Indonesia
NovelToon NovelToon
Putri Cacat Jadi Konglomerat

Putri Cacat Jadi Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Orang Disabilitas / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Dibuang oleh darah dagingnya sendiri hanya karena ia terlahir tidak sempurna.

Haruka tumbuh tanpa pelukan orangtua, tanpa tempat pulang. Dunia memandangnya sebelah mata... dihina, direndahkan, dianggap beban yang tak pantas hidup layak. Tapi di tengah semua penolakan itu, ada satu orang yang tak pernah melepaskannya: seorang nenek tua, satu-satunya yang mau memeluknya tanpa syarat.

Dari pelukan itulah tekad Haruka lahir. Ia bangkit, merangkak sejengkal demi sejengkal dari titik terendah, bukan untuk balas dendam, tapi untuk membuktikan satu hal: gadis cacat yang dulu mereka buang, kini akan berdiri lebih tinggi dari siapa pun yang pernah meremehkannya.

Akankah Haruka berhasil membungkam semua yang pernah menghinanya? Atau luka masa lalu akan terus menariknya kembali ke titik nol?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pemaksaan

Ruang kerja itu dipenuhi kemewahan yang begitu kontras dengan kehidupan sederhana yang pernah dijalani seorang bayi yang dulu ia buang belasan tahun silam.

Rak buku kayu jati berjejer rapi di sepanjang dinding, lukisan-lukisan mahal menghiasi ruangan. Dan di tengahnya, sebuah meja kerja besar terbuat dari kayu mahoni menjadi pusat dari segala keputusan penting perusahaan keluarga itu.

Bagas duduk di kursi kerjanya, wajahnya mengerut kesal menatap selembar rapor yang tergeletak di atas meja. Angka-angka pas-pasan yang tertera di sana membuat rahangnya mengeras, jari-jarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan gelisah.

"Nilai kayak gini terus dari SD sampai sekarang," gumamnya geram, menatap kertas itu dengan tatapan penuh kekecewaan. "Gimana caranya perusahaan sebesar ini bisa dipegang sama anak yang otaknya pas-pasan kayak Reynan?"

Ia bersandar di kursinya, memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. Bertahun-tahun ia berharap memiliki penerus yang cemerlang, seseorang yang bisa membanggakan nama besar keluarga Wirasena, namun kenyataan yang ia hadapi justru sebaliknya.

Reynan, anak yang ia besarkan sejak bayi, tumbuh menjadi remaja dengan prestasi akademik yang jauh dari harapannya.

"Kalau aku tahu bakal begini," desahnya pelan, hampir seperti bisikan kepada dirinya sendiri, "harusnya dulu aku ambil anak lain aja."

Kata-kata itu keluar begitu saja, menyiratkan sebuah rahasia kelam yang selama ini ia kubur dalam-dalam. Jauh dari pengetahuan siapa pun, termasuk istrinya sendiri.

Tepat saat itu, pintu ruang kerja terbuka perlahan. Menampakkan sosok Larasati yang membawa secangkir kopi hangat, aromanya menyeruak memenuhi ruangan begitu ia melangkah masuk.

"Pah, kok kedengeran ngomong sendiri? Ngomongin apa, sih?" tanya Larasati penasaran, meletakkan cangkir kopi itu di atas meja, matanya menatap suaminya dengan rasa ingin tahu. "Tadi Mama denger kayak nyebut-nyebut soal ambil anak lain? Anak siapa yang mau diambil, Pah?"

Bagas tersentak kaget, jantungnya berdegup kencang menyadari bahwa istrinya mungkin telah mendengar lebih banyak dari yang seharusnya. Namun dengan cepat, ia mengendalikan ekspresi wajahnya, menyunggingkan senyum tipis yang terkesan wajar.

"Oh, itu... maksud Papa, mungkin kita perlu ambil karyawan baru buat divisi marketing," jawab Bagas, berusaha terdengar setenang mungkin, meski dalam hati jantungnya masih berdegup kencang menahan kepanikan yang nyaris terbongkar.

"Oh, gitu," Larasati mengangguk, tak sedikit pun menaruh curiga pada jawaban itu. Kepercayaannya pada sang suami begitu besar, hasil dari bertahun-tahun pernikahan yang menurutnya begitu harmonis, tanpa pernah menyangka ada rahasia besar yang tersembunyi rapat di balik senyum tenang suaminya itu.

Bagas segera mengubah sikapnya, wajahnya yang tadi mengeras kini melunak, senyumnya terkembang lebih hangat ke arah istrinya. "Duduk dulu Ma, sini," ajaknya, menepuk pelan kursi di sampingnya.

Larasati duduk, menatap suaminya dengan lembut. "Pah, Mama tadi denger dari pembantu, katanya Papa marah-marah lagi sama Reynan soal nilai rapornya?"

Bagas menghela napas, mengangguk pelan. "Iya, Ma. Papa cuma pengen yang terbaik buat Reynan. Nilai kayak gini terus, gimana Papa mau percaya perusahaan ke dia nanti?"

"Pah," Larasati menggenggam lembut tangan suaminya, suaranya penuh kelembutan, "Mama ngerti Papa pengen yang terbaik. Tapi coba deh, jangan terlalu keras sama Reynan. Dia juga anak kita Pah, punya perasaan juga."

"Papa tegas kayak gini demi kebaikan dia sendiri, Ma," jawab Bagas, nada suaranya kembali serius. "Reynan itu satu-satunya penerus perusahaan ini. Kalau dari sekarang aja dia udah lemah gini, gimana nanti dia mau pimpin ratusan karyawan, ngurusin bisnis miliaran rupiah?"

Larasati terdiam sejenak, memikirkan kata-kata yang tepat sebelum akhirnya menjawab dengan lembut. "Mama ngerti maksud Papa. Tapi mungkin, Reynan itu punya kelebihan di bidang lain, Pah. Bukan berarti nilai akademik pas-pasan itu artinya dia nggak punya potensi sama sekali."

Bagas mendengus pelan, sedikit meremehkan. "Kelebihan apa, Ma? Selama ini Papa lihat, dia cuma buang-buang waktu aja, nggak jelas ngapain."

Mendengar nada meremehkan itu, Larasati justru tersenyum penuh keyakinan. Mengeluarkan ponselnya dari saku, membuka galeri foto yang sudah lama ia simpan. "Coba Papa lihat ini deh."

Ia menyodorkan ponselnya, menampilkan serangkaian foto sebuah kafe kecil yang tertata apik, dengan interior bergaya minimalis modern, dipenuhi pengunjung yang tampak menikmati suasana di sana.

"Ini apa, Ma?" tanya Bagas, mengerutkan kening penasaran.

"Ini kafe punya Reynan, Pah," jawab Larasati bangga, senyumnya semakin lebar. "Dia bangun diam-diam sejak setahun lalu, pakai uang tabungannya sendiri. Mama baru tahu beberapa bulan lalu waktu nggak sengaja lihat dia ke sana."

Mata Bagas membelalak tak percaya. "Ini beneran punya Reynan? Kamu yakin, Ma?"

"Yakin banget, Pah. Mama sempat ke sana langsung, ketemu sama karyawannya juga. Semua bilang, Reynan itu yang atur semuanya, dari konsep, menu, sampai strategi promosinya. Katanya, sekarang udah rame banget pengunjungnya, bahkan udah mulai untung."

Bagas terdiam, menatap layar ponsel itu lekat-lekat, rasa keraguan masih menyelimuti pikirannya. Sulit baginya membayangkan Reynan... anak yang selama ini ia anggap lemah dan tak berbakat, mampu membangun sesuatu sebesar itu tanpa sepengetahuannya.

"Mungkin dalam hal akademik, Reynan memang nggak seperti yang Papa harapkan," lanjut Larasati lembut, "tapi dia punya bakat lain, Pah. Bakat berdagang, bakat lihat peluang bisnis. Itu juga penting kan, buat jalanin perusahaan nanti?"

Bagas menghela napas panjang, sedikit terkesan dengan apa yang baru saja ia lihat, namun keraguan masih menggelayuti benaknya. "Kagum sih Papa, Ma. Tapi tetep aja, kalau nilai akademiknya terus kayak gini, gimana Papa bisa percaya dia bisa pimpin perusahaan sebesar ini? Ngurus kafe kecil sama ngurus perusahaan multinasional itu beda jauh, Ma."

Larasati hanya tersenyum tipis, tak ingin memperpanjang perdebatan itu lebih jauh. Meski dalam hatinya ia berharap suaminya bisa lebih membuka mata terhadap potensi yang dimiliki putra mereka.

Malam harinya, suasana meja makan terasa lebih tegang dari biasanya. Reynan duduk di kursinya dengan wajah waspada, menyadari sesuatu yang tidak biasa dari sikap ayahnya sejak sore tadi. Larasati duduk di sampingnya, sesekali melirik cemas ke arah suaminya yang tampak begitu serius.

Tanpa berbasa-basi, Bagas mengeluarkan sebuah map dari balik jasnya, menyodorkannya kasar ke hadapan Reynan yang duduk di seberang meja.

"Isi ini," ucap Bagas tegas, tak ada nada permintaan sedikit pun dalam suaranya.

Reynan membuka map itu perlahan, mendapati selembar formulir pendaftaran sebuah universitas ternama, lengkap dengan jurusan bisnis manajemen yang sudah dilingkari tebal.

"Papa udah putusin, kamu harus masuk universitas ini. Nggak ada pilihan lain," lanjut Bagas, suaranya penuh ketegasan yang tak bisa dibantah. "Ini bukan permintaan, Reynan. Ini keputusan mutlak yang harus kamu jalanin."

Reynan menatap formulir itu, rahangnya mengeras menahan amarah yang mulai membuncah. "Pah, aku udah bilang, aku nggak minat sama..."

"Nggak ada tapi-tapian!" potong Bagas cepat, suaranya menggelegar memenuhi ruang makan. "Kamu itu penerus keluarga ini, Reynan. Suka nggak suka, kamu harus siap ambil alih perusahaan ini suatu hari nanti."

Reynan mengepalkan tangannya di bawah meja, dadanya bergejolak menahan kemarahan yang selama ini terus ia pendam. Ia ingin sekali membalas, mengungkapkan semua tentang kafe yang telah ia bangun dengan susah payah, tentang mimpi-mimpinya sendiri yang jauh berbeda dari yang selalu diinginkan ayahnya.

"Tapi, Pah..." Reynan mencoba bersuara lagi, namun kali ini Larasati buru-buru menyentuh lengannya di bawah meja, memberikan isyarat agar putranya tak melanjutkan perdebatan yang bisa memicu pertengkaran lebih besar.

"Udah Nan, nanti aja kita omongin lagi," bisik Larasati pelan, matanya menyiratkan permohonan agar suasana tak semakin memanas.

Reynan menatap ibunya sejenak. Lalu kembali menunduk, menahan segala kata-kata yang sebenarnya ingin ia teriakkan. Kepalan tangannya masih gemetar menahan amarah, namun ia memilih diam, mengunci semua kekecewaan itu dalam-dalam.

Bagas, tanpa menunggu respons lebih lanjut, bangkit dari kursinya. Melangkah pergi meninggalkan meja makan dengan langkah tegas, meninggalkan keheningan canggung yang menyelimuti ruangan itu. Sebuah keheningan yang menyimpan begitu banyak kekecewaan, amarah yang terpendam, dan sebuah rahasia besar yang masih tersembunyi rapat, menunggu waktu yang tepat untuk akhirnya terungkap ke permukaan.

1
Ilfa Yarni
akhirnya ank kandung dan ank pungutnya bagas bertemu gmn kelanjutannya ya
Iffanaya 😽
nah kan ternyata anak angkat bahkan istri nya sendiri gk tau, kyk nya setelah buang Hanura ngangkat anak buat gantiin Hanura
Ilfa Yarni
akhirnya ank pungutnya satu universitas dgn haruna aku ingin lihat gmn reaksi bagas klo ketemu haruna apakah dia sadar klo itu ank yg dia buang
Muft Smoker
apa reynand ank yg di ambil Bagas setelah buang haruna ,, buat gantiin haruna???
Iffanaya 😽
apa setelah buang haruna, Larasati hamil lg tp umur nya 18 thn seumuran haruna 🤔
Ilfa Yarni
nah lo wmang enk ank kandung dibuang itu sireynan km pungut dmn
Iffanaya 😽
duuuh jd nangis aku Thor bacanya 😭😭 sedih bgt semangat haruna
Ilfa Yarni
aaa aku Baca ini nagis trus semangat ya haruna km bisa bumtikan pd dunia bahwa ketidaksempurnaan tubuhmu tidak akan menghalangi kesuksesanmu
Muft Smoker
semangat trus haruna ,,
aq GX bakal bosen buat ngucapin kata tu ,,
disaat org yg sempurna byk yg malas2aan ,, Krn merasa punya hidup yg serba berkecukupan ,,
malah menyia2kan hidup muda ny ,,
sedangkan km yg punya kekurangan tdk prnh menyrut kan semangat mu ,,
nenek mu pasti bangga melihat mu dari atas sana haruna ,,
Ilfa Yarni
aaaa sedih bamget aku sampe nangis bacanya aku benci sama kedua orangtua aruna yg tega membuangnya krn kakinya ga normal
Ilfa Yarni
huhuhu. sedih bamget
Muft Smoker
terkadang emnk kondisi seseorang yg di bilang parah ,,
tau2 keliatan ny sembuh seperti biasa ,, yx pertanda kalo tu kondisi sementara sebelum mereka pergii ,, 🥹😭😭😭 ,,

semangat trus haruna ,, km boleh berduka ,, tp cita2 jgn sampe di lupain,,
Muft Smoker
km bnr haruna ,, mimpi bisa menunggu tp nenek mu entah sampai Kpn bisa nunggu ,,
semangat haruna ,,
ni hanya kesuksesan yg tertunda ,,
msh ad jalan lain menuju sukses yg bisa km raih ,,
Muft Smoker
semangat haruna ,, di balik ini semua pasti ada kejutan besar buat dirimu ,,
Ilfa Yarni
knp tib2 begitu kan jadi pecah konsentrasi haruna
Ilfa Yarni
km sangat pintar haruna km pasti bisa mask universitas itu
Muft Smoker
semangat haruna ,, km pasti bisa sukses ,,
Ilfa Yarni
km pasti sukses haruna aku yakin itu
Muft Smoker
semangat haruna ,,
km harus tunjukin ma org2 yg jahatin km ,,
kalo keterbatasan km tdk menghilang kan semangat km belajar ,,
Ilfa Yarni
Ayo hatina tunjukkan klo km itu pintar biar mrk yg jahat pdmu melongo krn syok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!