Di balik hilangnya seorang gadis, tersimpan rahasia yang selama ini disembunyikan. Seorang ibu bertekad mengungkapnya, meski harus melawan kekuasaan yang selama ini tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemerasan
"Hai, sayang."
Cup!
Cakra mengecup kening istrinya, yang dibalas dengan pelukan singkat oleh Citra.
"Bagaimana kerjaanmu hari ini?" tanya Citra sambil menggandeng tangan suaminya yang baru pulang kerja.
"Aman, semua berjalan dengan lancar," jawab Cakra sambil menatap sekeliling. "Di mana putriku? Tumben dia nggak menyambutku?"
Citra mendesah pelan. "Dari pagi Clarisa belum keluar dari kamar, Dad. Sarapan dan makan siangnya, pelayan yang bawa ke kamarnya."
Cakra mengerutkan keningnya. "Ada apa dengannya?"
Citra mengangkat bahunya. "Aku nggak tahu, Dad. Aku tanya, dia jawab nggak apa-apa. Tapi, perilakunya mencurigakan."
"Dad, apa Clarisa masih trauma setelah pertengkarannya dengan gadis gembel itu?"
Cakra terdiam sejenak, lalu menatap istrinya. "Kenapa kamu bisa kepikiran ke sana?"
"Dad, selama kejadian itu. Clarisa banyak berubah, dia seperti bukan putri kita lagi."
Citra menghela napas panjang.
"Daddy sudah mengeluarkan gadis itu, kan?"
Cakra mengangguk. "Pak Ardi sudah mengeluarkannya dari sekolah." Ia menepuk bahu istrinya dengan pelan. "Aku akan menemui Clarisa, kamu tenang saja."
—•—
Tok! Tok!
Krek!
Tanpa menunggu jawaban, Cakra membuka kamar putrinya.
Clarisa yang sedang bermain ponsel, langsung menoleh.
"Daddy..." ucapnya pelan.
Cakra duduk di salah satu sofa, sambil menyilangkan kakinya menatap putrinya dalam-dalam.
"Kenapa kamu nggak nyambut Daddy?"
Clarisa terdiam, lalu menggeleng perlahan. "Maaf, Dad."
"Ada apa denganmu, Sayang? Kata Mommy kamu nggak keluar seharian dari kamar?"
Clarisa kembali terdiam sambil menunduk.
"Apa masalah waktu itu kamu belum bisa melupakannya?"
Clarisa mengangkat wajahnya, lalu menggeleng pelan. "Tidak, Dad. Aku sudah melupakan kejadian itu."
"Lalu? Apa yang membuatmu seharian dikamar?"
"Aku nggak apa-apa, Dad," jawab Clarisa. "Aku hanya ingin menikmati hari libur di kamar."
Cakra menatap putrinya lekat-lekat, tak percaya sepenuhnya dengan jawaban itu.
"Baiklah." Ia mulai beranjak dari duduknya, menghampiri putrinya. "Kalau kamu butuh apa-apa, Daddy selalu ada untukmu."
Clarisa mengangguk sambil tersenyum tipis.
Tok! Tok!
Cakra dan Clarisa menoleh ke arah pintu.
"Masuk!" ucap Cakra.
Krek! Pintu terbuka perlahan, Bimo—asisten Cakra, menunduk hormat di ambang pintu.
"Ada apa?" ucap Cakra.
"Ada hal penting yang perlu saya sampaikan, Tuan."
Cakra mengangguk paham, ia menatap kembali putrinya.
"Ingat apa yang Daddy katakan."
"Iya, Dad."
Cakra meninggalkan kamar putrinya, tapi sebelum ia sampai di depan pintu, Clarisa memanggilnya.
"Dad..."
Cakra membalikkan badan.
"Daddy tahu pekerjaan Ibu, Lyn?"
Cakra mengerutkan keningnya, menatap Bimo sekilas, lalu kembali menatap putrinya.
"Bukannya dia hanya penjual kue?"
Clarisa terdiam. Tapi kenapa ibunya Lyn bisa mengalahkan Arya?
"Clarisa, kenapa menanyakan hal itu?"
Clarisa menggeleng pelan.
"Nggak apa-apa, Dad. Aku hanya ingin tahu saja," jawabnya berusaha tetap tenang.
Cakra mengangguk singkat, lalu kembali melangkah meninggalkan kamar putrinya, diikuti Bimo di belakangnya.
"Bimo."
"Iya, Tuan?"
"Cari tahu apa yang terjadi sebenarnya pada Clarisa."
"Siap, Tuan."
Cakra berjalan ke ruang kerjanya dengan wajah yang datar, para pelayan yang berpapasan menunduk hormat.
Sesampainya di depan ruangan, pintu terbuka otomatis setelah sensor mengenali wajahnya.
Cakra masuk ke dalam ruangan, diikuti Bimo.
"Ada apa?" ucap Cakra sambil memasukkan tangannya ke dalam kantong celana.
"Rama ingin bicara dengan Anda semalam, Tuan."
"Rama?"
"Iya, Tuan."
"Dia mau apa?"
"Dia ingin menyampaikan tentang Nona Clarisa, Tuan."
Cakra membalikan badan. "Hubungi dia!"
Bimo mengangguk, ia segera menghubungi Rama lalu memberikan ponselnya pada Cakra.
"Hei, babu. Gue hanya kasih waktu lo satu menit, bukan semalaman!" ucap Rama saat sambungan telepon terhubung dengan nada kesal.
"Ada apa dengan putriku?" ucap Cakra dengan suara dingin tanpa basa-basi.
"Wah, wah, ternyata saya bicara dengan Tuan Besar."
Cakra memejamkan mata sesaat. "Katakan, saya tidak punya banyak waktu untuk meladenimu."
"Santai dong, Tuan..." ucap Rama sambil terkekeh. "Baiklah, saya serius."
"Putrimu telah membunuh seseorang!"
Deg!
Wajah Cakra berubah, tatapannya dingin menyipit tajam, rahangnya mengeras menahan amarah.
"Jaga ucapanmu! Saya bisa lenyapkan kepalamu!"
"Tuan pikir saya berbohong? Saya punya video dan rekamannya. Dia sendiri yang meminta saya untuk membuat mayat gadis yang telah dia bunuh untuk dibereskan!"
Cakra mencengkeram ponsel itu erat-erat, rahangnya mengeras.
"Tuan... Tuan Besar, anda masih mendengarkan saya, kan?" ucap Rama dengan nada meledek. "Apa Tuan, masih tidak percaya dengan saya? Hmm, baiklah. Saya akan unggah di sosial media, dengan keterangan PUTRI DARI SEORANG PENGUSAHA SUKSES DI ELDORIA MEMBUNUH SEORANG GADIS YANG TAK BERSALAH!"
"BRENGSEK!" geram Cakra membuat Bimo terkejut.
"Ha ha ha..." Rama tertawa puas. "Siapkan uang enam miliar, kalau nggak mau hal itu terjadi!"
Tut! Panggilan terputus. Rama mengakhiri sepihak.
Bragh! Cakra melempar ponsel itu hingga membentur dinding, tatapannya tajam menyala menahan amarah.
"CARI RAMA SEKARANG JUGA!"
Bimo mengangguk cepat.
"Siap, Tuan!"