Indonesia
NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dewa Pedang

Reinkarnasi Dewa Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bajing33

Di puncak kejayaannya, Ye Xuan — dijuluki Dewa Pedang Sembilan Langit — nyaris mencapai keabadian sejati setelah tiga abad menempa jalan pedang tanpa tanding. Namun pada malam pendakiannya, saudara seperguruan yang paling ia percaya menikamnya dari belakang, bersekongkol dengan kekuatan tersembunyi yang selama ini bergerak dalam bayangan. Jiwanya tercerai-berai, terlempar melintasi ruang dan waktu selama tiga ratus tahun.
Kini, jiwa itu terbangun di dalam tubuh Lin Mu, putra bungsu Klan Lin yang dianggap sampah — pemuda tujuh belas tahun dengan meridian yang rusak parah, sasaran hinaan seluruh kota kecil di Perbatasan Utara, dan baru saja dipukuli setengah mati oleh tunangannya sendiri dari Klan Zhao di depan umum.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 — Menuju Puncak Turnamen

Setelah kehebohan penemuan gua tersembunyi mereda, jadwal pertandingan individu tetap berlanjut sesuai rencana, meski kini diawasi jauh lebih ketat oleh pasukan gabungan dari ketiga sekte yang berpatroli di sekeliling area acara siang dan malam.

Babak ketiga dan keempat berlalu dengan cepat bagi Lin Mu. Ia mengalahkan seorang murid Sekte Lembah Naga yang mengandalkan jurus banteng mengamuk hanya dengan memanfaatkan momentum serangan lawan sendiri untuk membalikkan keseimbangannya, lalu menundukkan seorang murid senior Sekte Puncak Kilat yang mencoba jurus badai petir berskala luas dengan cara sederhana—mendekat secepat mungkin sebelum jurus itu sempat terkumpul penuh, membuktikan sekali lagi bahwa jarak dan waktu sering menjadi senjata lebih ampuh dibanding kekuatan mentah semata.

Han Zhengyu dan Su Wan juga terus melaju, meski dengan perjuangan yang jauh lebih berat dibanding Lin Mu—Han Zhengyu harus melalui pertarungan alot melawan murid senior Lembah Naga sebelum akhirnya menang di detik-detik terakhir, sementara Su Wan mulai menghadapi lawan-lawan yang telah mempelajari cara mengabaikan ilusi visualnya, memaksanya berinovasi dengan menggabungkan ilusi dan serangan fisik langsung untuk tetap melaju.

Pada hari ketiga, hanya delapan peserta yang tersisa dari sembilan puluh peserta awal—empat dari masing-masing dua sekte, dan dua dari Sekte Awan Putih: Lin Mu dan Han Zhengyu.

Papan pertandingan babak perempat final ditempel menjelang siang, memicu gumaman riuh dari seluruh tribun begitu nama-nama pasangan pertandingan diumumkan.

Lin Mu melawan Lei Zhen.

"Akhirnya," Han Zhengyu bergumam di samping Lin Mu, menatap papan itu dengan campuran antusias dan sedikit kekhawatiran. "Pertandingan yang seluruh lembah ini tunggu-tunggu sejak hari pertama."

Lin Mu menatap nama itu dengan tenang, mengingat kembali sekilas pertemuan pandangnya dengan Lei Zhen di hari pertama kedatangan mereka—senyum penuh percaya diri yang tak sepenuhnya meremehkan, tanda seseorang yang benar-benar yakin akan kekuatannya sendiri, bukan sekadar kesombongan kosong.

Pertandingan itu dijadwalkan berlangsung sore hari, memberi waktu bagi Lin Mu untuk beristirahat sejenak dan mengumpulkan pikirannya di tepi lembah, jauh dari keramaian tribun yang mulai memenuhi arena lebih awal dari biasanya, semua ingin mendapat tempat terbaik untuk menyaksikan pertandingan yang dianggap sebagai laga sesungguhnya dari seluruh turnamen tahun ini.

Xuan Bo menemuinya di sana, membawa dua cangkir teh hangat, menyerahkan satu pada Lin Mu sebelum duduk di batu sebelahnya.

"Lei Zhen bukan sekadar bakat alami," Xuan Bo berkata, menyesap tehnya perlahan. "Ia telah dilatih sejak usia lima tahun oleh Tetua Agung Puncak Kilat sendiri, mempelajari Jurus Petir Sembilan Guntur—teknik yang bahkan sekte kami sendiri hanya memiliki catatan sebagian tentangnya. Kecepatan dan kekuatan serangannya di level realm-nya sekarang mungkin yang terbaik dari seluruh generasi mudanya dalam satu dekade terakhir."

"Aku sudah memperhatikannya sejak hari pertama," Lin Mu menjawab, menatap cangkir tehnya yang mengeluarkan uap tipis. "Ada sesuatu tentang cara ia bergerak, cara ia mengamati lawan-lawannya sebelum bertarung. Ia tidak hanya mengandalkan kekuatan mentah—ia benar-benar memahami setiap pertarungan yang ia jalani."

"Kau menghormatinya," Xuan Bo berkomentar, sedikit terkejut mendengar nada suara Lin Mu.

"Lawan yang layak dihormati selalu membuat pertarungan menjadi lebih bermakna," Lin Mu menjawab, tersenyum tipis. "Aku sudah lama tidak menghadapi lawan yang benar-benar memaksaku mengeluarkan kemampuan penuh sejak... sudah lama sekali."

Xuan Bo menatapnya lama, mencoba membaca makna tersembunyi di balik kalimat terakhir itu, namun akhirnya memilih untuk tidak bertanya lebih jauh, seperti biasa membiarkan misteri masa lalu muridnya itu tetap tersimpan untuk saat yang tepat.

"Menangkan atau kalah," Xuan Bo akhirnya berkata, bangkit dari batu duduknya, "kau sudah membawa kehormatan besar bagi Sekte Awan Putih hanya dengan mencapai babak ini, Lin Mu. Aku bangga menjadi mentormu."

Lin Mu membungkuk hormat, menghabiskan sisa tehnya sebelum akhirnya bangkit juga, menatap ke arah arena yang kini mulai dipenuhi sorak sorai ribuan penonton yang telah menunggu momen ini sejak awal turnamen.

Tiga abad lalu, pikirnya, melangkah menuju arena dengan pecahan Penakluk Fajar tergenggam erat, aku bertarung demi kekuasaan dan pengakuan sebagai yang terkuat. Hari ini, aku hanya ingin merasakan lagi kegembiraan sederhana dari sebuah pertarungan yang benar-benar seimbang.

Ia melangkah ke tengah arena, di mana Lei Zhen sudah menunggu, aura petir tipis berkilat samar di sekelilingnya, senyum tenang yang sama seperti hari pertama mereka bertemu masih terukir di wajahnya.

"Aku sudah menunggu momen ini sejak hari pertama," Lei Zhen berkata, mencabut pedang pendeknya yang berkilau kebiruan. "Tunjukkan padaku, Lin Mu dari Sekte Awan Putih, apakah reputasimu memang sepadan dengan rasa penasaranku."

"Mari kita cari tahu bersama," Lin Mu menjawab, mengangkat pecahan Penakluk Fajar, bersiap menghadapi pertarungan yang telah ditunggu seluruh lembah itu.

1
Ilham Yono
mulai ada titik terang
semngat thor/Determined/
Ilham Yono
hem ...cukup menegangkan/Determined/
Ilham Yono
👍👍👍👍👍 good
Ilham Yono
langkah cerdik🤯
Ilham Yono
alur cerita bagus ..laut cerita yang runtut, tidaknyerlalu cepat dan tidak lambat juga..nice story
Ilham Yono
nice ude, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh
Aisyah Suyuti
seru
Ilham Yono
di tunggu Thor lanjutannya
Ilham Yono
ada ancaman tersembunyi
Ilham Yono
fightings
Ilham Yono
good battle
Ilham Yono
finely
Ilham Yono
musuh yang bergerak dibalik bayangan/Grimace//Joyful/
Ilham Yono
hem...aula bayangan... Shadow recruit
Ilham Yono
aula bayangan muncull assassin's mo yin
Ilham Yono
feeling good
Ilham Yono
bahaya mengintai
Ilham Yono
good feeling
Ilham Yono
hem/Facepalm//Determined/
Ilham Yono
hem.....musuh bergerak dalam bayangn/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!