Zivana dan Aidil sudah menikah tiga tahun. Dan saat itu Aidil adalah seorang duda anak dua, sedangkan Zivana merupakan wanita yang pernah bekerja di salah satu butik ibu Aidil. Selama pernikahan mereka, Aidil memang belum mencintai Zivana, terlebih saat itu mereka menikah karena keinginan ibu Aidil yang kasihan melihat kedua cucunya yang masih kecil. Amora yang saat itu baru berusia dua tahun dan Khaisar lima tahun.
Selama tiga tahun Zivana menjadi sosok ibu dan istri yang begitu mencintai kedua anak-anak Aidil. Namun sayangnya, Zivana belum bisa mendapatkan hati Aidil, walau pria itu selama tiga tahun selalu bersikap baik padanya. Hanya saja, selama itu pula Aidil belum berani menyentuh Zivana.
Hingga menjelang tiga tahun pernikahan mereka akhirnya Stela, mantan istri Aidil yang pernah meninggalkannya kembali. Dan berusaha merebut perhatian kedua anak dan mantan suaminya.
Apa yang akan terjadi dengan pernikahan Zivana dan Aidil? Akankah mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zivana 16
"Waktu Khaisar demam tinggi dan nangis cari Mama, Mama ke mana? Waktu aku memohon agar Mama tidak pergi, apa Mama berbalik dan membatalkan kepergian Mama?Waktu Amora jatuh dan berdarah, yang peluk dan obati Amora cuma Bunda Ziva!"
Stela tersentak, wajahnya sempat menegang sejenak sebelum ia kembali menyusun raut wajah memelas. Ia memegang kedua bahu Khaisar, menggelengkan kepala dengan tangisan yang kian keras.
"Mama minta maaf, Nak... Mama sakit waktu itu, Mama harus pergi berobat..." bohong Stela telak demi menyelamatkan imejnya di depan Aidil dan anak-anak.
"Tapi sekarang Mama sudah sembuh. Mama datang untuk tebus semua waktu yang hilang. Mama sayang sekali sama Khaisar dan Amora... Lebih dari apa pun di dunia ini!"
Stela lalu mengalihkan pandangannya pada Amora yang masih bersembunyi. Ia meraih salah satu kotak hadiah besar dan membukanya, memamerkan sebuah boneka beruang raksasa yang sangat mahal.
"Amora... lihat, Mama bawakan boneka besar sekali untuk Princess Mama," ujar Stela dengan senyum paling hangat yang dipaksakan.
"Sini, Sayang... peluk Mama..."
Amora mengintip dari balik kaki Aidil. Bukannya mendekat, bocah kecil itu justru makin erat memeluk kaki ayahnya dan menggelengkan kepala takut-takut.
"Tidak mau..." bisik Amora lirih, suaranya hampir tak terdengar.
"Adek mau pulang... mau ketemu Bunda Ziva."
Degh
Nama Zivana yang keluar dari bibir mungil Amora bagai tamparan keras di wajah Stela. Warna merah padam sempat melintas di leher Stela sebelum ia buru-buru menutupi amarahnya dengan raut wajah terluka yang amat sangat.
"Dil..." Stela mendongak menatap Aidil dengan mata yang digenangi air mata penyesalan palsu.
"Lihat anak-anak kita... mereka asing sekali denganku. Ini pasti karena... karena mereka terlalu terbiasa dengan Zivana, kan? Apa Zivana sering cerita yang buruk tentang aku ke mereka?"
Aidil mendesah berat, dadanya makin bergemuruh oleh rasa bersalah pada Stela. Ia merasa kasihan melihat mantan istrinya yang tampak begitu meratapi nasib dan merindukan anak-anaknya.
"Tidak, Stela... Ziva tidak pernah bicara buruk tentangmu pada anak-anak," bela Aidil pelan, meski dalam hatinya ia merasa bersalah karena Zivana memang yang selama ini mengobati luka anak-anak.
"Lalu kenapa mereka seperti ini, Dil?!" tangis Stela makin menjadi, melingkarkan tangannya di pinggang Khaisar meski bocah itu berontak kaku.
"Aku ini ibu kandung mereka! Darah dagingku! Izinkan aku ikut pulang ke rumah, Dil... Tolong... izinkan aku masakan untuk mereka malam ini saja. Aku mau merawat anak-anakku sendiri..."
"Tidak bisa, Stela," tahan Aidil cepat, panik membayangkan jika Stela datang ke rumah dan bertemu Zivana.
"Ziva ada di rumah. Situasinya tidak memungkinkan."
Stela bangkit berdiri, menatap Aidil dengan tatapan memelas yang mengunci pandangan pria itu. Ia maju mendekati Aidil, memegang lengan pria itu dengan lembut dan intuitif, sebuah sentuhan familiar yang dulu selalu membuat Aidil luluh.
"Kalau begitu... kamu yang bantu aku mendekatkan diri lagi pada anak-anak, ya?" bisik Stela lembut, matanya menatap bibir dan mata Aidil bergantian.
"Sering-sering bawa mereka bertemu denganku tanpa Zivana. Kita perbaiki keluarga kita pelan-pelan, Dil... Demi anak-anak. Dan... demi perasaan kita yang belum selesai. Biarkan aku datang ke rumah dan tinggal dengan kalian, agar aku juga bisa mengurus mereka. Aku ingin anak-anak kembali menyayangiku. Aku ibu kandungnya, bukan Zivana. Aku janji aku tak menginap di ruamh kalian, aku hanya ingin mengurus mereka, makan dan juga kebutuhan sekolah mereka... Aku juga akan kembali belajar menjadi istri kamu yang baik. Aku tak akan seperti dulu, aku akan belajar menyiapkan segalanya. Kita kembali... Kembali menjadi keluarga seutuhnya ya, Aidil... Aku mohon, kamu juga masih sayang padaku kan?"
Aidil membeku. Sentuhan jemari Stela di lengannya dan tatapan mata wanita itu menyulut kembali gejolak cinta masa lalu yang memang belum pernah padam di dadanya. Rasa bersalah pada Zivana sempat berbisik menyuruhnya menolak, namun pesona Stela dan nostalgia keluarga utuh membuat bibir Aidil akhirnya mengangguk pelan tanpa sadar.
"Aku akan bicarakan dulu dengan Zivana..."
"Tidak perlu, dia bukan siapa-siapa! Aku adalah ibu dari anak-anak kita! Aku tak mau kalau sampai Zivana terus meracuni pikiran anak-anak agar terus membenciku!"
"Tapi, Stela.... Zivana itu masih istriku..."
"Kalau begitu, kamu segera ceraikan dia, dan kembali padaku! Kamu tak mencintainya, kamu hanya mencintaiku, Aidil..."
Sentuhan lembut Stela di lengan Aidil perlahan berubah menjadi cengkeraman halus namun penuh dominasi. Tatapan mata wanita itu terkunci rapat pada iris mata Aidil, memancarkan amarah yang terbungkus rapi oleh keputusasaan yang manipulatif.
"Aidil, dengarkan aku!" desis Stela, memotong keraguan pria itu.
"Berapa lama lagi kamu mau bertahan dalam kepura-puraan ini? Kamu pikir kamu bisa membohongi dirimu sendiri? Kamu membawa Zivana ke dalam rumah itu hanya sebagai pelarian saat aku pergi! Tapi sekarang aku sudah kembali, Dil. Ibu dari anak-anakmu sudah ada di sini, wanita yang kamu cintai sampai detik ini, sayang!"
"Stela, ini tidak semudah itu..." bisik Aidil panik, matanya melirik ke arah Khaisar yang sedang memeluk erat Amora di sudut ruangan.
"Zivana sudah mengurus anak-anak selama tiga tahun. Rumah tangga kami..."
"Rumah tangga yang dibangun di atas bayang-bayangku!" potong Stela tajam, suaranya bergetar menahan tangis yang terasa amat nyata bagi Aidil.
"Kamu mencintaiku, Aidil. Detak jantungmu saat aku menyentuhmu tidak pernah bohong. Bawa aku pulang ke rumahmu malam ini. Biarkan aku memasakkan makan malam untuk anak-anak, biarkan aku membuktikan kalau aku bisa menjadi ibu dan istri yang utuh untukmu!"
Aidil membeku. Logikanya benar-benar tumpul dihadapan dominasi Stela dan bayangan masa lalu yang kembali meretas benteng pertahanannya. Sifat pengecutnya menang. Dengan desahan napas berat yang sarat akan kekalahan, Aidil mengangguk pelan.
"Baik..." bisik Aidil pasrah. "Tapi hanya untuk makan malam, Stela. Jangan buat keributan di depan Zivana."
"Aku janji, Sayang," sahut Stela mantap, menyunggingkan senyum kemenangan yang tersamar rapi.
Khaisar, yang mendengar keputusan ayahnya dari jarak dekat, mendadak berteriak histeris. "ENGGAK MAU! AYAH JAHAT! KHAISAR GAK MAU WANITA INI IKUT PULANG!"
"Khaisar, cukup!" tegur Aidil dengan nada tinggi karena panik dan malu.
"Mama Stela cuma mau masak makan malam untuk kita! Jangan tidak sopan pada Mama kandungmu sendiri!"
Bocah tujuh tahun itu menatap ayahnya dengan pandangan tak percaya dan ketakutan mendalam, sementara Amora sudah menangis terisak-isak di sampingnya. Namun Aidil seolah menutup mata dan telinganya. Ia menyambar kunci mobil, menuntun kedua anaknya secara paksa, sementara Stela berjalan anggun di sampingnya dengan binar kemenangan yang tak lagi tersembunyi.
Tiga puluh menit kemudian, sedan hitam milik Aidil berhenti tepat di garasi rumah. Suasana rumah tampak terang, wangi masakan Zivana yang menenangkan samar-samar tercium hingga ke luar.
Zivana yang mendengar deru mesin mobil melangkah menuju pintu utama dengan senyuman hangat, siap menyambut suami dan kedua anak sambungnya. Namun, begitu pintu kayu besar itu terbuka, senyuman di wajah Zivana seketika membeku.
Di hadapannya, Aidil berdiri dengan raut wajah tegang. Dan tepat di samping pria itu, Stela berdiri dengan gaun mewahnya, menatap Zivana dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang sangat merendahkan. Di belakang mereka, Khaisar dan Amora langsung menerobos masuk, berlari histeris dan menghambur memeluk pinggang Zivana erat-erat seraya menangis sesenggukan.
"Bunda! Bunda... usir wanita itu, Bunda! Ayah jahat bawa wanita itu ke rumah kita!" jerit Khaisar dalam tangisnya yang pecah.
bahagia selalu ziva ,,
urusan amora Dan khaisar tdk perlu di pikirkan ,, kalo mereka udh dewasa ,, mereka akan mencari km ,, meski km bukan ibu kandung ny ,,
tp mereka tau km tulus menyayangi Dan mengurus mereka dulu
papa bagas yg urus tuh s pewangi ruangan stela, buka semua borok nya k publik, bayi yg d kandung jg pat bkn bayi nya aidil kan
kasian khaisar n Amora jd broken home
hrusnya tegas saat stella datang .... tiba" mngusik keluargamu...
bukan mlah ngasih tempat & mmbuka pintu krusakan lebar"
kmunya aja yg suka trgoda nafsu setan🙄🙄
gmn lgi ya..... kmunya hobi asal main celup sih... jdi g salah lah klo km di jdikn tumbal ayah pengganti anknya stella
🤣🤣🤣🤣