Zevanna Lyana Oliver dikenal sebagai gadis bar-bar yang sering bolos, membuat onar, dan gemar balapan liar.
Namun, hidupnya berubah setelah kakaknya, Zoyya Fiorellia Oliver, dikabarkan meninggal dunia di sebuah perusahaan ternama.
Kematian Zoyya dianggap sebagai kecelakaan. Tapi Zevanna menemukan kejanggalan yang membuatnya yakin ada sesuatu yang disembunyikan.
Setelah lulus SMA, Zevanna masuk ke Verion Group, perusahaan tempat kakaknya dulu bekerja.
Tujuannya cuma satu: mencari tahu kebenaran di balik kematian Zoyya.
Tapi semakin jauh Zevanna mencari, semakin banyak rahasia yang terbongkar.
Siapa sebenarnya yang berada di balik kematian Zoyya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lannn_019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinonaktifkan
Keesokan harinya, karyawan membicarakan kejadian Zevanna yang sampai dirawat di rumah sakit.
Beberapa orang berbisik.
"Katanya makanan dari Andrew ya?"
"Iya. Makanya sekarang HR lagi menyelidiki." Jawab yang lain.
"Kasian ya si Zevanna."
"Iya gue juga kasihan sama dia padahal dia kerjaannya bagus.”
Ravenzo memanggil Andrew ke ruangannya.
"Makanan itu kamu yang kasih?" Tanya Ravenzo datar.
Andrew mengangguk. "Iya, Pak."
Ravenzo menatap tajam. "Mulai sekarang jangan berikan apa pun kepada Zevanna sebelum masalah ini jelas."
"Baik, Pak." Jawab Andrew sambil menunduk.
Ia diam-diam mengepalkan tangannya. Lalu keluar dari ruangan Ravenzo.
Setelah Andrew diperiksa, pihak perusahaan mulai menelusuri siapa saja yang berhubungan dengan meja kerja Zevanna sebelum ia jatuh sakit.
Gista dipanggil ke ruang HR untuk memberikan keterangan.
Pihak HR membuka beberapa catatan di hadapannya.
"Menurut laporan yang kami terima, kemarin kamu sempat berada di area kerja Mbak Zevanna?"
Gista mengangguk. "Iya, Pak. Saya memang sempat ke sana karena ada urusan administrasi."
"Berapa lama kamu berada di sana?"
"Nggak lama. Paling cuma beberapa menit."
"Selama berada di sana, kamu menyentuh makanan atau barang milik Mbak Zevanna?"
Gista langsung menggeleng. "Nggak, Pak. Saya cuma mengurus dokumen. Saya bahkan nggak memperhatikan makanan di meja Mbak Zevanna."
Pihak HR mencatat keterangannya.
"Baik. Untuk sementara, kamu tetap berada di kantor seperti biasa. Kalau nanti kami membutuhkan keterangan tambahan, kamu akan dipanggil lagi."
Gista mengangguk pelan. "Baik, Pak."
Ia kemudian keluar dari ruangan HR.
Namun baru beberapa langkah, Gista berhenti.
"Kenapa gue ikut diperiksa cuma karena berada di sekitar meja Zevanna?" gumamnya pelan.
Ia menatap kembali pintu ruang HR sebelum akhirnya berjalan pergi.
Dari kejauhan, seseorang memperhatikannya. Lalu ia pergi dari sana.
***
Bisma melihat Andrew keluar dari ruangan Ravenzo.
Keduanya berpapasan.
Bisma terlihat gugup.
Andrew menatapnya. "Bisma."
Bisma berhenti. "Iya, Mas?"
Andrew hendak mengatakan sesuatu. Namun Bisma langsung pergi begitu saja.
Andrew hanya menatap punggungnya dengan dahi berkerut.
***
Hesa sedang membersihkan salah satu area kantor.
Ia menemukan benda kecil di bawah meja dekat area kerja Zevanna.
Deg!
sebuah key tag kecil tanpa nama. Bentuknya seperti tag akses tambahan.
Hesa mengenalinya. Ia terdiam, wajahnya langsung berubah.
Ia hendak mengambilnya. Namun tiba-tiba terdengar suara langkah kaki.
Hesa buru-buru memasukkan benda tersebut ke sakunya.
"Hesa, lo lagi ngapain?" Tanya Fika.
Hesa mendongak. "Ini gue lagi bersihin area sini aja."
Fika mengernyit kening lalu mengangguk. "Oh gitu. Eh, nanti dokumen kemarin kasih ke gue, ya."
"Iya." Jawab Hesa singkat.
Fika menatap Hesa. "Sa, lo tadi tau nggak si Gista dipanggil sama pihak HR!"
Hesa meliriknya sekilas. "Kenapa dia dipanggil sama pihak HR?"
Fika mengangkat bahu. "Nggak tau, mungkin masalah kerjaan. Lo tau sendiri dia orangnya kayak gimana."
Hesa terdiam sejenak. "Iya sih, tapi kan dia udah mulai berubah sedikit sekarang."
Fika mendengus kecil. "Berubah sih, tapi kebiasaannya nggak hilang-hilang."
"Lo jangan ngomong kayak gitu, nanti kalau dia denger gimana?" Kata Hesa melihat sekitar.
Fika mendecih. "Dih, orang bener yang gue bilang kok."
Hesa menghela napas.
Lo juga nggak pernah ilang kebiasaannya, Fik.
***
Beberapa waktu kemudian, laporan hasil pemeriksaan awal sampai di tangan Ravenzo.
Ravenzo membaca laporan tersebut dengan serius. "Jadi Andrew memang orang yang memberikan makanan kepada Zevanna, sedangkan Gista hanya tercatat berada di area kerja Zevanna?" tanyanya.
"Benar, Pak," jawab pihak HR. "Kami belum menemukan bukti bahwa Gista menyentuh makanan atau barang milik Mbak Zevanna."
Ravenzo menutup laporan itu. "Kalau begitu, jangan menyimpulkan Gista sebagai pelaku."
"Baik, Pak."
"Tapi untuk sementara, nonaktifkan Andrew dan Gista dari pekerjaan mereka."
Pihak HR tampak sedikit terkejut. "Keduanya, Pak?"
"Iya."
"Padahal belum ada bukti yang mengarah langsung kepada Mbak Gista."
"Saya tahu."
Ravenzo menatap laporan di tangannya. "Ini bukan hukuman. Saya hanya tidak ingin mereka tetap bekerja seperti biasa selama penyelidikan berlangsung. Kita perlu memastikan tidak ada tindakan lain yang mengganggu proses pemeriksaan."
Pihak HR mengangguk memahami. "Baik, Pak. Saya akan sampaikan keputusan ini kepada mereka."
"Satu lagi."
Pihak HR berhenti sebelum keluar.
"Pastikan seluruh sistem CCTV diperiksa dan berfungsi dengan baik. Saya tidak mau ada bagian dari penyelidikan ini yang terlewat hanya karena masalah rekaman."
"Siap, Pak."
Pihak HR kemudian meninggalkan ruangan.
Ravenzo kembali menatap laporan tersebut.
Andrew memberikan makanan.
Gista berada di sekitar area kerja Zevanna.
Dua hal itu memang terlihat mencurigakan.
Tetapi bagi Ravenzo, keduanya belum cukup untuk membuktikan siapa yang sebenarnya berada di balik kejadian tersebut.
***
Di rumah sakit, Zevanna masih dalam masa pemulihan.
Tisha datang membawa beberapa barang dari kantor.
"Zevanna," panggil Tisha.
Zevanna menoleh ke arahnya. "Apa?"
Tisha duduk di samping brankar.
"Lo tau nggak? Mas Andrew dan Mbak Gista dinonaktifkan." kata Tisha.
Zevanna terdiam.
Ia teringat kata-kata dari Andrew.
Aku nggak ngelakuin itu, Zev.
Zevanna menatap Tisha. "Kok Mbak Gista ikutan dinonaktifkan sih?"
"Katanya sih dia sempat berbicara sama Mas Andrew. Tapi gue nggak tau mereka ngomongin apa." Jawab Tisha.
Zevanna mulai penasaran.
Mbak Gista ngomongin apa ya sama Mas Andrew? Apa mereka berdua sekongkol?
Tisha menatap Zevanna yang terdiam. "Woi, lo kenapa diem aja dari tadi? Mikirin apa sih lo?"
Zevanna tersentak kecil dan menggeleng. "Nggak mikirin apa-apa kok."
Tisha manggut-manggut saja. "Ya udah ini gue bawain lo makanan."
Zevanna mengerutkan kening. "Lo beli di mana?"
"Kantor." Jawabnya singkat.
"Kantor?"
"Iya, tenang ini nggak beracun, jadi aman kok." Kata Tisha sambil tersenyum tipis.
Zevanna menatap makanan tersebut. "Ya udah deh, kebetulan gue mau makan. Soalnya makanan rumah sakit nggak enak."
Zevanna mengambil makanan itu dan mulai melahapnya.
Saat makan, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Ting!
Zevanna menoleh dan menyambar ponselnya.
Unknown: Jangan percaya semua orang di Verion Group.
Mata Zevanna membelalak seketika membaca pesan dari nomor tidak dikenal.
Zevanna langsung menyimpan pesan tersebut.
***
Kembali ke kantor.
Elsa sedang membereskan dokumen di ruang administrasi.
Ia mendengar dua karyawan membicarakan Andrew dan Gista.
Elsa terlihat tidak nyaman ketika mendengar nama Gista.
Lalu ia pergi menuju ruangannya.
Di sisi lain ruangan.
Meisya sedang mencari dokumen lama.
Ia menemukan sebuah berkas yang seharusnya sudah dipindahkan ke arsip.
Nama Zoyya tercantum di salah satu halaman.
Meisya langsung menutup berkas itu.
"Meisya!"
Meisya buru-buru menyimpan berkas tersebut.
Elsa menatap Meisya. "Kamu buka berkas itu?"
"Nggak sengaja." Jawab Meisya.
"Kalau gitu, jangan dibuka lagi." Kata Elsa pelan.
Meisya mengangguk. "Iya."
***
Henry dipanggil oleh bagian keuangan karena ada ketidaksesuaian dalam beberapa dokumen perusahaan.
"Ini kenapa keuangan tidak sesuai, Henry?"
Henry berdehem. "Saya tidak tau, Pak. Saya sudah mengeceknya berkali-kali dan mengisinya dengan benar."
"Ya sudah kamu perbaiki ini semua dengan benar ya."
Henry mengangguk. "Baik, pak."
Saat memeriksa dokumen, Henry menemukan nama Zoyya pada dokumen lama.
Deg.
Ekspresinya berubah. Ia buru-buru menutup dokumen itu.
Kenapa dokumen itu masih ada sih? Batinnya cemas.
Vera melihat Henry keluar dari ruangan keuangan dengan wajah tegang.
Ia memperhatikan dari jauh.
Henry berjalan menuju ke ruangannya.
Vera tidak mengejarnya. Ia hanya menatapnya.
Kemudian Vera menyimpan sesuatu ke dalam tasnya.
***
Zevanna menghubungi Ravenzo.
"Halo, Pak... Apa benar Mbak Gista terlibat?" Tanya Zevanna.
"Belum ada bukti yang cukup untuk mengatakan dia terlibat." Jawab Ravenzo serak.
Zevanna terdiam sejenak. "Kalau Mas Andrew?"
"Sama. Saya sudah mengecek CCTV dan masih menyelidiki kasus ini."
Zevanna membeku.
Kalau sudah dicek CCTV kenapa Mbak Gista terlibat sih?
***
Setelah menelepon Zevanna, Ravenzo membaca laporan internal.
Ia menatapnya dengan serius.
Waktu Gista berada di pantry ternyata sangat singkat.
Ia hanya berada di sana sebentar.
Sedangkan makanan baru diambil beberapa menit kemudian.
Ravenzo menemukan bahwa laporan awal tentang posisi Gista ternyata dibuat berdasarkan catatan seseorang, bukan langsung dari sistem CCTV.
Nama orang yang membuat catatan itu.
Vera.
Ravenzo menatap Vera. "Kenapa catatan ini berbeda dengan rekaman?"
"Saya mungkin salah mencatat waktunya, Pak." Jawab Vera.
Ravenzo menghela napas. "Lain kali dicek yang benar, ini bukan masalah biasa. Kalau ada yang salah, yang kena perusahaan ini. Paham kamu?"
Vera mengangguk. "Paham, Pak. Nanti saya perbaiki."
***
Andrew berada di apartemennya, ia menelepon seseorang.
"Gimana?" Tanya orang itu.
"Mereka percaya gue pelakunya." Jawab Andrew.
"Terus?"
"Gue nggak tau harus mulai dari mana, gue juga udah dinonaktifkan sementara. Gue nggak bisa liat dia buat beberapa hari." Kata Andrew terlihat frustasi.
"Itu konsekuensinya, gue udah berapa kali bilang sama lo. Jangan pernah deketin dia, dan liat lo kena kan!" Kata orang itu kesal.
"Gue cuma mau memperbaiki apa yang dulu gue rusak."
"Perbaiki apa? Semua udah terlambat, dan dia udah benci sama lo."
Andrew menghela napas. Ia menatap gelang di pergelangan tangannya. Tanpa sadar air matanya menetes, ia menahan isak.
***
Gista berjalan dan membuka pintu rumahnya. Ia menuju kamarnya.
Gista membuka sebuah kotak kecil.
Di dalamnya ada salinan dokumen lama milik Zoyya.
Gista menatapnya lama.
"Maaf, Zoyya." katanya dengan mata berkaca-kaca.
Bersambung…