Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Rahasia Seorang CEO

Cinta Rahasia Seorang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Koo nana

Abiyasa Mahendra (28) adalah CEO muda berdingin hati yang memimpin Mahendra Group, salah satu konglomerat terbesar di tanah air. Di mata publik dan rekan bisnisnya, Yasa adalah sosok perfeksionis, rasional, dan tak tersentuh oleh urusan asmara. Namun, hidupnya yang tertata rapi lenyap seketika ketika surat wasiat mendiang kakeknya memaksanya menikahi Nadira Kirana (18), seorang siswi SMA tingkat akhir yang ceria, impulsif, dan polos.
​Bagi Yasa, pernikahan ini tak lebih dari sekadar transaksi bisnis dan pemenuhan kewajiban demi mempertahankan posisinya sebagai CEO. Sementara bagi Dira, pernikahan impian yang ia bayangkan hancur berantakan saat harus berbagi atap dengan pria dewasa yang lebih mirip seperti dosen penguji daripada seorang suami.Akankah ikatan pernikahan tanpa cinta ini runtuh di tengah jalan saat Dira lulus sekolah, atau justru berubah menjadi kisah cinta sejati yang menyatukan dua peradaban yang jauh berbeda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koo nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8.KECUPAN PIPI

Suara guyuran hujan yang mereda berubah menjadi gerimis tipis saat SUV mewah yang ditumpangi Abiyasa dan Nadira akhirnya memasuki area basemen penthouse. Lampu-lampu sorot basemen memantul di kaca mobil yang basah, menandai berakhirnya perjalanan panjang nan penuh ketegangan sore itu.

​Di dalam mobil, kecanggungan yang luar biasa besar mendadak melingkupi atmosfer di antara mereka berdua.

​Setelah ciuman manis dan emosional yang terjadi di tengah hujan tadi, Nadira tidak berani mengangkat kepalanya sama sekali. Wajahnya terus menunduk dalam, pipinya masih menyisakan rona merah yang hangat. Ia meremas tali tas sekolahnya kuat-kuat, bingung harus bersikap seperti apa di hadapan pria yang baru saja merebut ciuman pertamanya.

​Sementara itu, Abiyasa berdeham pelan seraya merapikan kembali posisi lengan kemejanya. Meskipun tampak luar pria itu kembali memasang topeng tenangnya yang biasa, detak jantung sang CEO sejatinya belum sepenuhnya kembali ke tempo normal.

​Pintu mobil dibuka oleh pengawal yang berjaga. Abiyasa turun terlebih dahulu, lalu mengulurkan tangannya ke arah Nadira.

​"Ayo," ajak Abiyasa singkat, suaranya tetap dalam namun dihiasi nada lembut yang sukar disembunyikan.

​Nadira menatap uluran tangan berjemari kokoh itu sejenak. Dengan ragu dan rasa canggung yang membuncah, ia menyambut tangan Abiyasa. Genggaman Abiyasa terasa hangat dan protektif, menuntun langkah kecil Nadira menuju lift pribadi yang langsung mengarah ke penthouse di lantai empat puluh dua.

​Selama berada di dalam lift kaca yang bergerak naik dengan cepat, tak ada satu pun dari mereka yang bersuara. Pemandangan gemerlap lampu kota Jakarta di sore hari yang basah terpapar di balik kaca lift, namun fokus pikiran mereka berdua tertuju pada jemari yang saling bertaut erat di samping tubuh.

​Begitu pintu lift terbuka dan mereka melangkah masuk ke dalam ruang tengah penthouse yang luas, Nadira menarik tangannya perlahan.

​"M-Mas Abi... saya mau ke kamar dulu, mau ganti seragam," bisik Nadira tanpa berani menatap mata suaminya.

​"Tunggu," panggil Abiyasa.

​Langkah Nadira terhenti seketika. Tubuhnya kaku. Apakah Mas Abi mau membahas soal ciuman tadi?! Duh, mau ditaruh di mana mukaku! batin Nadira histeris.

​Abiyasa berjalan mendekat. Pria itu melepas jam tangan mewahnya dan meletakkannya di meja konsol, lalu menatap Nadira dengan raut wajah serius. "Soal kejadian di sekolahmu tadi sore..."

​Nadira menggigit bibir bawahnya, menatap Abiyasa takut-takut. "I-iya?"

​"Hendra sudah menyelesaikan urusannya sepuluh menit yang lalu," lanjut Abiyasa tenang. Ia mengambil tablet kerjanya dan menunjukkan sebuah draf pernyataan resmi. "Besok pagi, pihak sekolahmu—termasuk Kepala Sekolah dan wali kelasmu—akan menerima surat konfirmasi resmi dari Mahendra Foundation. Di dalam surat itu dijelaskan bahwa saya adalah ketua dewan pembina yayasan yang secara pribadi memantau program beasiswa dan perlindungan siswa berprestasi, termasuk kamu."

​Nadira membelalakkan mata, membaca sekilas tulisan berstempel resmi di layar tablet. "Jadi... orang-orang sekolah nggak bakal mikir yang aneh-aneh?"

​"Narasinya adalah saya kebetulan melintas di area sekolah untuk meninjau fasilitas dan melihat kamu tertahan hujan, jadi saya memberikan tumpangan sebagai bentuk tanggung jawab sosial yayasan," jawab Abiyasa dengan kalkulasi yang sangat matang. "Tidak akan ada yang berani menyebarkan gosip miring kalau mereka tidak mau berurusan dengan tim hukum Mahendra Group."

​Sebuah helaan napas lega yang sangat panjang keluar dari mulut Nadira. Beban berat yang meremas dadanya sejak di sekolah tadi mendadak terangkat sepenuhnya. Kecerdasan dan kecepatan Abiyasa dalam mengendalikan krisis benar-benar luar biasa.

​"Makasih ya, Mas Abi..." ujar Nadira tulus, senyum tipis akhirnya kembali terukir di bibirnya.

"Mas Abi pinter banget bikin alibi."

​Abiyasa menatap senyuman itu, dan sudut bibirnya terangkat membentuk sunggingan tipis. "Saya tidak dibayar mahal sebagai CEO hanya untuk gagal mengendalikan situasi sederhana seperti ini, Nadira."

​"Sombooong," cibir Nadira pelan, merusak suasana serius dengan tingkah polosnya. "Ya udah, saya mau mandi dulu!"

​Gadis itu berbalik cepat dan setengah berlari menuju kamarnya. Namun, saat tangannya menyentuh gagang pintu kamar, suara Abiyasa kembali menghentikannya.

​"Nadira."

​Nadira menoleh. "Apa lagi, Mas?"

​Abiyasa berdiri di ruang tengah, menatapnya dengan pandangan yang dalam dan intens—pandangan yang sama persis seperti saat ia menciumnya di mobil tadi.

​"Satu hal lagi," kata Abiyasa pelan. "Soal sentuhan di mobil tadi... itu bukan alibi. Dan saya tidak akan meminta maaf untuk itu."

​DEG!

​Jantung Nadira seperti melompat keluar dari dada. Pipinya seketika membara panas. Tanpa menjawab sepatah kata pun, Nadira langsung mendorong pintu kamarnya, masuk ke dalam, dan menutupnya dengan keras sebelum bersandar di balik pintu sambil memegang dadanya yang berdegup kencang bak maraton.

​"Aaaaa! Dasar CEO mesum!" jerit Nadira tanpa suara, menutup wajahnya yang merah padam dengan kedua tangan.

​Di luar kamar, Abiyasa yang mendengar bunyi pintu tertutup rapat hanya bisa terkekeh pelan—sebuah tawa renyah yang sangat jarang terdengar dari bibir sang pria es.

​Malam harinya, suasana di penthouse terasa jauh lebih hangat dari biasanya. Hujan di luar telah sepenuhnya reda, meninggalkan hawa dingin yang nyaman.

​Nadira yang sudah berganti pakaian menggunakan piyama kaos longgar berwarna kuning cerah, melangkah ke dapur untuk membuat secangkir teh hangat. Saat ia tiba di meja makan, ia terkejut melihat Abiyasa masih duduk di sana dengan laptop terbuka. Namun kali ini, pria itu tidak sedang melihat grafik saham atau berkas akuisisi perusahaan, melainkan sedang membaca sebuah dokumen tercetak tentang kurikulum pendidikan SMA dan panduan pendaftaran perguruan tinggi negeri.

​Nadira mengedipkan matanya heran. Ia berjalan mendekat dan menaruh cangkir tehnya di meja. "Mas Abi lagi baca apa?"

​Abiyasa mengalihkan pandangannya dari kertas ke wajah Nadira. "Saya sedang mempelajari jalur masuk universitas untukmu."

​"Hah? Jalur masuk universitas?" Nadira melongo.

​"Ujian Nasional tinggal beberapa bulan lagi, kan?" Abiyasa menarik sebuah kursi di sampingnya, mengisyaratkan Nadira untuk duduk. "Ibumu dan almarhum kakekmu pernah bilang kalau impianmu adalah masuk ke Jurusan Seni Rupa dan Desain. Saya ingin tahu sejauh mana persiapanmu."

​Nadira duduk perlahan, menatap tumpukan berkas pandangan kampus di hadapannya dengan rasa takjub sekaligus canggung. "Ya... aku emang mau masuk Seni Rupa. Tapi kan nilai portofolio sama ujian tulisnya susah banget, Mas. Saingannya se-Indonesia."

​"Tidak ada yang susah kalau kamu mempersiapkannya dengan sistematis," sahut Abiyasa tegas namun tidak menggurui. Pria itu menggeser laptopnya, menampilkan sebuah draf jadwal yang sudah ia buat sendiri. "Mulai minggu depan, saya sudah mengatur jadwal bimbingan belajar privat untukmu. Dua kali seminggu untuk mata pelajaran ujian nasional, dan dua kali seminggu dengan dosen seni profesional untuk persiapan portofoliomu."

​Nadira melotot membaca jadwal yang sangat rapi dan terstruktur itu. "Mas Abi yang bikin semua jadwal ini?!"

​"Tentu saja. Saya tidak mau istri saya kelabakan saat menghadapi ujian," jawab Abiyasa santai seraya menyesap kopi hitamnya. "Dan jika kamu butuh bantuan untuk pelajaran matematika atau logika, kamu bisa bertanya langsung pada saya. Saya lulusan magister manajemen dan finansial, soal kalkulus SMA bukan masalah besar."

​Nadira menatap pria di sampingnya dengan binar mata tak percaya. Pria yang semula ia anggap sebagai 'penjara' dalam hidupnya, kini justru menjadi sosok yang paling gencar mendukung impian dan masa depannya. Di balik sikapnya yang kaku dan otoriter, Abiyasa menunjukkan rasa sayangnya dengan cara yang sangat nyata dan terukur.

​"Mas Abi..." panggil Nadira pelan.

​"Kenapa? Jadwalnya terlalu padat?" tanya Abiyasa melunak, khawatir ia terlalu memaksakan kehendak.

​"Enggak..." Nadira menggeleng pelan, lalu menyunggingkan senyum paling tulus yang pernah Abiyasa lihat. "Makasih banyak ya, Mas. Mas Abi baik banget. Padahal dulu saya pikir Mas Abi itu orangnya jahat dan cuma mau manfaatin saya gara-gara wasiat."

​Abiyasa terdiam sejenak. Pengakuan jujur dan polos dari gadis di sampingnya itu menyentuh bagian terdalam dari hatinya. Pria itu menyandarkan punggungnya di kursi, menatap Nadira dengan tatapan teduh.

​"Saya memang diajarkan untuk selalu memperhitungkan keuntungan dalam setiap tindakan, Nadira," ujar Abiyasa pelan, suaranya terdengar begitu jujur. "Tapi untukmu... tidak ada kalkulasi bisnis. Saya hanya ingin melihatmu sukses meraih impianmu."

​Kata-kata itu meluncur begitu indah dan tulus, membuat dada Nadira berdesir oleh kehangatan yang luar biasa. Tanpa sadar, jarak di antara mereka makin terkikis. Nadira memberanikan diri memajukan tubuhnya, lalu dengan gerakan cepat dan spontan, ia mendaratkan sebuah kecupan ringan di pipi kanan Abiyasa.

​CUP!

​Setelah melakukan aksi nekat itu, Nadira langsung berdiri tegak dengan wajah yang kembali memerah seperti kepiting rebus.

​"I-itu tanda terima kasih dari saya! Saya mau tidur dulu, selamat malam Mas Abi!" seru Nadira terbata-bata, lalu ngacir berlari menuju kamarnya seperti dikejar hantu.

​Abiyasa membeku di kursinya. Tangan kanannya perlahan terangkat, menyentuh bekas kecupan bibir lembut Nadira di pipinya. Rasa hangat dari sentuhan singkat itu masih tertinggal jelas di kulitnya.

​CEO Mahendra Group yang dingin dan tak tersentuh itu menyandarkan kepalanya di kursi, menatap langit-langit penthouse, lalu tertawa pelan seraya menggelengkan kepala.

​Malam itu, di dalam rumah yang dulunya sepi dan kaku, tembok es di hati Abiyasa telah sepenuhnya runtuh, digantikan oleh benih-benih cinta sejati yang siap tumbuh menghadapi segala rintangan di masa depan.

1
Ariany Sudjana
semangat belajar juga yah Nadira, kejar cita-cita kamu untuk bisa meneruskan kuliah seni rupa 😄🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!