"Menikahlah dengan saya, utang studio ibumu sudah pasti saya lunaskan"
"Siapa yang sedang Anda lamar, Tuan?"
"Tidak ada perempuan lain di ruangan ini."
"Apa Anda sedang mengajukan pernikahan transaksional?"
"Itu hakmu untuk menyimpulkan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14. RUANG PENGAP
Bab 14. Ruang Pengap
Udara pengap langsung menyembur keluar begitu pintu terbuka. Aroma kertas tua, debu, dan ruangan yang terlalu lama tertutup memenuhi koridor. Cahaya lampu darurat dari luar menerobos masuk, membelah gelap pekat yang selama berjam-jam menguasai ruang arsip.
"Kepalanya ke arah sakelar!" perintah kepala keamanan kepada salah seorang petugas.
Petugas itu segera berlari menyusuri dinding, mencari panel listrik darurat. Beberapa detik kemudian terdengar bunyi klik, disusul nyala lampu-lampu darurat yang perlahan menerangi ruangan. Cahayanya tidak seterang lampu utama, tetapi cukup memperlihatkan setiap sudut ruang arsip yang dipenuhi rak-rak besi tinggi. Semua mata segera menyapu ruangan.
"Hagia!" panggil Kalandra dengan suara lantang.
Tidak ada jawaban. Ia melangkah masuk tanpa ragu, diikuti dua petugas keamanan di belakangnya. Lorong-lorong sempit di antara rak arsip tampak kosong pada pandangan pertama.
"Hagia!"
Kali ini suaranya terdengar lebih keras. Masih sunyi. Jantung Kalandra berdegup semakin cepat. Tatapannya bergerak dari satu lorong ke lorong lainnya, mencari kemungkinan sekecil apa pun. Langkahnya semakin panjang hingga akhirnya ia berbelok ke sektor B, tempat rak nomor empat belas berdiri berjajar. Di sanalah ia berhenti.
Di sudut lorong yang sempit, bersandar lemah pada pintu besi bagian dalam, Hagia terduduk di lantai dengan kepala terkulai. Kedua lengannya masih memeluk erat sebuah map kulit cokelat yang sejak tadi dicarinya. Wajahnya tampak pucat, sementara beberapa helai rambut menempel di pelipis yang basah oleh keringat.
"Hagia..."
Suara Kalandra nyaris berubah menjadi bisikan. Dalam dua langkah lebar, ia sudah berada di hadapan wanita itu. Ia berjongkok tanpa memedulikan lantai yang dipenuhi debu, lalu menepuk pelan pipi Hagia.
"Hagia."
Tidak ada respons. Dadanya seketika terasa sesak.
"Hagia, bangun."
Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, suara Kalandra kehilangan ketegasan yang selama ini selalu melekat padanya. Kelopak mata Hagia bergerak pelan. Napasnya masih ada. Sangat pelan.
Namun cukup untuk membuat beban besar yang menghimpit dada Kalandra sedikit terangkat.
"Hagia."
Perlahan, wanita itu membuka mata. Pandangannya tampak buram beberapa saat sebelum akhirnya berhasil mengenali wajah yang berada sangat dekat di hadapannya.
"Tuan?"
Suara itu begitu lirih hingga hampir tidak terdengar. Kalandra mengembuskan napas panjang tanpa sadar. Seluruh ketegangan yang sejak tadi dipaksanya bertahan seolah runtuh dalam satu detik.
"Iya."
Hanya satu kata itu yang keluar dari bibirnya. Namun, di balik nada tenangnya, tersimpan rasa lega yang bahkan tidak mampu ia sembunyikan lagi. Hagia mencoba mengangkat tubuhnya, tetapi kepalanya mendadak terasa ringan. Tubuhnya limbung sebelum sempat berdiri. Refleks, Kalandra segera meraih bahunya.
"Jangan memaksakan diri."
Ia menopang tubuh Hagia dengan kedua tangannya, memastikan wanita itu tidak kembali terjatuh. Saat itulah ia menyadari betapa dinginnya telapak tangan Hagia, sementara napasnya terdengar pendek akibat terlalu lama berada di ruangan tanpa sirkulasi udara.
"Siapkan oksigen portabel!" seru kepala keamanan kepada petugas di belakang. "Dan panggil tim medis perusahaan sekarang juga!"
Beberapa petugas langsung bergerak meninggalkan ruangan.
Sementara itu, Kalandra tetap berjongkok di hadapan Hagia. Tatapannya tidak pernah berpindah dari wajah wanita itu, seolah memastikan setiap tarikan napasnya benar-benar kembali normal. Baru setelah melihat warna di wajah Hagia perlahan mulai kembali, ia menyadari satu hal. Map arsip yang sejak tadi dipeluk Hagia masih berada di dalam dekapannya. Bahkan dalam keadaan hampir kehilangan kesadaran, wanita itu tidak melepaskan dokumen yang ditugaskan kepadanya.
Kalandra menghela napas pelan. Jemarinya bergerak hati-hati, berusaha mengambil map yang masih dipeluk Hagia. Namun, bahkan dalam keadaan lemah, jari-jari wanita itu tetap menggenggamnya begitu erat.
"Hagia."
Wanita itu kembali mengangkat pandangannya. Matanya masih tampak kehilangan fokus.
"Dokumennya..." bisiknya lirih. "Sudah ketemu."
Kalimat sederhana itu justru membuat rahang Kalandra mengeras. Dalam kondisi seperti ini, Hagia masih memikirkan pekerjaannya. Kalandra menggeleng pelan.
"Saya tidak sedang bertanya tentang dokumen."
Tangannya perlahan membuka jemari Hagia yang mulai dingin.
"Biar saya yang membawanya."
Hagia tidak lagi mempertahankan map itu. Genggamannya mengendur sedikit demi sedikit hingga akhirnya Kalandra berhasil mengambil dokumen tersebut dan menyerahkannya kepada salah seorang petugas keamanan.
"Tolong simpan baik-baik. Jangan sampai rusak."
"Baik, Pak."
Petugas itu menerima map tersebut dengan kedua tangan sebelum segera menjauh. Kalandra kembali memusatkan seluruh perhatiannya kepada Hagia.
"Kepalamu masih pusing?"
Hagia mengangguk pelan.
"Sedikit... sesak."
Ucapan itu membuat tatapan Kalandra berubah. Ia menoleh kepada kepala keamanan yang baru kembali bersama sebuah tabung oksigen portabel.
"Di mana tim medis?"
"Sedang menuju ke sini, Pak. Mereka sudah naik dari lantai satu."
Kalandra mengangguk singkat, tetapi kesabarannya mulai menipis.
"Terlalu lama."
Tanpa menunggu lagi, ia menyelipkan satu lengan di belakang punggung Hagia, sementara lengan satunya lagi menopang kedua lutut wanita itu.
Hagia sedikit terkejut.
"Tuan...?"
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya telah terangkat sepenuhnya ke dalam gendongan Kalandra. Gerakan itu begitu mantap seolah pria tersebut tidak memberi ruang sedikit pun untuk ditolak.
"Kita harus keluar dari sini."
Nada suaranya tetap tenang, tetapi tidak membuka kesempatan untuk berdebat.
Secara refleks, Hagia mencengkeram pelan bagian depan kemeja Kalandra agar tubuhnya tetap seimbang. Jarak mereka begitu dekat hingga ia dapat mendengar detak jantung pria itu yang masih berdetak lebih cepat daripada biasanya. Kalandra melangkah keluar dari lorong arsip dengan langkah lebar. Semua petugas keamanan spontan menepi, memberi jalan. Tak seorang pun mengucapkan sepatah kata. Mereka hanya saling bertukar pandang. Selama bertahun-tahun bekerja di Arshaka Group, belum pernah sekalipun mereka melihat CEO mereka menggendong seseorang dengan wajah secemas itu.
Begitu tiba di koridor, udara yang lebih segar langsung menyambut mereka. Hagia menarik napas lebih dalam daripada sebelumnya, meski dadanya masih terasa berat.
"Sudah lebih baik?" tanya Kalandra tanpa menghentikan langkah.
Hagia mengangguk tipis.
"Sedikit."
Jawaban itu tidak cukup membuat Kalandra merasa tenang. Tatapannya tetap lurus ke depan, sementara kedua lengannya semakin mantap menopang tubuh Hagia. Beberapa detik kemudian, pintu lift terbuka dengan bunyi pelan. Tim medis perusahaan baru saja keluar sambil membawa tandu lipat dan peralatan pemeriksaan darurat.
"Kami akan memeriksanya di sini, Pak," ujar salah seorang tenaga medis.
Kalandra berhenti, tetapi tidak langsung menurunkan Hagia.
"Pastikan kadar oksigennya normal."
"Baik, Pak."
Barulah setelah mendapat anggukan dari tenaga medis, Kalandra menurunkan Hagia dengan sangat hati-hati ke atas tandu. Tangannya baru benar-benar terlepas ketika memastikan wanita itu telah berada dalam posisi yang aman.
Meski demikian, ia tetap berdiri di sisi tandu. Tidak bergeser sedikit pun. Tatapannya mengikuti setiap gerakan tenaga medis yang mulai memasang alat pengukur saturasi oksigen di ujung jari Hagia, seolah takut kehilangan sedetik saja perkembangan kondisi wanita itu.
Next--->
semoga bukunya sukses
semoga saja ada yang menolong 😔🤲
pada penasaran dengan sosoknya, tapi dia ada didepan orang² yang penasaran padanya 🤭
enak dibaca.. ❤️❤️❤️❤️❤️
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻