Indonesia
NovelToon NovelToon
Monica'S Magic!

Monica'S Magic!

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Akademi Sihir
Popularitas:539
Nilai: 5
Nama Author: Bintang star_nrl22

​Bagi Monica dan kelompoknya, ini bukan sekadar tugas biasa—ini adalah perjuangan untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi.

​Di tengah kepungan musuh dan bayang-bayang naga hitam, mereka terus melangkah maju. Tetapi tidak semua orang bisa pulang. Ketika tabir misteri akhirnya terkuak, darah dan air mata telah tercurah, meninggalkan hanya dua orang yang berdiri di antara puing-puing pengorbanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang star_nrl22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Terakhir Sebelum Bulan Merah

Dua minggu berlalu dalam sekejap mata. Atmosfer di sekitar Akademi Sihir Grandoria berubah drastis—kebun-kebun bunga dan halaman yang biasanya dipenuhi tawa para murid kini berganti menjadi benteng pertempuran yang diselimuti ketegangan. Barikade batu bersimbol sihir dipasang di setiap sudut gerbang, sementara para guru dan prajurit senior akademi berjaga dalam formasi tempur penuh.

Di bawah tanah Menara Bayangan, Tim Vanguard menyelesaikan siklus latihan terakhir mereka bersama Kepala Sekolah Alaric. Udara di dalam aula subterranean itu berkilat-kilat oleh sisa-sisa pendaran energi murni yang berhasil diselaraskan dengan jalur Mana Vein akademi.

"Kalian sudah menguasai alur Kontra-Segel dengan sempurna," puji Kepala Sekolah Alaric, suaranya dipenuhi rasa bangga yang mendalam.

"Besok malam, saat bayangan merah menutupi permukaan bulan, wanita itu dan pasukan Ordo Umbra akan menghantam gerbang depan secara bersamaan."

Monica menarik napas panjang, mengalirkan kehangatan batu Soul Aegis di dalam tongkat safirnya. Ia membetulkan kuncir kuda rambut hitamnya yang sedikit terurai, lalu menatap empat sahabatnya satu per satu.

"Reno, kau dan barisan prajurit akan memimpin pertahanan lini terdepan untuk menahan gempuran fisik dan tebasan zirah hitam," instruksi Monica tenang namun penuh wibawa.

"Kazuma dan Elena, posisikan diri di atas menara tinggi. Gunakan Hellfire Phoenix dan Starfall untuk memutus serangan jarak jauh mereka sebelum menyentuh tanah."

"Siap, Ketua!" sahut Reno seraya menghantamkan perisai emas barunya ke lantai batu.

"Serahkan barisan atas padaku dan Kazuma," janji Elena seraya mengencangkan tali busurnya.

"Danis," lanjut Monica menoleh ke arah sang pemuda bayangan.

"Tugasmu adalah bergerak di antara kegelapan untuk mengincar para penyihir pendukung Ordo yang merapal mantra dari garis belakang."

"Tidak ada satu penyihir pun yang bisa merapal mantra dengan tenang malam esok," jawab Danis singkat, jemarinya meremas gagang belati kembarnya.

"Dan aku," tegas Monica, matanya berkilau biru keemasan. "Aku akan berdiri di titik pusat alun-alun akademi untuk mengunci aliran Kontra-Segel saat perempuan bertopeng perak itu mencoba menghubungkan portal utamanya."

Malam semakin larut. Setelah pengarahan terakhir, kelima anggota Tim Vanguard berjalan menyusuri lorong menara menuju balkon atas. Di luar, angin malam musim gugur berembus cukup kencang, menggoyahkan jubah-jubah biru yang mereka kenakan. Langit malam yang tadinya cerah kini perlahan dilapisi oleh kabut tipis keunguan—tanda bahwa fenomena astronomi yang ditunggu-tunggu mulai mendekat.

Mereka duduk melingkar di atas pembatas batu balkon, menatap pemandangan ibu kota yang bercahaya di kejauhan. Tidak ada lagi latihan tegang atau benturan sihir, hanya ada keheningan di antara lima sahabat yang telah menempuh perjalanan panjang bersama.

"Ingat saat kita pertama kali dibentuk menjadi Tim Vanguard?" celetuk Kazuma seraya membetulkan posisi kacamatanya, menyunggingkan senyum tipis. "Reno bahkan hampir menjatuhkan perisainya saat ujian kelayakan."

"Hey! Itu karena engsel zirahnya kekecilan!" protes Reno yang langsung disambut tawa kecil dari Elena dan Danis.

Monica ikut tersenyum. Kehangatan di dadanya terasa begitu nyata. Pertarungan di gerbang Lembah Kelam, ujian di Labyrinth of Reflection, hingga latihan keras di Menara Bayangan telah menempa mereka menjadi lebih dari sekadar rekan satu tim—mereka adalah keluarga.

"Apapun yang terjadi besok malam," ujar Monica pelan, memandang langit malam yang kian pekat. "Kita hadapi bersama. Tidak ada yang berjalan sendiri."

"Sampai akhir," sahut Elena, meletakkan tangannya di tengah lingkaran.

Satu per satu, Reno, Kazuma, Danis, dan Monica menumpuk tangan mereka di atas tangan Elena, menyatukan tekad dan janji yang tak tertembus.

Di atas cakrawala timur, pinggiran rembulan mulai berubah warna menjadi merah pekat. Kabut Miasma tipis mulai merayap naik dari dasar jurang perbatasan. Masa persiapan telah resmi berakhir.

1
Al Dede
novel ini srru bsnget mencrtkn tentsng anak yang pantanv menyerah+akademi sihir,sihir dia terkuat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!