Terlahir kembali sebagai NPC ber-skill ampas [Fortify], Raka—yang kini bernama Kayy—hanya ingin hidup tenang dan memanjakan istrinya, Alya.
Siapa sangka, kebiasaannya merawat gubuk jutaan kali malah mengubah rumah dan pekarangannya menjadi [Sanctuary Domain]—zona perlindungan mutlak terkuat di dunia yang membalatkan semua sihir pemusnah, sementara sayur kebunnya sanggup menyembuhkan luka fatal secara instan.
Kini, di saat dunia terancam hancur oleh Raja Iblis, para Pahlawan malah mengantre dan berlutut di pagar rumahnya demi meminta bantuan. Namun bagi Kayy, tak ada urusan dunia yang lebih penting daripada menyeduh teh sore bersama Alya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HEWAN PELIHARAAN
Matahari pagi menyinari Hutan Kelam dengan kehangatan musim semi yang begitu damai. Embun yang menggantung di dedaunan pohon pinus perlahan menetes, jatuh ke atas tanah pekarangan yang dipenuhi bunga lavender bercahaya.
Di teras gubuk kayu, Kayy berdiri sambil menopang cangkulnya. Pria bercelemek itu menghela napas panjang, menatap pemandangan ajaib—sekaligus absurd—yang tersaji tepat di depan matanya.
Seekor serigala es raksasa tingkat A-Rank berukuran tinggi tiga meter dan panjang enam meter sedang telungkup pasrah di atas rumput. Taring es yang biasanya sanggup meremukkan baju zirah baja kini hanya terkulai di tanah, sementara sepasang mata merahnya yang dulu buas kini memancarkan rasa kepasrahan yang mendalam.
"Satu... dua... tiga! Selesai!" seru Elena girang.
Anak perempuan berusia lima tahun itu melompat-lompat kecil di atas kepala serigala raksasa tersebut. Di telinga kanan serigala es itu, kini terikat sebuah pita kain merah berukuran besar—pita yang sama persis dengan yang dipakai di rambut Elena.
"Lihat, Ayah! Anjing besar sekarang makin cantik kan?" kata Elena menoleh ke arah Kayy, matanya berbinar-binar penuh kebanggaan.
Kayy mengusap tengkuk lehernya seraya terkekeh pelan. Bagi prajurit Kerajaan atau petualang kelas atas, serigala es A-Rank itu adalah bencana berjalan yang sanggup meratakan satu desa dalam hitungan menit. Namun di mata Kayy yang memiliki status fisik MAX (999.999+), monster raksasa ini tak ubahnya seperti seekor anjing ras Husky berbulu tebal yang kebetulan berukuran agak bongsor.
"Iya, cantik sekali, Sayang..." jawab Kayy santai. Ia melangkah mendekati serigala tersebut, lalu menepuk hidung besar monster itu menggunakan gagang cangkulnya.
TAP!
Serigala es itu mendadak gemetaran. Meskipun Elena terpancar aura penyayang dari skill [Absolute Animal Affinity], serigala tersebut memiliki insting monster yang sangat tajam. Ia tahu betul bahwa pemuda bercelemek yang berdiri di depannya ini adalah entitas mengerikan yang sanggup memusnahkannya hanya dengan satu sentilan jari.
"Dengar ya, Anjing Besar," bisik Kayy dengan nada santai namun penuh tekanan mutlak. "Kamu boleh tinggal di sini dan jadi teman main Elena. Tapi ingat aturan rumah ini: jangan buang hajat sembarangan di kebun wortelku, jangan bikin bising saat jam tidur siang Alya, dan kalau bulumu rontok, kamu harus bantu aku menyapunya. Paham?"
Serigala es raksasa itu mengangguk cepat-cepat, mengeluarkan suara guk kecil yang terdengar sangat tidak cocok dengan ukuran tubuhnya yang sebesar rumah.
Alya keluar dari pintu gubuk membawa nampan berisi tiga cangkir jus buah segar dari hasil panen Celestial Soil. Mantan Saintess itu tersenyum manis menatap interaksi suami dan putrinya. Bagi Alya, yang pernah melihat berbagai ancaman sihir tingkat tinggi di masa lalunya, kehadiran serigala raksasa ini sama sekali tidak menakutkan—hanya terasa seperti menambah satu anggota keluarga baru berbulu lebat.
"Kalian bertiga, minum jusnya dulu," panggil Alya lembut.
"Jus!" seru Elena meluncur turun dari punggung serigala raksasa itu seperti meluncur di perosotan.
Elena berlari mendekati ibunya, mengambil cangkir kayu mungilnya, lalu meminumnya hingga menyisakan kumis buah berwarna merah di atas bibirnya. Setelah menghabiskan jusnya dalam sekali teguk, Elena mendongak menatap ayahnya yang sedang menikmati jus bersama Alya.
"Ayah, anjing besar ini belum punya nama!" kata Elena memegangi ujung celemek Kayy.
Kayy menyeruput jusnya, lalu memandang monster berbulu putih perak di pekarangan. "Hmm, nama ya? Bagaimana kalau diberi nama Shiro? Bulunya kan putih seperti salju."
Mata Elena langsung berbinar-binar. "Shiro! Nama yang bagus! Mulai hari ini namamu Shiro!"
Serigala es itu—yang kini resmi bernama Shiro—mengibas-ngibaskan ekor raksasanya dengan gembira, hingga kibasan ekornya menciptakan tiupan angin kencang yang memutar bunga-bunga lavender di pekarangan.
"Tapi Ayah..." Elena memiringkan kepalanya dengan raut wajah berpikir yang amat lucu. "Shiro kan besar sekali. Nanti kalau hujan, Shiro tidur di mana? Shiro tidak muat masuk ke kamar Elena."
Alya terkekeh pelan seraya merangkul bahu suaminya. "Benar juga kata Elena, Kayy. Gubuk kita terlalu sempit kalau Shiro harus masuk ke dalam. Apa kamu bisa buatkan rumah kecil untuk Shiro di samping pekarangan?"
Kayy tersenyum tipis. "Rumah kecil untuk Shiro? Gampang."
Kayy meletakkan cangkir jusnya di atas meja teras. Pria berusia dua puluh lima tahun itu melangkah santai menuju area kosong di sebelah kanan pekarangan rumah, dekat batas pepohonan pinus.
Mata Kayy berubah fokus. Layar sistem rahasianya berkedip pelan di balik penglihatannya. Skill dasar pertukangan yang telah ia latih selama jutaan kali—[Fortify]—mulai aktif di dalam aliran matanya.
ZUUUT!
Tanpa perlu memegang kayu atau paku, Kayy hanya menggerakkan tangan kanannya secara perlahan di udara. Menggunakan kombinasi efisiensi gerakan kinetik presisi dan pemrosesan mental INT MAX, material kayu-kayu pinus tua di sekitar hutan mendadak terpotong secara otomatis dengan kerapian sub-milimeter.
TAK! TAK! TAK! BUM!
Dalam hitungan tiga detik, balok-balok kayu raksasa menyatu dan terkunci dengan presisi sempurna. Sebuah bangunan kandang kayu berdiri kokoh di pekarangan.
Kandang kayu itu tidak seperti kandang hewan biasa. Ukurannya setinggi empat meter dengan panjang delapan meter, dilengkapi atap genteng kayu yang dilapisi perisai [Sanctuary Domain] agar tahan dari badai es maupun petir Kerajaan. Di bagian dalamnya, Kayy memadatkan rumput-rumput kering pekarangan menjadi alas tidur yang super empuk dan hangat.
Shiro membelalakkan matanya yang merah. Monster A-Rank itu terkesima melihat rumah kayu megah yang dibuat khusus untuknya hanya dalam waktu tiga detik tanpa menggunakan sihir sama sekali!
"Wahhh! Istana Shiro!" jerit Elena gembira, berlari masuk ke dalam kandang kayu baru tersebut dan melompat-lompat di atas kasur rumput yang empuk. "Shiro, ayo masuk! Kasurnya empuk sekali!"
Shiro merangkak masuk dengan hati-hati, lalu merebahkan tubuh raksasanya di samping Elena. Monster ganas itu melingkarkan tubuhnya melingkungi Elena, memberikan kehangatan berbulu tebal yang membuat Elena tertawa geli karena kegelian.
Alya berjalan mendekati kandang tersebut, menatap suaminya dengan tatapan penuh rasa kagum yang tak pernah pudar. "Keterampilan pertukanganmu selalu membuatku takjub, Kayy. Padahal kamu hanya menggunakan skill dasar [Fortify]."
Kayy merangkul pinggang Alya dengan lembut dari samping, menyunggingkan senyum khasnya yang santai. "Namanya juga usaha untuk kenyamanan keluarga, Alya. Lagipula, kalau Shiro punya rumah sendiri yang bersih, dia tidak akan mengganggu tanaman wortelku."
Alya menyandarkan kepalanya di dada hangat Kayy, memperhatikan putri kecil mereka yang kini tertidur lelap di atas perut bulu Shiro karena kelelahan bermain seharian. Shiro yang menyadari anak majikannya tertidur langsung terdiam kaku, tak berani bergerak sedikit pun agar tidak membangunkan Elena.
"Dia tumbuh sangat cepat ya, Kayy..." bisik Alya pelan. "Baru kemarin rasanya kamu panik setengah mati menjemput bidan desa, dan sekarang Elena sudah lima tahun..."
Kayy mengecup pelan dahi Alya, menatap putri kecilnya dan Shiro dengan pendar kehangatan yang amat dalam.
"Iya," jawab Kayy lembut. "Tapi tak peduli seberapa cepat dia tumbuh atau seberapa kuat sihir yang ia miliki nanti, gubuk kayu ini dan kita berdua akan selalu jadi tempatnya untuk pulang."
Musim semi terus bergulir hangat di Hutan Kelam. Di bawah naungan perisai mutlak sang pemilik status MAX, mantan Saintess, putri cilik berbakat ajaib, dan serigala es raksasa bernama Shiro, hari-hari yang penuh dengan gelak tawa, kedamaian, dan kehangatan keluarga kecil itu terus mengalir bagaikan kisah dongeng abadi yang tak pernah usai.