tiga pemuda yang sama-sama bernasib buruk sama-sama di khianati kekasih mereka dan sama-sama di anggap buruk oleh keluarga sendiri
#bl
#bxb
yang gak suka gak usah baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kal Ipah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Keterlaluan! Mereka bersekongkol untuk menjatuhkan perusahaan saya! Arghhhh, sialan!" amuk Ferdy murka di dalam mobil perjalanan pulang.
"Kamu tenang dulu, jangan emosi. Semakin kamu bertindak tidak terkendali seperti ini, mereka justru akan semakin senang," lerai Via mencoba menenangkan adiknya.
"Gimana saya bisa tenang, Kak?! Perusahaan saya sebentar lagi hancur! Perusahaan yang saya bangun susah payah dari nol, sebentar lagi bakal bangkrut total!" ucap Ferdy dengan napas memburu akibat kemarahan yang membakar dada. "Saya akan adukan hal ini ke Kakek!"
Via menghela napas panjang, lalu menatap adiknya dengan sorot mata serius. "Ferdy, Kakak mau tanya. Apa yang dikatakan Kavian tadi itu benar? Kalau kamu dan Silvy sebenarnya sudah bersama sebelum wanita itu berpacaran dengan Kavian?"
Ferdy sempat terdiam, namun akhirnya ia menunduk pasrah. "Iya, Kak," aku Ferdy pelan.
"Haaaa ... pantas saja Kavian tanpa ragu membatalkan kerja samanya dengan perusahaanmu, Fer. Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang sudi dibohongi secara keji," sahut Via, merasa tindakan Kavian sangat masuk akal.
"Saya tahu, Kak. Awalnya saya tidak ingin melakukan hal serendah itu. Tapi Kakak tahu sendiri, kan, kalau Kavian punya segalanya dibanding kita? Kekuasaan, harta berlimpah ... sedangkan kita? Kalau kita tidak berusaha licik sendiri, kita tidak akan pernah bisa berada di posisi sekarang." Ferdy mulai membela diri.
"Saya meminta Silvy untuk mendekati Kavian agar Kavian mau membagikan sebagian hartanya ke Silvy. Tapi rencana itu gagal total karena Kavian tidak pernah sekali pun menceritakan detail aset hartanya ke Silvy selama mereka pacaran. Silvy bahkan pernah sengaja mencekoki Kavian sampai mabuk parah supaya dia mau jujur di mana menaruh seluruh kekayaannya, tapi Kavian tetap tidak pernah goyah. Karena terlalu lama dan tidak membuahkan hasil, saya akhirnya meminta bantuan Kakek untuk menjodohkan saya dengan Silvy."
Ferdy menjeda kalimatnya dengan helaan napas frustrasi. "Tujuan saya agar Kavian cemburu dan berusaha mempertahankan Silvy dengan cara datang ke orang tuanya untuk menikahi Silvy secara resmi. Setelah mereka menikah, otomatis sebagian harta Kavian akan jatuh ke tangan Silvy juga, yang artinya jatuh ke tangan saya. Tapi, taktik itu juga gagal total. Kavian ternyata jauh lebih pintar dan cerdik dari kami."
Mendengar kronologi menjijikkan itu, Via menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. "Ferdy, Ferdy ... kenapa kamu tega melakukan hal sekeji itu? Asal kamu tahu ya, saat Ayah mengalami masa-mana sulit dulu, Om Martin yang paling depan membantu kita. Saat Mama sakit keras dan membutuhkan banyak uang, Om Martin juga yang mengulurkan bantuan tanpa pamrih. Bahkan saat kamu masih kecil dan mengalami kecelakaan parah sampai membutuhkan donor darah darurat, Om Martin yang keliling mencari pendonornya!"
Via menatap adiknya dengan tatapan kecewa sekaligus marah besar. "Tapi kenapa kamu malah membalas kebaikan keluarga Om Martin dengan cara sekeji ini, Ferdy?!"
Ferdy langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, didera perasaan bersalah yang mendadak menyeruak setelah diingatkan akan budi baik masa lalu. "Maaf, Kak ... karena keserakahan, saya sudah membutakan mata dan menyakiti Kavian."
"Haaaa ... sebaiknya kamu segera datang dan meminta maaf secara langsung kepada Kavian sebelum Ayah tahu masalah ini. Kalau sampai Ayah tahu, beliau pasti akan marah besar kepadamu," nasihat Via menyabarkan suaranya.
"Iya, Kak, saya akan minta maaf ke Kavian. Tapi ... apa Kavian mau memaafkan kesalahan besar saya ini, Kak?" tanya Ferdy ragu.
"Dimaafkan atau tidak, setidaknya kamu sudah berusaha menunjukkan iktikad baik untuk meminta maaf secara tulus ke Kavian," tegas Via. "Sekarang kamu pulang, bersih-bersih diri, dan tenangkan pikiranmu. Besok pagi kita akan datang lagi ke perusahaan Kavian."
"Baik, Kak," sahut Ferdy patuh.
Sementara itu, di sebuah restoran kelas atas.
Elvian yang sedang menikmati makan siangnya mendadak merasa risih. Bagaimana tidak? Sedari tadi Maxime terus-menerus menatapnya dengan tatapan yang teramat intens dan tidak beralih sedikit pun.
"Elo bisa gak, jangan natap gue kayak gitu? Risih tahu!" semprot Elvian ketus.
"Kamu cantik," sahut Maxime santai dengan suara beratnya.
Blush!
Seketika, kedua pipi Elvian merona merah sempurna. Melihat reaksi menggemaskan itu, seulas senyuman tipis terukir di bibir tegas Maxime
"A–apaan sih?! Gue ini tampan tahu, bukan cantik!" protes Elvian dengan gagap, berusaha menyembunyikan rasa salah tingkahnya.
"Tidak. Di mata saya, kamu tetap cantik," kekeh Maxime lembut.
Elvian mendengus, memilih fokus pada makanannya kembali. "Au ah! Elo gak makan juga?"
"Melihat kamu makan dengan lahap saja sudah membuat saya kenyang," goda Maxime lagi.
Elvian memutar bola matanya malas. "Dasar gombal."
"Kamu bisa tidak, ganti panggilan 'elo-gue' jadi 'aku-kamu'? Kan kita sekarang sudah resmi berpacaran," usul Maxime dengan nada menuntut yang lembut.
"Gue gak bisa. Udah kebiasaan dari dulu bilang 'elo-gue'," tolak Elvian instan.
"Dibiasakan mulai sekarang," tegas Maxime tidak menerima penolakan.
Elvian menghela napas pasrah. "Oke ... gue—maksudnya aku, coba."
"Bagus," puji Maxime puas. "Setelah makan ini, kamu mau jalan-jalan? Kebetulan nanti malam ada pasar malam yang cukup besar di dekat sini."
"Hmm, boleh lah. Gu—aku juga gak ngapa-ngapain nanti malam," sahut Elvian, masih agak kaku mengoreksi panggilannya sendiri.
"Hmm, nanti malam saya jemput kamu ke apartemen."
"Gak usah. Gu—aku bisa pergi pakai motor sendiri kok," tolak Elvian sungkan.
Maxime langsung menatap tajam ke arah manik mata Elvian. "Tidak ada penolakan."
Mendapat tatapan mengintimidasi seperti itu, nyali Elvian seketika menciut. Ia hanya bisa mengangguk patuh dengan cepat.
(Serem coy, auranya mirip jurig!) jerit Elvian ketakutan di dalam hatinya.
"Saya bukan setan," sela Maxime tiba-tiba.
Sontak Elvian terkesiap dan bergumam sangat pelan, "Wih, nih orang bisa baca pikiran gue apa gimana, sih?"
"Saya tidak bisa membaca pikiran kamu. Tapi saya bisa membaca raut wajahmu dari matamu yang selalu berkedip-kedip panik saat mengumpat di dalam hati," jelas Maxime enteng.
Elvian mendengus sebal, lalu buru-buru menyuapkan sisa makanannya ke dalam mulut agar bisa cepat pergi dari sana.
"Jangan buru-buru makannya, nanti tersedak," nasihat Maxime penuh perhatian.
Namun, baru saja kalimat itu selesai diucapkan, kesialan langsung menimpa Elvian. Camilan yang belum hancur sempurna mendadak menyumbat tenggorokannya.
"Uhuk! Uhuk! A–air ... uhuk!" Elvian terbatuk-batuk dengan wajah memerah menahan sesak.
Dengan sigap, Maxime langsung menyodorkan segelas air minum. Elvian menyambarnya cepat dan langsung menenggak habis air tersebut sampai tandas.
"Haaaa ... elo sih! Pakai bilang seperti itu, jadi tersedak beneran, kan, gue!" omel Elvian kesal, menyalahkan sang kekasih atas kesialannya.
Maxime terkekeh pelan. "Maaf."
"Ayo anterin gu—aku pulang sekarang," ajak Elvian beranjak berdiri.
"Kamu tidak ingin membeli sesuatu dulu? Mumpung lokasinya dekat dengan mall," tawar Maxime.
"Gak usah, pulang aja. Badan aku udah lengket banget dari tadi keliling sama el—kamu. (Haaaa, susah banget ya ampun!)" keluh Elvian dalam hati sembari mengacak rambutnya frustrasi karena masih sering salah memanggil.
"Hmm, ya sudah." Mereka berdua akhirnya meninggalkan restoran tersebut dan berkendara menuju apartemen Elvian.
Sekitar sepuluh menit perjalanan, mobil mewah Maxime akhirnya berhenti tepat di depan lobi apartemen.
"Kamu gak mau mampir dulu ke atas?" tanya Elvian sebelum turun.
Maxime menggelengkan kepala. "Tidak. Saya masih ada beberapa urusan bisnis yang harus diselesaikan. Jangan lupa, nanti malam saya jemput."
"Hmm, iya. Hati-hati di jalan, jangan ngebut-ngebut," pesan Elvian tulus.
"Iya," sahut Maxime dengan senyuman hangat sebelum melajukan kembali mobilnya membelah jalanan.
Ceklek.
Begitu Elvian melangkah masuk ke dalam ruang tengah apartemen, sebuah siulan langsung menyambut kedatangannya.
"Suit, suiiiit! Kayaknya ada yang baru pulang diantar sama gebetan baru, nih," goda Brian yang sedang asyik rebahan di sofa.
"Apaan sih! Gue kan tadi gak bawa motor, jadi wajar kalau dia nganterin gue pulang," bela Elvian memutar bola mata malas.
"Sudah, Brian, jangan ganggu El dulu. Dia baru pulang, pasti capek," lerai Revangga yang sedang menonton televisi.
"Tuh, dengar! Revangga aja pengertian, gak kayak elo yang hobinya meledek melulu!" ketus Elvian menunjuk Brian. "Gue ke kamar dulu ya, mau mandi. Badan udah lengket banget," pamit Elvian kemudian melangkah masuk ke kamarnya.
Waktu berlalu cepat hingga jarum jam menunjukkan pukul tujuh malam.
Elvian sudah bersiap-siap dengan pakaian santai namun terlihat sangat rapi dan wangi. Kedua sahabatnya serta Tian yang sedang bersantai di ruang tengah langsung menatap Elvian dengan pandangan heran bercampur selidik.
"Tumben rapi banget? Mau kemana elo malam-malam begini?" tanya Brian menaik-turunkan alisnya.
"Hooo ... gue tahu! Elo mau pergi kencan ya sama si Maxime?" tebak Revangga tepat sasaran sambil tersenyum menggoda.
"Gue dipaksa tahu! Kalau gak diancam, malas banget gue keluar malam ini," gerutu Elvian membela diri agar tidak dicap terlalu bersemangat.
Tian yang baru keluar dari dapur ikut tersenyum lembut melihat penampilan adiknya. "Mau kemana kamu, El? Rapi begitu, ada pesta ya?"
"Max ngajakin aku pergi ke pasar malam, Kak," jawab Elvian jujur kepada Tian.
"Cie, cie, cie! Yang mau pergi kencan nih ye!" ledek Brian, Revangga, dan Tian serempak untuk menjahili Elvian.
"Hiiiii, apaan sih kalian itu! Kak Tian juga malah ikutan ledek 'cie-cie' segala!" sungut Elvian dengan kedua pipi yang sudah merona merah merona akibat malu.
Tian terkekeh kecil melihat kepanikan adiknya. "Ehem, maaf, Kakak bercanda."
Tin! Tin!
Suara klakson mobil dari arah bawah apartemen terdengar nyaring sebanyak dua kali.
"Wih, sepertinya jemputan dari Ayang Beb sudah tiba, tuh!" goda Brian lagi dengan tawa puas.
"Cih!" Elvian mendengus jengkel, lalu segera melangkah keluar apartemen dan turun ke lobi untuk mendekati mobil Maxime.
Maxime menurunkan kaca mobilnya. "Ayo masuk," ajaknya lembut.
Namun, sebelum Elvian sempat membuka pintu mobil, suara teriakan melengking dari arah balkon lantai atas apartemen langsung terdengar menggema, membuat perhatian beberapa orang di sekitar lobi tersita.
"SUIT! SUIIIIT! HATI-HATI LOH YA! KALAU HABIS JALAN-JALAN LANGSUNG PULANG, JANGAN MAMPIR KE HOTEL! BELUM MUHRIM!" teriak Brian dengan heboh dari atas balkon sambil melambaikan tangan tanpa urat malu.
Wajah Elvian seketika matang karena malu luar biasa. Ia mendongak tajam ke arah balkon atas. "SUE ELO, BRIAN! GUE SUMPAHIN ELO BAKAL DAPAT SEME YANG LANGSUNG COBLOS LUBANG ELO ITU BIAR TAHU RASA!" balas Elvian berteriak penuh kekesalan.
Brian yang berada di atas lantas tertawa meremehkan. "Sorry ya! Gue ini pria jantan tulen! Mana ada sejarahnya gue dicoblos orang, ogah bener!" balas Brian penuh percaya diri.
Mendengar perdebatan sepasang sahabat itu, Maxime yang duduk di kursi kemudi tiba-tiba menyunggingkan senyum misterius. "Sepertinya sahabatmu yang berisik itu cocok kalau aku kenalkan dengan salah satu saudara laki-lakiku," ucap Maxime tiba-tiba kepada Elvian yang baru saja masuk ke dalam mobil.
Elvian menoleh tertarik. "Kenapa memangnya?"
"Saudara saya itu memiliki aura dominan yang sangat pekat. Saya yakin, dia pasti bisa dengan mudah menjinakkan pria keras kepala dan bermulut berisik seperti Brian," jelas Maxime tenang.
Mendengar itu, senyum jahat langsung terbit di wajah manis Elvian. Ia segera menurunkan kaca jendela mobilnya kembali, lalu menjulurkan kepalanya keluar untuk berteriak kepada Brian yang masih berdiri sombong di balkon.
"BRO! SEBENTAR LAGI ELO BAKAL DAPAT PAWANG YANG BAHKAN JAUH LEBIH DOMINAN DARIPADA ELO!" teriak Elvian memprovokasi.
Brian yang mendengar itu langsung melotot tidak terima. "NGACO ELO! GAK AKAN ADA PRIA YANG BISA LEBIH DOMINAN DARIPADA GUE DI DUNIA INI! KALAU PUN ADA, GUE YANG BAKAL MENDOMINASI PRIA ITU TERLEBIH DAHULU!" balas Brian berteriak penuh kesombongan.
Maxime yang mendengar teriakan percaya diri Brian hanya bisa tersenyum tipis sarat akan arti tersembunyi. (Dia belum tahu saja seperti apa rasanya saat saudara saya yang mendominasi dirinya nanti,) batin Maxime santai
"Sudah, ayo kita berangkat sekarang sebelum pasar malamnya keburu tutup," ajak Elvian menarik kembali tubuhnya ke dalam mobil.
Tian yang memantau dari balkon ikut melambai pelan. "Pulangnya jangan kemalaman ya, Max!" teriak Tian mengingatkan, yang langsung dibalas dengan anggukan patuh serta klakson pelan oleh Maxime sebagai tanda pamit sebelum mobil mewah itu melaju membelah malam.