Indonesia
NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Brondong SMA

Jatuh Cinta Pada Brondong SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: yuni93

Aku pikir tidak akan pernah jatuh cinta lagi setelah dikhianati oleh orang yang paling kupercaya. Namun kehadiran Juvan, seorang siswa SMA yang sederhana dan selalu memperlakukanku dengan tulus, perlahan mengubah semuanya. Di saat aku berusaha menganggapnya hanya sebagai adik, dia justru membuat hatiku berdebar dengan cara yang tidak pernah dilakukan siapa pun sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya, aku takut mengakui bahwa aku mulai jatuh cinta pada berondong SMA. 🤍

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuni93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ulang Tahun Yena

Juvan baru sampai di rumah lalu mendapat telpon dari kenzo

"halo, ken ada apa"

"juvan gue cuma mau bilang besok lusa kakak ulang tahun,"

"oh gitu ya makasih ken udah ngasih tau, pasti nanti ada acara ya di rumah kamu"tanya juvan

"oh iya aku mau ngasih tau kamu tiap tahun gk ada perayaan ulang tahun buat kaka di rumah ini, soalnya papa gk pernah inget,biasanya  setiap ulang tahun kak yena cuma di rayain sama om arga doang, terus kumpul sama teman teman dia,dah gitu aja"

oh gitu ya, oke ken sekali lagi makasih atas infonya,"

"iya sama-sama "

Telpon pun terputus.

juvan masuk ke kamar lalu senyum di bibirnya terukir,mengingat kata kata kenzo barusan yang bilang kalau ulang tahun yena itu besok lusa

juvan berpikir ingin merayakan ulang tahun nya sederhana saja tapi bikin dia bahagian, "besok aku akan pergi ke luar untuk membelikan hadiah untuk kak yena"setelah mendapat kabar dari kenzo juvan tak berhenti tersenyum membayangkan dia akan merayakan ulang tahun kekasih nya itu untuk yang pertama kali nya.

Malam itu,Juvan tidak bisa tidur. Ia terus tersenyum sendiri di atas kasur, membayangkan wajah Yena saat melihat kejutan yang akan ia siapkan Besok lusa dan ia berjanji pada dirinya sendiri — Ia akan memastikan hari itu menjadi hari yang paling berkesan bagi perempuan yang ia cintai.

Keesokan harinya, begitu bel pulang sekolah berbunyi, Juvan langsung melesat menuju pusat perbelanjaan terbesar di kotanya. Ia berkeliling dari satu toko ke toko lain, namun belum menemukan sesuatu yang terasa tepat. Semua terasa biasa saja, tidak cukup istimewa untuk Yena. Hingga kakinya berhenti di depan sebuah toko aksesoris yang tampak elegan.

"Mbak, boleh minta bantuannya?" tanyanya ramah begitu masuk. "Saya sedang mencari hadiah ulang tahun untuk pacar saya. Gelang yang paling cantik dan bermakna yang mana ya?"

Penjual itu tersenyum ramah lalu mengambil sebuah gelang dari etalase — berwarna perak berkilau halus, dengan satu batu kristal Swarovski yang bersinar lembut di tengahnya. "Ini pilihan yang paling banyak disukai, Mas. Sederhana tapi elegan, dan batu ini melambangkan kejernihan serta keindahan yang tak pernah pudar."

Begitu melihatnya, hati Juvan langsung berdebar. Itu dia. Persis seperti Yena — cantik, bersinar, dan selalu berharga baginya. Tanpa ragu sedikit pun, ia membayarnya meski harganya cukup membuat tabungannya berkurang banyak. Tapi apa pun demi senyum Yena, ia tidak akan pernah keberatan.

"Pasti akan sangat cantik di pergelangan tangan Kak Yena," gumamnya pelan sambil memegang kotak kecil itu di dalam pelukan erat seolah itu adalah harta paling berharga di dunia.

Sementara itu di rumah Yena, suasana terasa agak sepi. Yena baru saja menutup telepon dengan Vivien dan Zara — mereka berencana makan siang besok di restoran favorit mereka untuk merayakan ulang tahunnya. Tapi begitu layar ponsel gelap, pandangannya jatuh ke nomor kontak Juvan di daftar panggilan.

"Haruskah aku bilang ke Juvan kalau besok ulang tahunku?" batinnya ragu. Tapi rasa gengsi lebih kuat." Ah, nanti saja kalau dia tanya. Atau... biarkan saja dulu."

Namun di sudut hatinya, ada rasa sedih yang perlahan merayap. Ia kembali menatap foto keluarga di meja belajar — dirinya, Kenzo, dan Papa yang dulu selalu tersenyum hangat. Sejak kepergian Mama, Papa berubah menjadi sosok yang jauh, sibuk dengan pekerjaan hingga sering lupa pada hari ulang tahun anak-anaknya. Tiap tahun, yang ia dapatkan hanyalah ucapan singkat dari teman-teman, dan dulu... dari Arga.

"Tidak apa-apa, Yena. Yang penting besok ada Vivien dan Zara" hibur dirinya sendiri.

Padahal ia tidak tahu, di seberang sana, seorang remaja laki-laki sedang berjalan pulang dengan langkah ringan, kotak kecil di dalam tasnya, dan satu tekad bulat.

Hari ulang tahun Yena pun tiba. Pagi-pagi sekali, Yena yang masih tertidur pulas tiba-tiba terbangun karena suara ketukan pintu yang berulang.

"Ya ampun, siapa sih sepagi ini ketok-ketok pintu?" gerutunya pelan sambil mengucek mata yang masih berat. Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju pintu dan membukanya perlahan.

Di sana, berdiri Kenzo dengan wajah berseri-seri, kedua tangannya memegang sebuah kue ulang tahun mini yang di atasnya tertancap satu lilin yang belum menyala.

"Happy birthday, Kakak aku yang paling cantik sedunia!" seru Kenzo semangat, matanya berbinar bahagia.

Yena tertegun sejenak, rasa kantuknya seketika hilang. "Ini masih pagi banget loh, Dek," ucapnya lembut, senyum tipis mulai terukir di bibirnya.

"Gak apa-apa, biar hari ini aku jadi orang pertama yang ucapin ulang tahun ke Kakak!" jawab Kenzo tak menyerah.

Hati Yena terasa hangat sekali. Rasa bahagia perlahan memenuhi dadanya. "Makasih ya, Dedek," ucapnya tulus, suara terdengar sedikit bergetar karena haru.

"Ayo Kak, tiup lilinnya! Sebelum tiup lilin, Kakak make a wish dulu ya!" Kenzo menyalakan lilin itu dengan hati-hati.

Yena memejamkan mata sejenak, menyusun harapannya dalam hati, lalu perlahan meniup lilin itu hingga padam.

"Kak, di umur Kakak yang ke-23 tahun ini, semoga Kakak bahagia terus, sehat, dan makin banyak duit! Hehe," Kenzo tertawa renyah.

Yena terkekeh pelan. "Hahaha, kamu ini bisa aja. Aamiin... makasih ya, Dek, atas doanya," ucapnya sambil mengelus kepala adiknya dengan penuh kasih sayang.

Baru saja Kenzo pergi ponsel di meja samping tempat tidurnya tiba-tiba berdering nyaring. Yena melirik, dan seketika jantungnya berdebar kencang. Di layar tertulis nama — Juvan.

Dengan tangan yang sedikit gemetar karena antusiasme, Yena segera mengangkat panggilan itu dan menempelkan ponsel ke telinganya.

"Iya, Sayang? Tumben pagi-pagi nelpon," ucapnya lembut.

"Malam ini kamu sibuk gak?" tanya Juvan langsung, suaranya terdengar antusias.

"Enggak, kebetulan malam ini aku gak sibuk dan gak ada tugas kuliah juga. Kenapa?"

"Aku mau ketemuan sama kamu di taman nanti malam jam 7. Aku jemput kamu ya."

Belum sempat Yena menjawab, telepon pun terputus.

"Loh? Kok putus..." Yena menatap layar ponselnya yang gelap, sedikit kesal tapi tak bisa menahan senyum. "Sengaja dia putusin atau lagi gak ada sinyal ya?"

Namun rasa kesal itu seketika hilang, berganti rasa bahagia yang mekar di dadanya.

Pagi itu berlalu begitu hangat. Yena bersiap-siap, berdandan cantik dan memakai parfum wangi kesukaannya, lalu berangkat menuju restoran untuk bertemu dua sahabat terbaiknya. Sesampainya di sana, Zara dan Vivien sudah menunggu.

"Maaf ya bikin kalian nunggu lama!" sapa Yena saat tiba di meja mereka.

"Gak apa-apa, Yena. Lagian kita juga baru datang kok," jawab Vivien ramah.

Tanpa banyak bicara lagi, Zara membuka sebuah kotak cantik di atas meja — berisi kue ulang tahun yang begitu indah, terlihat sangat lezat dan mewah.

"Happy birthday, Yena!" seru Vivien dan Zara berbarengan.

"Gak terasa kamu sudah 23 tahun! Yen, semoga usia baru ini membuatmu semakin bijak dalam melangkah dan lebih bahagia ya. Makin cantik, makin sukses, dan makin menyala!" ucap Zara tulus.

"Yena, selamat ulang tahun ya! Semoga panjang umur, biar aku ada alasan buat minta traktir setiap tahun, hehe," tambah Vivien sambil tertawa.

"Baru kali ini aku denger ucapan ulang tahun modelan kayak gitu," celetuk Zara, dan seketika tawa mereka pecah memenuhi ruangan restoran.

Setelah tertawa puas, Zara dan Vivien mengeluarkan sebuah paperback cantik dari bawah meja. "Ini hadiah buat kamu, Yen."

Zara dan vivien memberikan hadiah itu pada yena.

Senyum lebar langsung terukir di wajah yena

"Makasih ya, guys... kalian berdua memang yang terbaik!" ucap Yena tulus, suaranya terdengar sedikit bergetar karena haru.

"Iya sama-sama, Yen. Karna hari ini ulang tahun kamu, kamu bebas mau pesen makanan apa aja, nanti kita yang traktir!"

"Siap!" jawab Yena penuh semangat.

Mereka pun menghabiskan waktu dengan penuh tawa dan cerita — makan bersama, bercerita tentang kuliah, toko kue, hingga hal-hal kecil yang membuat mereka bahagia. Yena merasa begitu hangat, dikelilingi oleh orang-orang yang tulus menyayanginya.

1
Visitor3579
Kagak perlu didengerin, klo udah ketahuan selingkuh ya ketahuan ajah. ga usah pake sok nyesal
Visitor3579
Cowok bloooon
Visitor3579
Gilak, dari sini Yena trauma sih buat jatuh cinta lagi. Plisss Yena kuat kan gak menye2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!