Indonesia
NovelToon NovelToon
Tahta Kaisar Iblis

Tahta Kaisar Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Kausafiksi.id

​Di dunia di mana yang kuat memangsa yang lemah, kebenaran tidak ditentukan oleh siapa yang benar, melainkan oleh siapa yang masih hidup.

​Xuan Chen, seorang pemuda yang dikhianati dan dipandang sebelah mata, memilih melangkah di Jalan Demonic yang penuh darah. Berbekal rahasia Mata Dewa Iblis yang sanggup menembus segala hukum alam dan menaklukkan Qi Demonic yang liar, dia menginjak-injak aturan moralitas palsu dunia kultivasi.

​Dari murid luar yang diburu hingga menjadi sosok yang ditakuti seluruh sekte, ini adalah kisah perjalanan dingin Xuan Chen menginjak setiap penentangnya, merebut kembali takdirnya, dan meniti jalan berdarah menuju puncak lima kaisar agung penguasa alam semesta.

​"Qi Demonic ataupun Qi murni hanyalah kekuatan. Seberapa jauh kekuatan itu membawamu bergantung pada seberapa bijak kau mengendalikannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: PEREBUTAN TOKEN DI NGARAI TENGKORAK

​"Ide yang sangat licik... aku menyukainya, Junior Xuan," bisik Lu Feng dengan kekehan rendah yang tertahan di tenggorokannya.

​Rambut merahnya sedikit bergoyang saat ia ikut merunduk lebih dalam ke balik semak berduri, menyembunyikan hawa keberadaannya sekecil mungkin di balik bayangan tebing.

​Di dasar ngarai, pertempuran telah mencapai titik didih yang mengerikan.

​Xiong Wei meraung bagaikan binatang buas. Otot-otot tegapnya yang dihiasi tato tengkorak tampak berkilat oleh keringat dan cipratan darah musuh. Setiap hantaman tinju murninya membelah udara dengan suara berdesing keras, melepaskan kekuatan hantaman fana yang mendekati seribu lima ratus kati.

​Brak!

​Satu pukulan telak Xiong Wei mendarat di dada salah satu anak buah Yan Ge, seketika meremukkan tulang rusuk pemuda malang itu hingga melengkung ke dalam.

​Tubuh korban terlempar belasan tapak sebelum menghantam dinding batu dan merosot tak bernyawa dengan mulut menyemburkan organ dalam yang hancur.

​"Xiong Wei! Hari ini adalah hari kematianmu di Ngarai Tengkorak ini!" teriak Yan Ge dengan suara serak melengking.

​Pria bermata satu itu bergerak bagaikan bayangan hitam yang lincah. Sepasang belati beracun di tangannya menari-nari di udara, meninggalkan jejak kepulan uap hijau tipis yang korosif.

​Sret! Sret!

​Dengan kecepatan Lapisan Lima Puncak, Yan Ge berhasil menghindari sapuan lengan raksasa Xiong Wei, lalu dengan lihai menyayat pergelangan tangan dan paha lateral lawannya.

​Racun hitam yang pekat seketika merembes masuk ke dalam luka tebasan tersebut, mulai merayap membakar serat otot Xiong Wei.

​"Ugh! Tikus bermata satu bajingan!" Xiong Wei menggeram kesakitan.

​Wajahnya yang kasar tampak memerah menahan laju korosi racun di lengannya. Ia memukulkan kedua kepalan tangannya ke tanah, memicu getaran keras yang meruntuhkan kerikil-kerikil tebing di sekitarnya.

​"Hanya dengan racun murahan ini kau pikir bisa menembus pertahanan fisikku?!"

​Di atas celah batu, Xuan Chen menyaksikan setiap detail pertarungan itu dengan pandangan sedingin es. Di dalam benaknya, ia terus mengalkulasi aliran energi dan tingkat kelelahan otot kedua petarung tersebut.

​(Kedua orang ini memang monster di Ranah Penempaan Tubuh. Ketebalan fisik Xiong Wei sanggup menahan laju racun korosif untuk sementara waktu, sementara kelincahan Yan Ge mulai menurun karena konsumsi energi yang masif dari gerakan cepatnya. Sedikit lagi... saat stamina mereka benar-benar terkuras di titik nadir...) batin Xuan Chen.

​Tangannya perlahan mencengkeram gagang belati cadangan di pinggangnya dengan sangat erat.

​"Junior, lihat! Yan Ge mulai terdesak!" bisik Lu Feng tegang, tangannya yang melengkung membentuk cakar binatang buas tampak bergetar karena adrenalin yang melonjak.

​Benar saja, Xiong Wei yang murka mengabaikan rasa sakit akibat racun dan menerjang maju bagaikan banteng gila. Ia mencengkeram pundak Yan Ge, membiarkan belati beracun lawan menusuk bahunya sendiri demi mengunci pergerakan pria bermata satu itu.

​"Kena kau!" raung Xiong Wei dengan mata memerah penuh kegilaan demonic.

​Dengan satu hantaman dahi yang luar biasa keras, Xiong Wei membenturkan kepalanya ke wajah Yan Ge.

​Prat!

​Bunyi patahnya tulang hidung bergaung mengerikan di dasar ngarai.

​Yan Ge menjerit histeris saat tubuh kurusnya terlempar mundur, berguling-guling di atas tanah berbatu dengan wajah yang berlumuran darah segar.

​Di sisi lain, Xiong Wei juga berlutut dengan satu kaki, napasnya terengah-engah berat seperti pandai besi, sementara warna kehitaman dari racun belati telah menyebar hingga ke leher tegapnya.

​Sisa-sisa pengikut kedua kelompok yang masih hidup kini saling memandang dengan ragu, nyali mereka ciut melihat kedua pemimpin mereka telah sama-sama terluka parah dan kehabisan tenaga murni.

​Xuan Chen tahu, saat yang dinanti telah tiba. Sudut bibirnya terangkat membentuk garis tipis yang kejam.

​"Senior Lu, bersiaplah. Begitu kita turun, abaikan Xiong Wei dan Yan Ge. Langsung menuju ke reruntuhan batu di sudut kanan untuk mengambil Token Darah asli sebelum mereka menyadarinya," perintah Xuan Chen dengan nada berbisik namun penuh otoritas.

​"Jika ada yang menghalangi... bantai tanpa ragu."

​Lu Feng menyeringai picik, mengangguk cepat. "Dimengerti!"

​Satu hentakan kaki yang sunyi namun bertenaga mengirim tubuh Xuan Chen meluncur turun melintasi dinding batu ngarai yang terjal. Jubah hitam polosnya berkibar pelan, menyatu sempurna dengan bayangan tebing yang remang.

​Di belakangnya, Lu Feng mengikuti dengan kelenturan tubuh seorang praktisi bela diri cakar; pergerakannya lincah dan tanpa suara, memanfaatkan setiap tonjolan batu sebagai pijakan sementara.

​Di dasar ngarai, sisa-sisa murid luar dari kedua kelompok masih saling menatap dengan napas terengah-engah, terjebak dalam keraguan berdarah.

​Xiong Wei masih berlutut dengan satu lutut, wajahnya yang kekar tampak terdistorsi oleh rasa sakit yang hebat saat racun hitam milik Yan Ge mulai menggerogoti jalur meridian di bahunya.

​Di seberangnya, Yan Ge meraba wajahnya yang hancur, darah kental mengalir dari hidungnya yang patah, sementara napasnya terdengar seperti embusan angin dari paru-paru yang bocor.

​Wusss!

​Dua bayangan hitam mendarat dengan mulus di sudut kanan ngarai, tepat di bawah kegelapan runtuhan batu raksasa yang terisolasi dari sisa medan pertempuran.

​Begitu kakinya menyentuh tanah berbatu, Xuan Chen tidak membuang waktu satu detik pun. Mata dinginnya langsung memindai tumpukan puing batu.

​(Di balik celah ini...) batin Xuan Chen.

​Ia tidak menggunakan Mata Misteriusnya lagi—itu adalah tindakan konyol jika ia menguras staminanya di tengah wilayah musuh yang terluka namun masih berbahaya.

​Mengandalkan ingatan visual yang tepat dari intipan singkatnya sebelumnya, Xuan Chen meraba celah di bawah bongkahan batu terbesar. Jari-jarinya yang kuat mencengkeram permukaan dingin dari sebuah benda keras.

​Ketika ia menarik tangannya kembali, sebuah token kayu berwarna merah gelap dengan ukiran tengkorak yang memancarkan aroma esensi darah samar kini berada di genggamannya.

​Token Darah yang asli.

​"Junior Xuan, kau benar-benar mendapatkannya!" bisik Lu Feng dengan mata membelalak lebar, wajahnya dipenuhi campuran rasa tidak percaya dan keserakahan yang tertahan. Tangannya yang melengkung membentuk cakar bergetar hebat.

​"Tetap tenang. Kita belum keluar dari tempat ini," sahut Xuan Chen datar, langsung menyelipkan token tersebut ke dalam lipatan terdalam jubah hitam polosnya.

​Namun, gerakan mereka tidak sepenuhnya luput dari perhatian.

​Salah satu anak buah Yan Ge—seorang murid Lapisan Tiga yang sedang bersandar di batu untuk memulihkan diri—menoleh ke arah sudut ngarai dan menangkap siluet dua orang yang baru saja muncul entah dari mana.

​"Si-siapa di sana?! Ada orang lain yang menyusup!" teriak murid itu dengan suara serak, menunjuk ke arah Xuan Chen dan Lu Feng.

​Seketika itu juga, pandangan Xiong Wei yang kabur oleh racun dan mata satu Yan Ge yang dipenuhi darah beralih ke sudut kanan ngarai. Aura permusuhan yang pekat langsung mengunci posisi kedua penyusup.

​"Tikus-tikus tak tahu malu... berani sekali kalian mencuri di bawah hidungku!" raung Xiong Wei.

​Dengan sisa-sisa tenaganya, ia memukul tanah dengan kepalan tangannya yang berbobot ribuan kati, mencoba memicu getaran untuk meruntuhkan tebing di atas Xuan Chen.

​Brakkk!

​Tanah di bawah kaki Xuan Chen bergetar hebat, membuat beberapa batu besar mulai berguguran.

​"Senior Lu, serang murid Lapisan Tiga yang berteriak itu sebelum dia memprovokasi yang lain untuk mengepung kita. Aku akan menangani arah mundur kita," perintah Xuan Chen cepat, matanya berkilat dingin saat ia membaca rute pelarian tercepat di dinding tebing.

​"Biar kuhancurkan tenggorokannya!" Lu Feng menyeringai kejam.

​Tubuhnya melesat maju dengan kecepatan Lapisan Empat, jari-jarinya yang mengeras bagaikan cakar besi langsung mengarah ke leher murid yang berteriak tadi.

​Srekk!

​Suara robekan otot dan tulang leher terdengar samar di tengah gemuruh runtuhan batu yang dipicu oleh Xiong Wei. Lu Feng tidak menunjukkan belas kasihan; cakar bajanya menembus trakea murid malang itu dengan presisi seorang pemburu berpengalaman.

​Darah muncrat, membasahi wajah Lu Feng yang kini menyeringai penuh kepuasan.

​Xuan Chen tidak menoleh. Fokusnya terkunci pada dinding tebing di hadapannya.

​Melalui insting tempurnya, ia mengabaikan rasa lelah di kaki; ia tahu bahwa jika ia berdiri diam di posisi ini, Xiong Wei yang sedang mengamuk akan meluncurkan serangan fisik penghancur tulang berikutnya.

​Bruk!

​Bongkahan batu besar jatuh tepat di tempat Xuan Chen berdiri beberapa detik lalu.

​Ia sudah melompat, kakinya menendang permukaan dinding tebing dengan tenaga yang terukur, memutar tubuhnya di udara untuk menghindari kepulan debu yang menutupi penglihatan.

​"Kau tidak akan bisa lari membawa token itu, bocah sialan!" teriak Yan Ge.

​Meskipun hidungnya hancur dan matanya tertutup darah, pria itu menarik belati racunnya dari tanah dan melemparkannya dengan tenaga terakhir.

​Sssss...

​Belati itu meluncur, membelah udara dengan desiran suara yang tajam.

​Xuan Chen, yang berada di posisi puncak lompatannya, merasakan hawa dingin dari bilah beracun tersebut tepat di arah sisi lehernya. Ia tidak memiliki waktu untuk menghindar sepenuhnya.

​Dengan gerakan refleks yang ekstrem, Xuan Chen memiringkan kepalanya sedikit—menyisakan sayatan tipis di kulit lehernya—namun cukup untuk membelokkan lintasan belati tersebut. Bilah itu menghantam dinding batu, memercikkan bunga api kecil.

​Xuan Chen mendarat dengan satu lutut di atas bongkahan batu yang menonjol. Ia tidak membuang napas untuk membalas teriakan mereka.

​Di benaknya, ia mengalkulasi waktu yang dibutuhkan Xiong Wei untuk bangkit sepenuhnya dari efek racun yang mulai melumpuhkan kakinya.

​(Sepuluh tarikan napas. Mereka akan kembali menyerang.)

​"Senior Lu! Tinggalkan mayat itu dan bergerak ke atas, sekarang!" perintah Xuan Chen dengan nada rendah dan dingin.

​Lu Feng, yang baru saja mencabut cakarnya dari leher korban, menoleh dengan mata liar. "Bagaimana dengan mereka? Mereka mulai bergerak maju!"

​"Biar mereka mengejar ke atas. Ngarai ini adalah kuburan bagi mereka yang kehabisan stamina," balas Xuan Chen.

​Ia segera memanjat celah tebing yang lebih curam, meninggalkan dasar ngarai di bawah sana.

​Xuan Chen tahu, dengan kondisi fisik mereka yang sudah terkuras akibat pertarungan dan racun yang merambat, Xiong Wei dan Yan Ge tidak akan bisa mengejar mereka melalui jalur tebing yang sulit ini tanpa risiko fatal.

​Xuan Chen sengaja memancing mereka untuk menghabiskan sisa tenaga di medan yang tidak menguntungkan bagi para Lapisan Lima Puncak yang sudah terluka itu.

​Saat ia terus memanjat, Xuan Chen merasakan denyut nyeri yang akrab di pelipis matanya.

​Penggunaan berlebihan dari Mata Misterius dan sisa beban fisik tadi mulai menuntut harga; penglihatannya sesekali berkedip menjadi buram dan sensasi lemas merambat dari ujung jempol kakinya.

​(Sedikit lagi. Aku harus tetap sadar sampai kita mencapai punggung bukit.)

​Ia menoleh ke belakang, melihat Xiong Wei yang mencoba memanjat dengan raungan frustrasi, namun kakinya yang bergetar justru membuatnya tergelincir jatuh kembali ke dasar ngarai.

​Yan Ge hanya bisa terduduk, napasnya tersengal parah, racun di dalam tubuhnya kini benar-benar melumpuhkan fungsi motoriknya.

1
Day Chuk
Xuan Chen punya Cheat di mata 🤣
Kausafiksi: Hehehe benar
total 1 replies
Septiana Athorid
makin seru
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
Day Chuk
lanjut 🙏
Kausafiksi: 👍 siap
total 1 replies
Day Chuk
aku pikir su ling yang akan jafi rekan nya thour
Day Chuk: Hahahha sibuk ngapain thor
total 2 replies
:P @.Ar.world(づ ̄ ³ ̄)づ
mampir ya bro ke buku novel gua (。・ω・。) btw novel mu enak juga ya ceritanya tapi sayangnya fotonya hanya ia mau aku bantu kasih karakter laki laki untuk mu gratis
Kausafiksi: terimakasih sudah mampir 🙏😁

novel mu juga bagus,

semangat😁
total 1 replies
Septiana Athorid
saran thor kamar 405 harus nya pakai nama sajah, kesan fantasi timur nya kurang

tapi so cerita nya menarik.
Kausafiksi: terimakasih saran nya, akan aku pertimbangkan 🙏
total 1 replies
Septiana Athorid
naggung thor, 10 bab langsung biar puas 😁
Septiana Athorid: sehari 2 kali thor
total 2 replies
Day Chuk
lanjut thor di tunggu🙏
Kausafiksi: update satu hari sekali ya jam 19:00 di tunggu sajah 😁🙏
total 1 replies
Day Chuk
bagus cerita nya, anti hero, gue suka yang langsung yanpa bertele tele thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!