Rusaknya beberapa hektar tanaman padi yang tiba-tiba menguning, membuat penduduk desa yang khawatir akan gagal panen menyerbu balai desa. Mereka menuntut kelompok tani yang dipimpin Anneke Van Beek untuk bertanggung jawab.
Keadaan semakin pelik saat masa lalu sang ibu—Sulastri yang dianggap sebagai gundik kembali merebak, ditambah kedekatannya dengan Hans Williams, membuat Anne terjebak dalam pusaran tuduhan keji itu.
Mampukah Anne menyelesaikan kemelut ini dan membongkar dalang di balik terancam gagal panennya pertanian desa?
“Putra mu memanglah tampan paras rupa, bersahaja dalam tutur kata, tapi dia tak lebih dari keledai dungu yang bersembunyi di balik ketiak ibunya.” Anneke Van Beek.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AVB 34
“Sialan! Turunkan aku, Hans!” Anne terus memekik kepalan telapak tangan meninju keras punggung lebar Hans Williams.
“Bokongmu lumayan besar juga,” sahut Hans tak memperdulikan pekikan sang sahabat, malah dengan sengaja mengeplak bongkahan daging yang tepat berada di sebelah wajahnya.
“Hans!”
Yang diteriaki semakin tak peduli, malah tertawa terbahak-bahak hingga mereka sampai di mobil terparkir di bawah pohon jati besar.
“Dasar mesum!” sungut Anne, begitu turun dari panggulan, tangan siap melepas tinju tertahan genggaman erat telapak Hans.
“Cepat masuk mobil atau kau ingin masuk peti mati?” balas Hans seraya membuka pintu mobil sebab gerimis mulai datang.
Anne menghembuskan napas kasar, telapak kaki tak beralas menghentak kuat ujung sepatu Hans hingga sang empunya berjingkat kesakitan.
“Kau benar-benar berniat membuatku lumpuh, Anne!” berangnya yang tentu saja hanya bercanda.
Anne tak peduli, memilih duduk sambil bersedekap tangan di bangku penumpang, bibir mengerucut, tatapan tajam pada rintik hujan mulai berjatuhan.
“Sudah bagus ku selamatkan, bukannya berterimakasih malah berbalik—”
“Diam, Hans!” sergah Anne, sudut matanya melirik galak ke arah sang sahabat. “Cepat jalankan mobilnya.”
Hans seolah tak mendengar, malah sibuk mengelap kaca spion sambil bersiul.
“Hans Williams!”
“Baik, Nona Van Beek,” sahut Hans, mulai menginjak pedal gas menyusuri jalan setapak pinggiran hutan.
Mobil Volvo keluaran lama merayap pelan, membelah malam dan hujan yang tumpah begitu derasnya. Kilat berkelebat menyibak gelap menampakkan batang-batang pohon yang berdiri bak bayangan raksasa sebelum semuanya kembali temaram oleh bulan setengah lingkaran.
Anne membisu di bangkunya, tangan meremas ujung kebaya, tatapan lurus pada jalanan. Gadis itu tak takut pada apapun selain dari pada hujan deras dan kilat yang menyambar-nyambar sebab mengingatkannya pada sosok yang bapak kandung—Kartijo Suseno yang ia temui sekali seumur hidupnya, yaitu saat hujan deras dan kilat pada langit petang.
Saat itu juga pertama dan terakhir kalinya ia melihat sang ibu begitu marah, bahkan setelahnya mengurung Anne kecil di dalam rumah hingga berhari-hari lamanya.
Trauma itu pula yang membuat tubuh Anne bereaksi begitu cepat tiap kali terkena hujan, demam dan meriang atau pernah paling terparah ia sampai kejang.
Hans yang menyadari ketakutan sang sahabat, mengusap pelan punggung Anne, lalu dengan lembut meraih kepala untuk disandarkan pada pundaknya.
“Jangan takut, ada aku disini,” ia berbisik lirih, tak berani lagi bercanda.
Mobil terus melaju hampir tiga puluh menit lamanya sampai menemukan perkampungan bersamaan hujan yang perlahan mulai reda. Anne yang memilih menutup mata sejak berada di jalanan gelap, tak sadar telah sampai pelataran rumahnya sebab tertidur pulas, entah karena lelah atau takut membuka mata.
Ada jeda cukup lama sampai gadis itu terbangun dari tidurnya, Hans sengaja tak membangunkan, memilih diam-diam menikmati wajah ayu telah ia kagumi sedari balita.
Anne mengerjap berkali-kali, kening terdapat bekas lumpur mengernyit sambil memperhatikan sekitar dengan tatapan kosong.
“Sudah berapa lama kita sampai rumah, Hans?” tanyanya dengan suara parau khas bangun tidur.
“Dua jam mungkin, lihat saja bulan sudah mulai berpindah ke ufuk barat,” jawab Hans seraya meregangkan lengan bekas untuk berbantalan sang gadis pujaan. “Akhh … pundakku rasanya mau patah. Pantas kau begitu keras kepala. Kepalamu saja begitu berat.”
“Suruh siapa tak membangunkanku,” balas Anne.
Ia kemudian menarik handle pintu, ingin gegas masuk ke dalam rumah, membersihkan diri dari lumpur basah. Namun alis gadis itu kembali mengerut, tatapan tajam ke arah pemuda memasang senyum jahil di wajah tampannya.
“Lepaskan rambutku, Hans!” geramnya sebab sang sahabat menahan rambut panjang yang terlepas dari gelungan nya.
“Ucapkan terima kasih dan beri upah dulu, Nona,” sahut Hans.
Anne berbalik cepat, mencondongkan wajah yang mengilat tertimpa cahaya kuning pucat dari lampu gantung di teras rumah. Bibir jarang terkena polesan gincu murahan maju satu centi, dagu terangkat angkuh. “Lakukan semaumu, Tuan Hans Williams, setelah itu enyahlah dari hadapanku.”
Hans meneguk ludah kasar, manik dengan iris biru muda mengerjap cepat, wajahnya perlahan mendekat, namun bukan kecupan yang ia berikan melainkan tiupan jahil pada hidung mungil Anne juga pukulan kecil di kening.
“Cepat masuk dan pergi mandi, bau mu sudah seperti kerbau di sawah,” ucapnya, tangan panjangnya menarik handle pintu yang langsung terbuka.
“Cih, pengecut,” decih Anne, sudut bibirnya terangkat tipis seraya memalingkan wajah.
Baru saja akan menurunkan kaki, tangan Hans kembali menarik handle pintu, lalu dengan cepat berpindah ke pinggang, membawa tubuh mungil Anne jatuh ke dalam dekapannya.
“Kau menantangku, Anne.” Seringai halus terbit di wajah tampan Hans, tangan menahan badan yang coba membebaskan diri dari lengan kekarnya.
“Lepas, Hans.” Anne terus memberontak, tangan kecilnya memukul dada bidang berbulu halus.
“Tadi kau sendiri yang menantang, Nona, kenapa sekarang malah minta dilepaskan?” goda Hans.
Air muka Anne berubah pias, rahang mengeras, tangan menahan pundak Hans yang semakin mengikis jarak.
“Hans!”
Suara Anne teredam oleh gelak tawa Hans William, cengkraman pada pinggang terlepas, sorot mata mengilatkan nafsu melunak, berganti binar sayu. Tangan dengan bulu lembut menahan perut terasa kram sebab terlalu lama tertawa.
“Kau yang menantang, kau juga yang ketakutan,” kelakarnya.
Anne mendengus kesal, buru-buru keluar dari dalam mobil sambil berujar tajam.
“Sinting!”
Namun langkahnya kembali terhenti kala mengingat botol obat yang berhasil ia rebut dari tangan Rusli. Gadis tetap terlihat ayu meski rambut berantakan itu melongokkan kepalanya lewat kaca yang turunkan sepenuhnya. “Tunggu, lalu di mana barang-barangku?”
“Tenang saja, orang ku sudah mengurusnya. Besok aku akan menyuruh mereka mengantarkan kemari, atau aku sendiri yang datang sekaligus meminta ganti rugi,” sahut Hans.
“Pikiranmu itu apakah hanya berisi cara mencari keuntungan, Hans? Tak adakah keikhlasan di dalamnya?” sungut Anne.
“Tentu saja ada, tapi untuk kau yang kaya raya akan sangat rugi bukan, jika sampai aku tak perhitungan?” balas Hans, bibir tipisnya mencebik usil. “Sudah sana lekas masuk rumah, aku takut matahari lebih dulu terbit, bisa di kira kerbau betina sedang birahi kowe.”
Anne melepas tusuk konde kuningan pada rambutnya, melempar asal hingga mengenai lengan kekar Hans Williams. Yang dilempar langsung memasang muka garang, tangan mengusap lengan terasa geli.
“Kau benar-benar mau jadi kriminal, Anne.”
“Ya. Setelah aku selesai memanfaatkanmu untuk membuka kedok Maria, aku akan langsung mewujudkannya. Sepertinya seru juga menjadi kriminal karena melumpuhkanmu,” ledek Anne sambil menyunggingkan senyum miring.
Hans beranjak dari kursi kemudi, berpindah cepat ke bangku penumpang, satu tangan menyembul keluar melalui kaca jendela, meraih cepat tengkuk Anne.
“Kenapa tak sekarang saja kalau hanya ingin melumpuhkanku, Nona Anneke Van Beek?” Wajahnya semakin condong ke depan, hingga menyisakan jarak kurang dari setengah jengkal.
Anne sekuat tenaga menahan kepalanya, tangan tak siap menghadapi gerak cepat sang sahabat, mendorong pintu mobil kuat-kuat, bibir terkatup rapat saat bibir Hans semakin dekat, berakhir ia berteriak membangunkan orang-orang di dalam rumah.
“Lepaskan! Tolonggggggg!”
Melihat wajah pucat Anne dan langkah tergesa gadis itu, Hans kembali terkekeh, ibu jari mengusap bibir yang berkedut, dengan senyum tipis di ujungnya, batin menggumam dalam.
“Suatu saat aku pasti mendapatkannya, Anne.”
Bersambung
Pemirsa mohon izin hari saya up 1 bab saja, sebab sedang sibuk sembahyangan "bulan hantu" kebetulan juga saya hantu nya. Wkwkwkwkwkk.
Bonus hari ini visual si jahil Hans Williams
apakah vampire nya bakallan bangkitt
aku pencett sesuaii mandattt yooww🙏
jgn2 pakde broto berucap
istrine ruslii jadi teman penghangatt kasmaan donkk 🤣
ngertio ngunuu
di potong habisss burunge kasman sama pak dokter dlu
di kasih racun ibu mu wae langsung ditenggak kog,
mana punya pendapat km gono
spy argono paham ,harta yg di incar nya
padahal itu jebakan terselubung
marni cuma mau memperalat nya saja
demi mengeruk kekayaan kartijo
anne dgn gamblang menjelaskan ke kamu argono , fakta nyata yang tertimbun doktrin busuk mbok mu Dewe
siapa yg nyulikk marni
kasman uduu kuii