kisah seorang anak yang bernama Nina yang tinggal di desa dan bertahun-tahun di tinggal ayahnya, kemudian saat beranjak dewasa , ia di ambil kembali dan di paksa menikah untuk menggantikan saudara tirinya dengan laki-laki kejam seperti serigala.
yuk.. ikuti kisahnya... , akankah Nina bisa bertahan hidup di sarang serigala yang isinya manusia kejam berhati iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18
Hanya dalam hitungan menit, tiga mobil polisi meluncur masuk ke area kampus... Terjadi kegaduhan di sana, sampai Jafar marah... Bagaimana bisa, di perguruan tinggi miliknya, ada mahasiswa seorang pecandu narkoba.
jafar akhirnya memutuskan untuk pulang, sekaligus ingin menuntut haknya pada Nina.
Petugas kepolisian berpakaian preman langsung menerobos lorong dan mengepung Hadin yang sedang tersungkur gelisah di lantai.
"Saudara Hadin! Jangan bergerak!" gertak petugas sembari mengunci kedua lengan Hadin ke belakang.
"A-apa-apaan ini?! Lepas! Saya baru saja lulus sidang! Saya anak orang kaya...kalian tidak berhak menangkap ku tanpa sebab!" jerit Hadin histeris, suaranya parau dan terbata-bata akibat efek sakau yang memuncak.
Petugas dengan sigap menggeledah tas serta saku jas Hadin. Di hadapan puluhan mahasiswa dan dosen yang berkumpul karena keributan itu, polisi mendapati botol zat terlarang serta jarum suntik yang diselipkan Nina di lipatan tasnya.
"Ini obat terlarang... Anda membawanya"...
Hadin menggelengkan kepalanya cepat"Ti-tidak.... i-itu bukan milik saya" kilah Hadin dengan suara terbata..... Tubuhnya banjir oleh keringat karena gelisah yang teramat sangat.
"barang ini ada di tas Anda... sebaiknya Anda jelaskan di kantor polisi" balas sang kapten polisi. Lalu menikah ke arah rekan-rekannya.
"Buktinya sah. Bawa dia sekarang!"
KLIK!
Kedua tangan Hadin diborgol rapat. Muka pria yang baru saja merayakan kelulusan skripsinya itu berubah pucat pasi bagai mayat saat diseret paksa melewati kerumunan orang. Kamera ponsel para mahasiswa menyala di sepanjang lorong, merekam detik-detik putra kebanggaan Faris diangkut ke dalam mobil tahanan.
Dari ketinggian lantai dua, Nina menatap kepergian mobil polisi itu dengan binar mata yang amat dingin. Senyum tipis nan mematikan terukir manis di paras cantik nya.
“Selamat atas kelulusanmu, Hadin,” batin Nina sembari merapikan jilbabnya. “Ijazahmu mungkin selesai hari ini, tapi masa depanmu baru saja resmi berakhir di balik jeruji besi.”
Nina berbalik,lalu pergi meninggalkan kampus, karena kebetulan kelas sudah selesai...
Sementara Hazel ,ia juga pergi dengan terburu-buru untuk pulang karena malu dengan banyak pertanyaan teman-temannya , sedangkan dirinya saja tidak tahu apa-apa tentang kakaknya yang ternyata menyembunyikan obat-obatan terlarang.
Sejak skandal penyegelan salon dan pembekuan rekeningnya meledak, Anggun mengurung diri di dalam rumah. Ia terlalu malu dan takut menghadapi teror serta makian para sosialita pelanggan VIP yang kulitnya rusak akibat produk racikan ilegalnya.
Apalagi banyak yang menuntut dirinya untuk di masukan ke dalam sel penjara karena tidak mau ganti rugi. Namun, ketenangan semu di dalam rumah itu hancur seketika saat sebuah panggilan telepon dari kepolisian membawa kabar yang bagaikan petir di siang bolong.... Hadin ditangkap atas kasus kepemilikan dan penggunaan narkotika di kampus.
"A-apa?! Hadin ditangkap?!" jerit Anggun histeris, ponselnya hampir terlepas dari genggaman.
Faris yang berada di sampingnya langsung menyambar jas dan kunci mobil dengan wajah merah padam. Tanpa membuang waktu, mereka berdua meluncur deras menuju kantor kepolisian sektor Polda.
Di dalam mobil sepasang suami istri itu bertengkar, saling menyalahkan satu sama lain.
Anggun terisak, semenjak hutangnya lunas , dengan menjual anak tirinya, bukannya hidup semakin membaik,malah masalah datang bertubi-tubi.
"Ini semua karmamu Fariz, kau menjual putri kandungmu sampai kita terkena masalah...pasti Nina menyumpahi kita supaya hidup kita hancur.
"Diam kamu, jangan menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi pada mu dan putramu, itu semua karena kebodohan mu.... Kamu berbuat curang ,kamu tidak bisa mendidik putramu dengan baik" Fariz tertawa sinis.
Anggun mencebikkan bibirnya lalu mengumpat, menatap jalanan berdebu.
Sesampainya di ruang tahanan sementara, pemandangan tragis menyambut mereka. Hadin, putra kebanggaan yang baru saja menyelesaikan sidang skripsinya kini meringkuk di sudut lantai dingin. Tubuhnya gemetar hebat, peluh dingin membasahi pakaian mewahnya, dan matanya liar ketakutan akibat efek sakau yang semakin menjadi-jadi karena dosis obatnya yang mendadak terputus.
"Hadin! Anakku!" Anggun merangkak mendekati sel besi, menangis histeris sembari mencengkeram jeruji. "Kenapa bisa jadi seperti ini, Nak?!"
"M-Mama... tolongin Hadin, Ma... sakit... badan Hadin sakit semua....." rintih Hadin parau, jarinya mencengkeram kepala sembari merancau tidak jelas.
"obat ma....mana obat Hadin?".
"obat apa nak.... Mama tidak tahu...hiks". Anggun menikah ke arah Faris...
"pah...bantu hadin pah... Jangan biarkan Hadin di penjara... Kasihan masa depannya nanti kalau Hadin hidup di dalam sel bertahun-tahun..." Anggun memohon pada Fariz untuk membantunya.... Ku
Melihat kondisi putranya yang memprihatinkan serta ancaman hukuman belasan tahun penjara jika Hadin dijerat pasal pengedar, Faris memutar otaknya yang licik. Ia tidak boleh membiarkan nama baiknya yang tersisa hancur total, apalagi jika Hadin sampai dipenjara di sel tahanan umum.
Faris memejamkan matanya sejenak, mencari cara lain agar Hadin bisa bebas..."lagi-lagi harus berkorban" umpatnya dalam hati.
Menggunakan sisa-sisa koneksi, pengaruh, dan dana cadangan tersembunyi yang ia paksakan untuk dicairkan, Faris melakukan negosiasi alot dengan tim kuasa hukum dan pihak penyidik sepanjang malam. Berdasarkan hasil tes urine yang menunjukkan kadar zat sintetis dosis tinggi serta nihilnya barang bukti dalam jumlah besar untuk dijual kembali, Faris berhasil mengarahkan status hukum Hadin.
"Putra Anda resmi ditetapkan sebagai pemakai murni, bukan pengedar," tegas kepala penyidik saat membacakan keputusan akhir. "Sesuai prosedur hukum, Saudara Hadin diwajibkan menjalani rehabilitasi medis dan sosial di pusat rehabilitasi tertutup dalam jangka waktu yang ditentukan."
Mendengar kata rehabilitasi, Anggun bernapas lega meski air matanya tetap menetes deras. Namun Faris hanya bisa mengepalkan tangan dengan raut wajah yang sangat berat. Meski lolos dari jeruji besi penjara, masa depan Hadin sebagai calon penerus bisnisnya kini resmi ternoda cacat permanen. Nama keluarga mereka kembali menjadi bahan gunjingan panas di seluruh kota.
Sementara itu, di dalam kamarnya yang tenang, Nina duduk santai sembari mendengarkan kabar tersebut dari Tania lewat telepon terenkripsi.
"Faris berhasil meloloskan Hadin dari sel penjara, Nin," pangkas Tania. "Dia pakai pengacara mahal untuk melabeli Hadin cuma sebagai pemakai, jadi Hadin cuma dikirim ke tempat rehabilitasi."
Nina mengusap ujung cangkir tehnya, menyunggingkan senyum tipis yang amat dingin. Tak ada kekecewaan sedikit pun di wajah ayunya.
"Itu justru lebih bagus, Tan," sahut Nina pelan, suaranya tenang namun sarat akan intrik. "Di pusat rehabilitasi, Hadin akan terisolasi total dari dunia luar. Tanpa uang, tanpa fasilitas mewah, dan harus berjuang melawan sakaunya sendiri setiap hari. Rumah Faris kini kehilangan satu pilar pertahanannya."
Nina berdiri, berjalan menuju jendela dan menatap langit malam Jakarta yang pekat.
"Dua target sudah tumbang. Sekarang... tinggal Faris dan Hazel."
sungguh terlalu kamu Faris
gantung banget cerita nya Thorrrr
next 💪💪🥰🥰