Nanti kamu tinggal beri tahu Papa dan Mama kamu di jalan," desak Panji pelan.

​Zara menatap ketiga sahabatnya bergantian, lalu beralih menatap Arkan. Dengan gerakan perlahan, ia mengembalikan lembaran berkas dan pulpen itu ke tangan Arkan.

​"Maaf, Dokter... Zara bukan adik kandung Kak Bimo. Biar keputusan ini diambil oleh Mama dan Papa nanti. Mereka orang tua kandung Kak Bimo," tutur Zara lirih lalu berdiri.

​Arkan, Bayu, dan Panji membeku seketika. Di antara mereka, hanya Aira yang tak terkejut sebab ia sudah sejak lama menyimpan rahasia tersebut.

​Zara memutar badan dan melangkah pergi menyusuri lorong.

​"Zara... anak angkat?" bisik Panji tak percaya.

​"Aku... aku sebenarnya sempat curiga waktu lihat foto keluarga di rumahnya. Tidak ada foto masa kecil Zara, cuma ada satu foto keluarga lengkap yang tampak baru," gumam Bayu menatap punggung Zara yang menjauh.

​"Kamu sudah tahu soal ini?" tanya Arkan menatap Aira.

​Aira mengangguk pelan. "Karena itu Aira selalu berusaha memastikan Zara tidak merasa sendirian..."

​Arkan merapikan berkasnya dan memasukkan kembali pulpen ke saku jas jas medisnya. "Susul dia sekarang. Biar saya yang menunggu orang tuanya datang untuk berdiskusi."

​Aira mengangguk, melempar pandang menguatkan pada Panji dan Bayu, lalu bergegas menyusul langkah Zara.

𓆝 𓆟 𓆜 𓆞 𓆝 𓆟 𓆜 𓆞𓆝 𓆟 𓆜 𓆞

​Aira menemukan Zara sedang duduk menyendiri di deretan kursi taman luar gedung rumah sakit. Gadis itu menunduk dalam, menutupi seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tak ada isakan yang terdengar, namun bahunya bergetar pelan.

​Tanpa mengusik dengan pertanyaan, Aira melangkah mendekat dan duduk di sampingnya, lalu merangkul dan mengelus lembut punggung sahabatnya.

​Zara tak mampu lagi menahan benteng ketahanannya. Ia berbalik, memeluk Aira erat-erat dan meluapkan tangisnya di ceruk leher Aira. Tanpa disadari, air mata Aira ikut menetes.

​"Kamu... kenapa ikut menangis?" tanya Zara serak, mendongakkan kepala menatap Aira.

​"Aku mana bisa lihat sahabatku menangis tanpa ikut menangis..." sahut Aira terisak, lalu tanpa berdosa mengusap air matanya ke tepi kain hijab Zara.

​Zara yang tadinya sedih mendadak membelalak. "Menangis boleh, tapi jangan usap air matamu ke hijabku! Ini baru beli!"

​"Maaf... Nanti aku suruh Bayu belikan hijab baru yang kualitas premium sekalian," seloroh Aira cengengesan di balik sisa air matanya.

​Zara tersenyum tipis di tengah napasnya yang masih tersengal. Tak lama, Panji dan Bayu muncul menghampiri mereka.

​"Astaga... Pelukan di tempat umum, sama-sama cewek lagi. Kita sebagai laki-laki merasa tidak berguna ya, Bay?" celetuk Panji mencoba mencairkan suasana.

​"Kau mau kupeluk juga?" tawar Bayu penuh ancaman, menatap ngeri Panji.

​"Kalian berdua mau aku peluk tidak?" tanya Panji beralih pada Zara dan Aira.

​PLAK!!!!

​Bayu mendaratkan jitakan mulus di belakang kepala Panji. Zara terkekeh kecil menyaksikan keusilan dua temannya itu, membuat dada Aira terasa jauh lebih lega.

​"Nah, pesanan ayam geprekku sudah sampai! Aku ambil ke depan dulu ya, kalian jangan ke mana-mana, kita makan bareng!" seru Bayu usai mengecek ponselnya, lalu melesat pergi menuju gerbang.

​"Bayu pesan ayam geprek?" tanya Aira heran.

​"Bukan dia yang pesan, tapi Bang Arkan," sahut Panji.

𓆝 𓆟 𓆜 𓆞 𓆝 𓆟 𓆜 𓆞𓆝 𓆟 𓆜 𓆞

​Beberapa saat kemudian, Aira, Bayu, Panji, dan Zara sudah memboyong empat kotak ayam geprek ke dalam ruang kerja Arkan yang kebetulan sedang kosong karena sang dokter tengah menangani pasien. Mereka menggelar karpet di lantai dan duduk melingkar.

​"Ini yang pesan Kak Arkan, tapi kenapa dia tidak ikut makan?" tanya Aira sembari membuka bungkus nasinya.

​"Dia masih ada jadwal jaga. Lagipula Bang Arkan mau pesan karena aku yang minta," pamer Bayu.

​"Kau memalak abangmu sendiri?" selidik Panji.

​"Bukan memalak! Tadi aku cuma bilang ke Bang Arkan kalau Aira kirim pesan ke aku bilang ingin makan ayam geprek. Eh, tahu-tahu Bang Arkan langsung bilang pesan sekalian buat kita berempat. Ya ada rezeki masa aku tolak?" beber Bayu tanpa rasa bersalah.

​"Sialan kau, Bayu! Sejak kapan aku ada kirim pesan minta ayam geprek?!" semprot Aira tak terima.

​"Sudah, terima saja! Makanan sudah di depan mata begini. Lagipula Bang Arkan tidak bakal bangkrut cuma gara-gara belikan kita empat porsi ayam geprek. Papanya saja yang punya rumah sakit ini," balas Bayu santai sembari menggigit ayamnya.

​Zara dan Panji tertawa melihat pertengkaran rutin dua manusia itu.

​Di tengah suapan, Zara mendadak meletakkan sendoknya, menatap ketiga sahabatnya dengan sorot mata penuh haru.

​"Terima kasih ya, kalian sudah mau jadi sahabat terbaikku..." ucap Zara tulus.

​Bayu menghentikan kunyahannya, Panji yang sedang meneguk air mineral ikut terpaku, sementara Aira mengacungkan jempolnya yang dipenuhi bumbu sambal.

​"Sebenarnya... aku sudah tahu fakta kalau aku anak angkat sejak kelas 3 SMP," aku Zara pelan, menundukkan pandangan. "Waktu itu kami belum pindah ke kota ini. Aku tidak sengaja mendengar percakapan Papa dan Mama. Padahal selama ini... mereka selalu memperlakukanku dengan sangat baik. Kasih sayang mereka tidak pernah dibeda-bedakan dari Kak Bimo."

​Ketiga temannya menyimak dalam hening.

​"Waktu pertama tahu, aku sempat kecewa dan nekat lari dari rumah. Aku mau cari tahu siapa orang tua kandungku. Tapi Papa dan Mama jelaskan kalau sewaktu pertama kali menemukanku, aku dalam keadaan terluka dan terlantar. Mereka sudah melapor ke polisi dan mencari ke mana-mana tapi tidak pernah ada kejelasan," lanjut Zara menghela napas panjang. "Sekarang aku sudah menerima takdirku. Sebagai bentuk rasa terima kasih, aku cuma mau memberikan yang terbaik lewat prestasi, bikin mereka bangga, dan dapat beasiswa supaya tidak membebani mereka."

​Tiba-tiba, Panji mengusap matanya heboh. "Huwaaa! Aku juga sama, Zar! Sampai sekarang aku tidak yakin kalau aku ini anak kandung orang tuaku!"

​Bayu mengernyit heran. "Kenapa lagi kau?"

​"Masa aku dua hari tidak pulang ke rumah, orang tuaku tidak ada yang mencari?! Terus kemarin waktu aku minta motor baru tidak dibelikan, malah adikku yang dibelikan! Sepertinya aku ini anak tiri yang dibuang... Huwaaa!" ratap Panji dramatis.

​"Ya kau tidak dicari karena mereka tahu kau menginap di studioku! Lagipula adikmu dibelikan motor baru itu karena motor lamanya kamu jual diam-diam buat biaya modifikasi motormu sendiri! Makanya jadi anak itu tahu diri, biar tidak berasa dianaktirikan!" tembak Bayu tanpa ampun.

​Gelak tawa Zara dan Aira seketika pecah memecah ketegangan.

​"Lho, kau juga sama saja, Bay!" balas Panji tak mau kalah. "Punya rumah besar dan kamar yang lebih luas dari ruang tamu rumahku, tapi malah sering menginap di studio! Kamu sering diusir ya sama Papa Mamamu?"

​"Aku cuma malas di rumah karena pasti diomeli Mama kalau tahu nilaiku jelek. Tapi tenang saja, sekarang sudah lulus, aku bakal bebas! Lagipula untuk sementara ini aku tinggal di rumah Bang Arkan," ujar Bayu bangga.

​"Kau tinggal di rumah Kak Arkan?" tanya Aira terkejut.

​"Iya, mumpung abang sepupuku itu belum menikah, jadi aku bebas bolak-balik menginap di sana."

​"Kalau Dokter Arkan sudah menikah sama Aira, yang ada kamu diusir sebelum sempat ketuk pintu," celetuk Zara tertawa.

​"Tenang saja! Aku yakin Aira tidak bakal tega mengusirku kalau nanti dia jadi calon istrinya Bang Arkan. Ya kan, Aira? Kamu mau angkat aku jadi anak kalian, kan?" goda Bayu mengedipkan mata.

​"Dih! Sudi amat punya anak bentukan begini! Ganteng kagak, menyusahkan iya! Ya Tuhan... jauhkanlah aku dari makhluk ini!" cerocos Aira mengangkat kedua tangannya.

​"Papa kamu ada di mana, Bay? Biasanya jam segini suka menyusul ke studio?" tanya Panji mengalihkan topik.

​"Papa masih di Malang, ada acara seminar di universitas sana."

𓆝 𓆟 𓆜 𓆞 𓆝 𓆟 𓆜 𓆞𓆝 𓆟 𓆜 𓆞

​Mereka berempat menyelesaikan makan malam kecil itu dengan ceria. Namun, baru saja Aira hendak meneguk air mineralnya, pintu ruangan mendadak terbuka. Arkan berdiri di ambang pintu dengan jas putihnya.

​"Aira, setelah ini kamu ikut saya," ujar Arkan datar.

​"Sekarang?" tanya Aira masih memegang botol minumnya. Sejujurnya, rasa canggung dan kekesalan akibat percekcokan mereka di kampus beberapa hari lalu belum sepenuhnya luntur.

​"Setelah selesai makan."

​"Baiklah," sahut Aira setelah selesai minum langsung berdiri.

​"Kamu serius sudah selesai makan, Ra?" tanya Bayu polos.

​"Kamu lihat sendiri makananku sudah habis tak bersisa!"

​"Tapi itu... Ada yang menyelip di gigimu bekas cabai tadi," tunjuk Bayu serius.

​Panik, Aira spontan meraih cermin kecil dari tasnya dan membuka mulut lebar-lebar. Namun, piringnya bersih dan tak ada apa pun di giginya. Ia sadar telah dikerjai.

​Gelak tawa Panji, Zara, bahkan Arkan pecah menyaksikan ekspresi panik Aira yang polos.

​"Bayu cuma mengerjaimu," pangkas Arkan menahan senyum.

​Aira menatap Bayu dengan tatapan membunuh. Ia mengemasi cerminnya dan mengepalkan tangan. "Bayu... Hari ini juga aku sendiri yang bakal mengantarmu ke Unit Gawat Darurat!"

​"Ampun, Aira! Ingat, aku ini calon anakmu kalau kamu menikah sama Bang Arkan!" jerit Bayu langsung melompat berdiri dan berlari mengitari karpet.

​"Oh! Mau jadi anakku?! Sini, Nak! Biar Ibu ajarkan sopan santun!" seru Aira mengejar Bayu berputar-putar di dalam ruangan.

​Panji dan Zara menggelengkan kepala cuek membersihkan sisa makanan mereka, sementara Arkan memijat pelipisnya menatap kekacauan di ruang kerjanya.

​"Dokter... Itu calon istri sama anak tidak ditengahi dulu? Nanti barang-barang medis di sini bisa pecah semua," goda Zara lirih.

​"Saya lebih baik cari calon istri dan anak baru saja kalau begini," sahut Arkan datar lalu berbalik melangkah keluar.

​Aira tak memedulikan gurauan itu dan terus mengejar Bayu hingga pemuda itu tersandung kaki meja dan ambruk telentang memegangi dadanya yang terengah-engah.

​"Akhirnya karma instan! Makanya jangan suka mengerjaiku!" sorak Aira puas.

​"Sudah, Ra... Lebih baik kamu hampiri Dokter Arkan, dia sudah menunggu di luar," lerai Zara.

​Aira menyempatkan diri menyembulkan kepalanya di balik pintu, menunjuk Bayu. "Urusan kita belum selesai, Bayu!"

​"Siap-siap saja... Habis ini kita urus pemakaman Bayu," kompor Panji.

​"Semoga tenang di alam sana ya, Bay," timpal Zara melangkah keluar bersama Panji untuk membuang sampah.

​"Sialan kalian semua!" umpat Bayu kehabisan napas di lantai.

𓆝 𓆟 𓆜 𓆞 𓆝 𓆟 𓆜 𓆞𓆝 𓆟 𓆜 𓆞

​Aira menyusuri koridor hingga menemukan sosok Arkan sedang duduk menyendiri di bangku taman rumah sakit. Ia melangkah mendekat.

​"Ada apa, Kak?" tanya Aira berdiri di hadapannya.

​"Duduklah," tutur Arkan pelan.

​Aira melangkah dan duduk di samping sang dokter, memberikan jarak yang cukup renggang di antara mereka.

​Arkan menghela napas pendek, menatap lurus ke depan. "Saya mau minta maaf soal kejadian waktu itu. Saya sudah memarahi dan menyalahkanmu. Saya hanya... tidak ingin kamu mendapat masalah saat mulai berkuliah nanti."

​Aira mengukir senyum tipis, raut wajahnya tampak dewasa dan berjarak. "Tenang saja, Kak. Aira bisa mengatasinya sendiri, tidak perlu khawatir."

​Keheningan melingkupi mereka berdua. Tak ada lagi topik yang mengalir, hanya desir angin sore yang menerpa dedaunan taman.

​Merasakan ketidaknyamanan dalam kebisuan itu, Aira berinisiatif bangkit. "Kalau tidak ada yang perlu dibahas lagi, Aira permisi dulu, Kak."

​Tanpa menunggu jawaban atau respon Arkan, Aira berbalik dan melangkah pergi meninggalkan area taman.

​Arkan menatap dalam siluet punggung Aira yang perlahan menjauh dan menghilang di balik belokan lorong. Ada rasa asing yang mendadak menghimpit dadanya. Sikap Aira yang kini jauh lebih tenang dan menjaga jarak sama persis apa yang pernah ia harapkan. Namun, mengapa berada dalam jarak yang tercipta ini justru membuat hatinya terasa begitu hampa?

​Bersambung__

_____

1
Best
jangan lupa mampir balik😁
id IG: sabia.sky: ditunggu✨
total 1 replies
Best
semangat up kak..
Best
lanjut Thor.. ✨
Best
maksa ya aira🤣
Best
kalau aku sih jadi Aira udah aku gampar mulutnya
Best
negosiasi kaya jualan aja ya aira
Best
parah nih Aira. kasian mamanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!