Reno Alvarez (25 tahun) punya visual secakep Yeonjun TXT, tapi statusnya tragis: PEngangguran JAkarta BARat yang hobinya cuma rebahan.
Nasib Reno mendadak korslet setelah nekat membuang golok warisan kakeknya ke tong sampah. Bukannya hilang, golok penuh daki itu malah auto-summon balik ke bawah bantalnya.
Reno resmi terkena kutukan Mbah Golok Sakti! Jiwanya mulai disedot paksa masuk ke berbagai dimensi absurd setiap kali tidur. Mulai dari dikejar zombie modal kolor Doraemon, operasi tenggorokan singa di Afrika, sampai debut dadakan jadi member TXT gara-gara Yeonjun asli lagi diare di toilet!
Setiap misi emang dapet cuan, tapi kalau Reno harus pindah dimensi terus nyawa bisa jadi taruhannya. Mampukah sang beban negara ini bertahan?
Warning: Jangan baca sambil minum, rawan nyembur! 🤣🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Operasi Tulang Singa
"Hah?! Gue sekarang lagi terdampar di mana ini?! Perasaan tadi gue di lift nggak ada memencet tombol arah tujuan ke pulau Madagascar deh!"
Reno celingak-celinguk panik setengah mati sambil memeriksa kondisi badannya yang untungnya masih memakai jas kondangan.
Wushhh!
Asap putih muncul, lalu berubah jadi kakek tua plontos dengan jenggot putih yang panjangnya bisa buat tali jemuran.
'Wahai Anak Muda... terimalah hukuman karena sudah membuang golok sakti pemberian kakekmu ke tong sampah!'
"Woi, Botak! Lo lagi, lo lagi! Kenapa sih hobi banget mampir ke mimpi gue tanpa bayar kosan?" Reno berkacak pinggang, nggak ada takut-takutnya.
'Hahahahahaha!' Si Kakek tertawa sampai giginya yang tinggal dua goyang semua.
"Heh, malah ketawa! Lo ngetawain jas gue yang penuh debu ini ya?!"
'Kurang ajar! Aku ini Jiwa Golok Sakti! Jangan panggil aku Botak! Terpujilah kepalaku yang mengkilap ini!' bentak si Kakek.
'Ini hukuman! Tolong singa jantan yang lagi keselek tulang di balik bukit itu, atau kau akan terjebak di sini jadi makanan hyena!'
Puf! Si kakek ilang jadi asep knalpot.
"Woi! Tanggung jawab! Gue nggak punya sertifikat dokter hewan!"
Srek... srek... srek...
Suara gesekan rumput dari belakang membuat bulu kuduk Reno berdiri. Geraman dan suara cekikikan aneh terdengar dari belakang. Reno menoleh... segerombolan Hyena lapar lagi lari ke arahnya sambil ketawa ngejek.
"MAMA! TOLONG! ADA ANJ*NG LAGI ARISAN!!!"
Reno melesat bagai roket rusak. Jas mahalnya berkibar-kibar kena angin savana. Di depannya ada pohon akasia. Tanpa mikir, Reno merayap naik ke dahan tertinggi dengan kecepatan yang bikin monyet setempat minder.
"Hah... hah... selamat. Jas gue... cicilannya masih 11 bulan lagi, sekarang penuh noda t*i hyena!" rintih Reno sambil mencabuti duri yang nancap di pantatnya. Ia menoleh ke arah bukit.
Di sana, seekor singa jantan lagi guling-guling kayak orang keracunan jengkol. Kakinya sibuk ngubek-ngubek mulutnya sendiri.
"Oke Reno, lo pasti bisa. Anggap aja lo lagi nolongin kucing tetangga yang keselek duri bandeng."
Brukk!
Reno mendarat (lagi-lagi) tidak estetik. Ia merangkak tiarap menuju si singa. Jarak tinggal dua meter, tiba-tiba... kertak! Reno nginjek ranting.
"GROARRRR!!!!" Si singa bangun, matanya merah padam.
"Kalem, Pus! Kalem! Gue bukan paket sembako! Gue mau operasi tenggorokan lo!" seru Reno sambil angkat tangan gaya menyerah.
Singa itu nggak peduli. Dia melompat mau nerkam! Reno menghindar pakai gaya Matrix tapi malah kepelintir. Pas mau lari, kakinya nyangkut di batu sebesar bakso urat.
Gubrak! Reno mencium tanah Afrika dengan mesra.
"Tolong... Maafin Reno, Ma! Reno janji bakal rajin solat dan nggak bakal nonton video aneh-aneh lagi!"
Ting!
Tiba-tiba, tangannya megang benda dingin. Golok sakti itu balik lagi! "Nah! Ini dia item VIP gue!"
Dengan keberanian yang dipaksakan, Reno mengayunkan goloknya ke udara di depan mulut singa itu. Secara ajaib, sebuah tulang sebesar paha ayam mendarat di tanah!
Bruk!
Si singa pingsan seketika, saking leganya (atau mungkin pusing liat Reno). Di saat yang sama, golok itu menguap jadi asap.
"Lah... mati apa pingsan nih? Woi, Botak! Misi sukses! Balikin gue ke kursi empuk!"
Reno baru mau selebrasi ala Ronaldo, tapi dari semak-semak belakangnya muncul dua ekor singa betina yang tatapannya seolah bilang, "Makasih ya udah nolongin laki gue, sekarang giliran lo jadi hidangan penutup."
"GROARR!!"
Reno membeku. Suara geramannya pas banget di belakang kupingnya. Ia menoleh perlahan, keringat dingin mengucur sampai ke mata kaki.
"Mampus... gue lupa kalau singa itu poligami..."
"ARRGGHHH!!!"
Reno menjerit histeris sekuat tenaga sampai urat lehernya menegang, membayangkan bagian bokongnya yang mulus bakal berakhir mengenaskan menjadi menu hidangan all you can eat bagi para singa betina kelaparan di padang savana.
Pandangan matanya seketika menggelap gulita, napasnya terasa putus-putus di tenggorokan, dan ia pun akhirnya hanya bisa pasrah memejamkan kedua matanya rapat-rapat sambil meratapi nasib sialnya.
CTAK!
BRUKK!!
"Akkhhhhhh! Tulooong! Ampun Mbah Singa! Gue ini masih muda, belum sempat nikah, belum punya cicilan rumah pribadi, tolong jangan dimakaaan!"
Reno terus berteriak histeris sambil tubuh jangkungnya guling-guling tidak keruan ke kanan dan ke kiri di atas permukaan yang... eh, tunggu dulu. Permukaannya mendadak terasa halus dan dingin, bukan lagi tanah kering Afrika yang penuh duri rumput gatal.
Pelan-pelan, dengan tubuh yang masih gemetar, Reno memberanikan diri membuka sebelah kelopak matanya yang kiri.
Satu detik... dua detik. "Hah? Loh? Kok pemandangannya begini? Gue... gue nggak jadi dimasak jadi daging steak?"
Reno seketika tersentak bangun dari posisi guling-gulingnya. Bukannya hamparan rumput kering savana benua Afrika, ia malah mendapati dirinya sedang meringkuk pasrah di bawah kolong meja kerja kayu jati berukuran raksasa.
Sebuah meja elite yang dari penampilannya saja sudah kelihatan kalau harganya pasti cukup buat membayar uang sewa kosan mahasiswa selama satu tahun penuh.
Reno buru-buru meraba-raba sekujur tubuhnya dengan raut wajah panik tingkat nasional—ia mengecek kondisi hidungnya, memeriksa telinga kanan-kiri, sampai memastikan sepuluh jari kakinya.
"Alhamdulillah ya Allah, ternyata semua onderdil berharga di tubuh gue masih lengkap, utuh, dan berstatus original pabrik!" gumamnya mengelus dada lega.
"Selamat wahai anak muda yang gemar rebahan, kamu dinyatakan berhasil menyelesaikan misi ujian kedua bernama 'Operasi Tulang Singa'. Hadiah kemenanganmu berupa uang tunai sebesar 15 juta rupiah kini sudah berstatus OTR (On The Road) tersimpan manis di dalam kotak kayu penuh daki di rumahmu. Gunakan uang itu dengan bijak buat beli persediaan kolor baru yang banyak, jangan malah dipakai buat main judi slot."
Reno seketika tertegun mematung. Suara berat nan sakral dari kakek botak misterius itu kembali bergema dengan sangat jelas di dalam tempurung kepalanya. Walaupun wujud si kakek tidak kelihatan, namun aura gaib dan hawa magis yang ditinggalkannya terasa sangat nyata meraba kulit Reno.
Reno akhirnya merangkak keluar dari bawah kolong meja kayu jati tersebut dengan sebuah gaya meliuk mirip suster ngesot gadungan yang gagal total. Begitu berhasil keluar, ia langsung berdiri tegak di tengah ruangan, lalu kedua tangannya berkacak pinggang menantang udara kosong di sekitarnya.
"Heh, si Golok Botak sialan! Keluar Lo sekarang kalau berani! Sini maju satu lawan satu sama gue!" teriak Reno lantang sambil telunjuk kanannya menunjuk-nunjuk ke arah sebuah vas bunga keramik di pojok ruangan.
"Gue sekarang udah nggak ada takut-takutnya ya sama teror lo! Kalau ujung-ujungnya gue harus dipaksa mati gaya dulu di dimensi lain baru bisa balik ke kantor ini, mendingan dari awal gue tidur manis aja di rumah daripada kena aksi prank gila di Afrika! Dasar lo kakek-kakek tua penganut skincare gagal!"
Namun sayang seribu sayang, sosok pria botak bercahaya merah itu tetap tidak memunculkan batang hidungnya. Yang mendadak muncul dan terdengar di indra pendengaran Reno justru adalah sebuah suara senandung lagu merdu dari arah balik pintu masuk ruangan.
"~ Na na na na na na na na na... kerja keras bagai kuda... ~"
Cklek!
Daun pintu kayu besar itu terbuka sempurna. Sosok pemuda tampan dengan struktur wajah beraura idol K-Pop yang kemiripannya setingkat Mark NCT—yang tidak lain adalah Raditama Abraham sang pemilik ruangan—melangkah masuk dengan gaya jalan bos muda idaman sejuta umat di media sosial.
"~ Dimanakah kamu berada, aku di sini begitu merindukan... SETAAANNNN KESASAR!!!!"