Indonesia
NovelToon NovelToon
Rama Dan Kemungkinan Kecil

Rama Dan Kemungkinan Kecil

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:340
Nilai: 5
Nama Author: Kanji Wara

Pada suatu malam minggu yang gerimis, hubungan asmara antara Rama dan Ratna resmi berakhir di sebuah kedai kopi yang sunyi. Ratna mengambil keputusan untuk menyudahi hubungan mereka karena menyadari adanya standar hidup dan perbedaan kelas sosial yang tidak mampu dipenuhi oleh Rama. Meski hancur, Rama menerima keputusan tersebut dengan ketegaran yang dipaksakan. Perpisahan itu menjadi semakin kontras dan menyakitkan ketika Ratna dijemput oleh sebuah sedan Eropa putih mewah yang merepresentasikan dunia barunya yang penuh kenyamanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

batas privasi

Setelah pembicaraan yang menguras emosi di ruang tamu utama selesai, salah seorang pengawal senior memberikan isyarat agar Rama mengikutinya. Langkah kaki mereka bergema di sepanjang koridor luas yang dilapisi karpet tebal bermotif klasik, menuju ke salah satu sayap bangunan paviliun belakang. Setelah itu rama pun dibawa kekamarnya.

Pintu ganda berbahan kayu mahoni solid dibuka, memperlihatkan sebuah kamar yang ukurannya bahkan jauh lebih luas daripada seluruh bangunan rumah kos Rama yang lama. Kamar itu dilengkapi dengan tempat tidur berukuran king size dengan seprai sutra, sofa santai, dan sebuah kamar mandi dalam berpintu kaca buram yang sangat mewah. Dan kali ini para pelayan sudah ada disana. Tiga orang pelayan wanita berseragam rapi sudah berdiri menyambut dengan sikap menunduk hormat, memegang nampan berisi jubah mandi, minyak aromaterapi, dan berbagai perlengkapan sanitasi premium.

"tuan rama..." salah seorang pelayan yang tampak paling senior melangkah maju dengan sopan. "maaf ini perintah nyonya besar, anda diminta membersihkan diri."

Melihat persiapan yang begitu berlebihan hanya untuk urusan mandi, rama pun tersenyum. Sifat cuek dan kemandiriannya sebagai anak kos yang terbiasa hidup mandiri langsung mengambil alih. Ia merasa sangat canggung jika harus mandi dengan dilayani oleh orang lain di dalam ruangan tersebut.

"tinggalkan saja peralatannya aku bisa sendiri," kata Rama dengan nada suara yang ramah namun tegas.

"tapi tuan..." pelayan itu tampak ragu-ragu dan cemas. Mereka tahu betul bagaimana disiplin dan tingginya standar kebersihan yang diterapkan oleh Nyonya Besar Antasena di dalam rumah ini. Jika hasil pembersihan diri Rama dianggap kurang maksimal oleh sang nyonya, mereka yang akan menerima konsekuensinya.

Rama terkekeh pelan, menyadari kekhawatiran yang terpancar dari wajah para pelayan tersebut. Ia pun mencoba mencari jalan tengah agar tidak menyulitkan posisi mereka, sekaligus tetap bisa menjaga privasi tubuh atletisnya.

"begini saja," kata Rama sambil melangkah mendekati meja rias.

"biar aku melakukan nya sendiri dulu. nanti jika sudah selesai, kalian bisa cek. kalo masih kurang bersih, maka kalian bisa membersihkannya."

Mendengar solusi pragmatis dan kompromi yang ditawarkan oleh calon menantu klan tersebut, para pelayan itu akhirnya bisa bernapas lega. Sikap Rama yang tidak tinggi hati atau semena-mena membuat mereka merasa sangat dihargai.

"baiklah tuan kami mengerti. kami tunggu di depan kamar. nanti tuan panggil saja," ucap pelayan senior itu sambil meletakkan jubah mandi dan nampan peralatan di atas meja, diikuti oleh pelayan lainnya yang berjalan mundur dengan teratur meninggalkan ruangan.

"baik," kata rama pendek.

Pintu kamar tertutup rapat, menyisakan kesunyian yang mewah di dalam ruangan tersebut. Rama mengembuskan napas panjang, lalu berjalan mendekati cermin besar di sudut kamar. Ia menatap bayangan dirinya sendiri—pemuda sebatang kara berambut sebahu yang beberapa hari lalu masih meratapi nasib di atas kasur tipis, kini resmi memiliki kamar di dalam kastil penguasa kota. Roda permainan takdir telah membawanya masuk ke dalam sangkar emas Keluarga Antasena, dan babak pertama dari kawin kontrak satu tahun ini resmi dimulai dari balik pintu kamar mandi yang tertutup.

Sementara Rama sedang berada di dalam kamarnya, di ruang tengah paviliun utama, Nyonya Antasena masih duduk santai bersama putri tunggalnya. Secangkir teh hangat beraroma melati menemani obrolan sore mereka yang kembali berputar pada sosok pria berambut sebahu yang baru saja resmi menandatangani kontrak satu tahun tersebut.

Nyonya pun bertanya sama putri... Pandangannya beralih dari cangkir teh, menatap wajah anaknya dengan penuh selidik. "nak bagaimana dengan rambutnya?"

Sebagai pemimpin klan tua yang menjunjung tinggi kerapian dan citra formal, rambut gondrong Rama tentu menjadi perhatian tersendiri bagi Nyonya Antasena. Namun, ia ingin tahu bagaimana sudut pandang putrinya yang akan menjadi istri kontrak dari pemuda tersebut.

Kita lihat dulu bu," jawab sang putri singkat, mencoba menyembunyikan rasa penasaran yang sebenarnya mulai tumbuh di dalam dadanya sejak mendengar jawaban filosofis Rama di ruang tamu tadi.

Nyonya Antasena mengangguk pelan, lalu meletakkan cangkirnya di atas tatakan keramik mahal. Raut wajahnya mendadak berubah serius. "baiklah... tapi aku ingatkan 1 hal. nak dia orang baru. tentu belum tau bagaimana tradisi dan budaya di keluarga kita. tolong bimbing dia."

Ia menjeda kalimatnya sejenak, membayangkan kembali ketenangan mata Rama saat menghadapi intimidasi dokumen perjanjian tadi. "dan aku lihat sepertinya anak itu lumayan penurut..??"

"baiklah bu...." sahut sang putri dengan nada pasrah.

Putri tentu saja tak ada pilihan lain. Melawan keputusan ibunya yang otoriter hanya akan mendatangkan badai besar di dalam internal klan. Drpd melawan lebih baik dia jalankan saja apa yg diperintahkan ibunya... Ia memilih untuk berkompromi dengan takdir pernikahan kontrak ini, setidaknya untuk satu tahun ke depan, sambil melihat sejauh mana pria pilihan ibunya itu bisa bertahan di dalam sangkar emas Antasena.

Keheningan di ruangan itu tidak bertahan lama. Suara ketukan pintu yang halus dari arah lorong paviliun menandakan bahwa proses pembersihan diri telah selesai. Tak lama rama pun keluar menemui mereka..Langkah kaki Rama terdengar mantap di atas lantai marmer.

Namun kali ini mereka berdua sedikit tercengang. Baik Nyonya Antasena maupun sang putri langsung menghentikan gerakan mereka, mata mereka terpaku lurus pada sosok pria yang baru saja melangkah masuk ke ruangan.

Pemuda yg kokoh itu datang dengan celana bahan hitam yang pas di tubuhnya, dipadukan dengan kemeja berbahan tipis dan menerawang sehingga siluet otot dia terlihat jelas.. Pakaian pemberian pelayan itu mengekspos bentuk tubuh atletis Rama yang sebenarnya; dada bidangnya yang tegap dan lekukan otot lengannya yang matang tercetak sempurna di balik kain tipis tersebut. Bukan hanya itu, wajahnya juga sudah bersih dari sisa-sisa debu jalanan, dan rambut sebahunya kini berkilau indah setelah dibasuh dengan sampo premium milik keluarga Antasena, jatuh dengan sangat maskulin membingkai rahangnya yang kokoh.

Rama tidak lagi terlihat seperti pemuda kos-kosan yang mirip gembel seperti di depan cermin retaknya tempo hari.

Ia bertransformasi menjadi sosok pria yang memiliki karisma liar, gagah, sekaligus berkelas secara natural tanpa perlu banyak usaha.

"sempurna," kata nyonya dengan mata yang sedikit melebar. Tanpa sadar dia berkata seperti itu, mengagumi pilihan insting biologis dan medis timnya yang ternyata tidak meleset sedikit pun.

Sang putri di sebelahnya hanya bisa terdiam dengan tenggorokan yang mendadak terasa kering. Tatapan dinginnya sempat terkunci pada siluet otot di balik kemeja tipis Rama, menyadari bahwa pria yang akan berbagi kamar dengannya mulai malam ini memiliki pesona fisik yang jauh lebih berbahaya dari yang ia duga.

Suasana di dalam ruangan tengah paviliun berangsur-angsur kembali tenang setelah kejutan visual yang dibawa oleh transformasi fisik Rama. Nyonya Antasena menggeser sedikit posisi duduknya di atas sofa mewah, memberikan isyarat dengan lambaian tangan yang ramah namun tetap berwibawa ke arah menantu pilihannya tersebut.

"duduk sini nak," kata nyonya dengan nada suara yang terdengar jauh lebih hangat dari sebelumnya.Rama pun menuruti perintah calon mertuanya..

Ia melangkah tanpa ragu dan mengambil posisi duduk di seberang mereka. Postur tubuh atletisnya yang tegap di balik kemeja tipis itu membuat kehadirannya di ruangan tersebut terasa begitu mendominasi, meskipun ia bersikap sangat sopan.

Nyonya Antasena menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Rama, meletakkan kedua tangannya di atas meja kaca. "dengarkan aku... minggu depan pernikahan kalian. apakah ada orang yg akan kamu undang?

"Sebagai klan tua yang sangat menjaga reputasi, pesta pernikahan Keluarga Antasena pasti akan digelar dengan sangat megah dan eksklusif. Mengetahui latar belakang Rama yang sebatang kara, sang nyonya ingin memastikan apakah ada lingkaran pertemanan atau kerabat jauh yang ingin dihadirkan oleh pemuda tersebut di hari besarnya.

"ada bu," jawab Rama jujur. Pikirannya langsung melompat pada sosok satu-satunya sahabat sejati yang telah bertaruh uang, demi nasibnya hingga bisa berdiri di kastil ini.

"lalu berapa banyak undangan yg kamu perlukan?" tanya nyonya lagi, bersiap mencatat jumlah porsi untuk tamu dari pihak mempelai pria.

"1 saja," kata rama pendek."

1?"

tanya nyonya dengan alis yang sedikit terangkat, merasa terkejut dengan angka yang terlampau minimalis tersebut. Di dunia konglomerat mereka, daftar undangan biasanya berjumlah ribuan, sedangkan menantunya hanya meminta satu lembar saja.

"yah 1 saja..." Rama menjeda kalimatnya sejenak, menatap lurus ke arah Nyonya Antasena dengan tatapan yang mendadak berubah serius. "tapi maaf nyonya... aku sangat berharap membawa calon istriku untuk memberikan undangan itu langsung padanya."

Mendengar permintaan yang tidak biasa itu, nyonya pun memalingkan wajahnya ke arah putri. Ia menyerahkan keputusan tersebut sepenuhnya kepada anak gadisnya, mengingat membawa sang putri Antasena keluar ke lingkungan sosial biasa untuk mengantar undangan adalah hal yang jarang terjadi.

Sang putri yang sejak tadi menyimak dengan wajah dinginnya, sempat terdiam selama beberapa detik. Ia menatap Rama, mencoba membaca apa motif di balik permintaan mengantar undangan secara langsung tersebut. Apakah pemuda ini ingin memamerkan dirinya, atau ada alasan lain? Namun, melihat ketenangan di mata Rama, ia akhirnya mengembuskan napas pelan.

"ok," kata putri dengan singkat... Ia tidak ingin memperpanjang perdebatan di depan ibunya.

"dan aku juga ambil cuti 1 bulan dari kantor buat persiapan pernikahan kita," sambung putri, memberikan konfirmasi bahwa ia akan mengosongkan seluruh jadwal bisnisnya demi kelancaran prosesi kawin kontrak satu tahun ini.

Rama hanya tersenyum... Sebuah senyuman tipis yang sulit diartikan. Di dalam benaknya, ia sudah menyusun rencana untuk mengenalkan Iwan secara resmi kepada wanita berwajah dingin yang akan menjadi istri kontraknya tersebut.

1
sakura
.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!